Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Jono Sang Pemikat

Jono Sang Pemikat

Adilia | Bersambung
Jumlah kata
34.0K
Popular
625
Subscribe
239
Novel / Jono Sang Pemikat
Jono Sang Pemikat

Jono Sang Pemikat

Adilia| Bersambung
Jumlah Kata
34.0K
Popular
625
Subscribe
239
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalPahlawanPria MiskinHarem
Bermodalkan cincin akik warisan dari bapaknya, Jono berangkat ke kota untuk melamar pekerjaan sebagai seorang pengasuh. Dia berharap, dengan pekerjaan itu, mamaknya di kampung bisa hidup lebih layak seperti saudara-saudaranya. Namun, sesampainya di lokasi, Jono justru mendengar suara aneh dari balik gubuk milik seorang juragan kaya. Suara itu terdengar lirih, dan mendesah, membuat bulu kuduknya merinding. “pergi! Kurang gede!” teriak seseorang dari dalam gubuk, disusul dengan suara pintu yang terbuka keras. Tak lama kemudian, seorang pemuda keluar dengan tergesa-gesa, berlari sambil membenahi sarungnya yang hampir terlepas. Pemandangan itu membuat nyali Jono ciut. Niatnya untuk melamar pekerjaan seketika sirna, dan dia pun ingin segera pergi dari tempat itu. Namun, sebelum sempat melangkah pergi, ibu juragan menghampirinya dan menyodorkan segepok uang. “Jika kamu bersedia melayani dan menjinakkan putriku, aku akan memberimu bayaran berkali-kali lipat dari ini.” Jono terdiam, penuh bimbang. Mampukah dia menghadapi gadis misterius yang berada di dalam gubuk itu?
Warisan Bapak

Jono sering menjadi bahan gunjingan tetangga karena kondisi keluarganya yang miskin. Dia juga kerap diejek sebagai pemuda pemalas yang sok kaya oleh saudara-saudara mamaknya. Sejak bapaknya meninggal lima tahun lalu, keadaan ekonomi mereka semakin sulit. Sehingga, Jono memutuskan merantau ke kota untuk melamar pekerjaan sebagai pengasuh.

Sebelum berangkat, mamak menyelipkan sebuah cincin akik—peninggalan almarhum bapaknya—sebagai jimat penjaga.

“Jika majikanmu nanti galak, kamu usap saja batu akiknya. Dia pasti langsung luluh padamu. Ini bukan cincin biasa, Le. Ini cincin pengasihan. Ingat, gosok lembut dan pakai di jari kananmu. Jangan sampai salah pakai.”

Itulah pesan mamak yang selalu diingat oleh Jono.

Kini Jono sudah berdiri mematung menatap gubuk kotor yang ada di belakang rumah mewah milik juragan Tarno. Tak sengaja kedua telinganya mendengar suara seorang wanita dan pria tengah mendesah lirih penuh sensasi.

"Aduh ... jangan ... jangan ... ohh ... tenang …" Jono semakin bergidik mendengar suara itu, hampir saja dia berbalik arah dan lari. Tapi sayang, seorang wanita paruh baya datang dengan membawa segepok uang dalam amplop berwarna cokelat, melangkah menghampirinya. "Ini gaji pertamamu!" tegasnya sambil menyodorkan amplop tersebut kepada Jono.

"Tapi, Bu ... saya, belum mulai kerja," jawab Jono masih sedikit ragu dan gugup, dengan sesekali melirik ke arah gubuk yang terlihat gelap itu.

"Sudah, nggak apa-apa. Terima saja, anggap ini sebagai tanda terima kasihku karena kamu sudah mau menerima pekerjaan ini. Semoga Mamakmu yang ada dikampung seneng. Semangat bekerja!" ucap bu Rima penuh harap.

Dengan perasaan sedikit ragu, Jono akhirnya menerima uang itu sambil tersenyum tipis.

"Terima kasih, Bu." jawab Jono masih dengan wajah menunduk.

"Ohhhh!" pekik pria itu lagi yang saat ini masih beradu di dalam gubuk.

