Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
JAYA DI ANTARA CINTA MANTAN ISTRI DAN JANDA KEMBANG

JAYA DI ANTARA CINTA MANTAN ISTRI DAN JANDA KEMBANG

Chichi | Bersambung
Jumlah kata
27.2K
Popular
100
Subscribe
17
Novel / JAYA DI ANTARA CINTA MANTAN ISTRI DAN JANDA KEMBANG
JAYA DI ANTARA CINTA MANTAN ISTRI DAN JANDA KEMBANG

JAYA DI ANTARA CINTA MANTAN ISTRI DAN JANDA KEMBANG

Chichi| Bersambung
Jumlah Kata
27.2K
Popular
100
Subscribe
17
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeHarem21+Pria Miskin
Jaya adalah seorang petani miskin di desa kecil yang hidup sendiri setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan bertahun-tahun lalu. Sejak tragedi itu, Jaya tumbuh menjadi lelaki pendiam, pekerja keras, dan jarang mengeluh. Sawah dan ladang menjadi satu-satunya tempat ia menanam harapan dan mengubur kesedihan. Hidupnya kembali runtuh ketika pernikahannya dengan Mira berakhir karena pengkhianatan. Ditinggalkan di saat kondisi ekonomi terpuruk, Jaya memilih menerima takdir tanpa perlawanan, meyakini bahwa kehilangan sudah menjadi bagian dari hidupnya. Takdir mempermainkannya sekali lagi saat ia menyelamatkan nyawa Pak Surya—ayah dari mantan istrinya—dari kecelakaan maut. Dihantui rasa berutang nyawa dan penyesalan masa lalu, Pak Surya memaksa Jaya menerima balas budi yang tak biasa: menikahi kembali Mira sebelum ajal menjemputnya. Pernikahan kedua itu terjadi tanpa cinta. Jaya dan Mira hidup di bawah satu atap dengan jarak emosional yang dingin. Mira berusaha menebus kesalahan dan belajar hidup sederhana, sementara Jaya berjuang melawan trauma kehilangan, pengkhianatan, dan rasa takut untuk kembali berharap. Di tengah hubungan yang rapuh itu, hadir Sinta—janda kembang desa yang hangat, mandiri, dan tulus. Tanpa membawa masa lalu, Sinta menawarkan cinta yang sederhana dan penuh penerimaan. Kehadirannya membuat Jaya berada di persimpangan sulit: kembali pada cinta lama yang penuh luka, atau melangkah menuju cinta baru yang memberi ketenangan. Ditemani sahabat setianya Bagas dan dihadapkan pada pandangan realistis Rendi, Jaya perlahan menyadari bahwa cinta bukan hanya tentang perasaan, tetapi juga keberanian untuk memilih dan bertahan. Novel ini mengisahkan perjalanan panjang seorang lelaki desa yang kehilangan segalanya, namun perlahan belajar bahwa hati yang pernah hancur pun masih bisa mencintai kembali.
LELAKI DI TENGAH SAWAH

BAB 1

Jaya berdiri di tengah sawah yang setengah menguning. Lumpur menempel di betisnya, matahari sudah naik tapi angin pagi masih menyisakan dingin. Tangannya menggenggam sabit, namun matanya kosong, menatap garis pegunungan di kejauhan seolah di sanalah pikirannya tertinggal.

Sawah ini satu-satunya yang ia miliki. Bukan warisan berharga, bukan pula sumber kekayaan. Hanya sebidang tanah yang terus ia garap, meski berkali-kali gagal panen, meski hasilnya sering tak cukup untuk hidup layak. Tapi Jaya tak pernah meninggalkannya. Seperti hidupnya sendiri—keras, sepi, dan tak banyak pilihan.

“Jay.”

Suara itu datang dari pematang. Jaya menoleh. Bagas berdiri di sana, menenteng tas plastik berisi rokok dan nasi bungkus. Wajahnya kusut, tapi senyumnya selalu mudah muncul.

“Kamu dari subuh belum pulang,” kata Bagas sambil turun ke sawah. “Sarapan dulu.”

