

Suasana begitu asri, pepohonan yang rimbun dan terdapat sungai kecil dihalaman di rumah yang bergaya 'modern' itu,terdapat juga beberapa tanaman hias yang begitu cantik tertata rapi didepan rumahnya...cahaya matahari yang masuk melalui jendela kamar itu,membuat dia terbangun,hanya dengan menggunakan singlet berwarna abu abu dan menggunakan boxer hitam itu...
Melihat kamarnya bergaya modern simpel itu membuat dia merasa lelah dengan hari hari yang dia jalani,seperti biasa dia akan mendengar omelan ibu dan ayahnya,setelah itu bangunlah dia dari tempat tidurnya dan pergi kekamar mandi menyikat giginya dan mencuci wajahnya, pada saat didepan cermin dia melihat wajahnya...
"hmm kurasa Andre meninju ku begitu keras.."
sambil memegang wajahnya itu..., setelah semua selesai dia menggunakan kemeja sekolahnya dan turun menuju ke meja makan, sambil menuruni tangga , ibunya memanggil
"Jo?...,kau baru bangun??..yaudah siap siap sana nanti kau terlambat"
kata ibunya sambil menyiapkan sarapan...
Ya..namanya adalah jovan, wajahnya tampan tapi dia seperti orang tak punya semangat hidup,kurus dan membungkuk cenkungan matanya dalam dan menghitam ,seperti tidak tidur berhari hari,tingginya mencapai 179cm,karena itu gurunya memasukkan dia kedalam klub basket disekolahnya tapi dia tidak mau,katanya semua hanyalah sebuah kiasan semata,dia berpikir tidak akan pernah masuk ke klub basket itu,dan menjadi salah satu anggota nya..dia tau kalau dia mengikuti ekstrakulikuler atau kegiatan lainnya ayahnya tak akan pernah mengijinkannya, hanya diam dirumah membantu ibu atau ayahnya ,ibunya suka berkebun sedangkan ayahnya bekerja dikantor dan setiap sore juga ikut berkebun dibelakang rumah...
Saat berada di meja makan untuk sarapan ayahnya duduk di ikuti ibu ,kakak laki lakinya dan juga adik perempuannya yang masih duduk di kelas 2 SMP itu dan dia adalah yang paling terakhir duduk....
Dia berhadapan dengan kakaknya yaitu Christovel , Christovel adalah kakak nya Jo sedang berkuliah disalah satu kampus yang terkenal di kota itu,badannya berisi,tidak gemuk tapi sedikit kekar,wajah nya sangat mirip ayah mereka,hidung yang mancung,tinggi dan wajah yang tegas tergambar jelas di wajahnya, Chris mempunyai sifat yang bertolak belakang dengan ayah mereka yang begitu keras, chris malah memiliki sifat ceria dan suka mencairkan suasana disaat tegang diantara keluarganya...
Saat lagi makan ayahnya tiba tiba terdiam melihat wajah Jovan dan memerhatikan wajahnya lebih teliti dengan dahi mengerut itu..
"Kenapa wajahmu? Dipukul lagi?.."
Tanya ayahnya dengan nada datar..
Lama untuk Jovan menjawab pertanyaan ayahnya itu,seolah olah siap menerima tamparan dari ayahnya, namun itu tidak terjadi..
" Ehh..iya yah..."
Jawab Jovan sambil menundukkan kepalanya..
" Siapa?"..
Tanya ayahnya dengan nada datar lagi sambil memakan sarapannya itu...sekali lagi Jovan diam lama untuk langsung menjawab pertanyaan ayahnya...
" Ehh... Andre yah..."
Setelah menjawab pertanyaan itu seketika ayahnya menggeplak meja makan tersebut membuat semua kaget,ayahnya langsung berdiri dan memegang tangan Jovan untuk berdiri dan membuat ibunya menahan ayahnya untuk tidak memukuli Jovan,sementara itu Chris juga menahan ayahnya memisahkan Jovan dan ayahnya, sementara adik perempuannya hanya duduk diam,ketakutan, dia tak bisa melakukan apa-apa, dia tau kalau dia bertindak juga ayahnya akan memarahi nya..., Jovan? Jovan hanya terdiam ketakutan dan siap akan ditampar ayahnya ,namun itu tidak terjadi, ayahnya hanya mendorong dia dipojok dekat pintu...
"Sudah yah..jangan...kamu tampar anak itu lagi akan semakin parah"
Tangisan ibunya mulai berderai...
" Diam!!, jadi kau hanya diam saat dipukuli? Apa aku harus berurusan dengan sekolah lagi?dengan orang tuanya?...atau aku saja yang balik memukuli wajahnya?..."
Emosi ayahnya mulai memuncak..
" Ngga yahh...aku ga berani berurusan dengan sekolah.."
"Sudah yah..biar nanti ku urus semua ini..ayah tidak perlu pakai emosi karna hal seperti ini,kasian Jovan... Toh dia juga akan kesekolah, biar aku yang mengantar dan mengurusnya ini juga udah telat aku sama Jovan akan siap siap yah.."
Chris berusaha untuk berdamai antara ayah dan Jovan..
" Ya sudahlah kalo begitu..ayah akan tunggu hasil laporan dari sekolah ,dan jangan sampai kamu yang salah Jovan... ,ingat kata ayah..., jika itu benar,kamu yang tau apa akibatnya!.."
