

Di dunia ini, terbentang tiga wilayah berbeda yang dihuni oleh bangsa-bangsa yang berbeda pula. Di timur, bersemayam bangsa elf yang anggun. Dari utara hingga barat, membentang wilayah kekuasaan manusia. Sementara itu, di wilayah selatan wilayah tergelap, bertahta raja iblis abadi bersama seluruh pasukannya ada di sana. Ketiga bangsa ini hidup dalam peran masing-masing, namun perselisihan antara manusia dan elf telah memicu perang panjang yang tak berkesudahan.
Nuthien, adalah nama ibukota di kerajaan Aria sebuah tempat yang menjadi satu titik pusat kehidupan di wilayah manusia, dipimpin oleh raja yang tegas dan setia pada prinsipnya, raja ini juga terkenal kejam tidak menunjukkan belas kasih sedikitpun kepada semua musuh-musuhnya.
———
* Bentrokan di Lembah Luminara.
Malam itu saat cuaca cerah dan cahaya rembulan purnama sedang menyinari kegelapan kota, kerajaan Aria melakukan penjarahan ke wilayah salah satu elf, bernama Lembah Luminara.
Diseluruh kerumunan prajurit Aria yang sedang melakukan penyerangan, ada satu nama prajurit yang dikenal hampir semua orang yang ada di bumi mengetahui namanya, dia adalah Godfrey.
Godfrey, panglima perang perkasa dari kerajaan Aria, dikenal karena kekuatannya yang luar biasa. Ia memiliki Cincin Mozereo, pusaka keramat yang mampu membangkitkan dua elemen dahsyat, api dan angin.
Kekuatan cincin ini telah berkali-kali menjadi kunci kemenangan pasukan Aria, memudahkan mereka dalam menjarah wilayah-wilayah elf.
***
Seorang prajurit berlari terengah-engah menembus kepulan asap medan perang. Ia berlutut di hadapan sang panglima. "Panglima Godfrey, ada dua kabar yang harus Anda dengar!"
Godfrey tidak mengalihkan pandangannya dari barisan musuh. Ia mengusap cincin di jarinya yang mulai panas. "Katakan," jawabnya singkat. "Kabar apa yang kamu maksud?" Tanya Godfrey.
Rupanya kabar tersebut adalah dua kabar yang berbeda untuk situasi perang.
Kabar pertama adalah kabar buruk bagi pasukan Aria; kabar itu datang disebabkan oleh laporan adanya sosok pemimpin elf yang datang bersama para tentara bantuannya.
Sedangkan kabar kedua adalah kabar baik, setelah Alucard yaitu sang raja, akan segera tiba di medan perang membawa pedang saktinya yang sempat menghilang.
Pada saat Alucard tiba di medan perang, Godfrey saat itu hendak menghampiri Alucard, namun tiba-tiba ia dicegat oleh salah satu tentara elf.
"Mau apa kamu, jangan menghalangi jalanku atau nyawamu akan berakhir disini!" ucap Godfrey sembari mengancam.
Tentara elf itu tak gentar, memaksa Godfrey untuk turun tangan.
Seorang prajurit elf itu menyerbu, mengayunkan pedangnya dengan gesit. Godfrey menangkis serangan itu dengan mudah, lalu membalas dengan serangan kilat yang tak terduga.
Sang elf tersungkur, tak mampu mengantisipasi kecepatan sang panglima. Namun, dengan sisa kekuatannya, ia bangkit kembali.
Godfrey tertegun melihat tekad yang membara di mata lawannya.
Pertarungan kembali berlanjut, kali ini didominasi sepenuhnya oleh Godfrey. Saat sang elf semakin terhuyung, Godfrey mengakhiri perlawanannya menggunakan elemen api.
Api Azura. Godfrey menggunakan kekuatan tersebut yang berasal dari cincinnya, tampak terlihat jelas telapak tangan Godfrey mengeluarkan asap bekas pembakaran.
"Aku ingin segera menemui tuan Alucard biar bisa berduet" kata Godfrey dengan semangat.
Tepat pada saat itu di atas cahaya bulan purnama yang terang, terlihat sesosok bayangan yang sedang melompat.
Godfrey melihat ke arah langit, dan dia jelas tahu siapa sesosok itu.
"Ayo kita hajar mereka Tuan!" Ucap Godfrey dengan mata yang berbinar dan senyuman tipis.
Alucard mendarat dengan sigap.
Godfrey segera melaporkan bahwa bala bantuan elf telah tiba, dipimpin langsung oleh Endrik, pemimpin mereka.
Mendengar laporan itu, Alucard dengan cepat memerintahkan pasukannya untuk mengubah formasi dan menghadang gelombang serangan bala bantuan elf. Sementara itu, mereka akan menghadapi Endrik secara langsung.
Dari depan sana terdengar seruan Endrik yang tengah menyemangati tentara-tentaranya.
"Ayo semuanya kita tidak perlu takut mati buat membela tanah kita sendiri, AYO SERANG!!" teriak Endrik si pemimpin elf.
Endrik, di atas kudanya menerjang medan perang dengan tarian tombak yang memukau. Setiap gerakan begitu indah namun mematikan, merobohkan musuh satu demi satu dengan mudah.
Saat itulah Godfrey dan Alucard tiba, menghadang laju kudanya.
Namun, Endrik sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Dengan tenang, ia turun dari kudanya dan bersiap menghadapi kedua lawannya.
Alucard mengerutkan kening. "Kenapa kau turun, Endrik? Apa kudamu mogok?" Ia terkekeh.
"Serius, naiklah kembali. Aku akan merasa bersalah jika mengalahkanmu saat kau tidak dalam performa terbaikmu."
