Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Bara Bangkitnya Sang Millyader

Bara Bangkitnya Sang Millyader

Bulan Jingga | Bersambung
Jumlah kata
53.4K
Popular
202
Subscribe
55
Novel / Bara Bangkitnya Sang Millyader
Bara Bangkitnya Sang Millyader

Bara Bangkitnya Sang Millyader

Bulan Jingga| Bersambung
Jumlah Kata
53.4K
Popular
202
Subscribe
55
Sinopsis
18+PerkotaanAksiMiliarderAnak Yatim PiatuIdentitas Tersembunyi
Tumbuh dalam balutan dendam yang mengusik, membuat Bara Antonio hidup dalam bayang-bayang luka kedua orang tuanya. Ketika peluru melesat tembus jantung Pak Robby dan Bu Helena, Bara menyaksikan pembantaian itu secara keji didepan matanya. Beberapa tahun berlalu, Bara kecil bangkit, berubah menjadi pria paling mendominasi di kotanya. Tapi, Bara rela menyamar sebagai pria biasa yang hidup pas-pasan demi bisa bertemu keluarga Colton. Namun siapa sangka, jika penyamaran Bara berujung pada pertemuanya dengan gadis bernama Olivia. Seletah menyelidiki, Olivia adalah putri ke-2 keluarga Colton. Keluarga yang Bara incar selama ini.
Episode 1

Dibalik bangunan kecil tepatnya disebuah kamar, bocah kecil itu meringkuk ketakutan, memeluk lututnya di pojok ruang. Jantungnya berdegup kencang, hingga deru nafanya kian mengikat terasa sesak.

Dor!

Dor!

Suara tembakan di luar saling bersahutan, entah apa yang terjadi sebenarnya. Bocah kecil itu bersembunyi, ketika melihat musuh Ayahnya datang memberontak.

"Tolong... Jangan lakukan ini pada putraku?" mohon Pak Roby dengan dada terkoyak bersimbah darah.

Di ambang kematiannya pun, pria berusia 45 tahun itu bersimpuh dibawah kaki Doni Colton. Pria kejam yang kini menjadi mafia, dan paling di takuti di kotanya.

Entah apa masalah yang sebenarnya terjadi, hingga pria kejam itu mengincar nyawa Roby.

Bugh!

Bugh!

Di sela pintu, Bara kecil menyaksikan dengan mata terbuka bagaimana kejamnya para bandit itu menyiksa keluarganya tanpa ampun.

Awh!!! Pekiknya.

Tubuh Pak Roby tersungkur, terasa lemas tak berdaya.

"TEMBAK LAGI!"

Suara Doni Colton menggeratak, menggema kuat menembus dinding rasa takut Bara.

Dor!

Timah panas itu berhasil menyayat jantung Roby, hingga pria itu tewas dengan beberapa sayatan bekas tembakan.

Helena, wanita cantik itu meraung kencang melihat suaminya di habisi Doni didepan matanya sendiri. Sambil memeluk tubuh putra sulungnya, Helena menangis, merasakan hidupnya juga di ambang kematian.

"SERET ANAK ITU!"

Satu anak buah Doni bergerak, memisahkan Tomi kecil yang dulu berusia 9 tahun dari dekapan Helena.

"Ibu... Tomi takut, Bu....." Tangisan Tomi tak kalah pecah, ketika kepalanya sudah di todong pistol oleh anak buah Doni Colton.

Tubuh Helena terguncang hebat. Wanita berusia 35 tahun itu menyeret tubuhnya, bersimpuh di kaki Doni, menampakan wajah frustasi. "Aku mohon, jangan sakiti putraku! Jika kalian mau bunuh... Maka ambil saja nyawaku, asalkan putraku kalian bebaskan!"

Doni bergeming, berdiri angkuh tak terpengaruh. Ia menghentakan satu kakinya, hingga membuat tubuh Helena tersentak.

Lalu, dengan wajah bak seekor singa buas, Doni berjalan mendekati Helena, memeluk sebelah kakinya sambil mencengkram kuat rahang Helena.

"Kau sudah berniat meninggalkan aku, Helena. Jadi, kau juga harus bersiap meninggalkan duniamu," suara Doni melemah, namun kalimatnya menusuk dada Helena.

Brak!

Kepala Helena menghantam pinggiran meja, ketika Doni berhasil menghempaskan cengkramanya kebelakang.

Tanpa Helena tau, darah seger mengalir membasahi rambut begitu punggung rapuhnya. "Lebih baik aku Mati... Daripada hidup dengan pembunuh sepertimu, Doni!" teriak Helena yang sudah frustasi.

Doni bangkit. Dadanya bergemuruh kuat. Wajahnya sudah merah padam, hingga kaki jenjangnya terulur, dan...

Bugh!

Sekali tendangan, membuat Helena membusungkan dada, sambil menahan sakit yang luar biasa pada punggungnya.

Dengan gerakan cukup teratur, Doni langsung menarik pistol dari saku jasnya, dan diarahkan ke wajah Helena.

Dor!

Dor!

Dua kali tembakan itu, Helena langsung terjatuh, tewas secara tragis. Air matanya mengalir, merasakan kehancuran yang lebur dalam dendamnya. Yang paling membuatnya tidak terima, yakni meninggalkan satu mutiaranya di rumah sendiri. Dalam mata terpejamnya, ia berdoa semoga Bara selalu dalam dekapan Tuhan.

