

Api ada di mana-mana, menyebar bagai angin di musim dingin. Melengkapi penampilan ngeri di sebuah tempat yang bangunan-bangunannya tak lagi berdiri dengan kokoh.
Sepasang manusia tampak berbicara dengan singkat sebelum akhirnya Sang Pria meninggalkan wanitanya dengan kesedihan dan keengganan yang tertulis di wajahnya.
"Lindungi dia, lakukan yang terbaik untuk menyelamatkannya." Itu adalah kata terakhir yang bisa dia dengar dari wanita yang paling dia cintai sebelum dia mengambil langkah berat kemudian dengan cepat berlari seraya berusaha untuk melindungi satu nyawa yang ada di dalam pelukannya.
Pria itu mulai mengaktifkan serangkaian ritual sihir rumit setelah mencapai tempat yang jauh dari medan pertarungan. Dia meletakkan bayi yang ada di dalam gendongannya di tengah-tengah simbol rumit raksasa yang tergambar di atas tanah. Dengan bantuan seekor naga hitam, pria itu tersenyum lega saat sekelebatan cahaya biru melingkupi Sang Bayi.
Namun ritual itu belum sepenuhnya selesai ketika seseorang dengan sosok tinggi mengenakan pakaian serba hitam muncul dengan memegang sesuatu yang memancing amarah dari pria yang melarikan diri.
Pria itu berbalik pada naga hitam, memberikan sebuah isyarat yang penuh arti sebelum dia kembali pada sosok tinggi yang niatnya jelas untuk menggagalkan ritual yang ia mulai.
Dengan kemarahan yang melimpah dalam dirinya, pria itu mengirim gelombang sihir petir yang disertai dengan deru yang menggelegar.
Tepat pada saat itu, naga hitam memasuki simbol sihir, menggunakan sayapnya untuk melindungi sang bayi sebelum cahaya biru semakin membesar dan menelan mereka berdua.
******
Seorang anak dengan rambut perak terbangun dari tidurnya, dia terengah-engah, keningnya tampak mengkilat dari berkas cahaya yang mengenai keringat yang melapisi kulitnya. Setelah beberapa saat mengatur napas, dia tampak menautkan kedua alisnya.
"Mimpi itu lagi…." gumamnya seraya mengusap lembut wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Sejak dia menginjak usia 8 tahun, mimpi yang sama terus menerus menghampirinya, itu seperti sebuah kenangan tersembunyi yang ingin ditemukan. Tetapi kenangan siapa? Dia masih berusia 12 tahun sekarang, dan ingatannya masih cukup baik untuk mengingat bahwa dia tak pernah mengalami kejadian itu.
"Aneh." Anak itu menggerutu sebelum beranjak dari tempat tidurnya.
Matahari sudah semakin tinggi, sepertinya dia terlambat untuk memulai aktivitasnya hari ini. Dia keluar dari kamar, dan melihat ibunya sudah bersiap untuk ke ladang.
"Bu, apakah Ayah sudah pergi?" Anak itu bertanya dengan raut wajah bersalah. Seharusnya dia menemani ayahnya untuk menjual hasil panen mereka di pasar kota.
"Oh, Hann. Kau sudah bangun? Ayahmu sudah pergi sejak dini hari tadi. Sebaiknya kau sarapan dulu. Ibu akan ke ladang untuk menanam benih baru."
Baru saja ibunya hendak melangkah keluar, Hann segera mencegahnya.
"Bu, tunggu… aku ikut." Hann meraih gelas, mengisinya dengan air dan menghabiskannya dengan sekali teguk. Kemudian dia meraih sepotong roti di atas meja.
Ibunya hanya tersenyum lembut, kemudian mereka berjalan ke ladang yang tidak jauh dari rumahnya.
Seperti biasa, orang-orang selalu menatap Hann saat dia keluar bersama ibu ataupun ayahnya. Bukan karena mereka adalah orang-orang yang ramah, tetapi itu adalah tatapan penuh penghinaan.
Hann dan keluarganya tinggal di sebuah tempat di pinggiran kerajaan Acherron, di mana mereka adalah keluarga termiskin di daerah tersebut. Untuk menyambung hidup, mereka harus menyewa ladang milik pejabat daerah yang harga sewanya tidak kecil. Mereka tidak memiliki apa-apa selain rumah gubuk yang mereka tinggali.
Kebanyakan penduduk di daerah itu berprofesi sebagai petani, tetapi mereka masih memiliki ladang sendiri untuk diolah. Tidak seperti keluarga Hann.
"Lihat anak itu. Bukankah dia tampak seperti hewan ternak yang diberi makan gratis? Ibu dan ayah angkatnya saja sudah sangat miskin, tetapi di umurnya yang sekarang dia belum bisa melakukan apa-apa untuk membantu mereka," seorang pria berbicara terang-terangan saat Hann dan ibunya lewat.
"Entah apa yang dipikirkan oleh suami istri itu. Kabarnya mereka bahkan ingin memasukkan bocah itu ke akademi sihir," komentar pria lainnya.
"Benarkah? Bukankah itu keinginan yang benar-benar mustahil? Mereka sungguh tak tahu diri."
"Ya, aku mendengarnya sendiri. Ayahnya ingin meminjam uang pada Tuan Fang untuk memasukkan bocah itu ke akademi sihir, tetapi tentu saja dia tidak mendapatkannya."
"Lucu sekali."