Jaya mengangguk singkat. Ia duduk di tepi pematang, membersihkan lumpur dari tangannya sebelum menerima nasi itu. Mereka makan tanpa banyak bicara. Bagas sudah terbiasa. Jaya bukan orang yang suka mengisi pagi dengan kata-kata.

“Kabar dari desa sebelah,” Bagas akhirnya membuka suara. “Katanya… Mira pulang.”

Jaya berhenti mengunyah.

Hanya sebentar. Tapi Bagas melihat jelas bagaimana rahang Jaya menegang. Tatapannya yang semula kosong berubah dingin, seperti tanah kering menunggu hujan yang tak kunjung datang.

“Katanya doang,” lanjut Bagas cepat, seolah ingin menarik kembali kata-katanya. “Belum tentu bener.”

Jaya tak menjawab. Ia melanjutkan makan, tapi rasa nasi itu tiba-tiba hambar. Nama itu—Mira—masih punya kuasa yang tak ingin ia akui.

Dua tahun.

Dua tahun sejak perempuan itu pergi tanpa pamit, tanpa penjelasan, meninggalkan rumah kecil mereka yang kala itu bahkan belum lunas dibayar. Dua tahun Jaya hidup sendiri, mengubur semua yang bernama harapan di dalam tanah bersama benih padi.

“Kalau pun bener,” kata Jaya akhirnya, suaranya rendah dan datar, “itu bukan urusanku.”

Bagas menghela napas. Ia tahu kalimat itu bohong, tapi ia juga tahu Jaya tak akan mengakuinya.

Setelah Bagas pergi, Jaya kembali bekerja. Sabit bergerak cepat, teratur. Tubuhnya hafal kerja keras. Yang tak pernah benar-benar ia kuasai adalah pikirannya sendiri.

Bayangan masa lalu datang tanpa izin.

Ia teringat ibunya, duduk di beranda rumah kayu mereka, menunggunya pulang dari sawah sambil menyiapkan teh hangat. Ayahnya yang pendiam, tak banyak bicara, tapi selalu menepuk bahunya setiap kali Jaya mengeluh lelah.

Semua itu hilang dalam satu malam.

Kecelakaan.

Motor tua yang mereka kendarai ditabrak truk di tikungan jalan desa. Jaya sampai di rumah sakit hanya untuk melihat tubuh orang tuanya terbujur kaku. Tak ada pesan terakhir. Tak ada waktu untuk berpamitan.

Sejak hari itu, Jaya belajar satu hal: hidup bisa mengambil segalanya tanpa memberi peringatan.

Itulah sebabnya ia tak pernah lagi menggantungkan hidupnya pada siapa pun.

Termasuk pada Mira.

Menjelang siang, langit mendadak gelap. Angin berubah kasar. Jaya mengangkat kepala, melihat awan hitam menggantung rendah di atas desa. Ia merapikan peralatannya, bersiap pulang sebelum hujan turun.

Di jalan sempit menuju rumahnya, hujan turun lebih cepat dari dugaan. Deras. Membuat tanah licin dan jarak pandang pendek.

Di tikungan dekat jurang kecil, Jaya melihat sesuatu yang membuat langkahnya terhenti.

Sebuah mobil hitam tergelincir. Rodanya berputar sia-sia, hanya beberapa meter lagi sebelum jatuh ke jurang.

Tanpa berpikir panjang, Jaya berlari.

“Pak! Keluar, Pak!” teriaknya sambil memukul-mukul kaca jendela.

Di dalam mobil, seorang lelaki tua terlihat panik. Tangannya gemetar saat mencoba membuka pintu. Jaya menarik pintu itu dengan sekuat tenaga, lalu memapah lelaki itu keluar tepat saat mobil meluncur dan terhenti di batang pohon.

Lelaki tua itu terengah, tubuhnya lemas.

“Tenang, Pak. Duduk dulu,” kata Jaya.

Tatapan lelaki itu perlahan fokus. Matanya menatap wajah Jaya, lalu melebar.

“Jaya…?”

Nama itu disebut dengan suara bergetar.

Jaya mengerutkan kening. “Bapak kenal saya?”