" Iya ayah..,maaf"
Sambil menundukkan kepalanya berjalan ke meja makan dan mengambil tas sekolahnya di kursi dan pergi bersama Chris...
Diluar saat Chris mengeluarkan motornya disamping Jovan ,Chris langsung tertuju pada lengan Jovan yang membiru seperti bekas pukulan balok besar..
" Tunggu..,apa ini? Jo??..."
Jovan berusaha menutupi lebam biru itu ..
" Bukan apa apa kak.."
Karena terus dipaksa Chris akhirnya Jovan membuka suara...
"Kurasa kita harus keluar dulu biar ayah tidak tau ..."
Menyadari apa yang dimaksud Jovan,Chris pun langsung mengeluarkan motor dan keluar dari halaman rumah...selama perjalanan kesekolah Jovan,mereka diam tidak ada yang berbicara...namun pada saat sampai disekolah Chris mengingat apa yang akan diberitahu oleh Jovan...
pada saat Jovan ingin masuk ke gerbang sekolah Chris bertanya..
"Kenapa lebam biru itu..."
Jovan terdiam dulu..dan membalikkan badannya menghadap Chris dengan motor sportnya itu,motor yang bagi Jovan adalah motor terkeren yang pernah dia lihat...
" Ayah...,ayah..yang memukul.."
Jovan terdiam lagi..
" Pukul pakai apa dan apa salahmu sampai ayah memukul mu?"
Jovan dengan kebiasaan nya terdiam lagi..wajah yang tirus itu selalu murung tergambar padanya...
" A..ayah..ayah..memukulku menggunakan balok penyangga tanaman kaktus punya ibu...,karena a..aku..salah menaruh pupuk pada tanaman sayur ayah.."
Mendengar hal itu Chris heran kenapa hal sepele itu sampai membuat Jovan seperti itu dan tanpa sadar dibalik helm nya yang keren itu ,Chris berlinang airmata, dalam hatinya bertanya separah itu kah ayahnya selama ini kepada Jovan...
"Ya sudah..nanti jam sepuluh aku akan menitipkan obat dan makanan ke guru mu,obati lebam mu..,aku pergi dulu.."
Jovan hanya mengangguk dan melihat kakaknya pergi dan dia membalikkan badannya menuju kesekolah...
Saat berada didalam lingkungan sekolah, berjalan menunduk,itu membuat badan dia terbungkuk,menggendong tasnya yang lusuh..ketika dia memasuki kelas tiba tiba seseorang merangkulnya dan menyapanya..
"Bro...lu udah ngerjain tugas? Hari ini dikumpulin loh...."
"Ehh belom rezz...emangnya tugas apa?"
Sambil berjalan menuju mejanya yang coretan dari meja itu...coretan dari pendahulu dikelas itu...
" Tugas matematika,...emangnya udah?"
Jovan membuka tasnya dan mencoba memeriksa bukunya tapi ternyata Jovan sudah menyelesaikan tugasnya,pelupa tapi tetap bertanggung jawab ...itulah yang menggambarkan Jovan disekolah..
" Gue boleh liat?.. ada beberapa yang belum selesai sih ini..."
" Boleh salin aja rezz.."
Itu Reza..sahabatnya Jovan,orangnya asik ,suka menghibur Jovan kalau lagi ga baik baik saja, walaupun dia juga terkadang menjadi orang pendiam disaat saat tertentu
Jovan juga tau Reza memiliki masalah keluarga namun tidak membawa masalah itu ke ranah pertemanan dan sekolah ,Reza tidak mau masalahnya menjadi salah satu masalah di pertemanan nya,tak hanya itu Reza juga mempunyai ayah yang sama seperti ayah Jovan,hanya perbedaannya ayah Reza seorang pecandu alkohol dan penjudi,apalagi ketika ayahnya kalah dan tak memiliki uang untuk berjudi, Rezalah yang menjadi sasaran ayahnya, sementara ibunya Reza hanyalah seorang petani yang berusaha untuk membiayai keluarganya,namun menyadari hal itu Reza ikut untuk mencari pundi rupiah setelah pulang sekolah untuk membantu ibunya..dia berpikir kalo ibunya tak akan mampu membiayai adik sekolah, ditambah lagi dia juga yang membutuhkan uang untuk membeli keperluan sekolahnya...
Disaat Reza ingin menyalin tugas itu, Jovan tertuju pada bukunya yang sudah Kumal itu... menyadari hal itu Reza langsung menjawab..
"Bukunya basah kemarin,jadi gue jemur deh hehehe..sayang banget kalo dibuang...ibuk gue belom punya duit buat beli buku baru..."
Jovan hanya tersenyum dan duduk memeriksa buku yang lain.. dan Jovan mengeluarkan satu pack buku baru..
" Pake ini aja buat lu ..."
" Ga usahh.. ngapain.. gue gamau"
" Pake aja.. buku lu masih lembab ,ntar guru marah, anggap aja ini sebagai hadiah dari gue..."
Jovan kembali tersenyum..
" Ehh..makasih ya bro..gue bersyukur punya temen kayak lu.. hehehe"
" Iya..zaa sama sama.."
Setelah itu bel sekolah berbunyi dan menandakan masuk kelas, dan guru pun datang, pelajaran dimulai...