Mendengar percakapan itu, Hann mengepalkan tangannya, dia selalu menerima penghinaan apapun untuk dirinya, tetapi bukan untuk ayah dan ibunya. Dia tahu bahwa ibu dan ayahnya bukanlah orangtua kandungnya. Tetapi dia juga tahu dengan baik bahwa mereka melakukan yang terbaik untuk dirinya.
"Hann, sudahlah…. Ayo cepat sebelum sinar matahari semakin panas." Suara ibunya membawa sedikit ketenangan pada Hann. Jadi mereka terus berjalan.
Saat sampai di ladang, Hann membantu ibunya untuk membuat gundukan tanah yang akan diisi oleh benih dengan keterampilan sihir tanahnya. Dia juga menggunakan sihir air ringan untuk menyiram tempat-tempat yang telah ditanami.
Sejak umur 5 tahun, Hann sudah memperlihatkan bakat sihir alami, tetapi kedua orangtuanya tidak punya biaya yang cukup untuk mengirimnya ke akademi sihir. Jadi dia hanya berlatih sendiri tanpa guru maupun buku sihir.
Sejak Hann menunjukkan bakat sihirnya, orang tuanya berusaha semaksimal mungkin untuk menabung, karena kekuatan sihir akan membawa pemiliknya ke tingkat yang lebih tinggi, tetapi biaya itu belum juga terkumpul hingga Hann berusia 12 tahun.
Setiap anak yang memiliki bakat sihir dengan usia 7-12 tahun, pada umumnya akan masuk ke akademi sihir untuk mengembangkan kemampuannya. Ini adalah tahun terakhir bagi Hann untuk memasuki akademi sihir, dan dia sudah berpikir bahwa itu hanya akan terlewat begitu saja.
"Bu, aku akan pergi ke sungai. Aku akan segera kembali," kata Hann pada ibunya setelah semua pekerjaan mereka selesai.
Sementara itu, Ibu Hann yang duduk untuk melemaskan otot dan sarafnya yang terasa kaku, hanya mengangguk pelan. Dia sudah tahu itu, setiap kali mereka selesai bekerja di ladang, maka Hann akan pergi ke dekat sungai untuk melatih sihirnya.
Anak laki-laki berambut perak itu pun berlari dan dengan cepat mencapai tujuannya. Seperti biasa, dia memainkan air sungai, jemarinya dengan lincah bergerak, membuat air yang dikendalikan meliuk seperti ular sebelum akhirnya pecah seperti butiran hujan.
Setelah puas bermain dengan air, ia beralih pada tanah kering disekitarnya. Dia membentuk retakan-retakan kecil di tanah, sebelum dia beralih menggerakkan udara disekitarnya, membuat dedaunan terbang melintasi sekelilingnya untuk beberapa saat.
Hann berhenti, menghembuskan napas panjang dengan ekspresi bosan di wajahnya. Selama beberapa tahun, dia terus berlatih, tetapi tidak mendapatkan banyak kemajuan karena pengetahuan yang terbatas. Tak ada yang mengajarinya dan dia juga tidak bisa mengakses perpustakaan daerah karena dia hanyalah rakyat jelata.
Hanya orang-orang dari clan-clan tertentu atau orang-orang yang memiliki uang yang bisa mendapatkan akses untuk memasuki perpustakaan daerah. Bahkan meskipun semua orang di wilayah itu tahu tentang bakat sihir Hann, tidak ada yang benar-benar peduli tentang itu.
Setelah cukup beristirahat, Hann berbalik untuk menemui ibunya, tetapi apa yang dia lihat di hadapannya adalah hal yang sangat mengganggunya.
Itu adalah 3 orang anak laki-laki seusianya, mereka adalah anak-anak dari orang-orang berpengaruh di daerah tempat tinggal Hann. Dan anak-anak itu tak pernah melewatkan kesempatan untuk menghina Hann.
"Bukankah sudah kukatakan padamu untuk tidak menunjukkan wajahmu di hadapan kami? Kau benar-benar menjijikkan," kata seorang anak laki-laki yang merupakan pemimpin dari ketiganya.
"Dia berlatih sihir lagi. Dasar tak tahu diri. Apa yang rakyat jelata sepertimu bisa lakukan? Kau hanya bisa bermain dengan elemen-elemen kecil itu, kau bahkan tidak mempelajari apapun," komentar seorang lagi, dan segera memperlihatkan kemampuan sihirnya.
Anak itu mengulurkan tangannya ke arah sungai, membuat air sungai dengan volume besar melayang di udara sebelum jatuh dan membasahi seluruh tubuh Hann.
"Hahahaha," ketiga anak laki-laki itu tertawa dengan penuh penghinaan. Sementara Hann hanya bisa berdiam diri.
Bukan karena dia pengecut dan takut untuk melawan, tetapi terakhir kali dia memberikan pelajaran pada ketiga anak itu, kedua orangtuanya tidak bisa berladang selama 2 bulan.
"Sebaiknya jangan membuang-buang waktumu untuk sihir kecil itu. Kau lihat? Kami sudah berada di akademi sihir selama hampir 5 tahun dan mengalami banyak peningkatan. Sedangkan kau masih bermain dengan air dan debu. Rakyat jelata akan tetap menjadi rakyat jelata. Kau tidak akan bisa mengharapkan sihir kecilmu itu untuk mengangkat derajatmu dan kedua orang tua miskinmu. Dasar babi ternak."
Setelah mengucapkan itu, ketiga anak laki-laki itu berjalan pergi sambil terus tertawa puas.