Lelaki itu menelan ludah. “Aku… aku ayahnya Mira.”

Dunia seolah berhenti bergerak.

Jaya berdiri kaku di bawah hujan. Wajah Pak Surya—mantan mertuanya—jelas lebih tua, lebih kurus, tapi tak mungkin salah. Lelaki yang dulu berdiri di pelaminan, menyerahkan putrinya pada Jaya dengan wajah penuh harap.

Sekarang terbaring lemah di hadapannya.

“Terima kasih…” Pak Surya menggenggam lengan Jaya kuat-kuat. “Kalau bukan kamu… aku mungkin sudah mati.”

Jaya menarik tangannya pelan. “Saya cuma lewat.”

Pak Surya menggeleng. “Tuhan yang mengirim kamu.”

Ambulans datang tak lama kemudian. Warga berkumpul. Jaya berdiri di pinggir jalan, basah kuyup, ingin segera pergi. Tapi sebelum pintu ambulans ditutup, Pak Surya memanggilnya lagi.

“Jaya… tolong… datang ke rumah.”

Jaya ragu.

Namun tatapan lelaki tua itu bukan tatapan orang yang sedang meminta. Itu tatapan orang yang merasa berutang.

Malamnya, Jaya duduk sendiri di rumah kayunya. Hujan masih turun, membasahi atap seng dengan suara berisik. Ia memandangi dinding kosong, lalu tangannya mengepal.

Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri: tidak akan kembali ke masa lalu.

Namun malam ini, masa lalu justru datang mengetuk pintunya—bukan lewat Mira, tapi lewat ayahnya.

Di luar, suara langkah kaki terdengar. Seseorang memanggil namanya dari halaman.

“Jaya.”

Suara perempuan.

Suara yang pernah ia hafal di luar kepala.

Dadanya terasa sesak.

Ia tahu, cepat atau lambat, ia akan melihat wajah itu lagi.

Dan untuk pertama kalinya setelah dua tahun, Jaya sadar: hidup belum selesai mengujinya.

Jaya tetap duduk. Kakinya terasa berat, seolah lantai kayu itu menahan tubuhnya agar tidak bangkit. Hujan semakin deras, angin menyelip di sela dinding papan yang sudah tua. Dingin merayap, tapi dadanya justru panas. Kepalanya dipenuhi satu wajah, satu masa, satu luka yang ia kira sudah terkubur bersama waktu.

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Dua tahun bukan waktu yang singkat. Dua tahun ia bangun sebelum matahari, pulang setelah langit gelap, mengubur rasa dengan lumpur sawah dan keringat. Dua tahun ia belajar hidup tanpa nama itu. Tanpa suara itu.

Tanpa harapan yang dulu sempat ia jaga dengan polos.

Namun kini, hanya karena satu panggilan, semuanya goyah.

Bayangan ayahnya terlintas jelas di kepalanya. Wajah renta dengan sorot mata keras tapi hangat. Orang yang pernah berkata padanya bahwa lelaki sejati tidak lari dari tanggung jawab, seberat apa pun itu. Orang yang nyawanya kini terikat oleh utang yang tak pernah Jaya minta.

Tangannya bergetar saat ia menekan lututnya sendiri. Bukan karena takut—melainkan karena marah pada diri sendiri. Ia sudah bersumpah untuk hidup sederhana, sendiri, tanpa menyeret siapa pun ke dalam hidupnya yang penuh luka. Tapi hidup, seperti biasa, tidak peduli pada janji manusia.

“Jaya…” suara itu terdengar lagi, lebih pelan, lebih dekat.

Ia memejamkan mata. Dalam hati, ia tahu satu hal: malam ini bukan tentang membuka pintu kayu itu. Malam ini adalah awal dari pintu lain yang perlahan terbuka—pintu menuju masa depan yang tidak ia rencanakan, tidak ia inginkan, tapi mungkin harus ia hadapi.

Akhirnya, Jaya berdiri.

Bukan untuk menyambut.

Tapi untuk bersiap.

Karena jika hidup kembali menyerangnya dengan masa lalu, kali ini ia tidak akan jatuh tanpa melawan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca