Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
HARAPAN DIBALIK KEMUDAHAN

HARAPAN DIBALIK KEMUDAHAN

Iyanpermana11 | Bersambung
Jumlah kata
123.4K
Popular
130
Subscribe
44
Novel / HARAPAN DIBALIK KEMUDAHAN
HARAPAN DIBALIK KEMUDAHAN

HARAPAN DIBALIK KEMUDAHAN

Iyanpermana11| Bersambung
Jumlah Kata
123.4K
Popular
130
Subscribe
44
Sinopsis
FantasiIsekaiTeknologiUrbanBisnis
Ada saatnya kita kehilangan semua yang kita miliki, tapi ada juga saatnya kita menemukan apa yang sebenarnya berharga. Avin (14 tahun) dan Tisya (8 tahun) tidak menyangka bahwa hari-hari mereka di rumah mewah akan berakhir dengan perjalanan menuju kampung halaman bersama ayah yang sakit dan putus asa. Ibu mereka, Bu Novi, telah meninggalkan mereka untuk teman bisnisnya, meninggalkan luka yang dalam dan rasa ditelantarkan. Di tengah kesulitan, mereka membangun semula hidup dari nol: usaha pertanian yang tumbuh berkat teknologi Avin, dan impian Tisya yang akan menjadi dokter. Saat usaha mereka berkembang menjadi perusahaan yang sukses, tak terduga mereka bertemu lagi dengan Bu Novi—yang kini meremehkan mereka dan membanggakan suami baru serta anak-anak barunya. Tapi di balik semua kemegahan, Bu Novi menyadari bahwa dia telah kehilangan yang paling berharga: cinta anak-anaknya. Dan Avin serta Tisya harus memutuskan—apakah dendam yang mereka rasakan lebih kuat daripada kesempatan untuk memaafkan dan menemukan kedamaian? "Keluarga tidak selalu tentang darah—kadang-kadang itu tentang siapa yang memilih untuk tetap bersama kita dalam waktu terburuk."
1. Perjalanan Pulang Kampung

Jakarta terasa menyesakkan. Bukan hanya karena lalu lintasnya yang tak pernah berhenti menggerutu, bukan hanya karena polusi yang menyesap paru-paru setiap kali menarik napas, tapi lebih karena beban yang menghimpit dada Avin. Di usianya yang baru menginjak empat belas tahun, terlalu banyak tanggung jawab yang tiba-tiba dipikulnya. Tanggung jawab untuk menjaga adiknya, Tisya, yang baru berusia delapan tahun. Tanggung jawab untuk merawat ayahnya, Pak Ridwan, yang dulu gagah perkasa, kini ringkih dan lemah. Tanggung jawab untuk masa depan mereka, yang terasa begitu suram setelah badai menerjang kehidupan mereka.

Bus kota itu penuh sesak. Aroma keringat bercampur parfum murahan menusuk hidung. Avin berusaha keras untuk tidak membiarkan Tisya terlalu dekat dengan penumpang lain. Ia menarik adiknya mendekat, melingkarkan tangannya di bahu mungilnya. Tisya menatapnya dengan mata bulat, penuh tanya. Avin tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan kekhawatiran yang berkecamuk di benaknya.

“Kakak, Ayah baik-baik saja?” bisik Tisya, suaranya nyaris tak terdengar di tengah deru mesin bus.

Avin mengangguk. “Ayah cuma kecapekan, Dek. Nanti sampai di rumah Kakek, Ayah pasti istirahat dan sembuh.”

Rumah Kakek. Sebuah tempat yang asing bagi Avin dan Tisya. Mereka lahir dan besar di Jakarta, di rumah mewah dengan halaman luas dan kolam renang berkilauan. Mereka bersekolah di sekolah internasional, bergaul dengan anak-anak dari keluarga berada, dan memiliki segala yang mereka inginkan. Tapi itu dulu. Sebelum pandemi datang dan meruntuhkan bisnis properti Ayah. Sebelum Ibu memutuskan untuk pergi, meninggalkan mereka demi pria lain yang lebih kaya.

Avin melirik ke arah ayahnya. Pak Ridwan terlelap di kursi sebelah, wajahnya pucat pasi. Rambutnya yang dulu hitam legam kini dipenuhi uban. Tubuhnya yang dulu tegap kini kurus dan lemah. Setiap kali bus melewati jalanan berlubang, tubuhnya tersentak, membuat Tisya semakin menggenggam tangannya erat.