Bara sudah menahan tangis sesegukan. Ia urungkan niatnya untuk bangkit. Ia bekap mulutnya dalam-dalam dibalik pintu. Dan barulah, ketika para Mafia tadi sudah keluar, tangisan Bara kecil pecah.

"Ibu....."

Bara berlari dan langsung menghambur dalam pelukan Ibunya. "Ibu, tolong bangunlah! Bu... Bara ikut Ibu saja.... Hiks hiks hiks...."

Bocah kecil berusia 7 tahun itu bangkit, mencari keberadaan sang Kakak yang berada di belakang pintu utama, sama sudah tewas dalam keadaan remuk bersimbah darah.

"Kak, bangunlah! Kenapa mereka tega membunuhmu. Apa salah anak kecil sepertimu...." racau Bara di sela isakannya.

Ia lalu bangkit lagi menuju lorong disebelah ruang keluarga. Ayahnya tewas bersandar dengan bekas luka tembakan dan juga sayatan benda tajam. Bara meluruhkan tubuh kecilnya disamping tubuh sang Ayah. Lagi-lagi ia menangis meratapi semua itu.

Didalam bangunan mewah itu, Bara meringkuk sendirian, menatap bingung harus bagaimana lagi diri kecilnya menjalani kehidupan.

*****

Beberapa tahun berlalu.

Tok!

Tok!

Pintu terbuka dari luar, seorang pria berusia 37 tahun masuk dengan pakaian formal, berwajahkan kaku, namun langkahnya cukup teratur, berhenti di depan meja utama, sambil menyodorkan sebuah Ipad kerja.

"Tuan, ini biodata Doni Colton yang sekarang menetap di kota Anteria."

Sambil menerima Ipad tadi, Bara yang sedang duduk di kursi kebesarannya, tampak menelisik setiap kata yang terlampir. Wajahnya manggut-manggut, lalu kembali menyerahkan Ipad tadi kepada sang Asisten.

Bara menatap arloji dipergelangan tanganya sekilas. Lalu kembali menatap Boya, "Siapkan mobil, siang ini kita langsung pergi ke Anteria!"

Asisten bernama Boya itu tertunduk, pamit, lalu segera melanggang keluar.

Ruangan kerja itu kembali senyap. Bara kecil yang dulu di selimuti rasa takut, serta cemas, kini berubah menjadi sosok pemimpin yang paling mendominasi. Diusianya saat ini-30 tahun, tidaklah mudah Bara untuk menempuh perjalanan yang penuh lika liku, duri, bahkan air mata sekalipun, hingga sampai ke tahap puncak karirnya saat ini.

Bara masih ingat, ketika ia diasuh oleh sang nenek, ikut berjualan setiap harinya, bahkan, ia juga sering mendapat pembullyan dari beberapa temannya sebab ia hanyalah anak yatim piatu.

Dan semua hal itu harus melekat di kepala Bara sampai kini.

Memiliki segalanya, sukses akibat benturan luka yang membuat semangatnya bangkit, nyatanya hidup Bara terasa hampa tanpa kehadiran keluarganya. Hana, satu-satunya wanita yang ia punya, harus gugur di saat ia sedang meniti puncak kariernya.

Hana bukan hanya sekedar nenek, tapi Bara sudah menganggapnya Ibu, jantung sebagi pengganti kedua orang tuanya.

Bara menghembuskan napas lemah. Ketampanan Bara warisan dari wajah Ibunya. Ketegasan serta wibawanya turunan dari Ayahnya-Roby. Meskipun dikenal dingin, namun Bara selalu bersikap dermawan kepada orang-orang disekitar kotanya.

Banyak rekan-rekan bisnisnya yang sering menawarkan anak gadisnya agar dapat menjadi Istri Bara. Namun, pria berusia 30 tahun itu belum memiliki keinginan berumah tangga, sebelum ia dapat membalaskan dendamnya kepada keluarga Colton.

Waktu sudah menunjukan pukul 14.30

Pintu kembali terketuk dari luar, seorang pria parubaya masuk, tertunduk memberi salam sopan. Bukan Boya, melainkan kepala pelayan di rumah Bara.

"Den... Koper sudah siap," ucapnya.

Bara bangkit, mengangguk kecil lalu segera berjalan keluar terlebih dulu. Sementara kepala pelayan tadi, ia segera menutup pintu kembali, dan mengikuti Majikannya berjalan kedepa.

Di tengah-tengah rumah mewah itu, Bara sudah rapi dengan mantel tebal, berdiri sambil memegang handle koper. Namun sebelum berangkat, pria tampan itu menatap sang pelayan terlebih dulu.

"Paman Max, untuk beberapa minggu kedepan, tolong aturlah rumah ini dengan baik! Saya tidak pasti kapan saya akan pulang," kata Bara dengan suara tegas.

Paman Max mengangguk, "Saya tidak aka mengecewakan Anda!"

Barulah setelah itu Boya masuk, membawa koper Bara untuk dimasukan kedalam bagasi.

Langkah Bara menggantung di ujung teras. Gawainya tetiba bergetar,

Drttt!

"Ada apa, Sarah?"

Lanjut membaca
Lanjut membaca