

Laut memberikan peringatan. Tapi hanya yang mendengar yang selamat.
Bau itu datang sebelum pemandangannya—amis, manis, dan mati. Varuna menghentikan langkah di pinggir pantai berpasir hitam, matanya menatap bangkai raksasa yang terdampar. Seekor paus biru, sepanjang tiga perahu, tubuhnya menjadi papan target bagi puluhan tombak bergerigi. Taring Merah, pikirnya, jantung berdebar kencang. Jejak mereka tak mungkin salah.
Di punggung paus, tombak-tombak kayu keras dengan mata dari gigi hiu membentuk pola brutal: sebuah lingkaran dengan garis melintang di tengah. Lambang Bajak Laut Taring Merah. Mereka ingin semua orang tahu.
"Varuna!"
Tumenggung Jaya, tangan kanannya, berlari mendekat. "Dua desa sudah dibakar. Serambi dan Teluk Merah. Tidak ada yang selamat... yang bisa bicara."
"Mereka mengambil apa?""Hanya perahu yang masih bisa dipakai, perempuan muda, dan semua wadah air tawar mereka."
Varuna menghela napas. Ini bukan penyerbuan biasa. Ini strategi. Mereka datang untuk tinggal.
Dia memandang ke permukiman sukunya. Atap-atap ilalang, anak-anak berlarian, perempuan mengeringkan ikan. Kehidupan biasa. Rapuh.
"Menurutmu kita punya berapa hari?""Bulan purnama berikutnya. Dua minggu."
Angin laut bertiup lebih kencang. Varuna menghitung dalam hati: tujuh puluh prajurit melawan lima ratus bajak laut. Mustahil. Tapi yang lebih mengerikan adalah pola serangan yang berubah. Ini pembersihan.
"Kumpulkan tetua. Sore ini."
---
"Kau mencarinya?"
Suara itu jernih, seperti lonceng kecil. Dewi Segara, putri Ki Buyut Laut, berdiri di bukit pasir. Matanya—hitam dan tajam—memindai bangkai, lalu menatap Varuna.
"Kurirmu sampai tadi malam. Ayahku tertawa. Katanya kau mimpi terlalu tinggi untuk anak nelayan.""Tapi kau datang. Sendirian.""Aku membaca tanda-tanda." Tangannya menyentuh ujung tombak. "Burung camar minggat. Air sumur jadi asin. Dan sekarang ini." Dia menepuk sisi paus. "Paus biru tidak pernah sendirian. Di mana keluarganya?"
Pertanyaan itu menggantung. Varuna memandang ke laut.
"Kau punya rencana, Panglima Varuna? Atau hanya berani mati?""Rencanaku butuh enam suku lain bersatu. Mereka benci kami. Tapi apakah mereka lebih membenci kami daripada Taring Merah?"
Dewi memandang ke cakrawala. "Ayahku bilang persatuan adalah mimpi anak kecil.""Taring Merah datang untuk membunuh semuanya. Ada perbedaan.""Bagi yang sekarat, tidak ada bedanya."
Tapi Varuna melihat keraguan di wajahnya.
Dia membungkuk, mengambil segenggam air laut yang kemerahan oleh darah paus. "Beri tahu ayahmu, bahwa aku akan mengundang semua kepala suku ke Karang Taji. Tujuh hari dari sekarang. Untuk bertemu..." Dia menenggak air itu. "...atau untuk perang terakhir kita semua."
Dewi Segara tidak bergerak. "Aku akan menyampaikannya. Tapi bukan karena aku percaya padamu. Tapi karena aku tidak punya pilihan lain." Dia berbalik, lalu berhenti. "Karang Taji netral. Tapi perairan di sekitarnya... tidak. Jika kau ingin mereka datang, kirim satu perahu saja. Dengan bendera perdamaian. Dan jangan bawa lebih dari dua pengawal."
Lalu dia pergi.
---
Di balai pertemuan, lima puluh pasang mata menatap Varuna.
"Taring Merah akan datang dalam dua minggu," mulainya. "Mereka akan menghancurkan semuanya. Tapi kita tidak bisa melawan sendirian.""Lalu apa? Kita lari?""Kita bersatu."