“Kakak, aku takut,” bisik Tisya lagi, kali ini air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

Avin menarik Tisya ke dalam pelukannya. “Jangan takut, Dek. Ada Kakak di sini. Kakak janji akan selalu melindungi Tisya dan Ayah.”

Janji. Sebuah kata yang mudah diucapkan, tapi sulit ditepati. Avin tahu, perjalanan mereka baru saja dimulai. Perjalanan menuju tempat yang asing, menuju kehidupan yang tidak pasti. Tapi ia juga tahu, ia tidak sendirian. Ia memiliki Tisya, adiknya yang selalu menjadi sumber kekuatannya. Ia memiliki Ayah, yang meskipun lemah, tetap menjadi panutannya. Dan ia memiliki harapan, harapan bahwa di balik kemudhan ini, akan ada kebahagiaan yang menanti mereka.

Bus keluar dari jalan tol dan memasuki jalanan desa yang sempit dan berliku. Pemandangan berubah drastis. Gedung-gedung pencakar langit Jakarta digantikan oleh hamparan sawah hijau yang membentang luas. Rumah-rumah mewah digantikan oleh gubuk-gubuk reyot yang berjejer di pinggir jalan. Udara pun terasa berbeda. Lebih segar, lebih bersih, meskipun aroma pupuk kandang sesekali menusuk hidung.

Tisya membuka jendela, menghirup udara pedesaan dalam-dalam. “Segar sekali, Kak,” ujarnya, senyum kecil tersungging di bibirnya.

Avin ikut tersenyum. Ia senang melihat adiknya mulai ceria kembali. Mungkin, pikirnya, kampung halaman Ayah ini akan menjadi tempat yang baik untuk memulai hidup baru.

Setelah menempuh perjalanan panjang dan melelahkan, bus akhirnya berhenti di terminal kecil di pinggir kota. Avin membangunkan ayahnya dengan lembut. Pak Ridwan mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha mengumpulkan kesadarannya.

“Sudah sampai, Yah?” tanyanya dengan suara serak.

Avin mengangguk. “Ayo, Yah. Kita sudah sampai.”

Mereka turun dari bus dan berdiri di tepi jalan. Avin mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang akan menjemput mereka. Sesuai janji, Kakek Marno akan menjemput mereka dengan mobil bak terbuka.

“Itu Kakek!” seru Tisya sambil menunjuk ke arah seorang pria tua yang melambai-lambaikan tangannya dari seberang jalan.

Avin tersenyum lega. Ia menggandeng tangan Tisya dan membantu ayahnya menyeberang jalan. Kakek Marno menyambut mereka dengan pelukan hangat.

“Ya Allah, Ridwan. Kamu kurus sekali,” ujar Kakek Marno sambil menepuk-nepuk punggung Pak Ridwan.

Pak Ridwan tersenyum lemah. “Namanya juga lagi sakit, Kek. Nanti juga sembuh kalau sudah di kampung.”

Kakek Marno beralih menatap Avin dan Tisya. “Ini cucu-cucu Kakek, ya? Ya ampun, sudah besar-besar.”

Avin dan Tisya mencium tangan Kakek Marno dengan sopan. Kakek Marno tersenyum senang. Ia mengajak mereka naik ke mobil bak terbukanya.

“Kita langsung ke rumah Kakek, ya. Ibu sudah masak banyak makanan untuk kalian,” ujar Kakek Marno sambil menjalankan mobilnya.

Perjalanan menuju rumah Kakek Marno memakan waktu sekitar satu jam. Jalanan semakin sempit dan berlubang. Rumah-rumah semakin jarang terlihat, digantikan oleh hamparan sawah dan kebun yang luas. Avin dan Tisya terpukau dengan pemandangan yang mereka lihat. Mereka belum pernah melihat pemandangan seindah ini sebelumnya.

Akhirnya, mobil berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang terbuat dari kayu. Rumah itu terlihat tua dan rapuh, tapi tampak bersih dan terawat. Di depan rumah, seorang wanita tua berdiri menyambut mereka dengan senyum hangat.

“Itu Nenek!” seru Kakek Marno sambil mematikan mesin mobil.

Avin, Tisya, dan Pak Ridwan turun dari mobil. Nenek Sumi menghampiri mereka dan memeluk mereka satu per satu.

“Selamat datang di rumah, Nak,” ujar Nenek Sumi dengan suara lembut. “Ibu sudah lama menunggu kalian.”

