Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Vampir Yang Terlempar Ke Dunia Modern

Vampir Yang Terlempar Ke Dunia Modern

Anya_Tan | Bersambung
Jumlah kata
22.6K
Popular
100
Subscribe
11
Novel / Vampir Yang Terlempar Ke Dunia Modern
Vampir Yang Terlempar Ke Dunia Modern

Vampir Yang Terlempar Ke Dunia Modern

Anya_Tan| Bersambung
Jumlah Kata
22.6K
Popular
100
Subscribe
11
Sinopsis
FantasiIsekaiVampirTransmigrasiSistem
Lucien Marvane, Pangeran Mulia dari ras darah. Tanpa sengaja terlempar ke dunia lain saat hendak menyerang ras manusia. Terbangun sebagai Valen Mahendra, seorang yatim piatu yang tengah berjuang untuk bertahan hidup di Ibu Kota. bersama dengan itu muncul suara aneh yang mangaku sebagai Sistem Adaptasi Dunia. Sistem memberitahunya kalau ingin kembali ke dunia asalnya, ia harus belajar menjadi manusia. Lucien sebagai makhluk paling mulia dari ras darah harus menanggung hina, untuk beradaptasi dan berbaur dengan para 'Budak.' ditambah beban hutang ratusan juta membuat Lucien mau tidak mau harus belajar mencari nafkah.
bab 1

"Dasar para budak sialan!" Geraman marah seorang pria menggema di gang sempit dan bau.

Tepat di sudut, di antara tumpukan sampah. Seorang pria memakai kaos putih yang kotor dan penuh jejak darah, mengerang kesakitan. Pria itu mengamati sekeliling dengan linglung. "Dimana ini?"

Seingatnya, dia sedang dalam perjalanan pulang setelah mendiskusikan penyerbuan ke ras manusia. Lalu setelah itu, manusia menyergap pesawat yang ia tumpangi dan terjadi pertarungan.

Kemudian kegelapan mengambil alih pandangannya, saat membuka matanya kembali dia sudah berada di tempat asing ini.

[Ding! Selamat Tuan Rumah sudah berhasil terikat pada Sistem Adaptasi Dunia.]

Pria itu tidak menjawab, dia memijat pelan keningnya yang terasa sakit akibat suara mekanis itu. Di mata hitamnya, amarah berkobar.

"Siapa kau?" Tanyanya dengan dingin.

[Tuan Rumah bisa memanggilku 001, aku akan membantu Tuan Rumah untuk beradaptasi di dunia ini.]

Berani-beraninya! Makhluk hina dan kotor ini menyusup kedalam pikiranku! Niat membunuh terselip dalam tatapan tajam pria itu.

Pria itu menarik napas, tatapan linglung tadi berubah menajam. Bau menyengat dari sampah dan udara lembab setelah hujan membuat keningnya berkerut erat.

"Di mana ini? Dan kenapa aku bisa di sini," tanyanya lagi.

[Saat ini Tuan Rumah berada di Bumi dan di dunia asal, Tuan Rumah sudah mati.]

Dia mati? Hah! Sungguh lelucon tidak lucu. Bagaimana mungkin dia bisa mati di tangan para manusia kotor itu.

Lucien Marvane, Pangeran Mulia dari ras darah. Dibunuh oleh 'Budak' darah ras mereka, hanyalah penghinaan paling keji yang pernah ia dengar.

Lucien lebih suka mati akibat tersedak saat makan, daripada menerima kenyataan seperti ini. "Sekali lagi kau bicara omong kosong, bersiaplah untuk musnah."

[ ... Maaf Tuan Rumah. Namun, kamu tidak bisa membunuhku. Kontrak sudah terjalin diantara kita, yang mengikat hidup dan mati kita bersama.]

Tidak percaya, Lucien segera memejamkan mata. Menyusuri ke dalam jiwanya. Matanya menyipit melihat bola cahaya berwarna hijau muda sebesar apel melayang santai. Dengan cepat Lucien meraih bola itu, dan meremasnya.

[Aaaaa... tolong berhenti Tuan Rumah!]

Lucien tidak menggubris teriakan kesakitan itu, dia baru melepaskannya setelah cahaya hijau muda hampir padam. "Sekali lagi, kau berani bersikap lancang di depanku. Kau tahu akibatnya."

Bola itu buru-buru menjawab. [Ya, ya! Aku tahu! Aku tahu.]

Puas dengan kepatuhannya, Lucien kembali membuka mata. Memperhatikan tubuh yang dia kenakan. Di celana panjangnya terdapat beberapa robekan dengan noda darah kering.

Tubuhnya terasa nyeri, penuh dengan luka pukulan dan bekas memar. Lucien yakin ini bukan tubuhnya. Tidak mungkin dia bisa berada di kondisi semenyedihkan ini.

Amarah yang mulai mereda, kembali berkobar. "JELASKAN!"

[Mo-mohon tenang Tuan, Anda berada ditubuh manusia sekarang. Ini semua data yang sudah Saya kumpulkan tentang tubuh ini.

Nama : Valen Mahendra.

Usia : 21 Tahun.

Status : Yatim Piatu.

memiliki satu adik perenpuan berusia 19 tahun. Untuk membiayai adiknya, Valen memilih putus sekolah dan bekerja serabutan.

Baru-baru ini, Valen diterima untuk bekerja ke jepang, yang diterima dengan gembira oleh Valen. Dengan harapan bisa meningkatkan ekonomi keluarga dan mengujudkan impian adiknya untuk menjadi dokter.