Endrik hanya membalas dengan senyum mengejek. "Aku tidak butuh bantuan apa pun untuk mengalahkan kalian berdua".
Godfrey hanya mendengus.
"Keterlaluan lihat saja nanti siapa yang akan memakan kata-katanya sendiri," desis Alucard, matanya berkilat marah.
Alucard menyerang dari kanan, mengayunkan pedang saktinya yang legendaris senjata yang konon tak bisa dipatahkan atau dihancurkan.
Di saat yang sama, Godfrey menyerbu dari kiri.
Namun, Endrik tetap tenang, otaknya bekerja cepat mencari celah. Ia tahu reputasi pedang Alucard, dan justru memanfaatkannya.
Saat pedang itu mengayun ke arahnya, Endrik tidak berusaha menghindar atau menangkis dengan senjatanya.
Sebaliknya, ia menahan bilah pedang itu dengan tombaknya, lalu melompat ke udara dan menghantam Godfrey dengan tendangan keras menggunakan kedua kakinya, membuat sang panglima terpental jauh.
"Godfrey kamu baik-baik saja?" tanya Alucard dengan nada khawatir.
"tentu, aku baik-baik saja, dia ini emang kuat kita harus melawannya dengan serius," ucap Godfrey sambil membersihkan noda tanah di zirahnya.
Situasi di medan perang semakin menggila dengan kedatangan bala bantuan elf, namun pasukan Aria tetap unggul karena jumlah mereka yang jauh lebih besar.
Sementara itu, Alucard dan Godfrey semakin terpojokkan oleh Endrik.
Tiba-tiba, Endrik mengaktifkan kekuatan tersembunyi tombaknya.
Senjata itu berubah wujud menjadi Trisula Takdir, dengan tiga mata pisau yang berkilauan mematikan.
Di saat genting, ketika Endrik memiliki kesempatan sempurna untuk membunuh Alucard, ia menusuknya dengan Trisula tersebut.
Tanpa di duga, takdir berkata lain. Dengan pengorbanan heroik, Godfrey melompat menghadang serangan itu, menyelamatkan nyawa Alucard.
Alucard terkejut tidak main setelah melihat aksi heroik dari Godfrey.
Alucard meraih tubuh Godfrey yang hendak tersungkur ke tanah, dia melihat tubuh Godfrey yang terluka parah dibagian perutnya, jantungnya berdegup kencang tidak teratur seakan akan dunia ingin runtuh.
Endrik dengan tatapan yang dingin namun dengan menunjukkan sedikit ekspresi iba nya, "Alucard, Godfrey. Aku tidak punya waktu untuk basa-basi. Aku minta maaf... atas semua yang terjadi." Endrik pergi meninggalkan mereka berdua.
Tanpa sadar Alucard meneteskan air matanya hingga air mata tersebut mengalir membasahi pipinya.
Godfrey menggenggam tangan Alucard dengan lemah, "tuan Alucard... jangan... jangan bersedih... aku... aku bangga bisa melindungimu..."
Alucard menahan air matanya supaya tidak jatuh lebih banyak, "Godfrey... kau adalah teman terbaikku... pahlawan dan panglima paling terhebat di Aria..."
Sebelum Godfrey menghembuskan nafas terakhirnya dia menitipkan amanah kepada Alucard.
Godfrey menggenggam tangan Alucard dengan lemah "Tuanku... tuanku... dengarkan aku... ada sesuatu... yang harus kutitipkan padamu... tuan..."
Alucard dengan cemas "Apa itu, Godfrey? Jangan bicara terlalu banyak."
Godfrey dengan susah payah "Cincin... Mozereo... warisan keluargaku... berikan... pada Ethan... anakku..."
Alucard mengangguk dengan tegas "Aku janji, Godfrey. Aku akan memberikannya padanya. Aku akan menjaganya."
Tuanku... tolong jaga dia... tuan... dia adalah... salah satu... masa depan Aria..." Napasnya semakin melemah hingga beberapa detik kemudian Godfrey pun meninggalkan dunia ini selamanya.
Endrik memerintahkan seluruh tentaranya untuk mundur dari medan perang. Mereka harus merelakan lembah Luminara pada pasukan Aria, karena menurut Endrik keputusan ini lebih baik daripada harus memakan lebih banyak lagi korban jiwa.
Kemenangan kali ini berada di pihak manusia akan tetapi kemenangan kali ini tidak memberikan rasa gembira di hatinya Alucard, dia merasa terpukul setelah kehilangan panglima sekaligus teman terbaiknya itu.
***
Keesokan paginya Alucard datang ke rumah orang tua Ethan guna memberikan kabar tentang kematian Godfrey.
singkat cerita saat Alucard tengah menjelaskan, tiba-tiba saja ibunya Ethan terjatuh pingsan karena memgalami syok berat setelah mengetahui kekasih tercintanya telah meninggal.
Sebelum wanita itu pingsan dia sempat menangis histeris sampai-sampai membangunkan Ethan kecil yang masih tertidur.
Alucard belum sempat menyelesaikan kalimatnya saat tubuh wanita itu ambruk.
Ethan yang baru terbangun hanya bisa menatap bingung dari balik pintu, menyaksikan ibunya digotong terburu-buru oleh para prajurit.
Bocah itu tak pernah menyangka, bahwa fajar tersebut adalah momen terakhir ia melihat napas di tubuh sang ibu.
Meski para prajurit telah melarikan ibunya ke pusat penyembuhan komunal, nyawa wanita itu tak terselamatkan. Jantungnya berhenti berdetak, tak kuasa menahan hantaman duka yang begitu hebat.