Avin dan Tisya mencium tangan Nenek Sumi dengan sopan. Nenek Sumi mengajak mereka masuk ke dalam rumah. Rumah itu sederhana, tapi terasa nyaman dan hangat. Di ruang tamu, sudah tersedia hidangan makan siang yang menggiurkan.

“Ayo, Nak. Kita makan dulu. Ibu tahu kalian pasti lapar,” ujar Nenek Sumi sambil mempersilakan mereka duduk di meja makan.

Mereka makan dengan lahap. Masakan Nenek Sumi terasa begitu lezat. Avin dan Tisya sudah lama tidak merasakan masakan seenak ini. Mereka makan sambil bercerita tentang perjalanan mereka. Kakek Marno dan Nenek Sumi mendengarkan dengan penuh perhatian.

Setelah makan siang, mereka beristirahat sejenak. Avin dan Tisya diberi kamar di bagian belakang rumah. Kamar itu kecil, tapi bersih dan nyaman. Avin merebahkan tubuhnya di kasur. Ia merasa lelah sekali. Tapi ia juga merasa lega. Akhirnya, mereka sampai di tempat tujuan. Akhirnya, mereka bisa beristirahat.

“Kakak, aku senang di sini,” ujar Tisya sambil memeluk Avin dari belakang.

Avin tersenyum. “Kakak juga senang, Dek. Kita akan mulai hidup baru di sini. Kita akan buktikan pada semua orang bahwa kita bisa bahagia.”

Malam harinya, Avin tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan tentang masa depan mereka. Ia tahu, perjalanan mereka tidak akan mudah. Akan ada banyak tantangan dan rintangan yang harus mereka hadapi. Tapi ia juga tahu, ia tidak sendirian. Ia memiliki Tisya, adiknya yang selalu menjadi sumber kekuatannya. Ia memiliki Ayah, yang meskipun lemah, tetap menjadi panutannya. Dan ia memiliki harapan, harapan bahwa di balik kemudhan ini, akan ada kebahagiaan yang menanti mereka.

Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela. Ia menatap langit malam yang bertaburan bintang. Bintang-bintang itu bersinar terang, seolah memberikan semangat padanya. Avin menarik napas dalam-dalam. Ia berjanji pada dirinya sendiri, ia akan melakukan apa pun untuk melindungi keluarganya. Ia akan bekerja keras, belajar dengan giat, dan meraih kesuksesan. Ia akan buktikan pada semua orang bahwa ia bisa bahagia, meskipun tanpa harta dan kemewahan.

Di kejauhan, ia mendengar suara jangkrik bernyanyi. Suara itu terdengar merdu dan menenangkan. Avin tersenyum. Ia tahu, ia berada di tempat yang tepat. Di tempat ini, ia akan menemukan kedamaian. Di tempat ini, ia akan menemukan kebahagiaan. Di tempat ini, ia akan memulai hidup baru.

Ia kembali ke tempat tidur dan memeluk Tisya erat-erat. Ia mencium kening adiknya dengan lembut. “Selamat malam, Dek,” bisiknya. “Kakak sayang Tisya.”

Tisya membalas pelukannya. “Aku juga sayang Kakak,” bisiknya.

Avin memejamkan matanya. Ia merasa tenang dan damai. Ia tahu, ia tidak sendirian. Ia memiliki keluarga. Dan itu, sudah cukup baginya.

Di luar, angin malam berhembus sepoi-sepoi, membawa aroma sawah dan kebun yang menenangkan. Bintang-bintang terus bersinar terang, menerangi jalan mereka menuju masa depan. Masa depan yang penuh dengan harapan, cinta, dan kebahagiaan. Masa depan yang akan mereka bangun bersama, sebagai sebuah keluarga.

Di dalam rumah sederhana itu, tiga jiwa yang terluka menemukan tempat untuk beristirahat. Mereka menemukan tempat untuk menyembuhkan luka mereka. Mereka menemukan tempat untuk memulai hidup baru. Di rumah itu, mereka menemukan harapan di balik kemudhan.

Avin terlelap, mimpinya dipenuhi gambaran sawah hijau, bintang-bintang yang bersinar, dan senyum bahagia Tisya dan Ayahnya. Ia tahu, perjalanan mereka baru saja dimulai, namun ia yakin, mereka akan sampai di tujuan dengan selamat. Bersama, mereka akan menghadapi segala rintangan dan meraih kebahagiaan yang mereka impikan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca