Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pasangan tak terkalah kan

Pasangan tak terkalah kan

dnx.real | Bersambung
Jumlah kata
27.2K
Popular
100
Subscribe
6
Novel / Pasangan tak terkalah kan
Pasangan tak terkalah kan

Pasangan tak terkalah kan

dnx.real| Bersambung
Jumlah Kata
27.2K
Popular
100
Subscribe
6
Sinopsis
18+FantasiFantasi TimurBela DiriKultivasi21+
Di sebuah dimensi tak terbatas, tempat segala sesuatu sekaligus ada dan tidak ada, lahir berbagai ras mulai dari makhluk yang melampaui logika hingga entitas yang tunduk pada hukum sebab akibat. Di balik kekacauan dan keseimbangan itu, kekuatan-kekuatan tertinggi di puncak jagat raya menanti, menunggu datangnya era yang agung.Leon, seorang manusia biasa, melangkah menembus batas takdir dan mencapai puncak kekuatan. Setelah itu, ia kembali ke Bumi dan di sanalah roda nasib mulai berputar. Tanpa diduga, istrinya sendiri menyimpan kekuatan yang tak kalah dengannya, kekuatan misterius yang asal-usulnya tak diketahui.Bersama lima anak dan satu istri, Leon berdiri di garis depan perubahan. Saksikan perjalanan sebuah keluarga yang bangkit, menaklukkan alam demi alam, hingga mendominasi seluruh semesta dan surga.
bab 1: kembali ke bumi

Di sebuah tempat tak diketahui di Benua Antartika, distorsi ruang yang kuat tiba-tiba terjadi. Medan realitas tertekuk, kehampaan berputar liar seolah ruang dan waktu diperas menjadi satu titik.

Sebuah lubang hitam terbuka, berdiameter sekitar dua meter, menelan cahaya di sekitarnya sebelum memuntahkan sesuatu ke dunia nyata.

Dari dalam lubang hitam itu, keluar sosok seorang manusia.

Ia seorang pria dengan kacamata aneh berwarna biru yang menyatu langsung dengan matanya. Seluruh tubuhnya dibalut pakaian hitam jaket hitam panjang dan celana hitam pekat. Di balik kacamata itu, matanya mengandung kekuatan misterius yang sulit dijelaskan.

Kedua tangannya dilapisi sarung tangan setengah, jari-jarinya terbuka. Pada bagian punggung sarung tangan itu terdapat simbol bulat aneh yang berdenyut samar.

Pria itu tampan dan berusia sekitar empat puluh tahun.

“Hahaha… akhirnya aku, Leon, berhasil kembali!”

Teriakannya menggema di hamparan es Antartika yang sunyi. Suaranya begitu keras, seolah menantang dunia itu sendiri.

Tanpa sadar, tangannya mengepal dengan kuat.

Dalam sekejap, kekuatan dahsyat meledak keluar dari tubuhnya. Medan di sekitarnya terdistorsi hebat, ruang terlipat, dan jarak puluhan ribu tahun cahaya terasa bengkok.

Retakan halus muncul pada realitas itu sendiri.

“Apa yang terjadi?”

Pada saat yang sama, seluruh kekuatan ilahi yang kuat di Galaksi Bima Sakti memusatkan pandangan mereka ke medan ini.

Leon terdiam sejenak.

“Aduh… aku lupa lagi. Tahan… tahan…”

Leon segera menahan kekuatannya. Ia mulai menurunkan output energi di seluruh tubuhnya, terutama pada satu titik di bagian perutnya.

Titik itu adalah sumber kekuatan tanpa dasar dan tanpa batas yang terus mengalir tanpa henti.

Leon menamainya Titik Dimensi 0.

Leon adalah seorang pria yang telah menikah di Bumi. Ia menikah dengan seorang wanita sangat cantik bernama Yao yao.

Dahulu, Leon adalah seorang maniak penelitian. Ia dan Yao yao menikah dan menetap di san fransisco selama lima belas tahun.

Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai lima orang anak dua laki-laki dan tiga perempuan.

Pada awalnya, Leon hanyalah anak adopsi dari ayah Yao yao.

Mereka tumbuh bersama secara perlahan, saling mengenal, hingga akhirnya saling menyukai dan menikah.

Leon bahagia, dan Yao yao juga bahagia.

Namun obsesi Leon terhadap penelitian semakin dalam.

Ia menghabiskan waktunya di laboratorium selama empat tahun penuh.

Pada akhirnya, ia berhasil meneliti sesuatu yang ia namai Dimensi 0.

Tanpa ia sadari, Leon terjebak di dalam dimensi tersebut.

Di sana, ia bertemu dengan hal-hal mengerikan yang melampaui logika dan batas realitas.

Di sana, Leon bertemu dengan makhluk-makhluk aneh yang menyeramkan, tak berbentuk, dan melampaui akal serta seluruh logika yang pernah ada. Keberadaan mereka sendiri sudah cukup untuk meruntuhkan pemahaman tentang realitas.

Masing-masing makhluk itu berukuran sangat besar dan sepenuhnya tak masuk akal. Bentuk, massa, dan eksistensi mereka tidak tunduk pada hukum apa pun yang dikenal.

Berbagai dimensi terlihat retak dan saling bertindihan, menciptakan pemandangan yang mustahil untuk diartikan dengan bahasa atau konsep apa pun.