Kebingungan. Lalu tawa. Lalu kemarahan.
"Bersatu dengan siapa?" Mbah Sinto, tetua tertua, mengetukkan tongkatnya."Dengan semua yang juga akan mati jika Taring Merah menang! Mereka mungkin benci kita. Tapi mereka lebih benci mati!"
Ruangan sunyi.
"Aku sudah mengirim undangan. Ke semua kepala suku. Untuk bertemu di Karang Taji, tujuh hari dari sekarang.""Dan jika mereka tidak datang?" tanya seorang nelayan muda."Kemudian kita akan mati dengan terhormat. Tapi setidaknya kita sudah mencoba."
Kekacauan pecah lagi. Varuna mencari para prajurit. Di wajah mereka, dia melihat ketakutan, tapi juga tekad.
"Siapkan tiga perahu terbaik kita," perintahnya. "Tumenggung, kau pimpin satu. Katon, kau yang kedua. Dan aku yang ketiga.""Kau akan pergi sendiri?" Rara, istrinya, mendorong diri ke depan."Aku harus. Ini undanganku. Resikoku."
Bayi di pelukan Rara menangis. Varuna menatap anak lelakinya. "Tujuh hari. Jika dalam tujuh hari aku tidak kembali... bawa mereka ke rawa-rawa pedalaman. Sembunyikan."
Rara mengangguk, air matanya tidak jatuh.
Tumenggung menghampirinya setelah pertemuan. "Perahu sudah siap. Tapi Ki Buyut Laut tidak akan datang hanya karena undangan. Dia butuh penjamin. Seseorang dari keluarga dekatmu sebagai sandera."
Varuna terdiam. Dia tidak punya saudara laki-laki.
"Aku."
Rara berdiri di belakang mereka, wajahnya tegas. "Aku akan jadi penjamin. Aku adalah istri Panglima. Itu cukup bernilai.""Tidak mungkin. Kau dan bayi—""Bayi akan ikut ibuku. Kau selalu melindungi kami. Sekarang biar aku yang melindungimu."
Varuna menarik istrinya dalam pelukan. "Besok pagi kita berangkat."
Malam turun. Varuna duduk sendirian di dermaga, memegang keris pusaka. Tumenggung duduk di sampingnya.
"Aku pernah melawan Taring Merah. Mereka... senang membunuh. Bukan untuk mengambil, tapi untuk kesenangan.""Kau pikir kita bisa menang?""Jika tujuh suku bersatu? Mungkin. Tapi itu seperti meminta tujuh sungai mengalir ke satu muara.""Badai sudah datang," kata Varuna. "Tinggal lihat apakah kita akan bersatu atau hanyut masing-masing."
Dia berjalan kembali ke gubuknya. Rara belum tidur."Kau memikirkan Karang Taji?" tanyanya."Iya. Di sanalah leluhur kita pertama kali bertemu. Sebelum kita terpecah.""Dan kau pikir mereka akan ingat?""Mereka akan ingat ketika melihat bangkai paus di pantai mereka sendiri."
Rara menarik napas. "Varuna... jika ini tidak berhasil—""Kita tidak akan bicara tentang itu. Kita akan bicara tentang setelahnya."
Dia berbaring. Di luar, ombak terus berdebur.
Dan di suatu tempat di laut gelap, di kapal dengan lambang gigi merah, seorang laki-laki dengan mata seperti es menunjuk ke sebuah titik di peta: Kampung Pesisir.
"Yang ini dulu," bisiknya. "Dan ambil semuanya."
Laki-laki itu mengangkat tangan, menunjukkan pada anak buahnya sebuah kerangka kecil yang digantung di tali. Bukan mainan. Itu adalah rangkaian tulang rusuk anak, disusun dengan rapi seperti kalung. "Gantungkan ini di pohon tertinggi di pantai mereka sebelum fajar," perintahnya, suara serak penuh kepuasan. "Biarkan mereka tahu yang kita ambil bukan hanya nyawa, tapi juga masa depan."