

Tahun 1430 Kekaisaran Zephyron
Sebelum malam bulan merah itu, kediaman utama keluarga Dravenrock adalah simbol keteguhan.
Benteng Iron Fortress berdiri di atas batu hitam yang dipahat tangan manusia, dikelilingi tembok berlapis dan menara pengawas yang tak pernah benar-benar tidur. Api obor menyala rapi di sepanjang lorong, penjaga berganti sif tanpa suara gaduh, dan doa-doa kecil selalu terucap sebelum pergantian malam.
Di aula utama, bendera Dravenrock tergantung berat kain tebal berwarna abu besi dengan lambang perisai retak. Lambang yang tidak menjanjikan kemenangan, hanya ketahanan.
Malam itu seharusnya seperti malam-malam lainnya.
Namun bulan naik dengan warna yang salah.
Merah tua.
Seolah langit mengingat sesuatu yang ingin dilupakan dunia.
Gelombang monster meningkat sejak senja.
Laporan datang bertubi-tubi dari pos perbatasan: gerombolan yang lebih rapat, makhluk dengan bentuk yang tidak dikenali, dan aura Abyss yang terasa lebih berat dari biasanya. Kepala keluarga Dravenrock memimpin langsung pembasmian, membawa sebagian besar ksatria utama keluar dari benteng.
Yang tersisa di Iron Fortress hanyalah Keluarga inti, Beberapa ksatria veteran, Pelayan dan penjaga, Mereka cukup—atau setidaknya, seharusnya cukup.
Ketika lonceng peringatan berbunyi, suaranya terpotong di tengah dentang.Bukan karena rusak.
Melainkan karena sesuatu memotongnya.
Bayangan itu muncul tanpa tanda.
Tidak keluar dari Abyss, tidak menembus gerbang, tidak menghancurkan tembok.
Ia sudah ada di dalam.
Para ksatria Dravenrock bergerak cepat—formasi terbentuk, aura menyala, perisai dikunci. Mereka adalah penjaga wilayah, bukan prajurit istana. Setiap langkah mereka efisien, setiap serangan diarahkan untuk menahan, bukan memamerkan.
Namun sosok bayangan itu tidak bertarung.
Ia membelah.
Aura para ksatria seperti kertas basah di hadapannya. Tubuh terpisah sebelum rasa sakit sempat muncul. Darah membasahi lantai batu yang sudah ratusan tahun tidak mengenal penyerang dari dalam.
Pelayan ikut menahan bukan karena mereka bisa, melainkan karena mereka tidak tahu harus lari ke mana.
Jeritan tidak berlangsung lama.
Benteng yang biasanya penuh gema menjadi sunyi terlalu cepat.
Di lorong terdalam, seorang wanita berlari.
Napasnya terengah, gaunnya ternodai darah yang bukan miliknya. Tangannya menggenggam erat tangan seorang bocah laki-laki, terlalu kuat untuk disebut lembut, terlalu putus asa untuk dilepaskan.
Langkah mereka bergema di koridor sempit menuju ruang yang tidak tercatat di denah resmi benteng.
Altar tersembunyi.
Di sana, ukiran alkimia tertanam langsung di lantai—lingkaran kompleks dengan garis-garis halus yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang mengerti harga dari perpindahan instan.
Wanita itu berlutut, tangan gemetar menyusun pola. Mana mengalir, bercampur aura, memaksa tubuhnya menahan beban yang seharusnya dibagi.
Cahaya mulai menyala.
Lalu ia teringat.
Anak pertamanya.
Masih tertidur di kamar atas, dijaga keyakinan palsu bahwa tembok Dravenrock tidak akan runtuh.
Cahaya lingkaran bergetar.
Wanita itu memeluk bocah di hadapannya—terlalu singkat, terlalu erat.
“Kau harus pergi,” bisiknya, suaranya pecah.
“Jangan menoleh. Teruslah Hidup maafkan ibu karena tidak bisa menemani, ibu janji kita akan bertemu lagi."
Bocah itu hendak bicara, namun dunia melipat dirinya sendiri.
Cahaya menelan tubuh kecil itu.
Ketika altar padam, wanita itu berdiri sendirian.
Ia menoleh sekali ke arah tangga, ke arah kamar anak sulungnya lalu berbalik dan berlari, membawa janji yang ia sendiri tidak yakin bisa ditepati.
Fajar datang tanpa hormat.
Iron Fortress tidak runtuh dalam kobaran api. Ia hancur dalam keheningan.
Tembok masih berdiri. Gerbang masih utuh. Namun setiap lorong dipenuhi tubuh tak bernyawa. Tidak ada tanda perlawanan panjang. Tidak ada bekas pengepungan.
Hanya kematian yang rapi dan cepat.
Kepala keluarga Dravenrock tidak pernah kembali dari pembasmian malam itu.
Wanita yang berlari ke altar tidak pernah ditemukan.
Anak sulung di kamar atas tak pernah tercatat nasibnya.
Yang tersisa hanyalah keluarga cabang dan para vassal yang datang terlambat untuk apa pun selain mengubur.
Keesokan harinya, Kekaisaran terbangun dalam kebingungan.
Berita menyebar lebih cepat daripada yang bisa ditahan: Dravenrock jatuh. Benteng penjaga perbatasan musnah dalam satu malam. Keluarga yang selama ini dianggap mustahil runtuh… runtuh tanpa perang.
Badan Informasi Kekaisaran bergerak tergesa
Surat kabar hanya memuat setengah kebenaran:
“Kediaman utama keluarga Dravenrock diserang oleh demon kelas tinggi.
Ancaman telah dinetralisir.
Kekaisaran dalam kendali.”
Tidak ada penyebutan sosok bayangan.
Tidak ada pertanyaan tentang bagaimana benteng ditembus.
Tidak ada jawaban tentang keberadaan Kepala keluarga.
Namun setengah kebenaran tetaplah cukup untuk menyalakan ketakutan.
Pasar menjadi gaduh.
Doa-doa malam kembali diucapkan.
Orang-orang mulai mengunci pintu lebih awal, meski tahu pintu tak pernah berarti banyak.
Dan di balik tirai istana, para Guardian Family menyadari satu hal yang tidak berani mereka ucapkan keras-keras:
Jika Dravenrock bisa jatuh dalam satu malam
maka tidak ada yang benar-benar aman.
Malam bulan merah itu tidak hanya menghancurkan sebuah keluarga.
Ia mengakhiri ilusi bahwa Kekaisaran masih berdiri di atas fondasi yang utuh.
Dan di suatu tempat yang jauh, seorang bocah tumbuh tanpa tahu bahwa darah terakhir mengalir di nadinya sementara Abyss, sekali lagi, belajar bahwa menunggu adalah senjata terbaik.