Ada makhluk dengan miliaran mata. Setiap mata lebih besar dari alam semesta tak terbatas, dan bahkan alam semesta itu sendiri tampak seperti debu tak berarti di hadapan tatapan mereka.

Ada pula makhluk dengan tubuh aneh dan sembilan kepala.

Setiap kepala memancarkan sumber kekuatan asing yang mampu meretakkan seluruh dimensi tak berujung hanya dengan keberadaannya.

Masih banyak makhluk lain yang tak terhitung jumlahnya, masing-masing membawa teror dan kehancuran yang melampaui nalar.

Leon, yang telah menyatu dengan sumber energi Dimensi 0, mau tak mau harus melawan mereka. Dalam satu lintasan logika dan hukum tak terbatas, makhluk-makhluk itu telah menyadari bahwa seekor “makhluk kecil” telah memasuki wilayah mereka.

“Aku harus kembali…”

Leon menggertakkan giginya. Ia tahu satu hal ia harus bertahan dan kembali demi istri dan anak-anaknya.

Di tempat itu, tidak ada bentuk serangan yang jelas. Segalanya hanya dipenuhi oleh energi tak terbatas yang saling bertabrakan tanpa aturan.

Terpaksa, Leon menciptakan caranya sendiri untuk bertarung melawan makhluk-makhluk tersebut.

Ia membentuk sarung tangan setengah sebagai alat pengendalian kekuatannya. Melalui sarung tangan itu, ia mampu membentuk lubang hitam dan serangan energi murni yang memusnahkan makhluk-makhluk aneh tersebut.

Seiring waktu, Leon mulai mengontrol waktu dan realitas itu sendiri.

Pakaian hitam yang ia kenakan adalah hasil penelitiannya setelah melawan makhluk terkeras di seluruh dimensi.

Pertempuran demi pertempuran ia lalui, menantang setiap hukum yang ada, mengadu teknologi dengan eksistensi kosmik.

Sedikit demi sedikit, Leon membentuk hukum miliknya sendiri di dalam tubuhnya.

Tubuh Leon mengalami mutasi aneh. Setiap selnya mengandung massa energi yang tak terbatas.

Energi itu bahkan tak lagi bisa dihitung dalam satuan ton, megaton, atau bahkan qudraton.

Setiap selnya memiliki kekuatan yang melampaui seluruh dimensi.

Bertahun-tahun berlalu tanpa akhir. Leon sendiri tak lagi tahu kapan waktu itu berjalan.

Di tempat itu, waktu hanyalah debu yang tak berarti.

Pada akhirnya, Leon menemukan cara untuk kembali. Ia memutar balik struktur ruang dimensi dan mulai mencari letak alam semesta tempat Bumi berada.

Dan akhirnya, Leon pun kembali ke masa sekarang.

“Hah… apa ini?”

Kembali ke Bumi, Leon yang masih berdiri di Antartika tiba-tiba merasa ada sesuatu yang janggal. Udara di sekelilingnya terasa berbeda, seolah dipenuhi oleh energi murni yang melayang bebas di setiap sudut dunia.

Perasaan itu membuat alisnya berkerut. Energi ini terasa asing, namun sekaligus familiar.

“Kalau orang orang naga… mungkin menyebutnya kebangkitan energi spiritual.”

Kekhawatiran perlahan muncul di benaknya. Leon tahu, perubahan semacam ini tidak pernah terjadi tanpa sebab. Ia pun mulai mengambil informasi.

Kacamata biru yang menyatu dengan matanya tiba-tiba bersinar terang.

Pada saat yang sama, sebuah kekuatan tak terlihat seolah menekan seluruh semesta. Dari inti alam semesta, sebuah aliran tak kasatmata ditarik keluar dan mengalir ke setiap sudut realitas.

Itu adalah aliran informasi.

Kacamata biru milik Leon mampu mengekstraksi setiap informasi yang ada dan menampilkannya langsung di hadapannya masa lalu, masa kini, hingga kemungkinan masa depan. Tidak ada yang bisa lolos dari jangkauannya.

Kacamata itu bukanlah benda biasa. Leon menciptakannya dengan mengambil langsung kemampuan dari sebuah makhluk bernama The Weaver.

The Weaver adalah makhluk mengerikan yang selalu membawa sebuah buku di tangannya.

Makhluk itu memiliki jaring dimensi yang menyebar ke penjuru tak terbatas. Setiap jaring mengekstraksi seluruh informasi dari realitas, lalu mengalirkannya ke dalam buku miliknya.

Tidak ada satu pun rahasia yang bisa luput darinya.

Bahkan Leon sendiri, saat pertama kali berhadapan dengannya, terpaksa menggunakan algoritma tak terbatas hanya untuk menutupi sebagian kecil informasi tentang dirinya.

Dengan bantuan energi Dimensi 0, barulah ia mampu menyembunyikan eksistensinya.

Pada akhirnya, Leon membunuh The Weaver.

Ia memetakan buku itu, mengurai seluruh kemampuan informasinya, dan mengekstrak esensi kekuatannya.

Dari sanalah, kacamata biru yang kini menyatu dengan matanya terbentuk.

bisa di bilang sekarang leon adalah sang maha tau

Kini, berdiri di Antartika, aliran data mulai muncul satu per satu di hadapan Leon.

Informasi demi informasi mengalir tanpa henti.

Lanjut membaca
Lanjut membaca