Namun sayang, kehidupan bahagia itu tidak bisa bertahan lama. Dia harus merenggang nyawa akibat pemukulan sepihak dari para penagih utang yang bahkan bukan dia yang meminjam...]

Data itu mengisi banyak informasi terperinci tentang pemilik tubuh ini. Namun, Lucien tidak tertarik untuk melihat lebih jauh. Kenyataan dirinya berada ditubuh manusia sudah membuat Lucien merasa jijik dan terhina.

"Budak, jelaskan mengapa aku berada di dalam tubuh manusia rendahan INI?!" Gertakan gigi dan geraman marah berpadu dengan dinginnya setiap nada yang Lucien tekan.

Teriakan kesakitan sistem kembali bergema. [Aaaa... maafkan aku Tuan, aku tidak tahu apa-apa tentang ini!! Aaaaa...]

Beberapa menit kemudian, setelah puas melampiaskan amarah. Lucien melemparkan bola hijau menjijikan itu ke sudut ruang jiwanya.

"Bawa aku kembali ke duniaku," perintahnya tegas.

Sistem terdiam, mengecilkan tubuhnya. Dengan suara pelan dan takut dia menjawab, [I-itu.. mustahil. Tidak ada cara untuk kembali ke sana, ke-kecuali...]

Lucien mengangkat alisnya, matanya menyipit. Hawa dingin penuh niat membunuh berputar di sekelilingnya. "Lanjutkan."

Suaranya terbatah-batah saat dia berkata, [Tu-tuan bisa menjadi ma-manusia sejati.]

"Hah!" Lucien mencibir. "Menjadi manusia? Sial! Kau bilang aku harus merendahkan diriku untuk menjadi seorang budak?"

Sistem diam, tidak berani menjawab. Nafsu membunuh Lucien begitu hebat, membuatnya gemetar. Bahkan bagi sekumpulan data, rasa takut alami seperti menghadapi monster muncul.

Lucien menarik dan menghembuskan napas panjang, memaksa dirinya untuk tenang. "Aku ingin mandi, tunjukan tempatnya."

[Y-ya Tuan. Ikuti saja petunjuk dari peta ini.]

Lucien melirik sekeliling, sampah berserakan di mana-mana. Bau tidak sedap menusuk hidungnya, setetes air jatuh dari atas atap bangunan. Tak jauh dari tempat Lucien duduk, sebuah tas hitam terselip diantara kantong plastik.

Lucien bangkit dan mengambil tas itu. Melihat tumpukan dokumen persiapan kerja yang harusnya pemilik tubuh ini serahkan besok.

"Manusia selalu suka melakukan hal tidak berguna," gumamnya.

Lucien mengikuti arah yang ditunjukan Sistem padanya. Di sepanjang jalan, tak sedikit manusia yang melirik ke arahnya, bahkan ada juga yang saling berbisik sambil menunjuk-nunjuk.

Ekspresi Lucien semakin lama semakin murung, membuat Sistem gemetar dan terus berusaha mengecilkan dirinya.

Penghinaan yang Lucien alami sepanjang jalan itu tidak separah dengan kenyataan dirinya harus tinggal di tempat kumuh dan sempit ini.

“Apa-apaan ini.” Pelipisnya berdenyut nyeri melihat betapa berantakannya rumah ini.

Pakaian berserakan dimana-mana, ada juga sampah yang tak sempat dibuang. Lucien mengamati dengan jijik, rumah ini tidak besar. Hanya terdiri dari satu kamar dan ruang tamu yang menyatu dengan dapur.

Lucian menekan saklar lampu, cahaya bersinar redup sejenak lalu mulai berkedip beberapa kali sebelum mati total.

“Cih.” Lucien berdecak kesal.

Membaringkan tubuhnya ke atas sofa. Punggung Lucien bagaikan beradu dengan tembok bata, mengirimkan rasa kebas kesekujur tubuh penuh luka.

Lucien mengerang kesakitan, penderitaan yang dirinya alami beberapa jam ini sebanding dengan masalah yang muncul dalam seratus tahun hidupnya.

Drrrttt... Drrtttt...

"Apa lagi sekarang?" bentak Lucien jengkel.

[T-tuan ponsel Anda berdering, ada yang meneleponmu,] jawab Sistem pelan.

"Ponsel?" Lucien mengambil benda hitam dengan layar retak menampilkan tulisan nama wanita– Gina.

"Benda tua apa ini? Berisik sekali." Lucien melemparkan ponsel itu kesembarang arah, kemudian mengusap tangannya ke sofa, seakan sedang menghilangkan noda kotor.

[Itu ponsel Tuan, benda yang masyarakat saat ini gunakan untuk berkomunikasi mirip dengan chip yang ada di Dunia Asalmu.]

"Manusia di Dunia ini miskin sekali, bahkan tidak mampu membeli satu chip," ejeknya.

Dirrttt... Dirrttt...

Alis Lucien mengerut semakin erat, rasa kesal kembali menguasai dirinya. "Mau kau angkat atau matikan terserah, buat benda tua itu berhenti berbunyi."

[Ya Tuan.]

Sebagaian data, sistem tentu bisa dengan murah membobol teknologi dari dunia ini, termasuk meretas ponsel tua.

Dari seberang terdengar omelan seorang gadis muda. "Angkat telepon saja lama sekali."

Lanjut membaca
Lanjut membaca