"Jangan takut, itu hanya permainan ringan putriku. Nanti ganti kamu yang akan melayaninya. Tolong kamu Asuh putriku itu dengan baik. Dia diasingkan karena sering ngamuk dan memang fisiknya yang aneh," tambah Rima lagi pada Jono yang semakin ketakutan.

"Owwww," suara itu kembali terdengar diringi seorang pria berlari keluar dari gubuk, dengan hanya mengenakan celana hampir lepas. Kedua pipinya nampak merah merona, seakan menjelaskan bertapa puas dan nikmatnya permainannya tadi.

"Tuh, Marwat saja senang bermain dengan putriku. Tapi ... walau banyak pemuda yang kubawa untuknya, tidak ada satu pun yang betah. Mereka hanya sekali bermain dan pergi. Selebihnya, tidak akan kembali lagi. Semoga kamu bisa menjinakkan putriku yang tempramen itu. Dan sekali lagi, semoga kamu betah di sini." ucap Rima meyakinkan Jono yang sudah semakin pucat.

Jono pun mengangguk dan mengikuti langkah Rima menuju gubuk putrinya. Setelah mengetuk tiga kali, Rima mulai membuka pintu gubuk yang sudah lapuk itu. Sejenak, Jono menelan kasar saliva dengan bola mata membulat kaget.

Berulang kali Jono mengucek kedua matanya, seakan dia masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya. Sesosok manusia berbulu lebat meringkuk di pojokan. "Jadi ... dia yang akan saya asuh, Bu? Jono kira manusia. Ternyata Genderuwo!" tegas Jono dengan tangan bergetar.

"Dia Yuri, Jono. Nama panjangnya Yuriem. Bukan Genderuwo. Memang keluarga besar dan tetangga memanggilnya Genderuwo, karena wujudnya yang seperti orang utan begitu. Tapi, dia adalah putri yang lahir dari rahimku, Jono. Aku minta tolong, rawat dia dengan baik." rengek Rima yang membuat Jono tak sanggup untuk menolak.

Setelah menghela napas dalam-dalam, Jono akhirnya mengangguk setuju dan ingin mencobanya terlebih dahulu. Rima langsung tersenyum lega dan mengucapkan banyak terima kasih pada Jono yang saat ini berdiri di depannya.

"Ya sudah, Ibu pergi dulu. Sekarang kamu kenalan dulu dengan Yuri." pamit Rima.

"Yuri, dia pengasuhmu yang baru. Ini sudah ke sembilan puluh kalinya. Jadi, tolong, jangan buat dia takut dan kabur lagi. Ibu sudah tidak punya stok pengasuh lagi!" tegas Rima, mengingatkan putrinya, kemudian pergi meninggalkan gubuk reyot itu.

Jono berdiri mematung, matanya terpaku pada sosok berbulu yang meringkuk di hadapannya. Dengkuran Yuri terdengar begitu keras, membuat jantungnya berdegup kencang. Walaupun ada rasa takut dan ragu menyelimuti dirinya, Jono memutuskan untuk mencoba mendekati sosok misterius itu.

Sebelum mendekati, sejenak Jono memejamkan kedua matanya, mulutnya komat-kamit membaca mantra sambil mengusap lembut cincin akik di jari manis tangan kanannya.

"Lucu sih, namanya ... Yuriem. Apa dia berbahaya? Tapi, mengapa aku merasa penasaran dan tertarik padanya? Semoga cincin akik peninggalan Bapak ini, bisa digunakan untuk menjinakkan, mbak Yuriem." batin Jono, sambil mengambil langkah perlahan mendekati sosok itu.

Rasa takut masih menyelimuti tubuhnya yang bergetar, namun hati kecilnya mengatakan dia harus melangkah lebih dekat. Jono pun berjalan maju sambil mencoba mengendalikan perasaan takut yang menghantuinya. Dia ingin mengetahui lebih jauh tentang sosok yang bernama Yuriem ini, meskipun ada keresahan di dalam hatinya.

"Aku harus semangat, aku pasti bisa menghadapinya. Demi Mamak, di kampung." gumam Jono dalam hati, berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

"Hai," sapa Jono mencoba berkenalan.

Sosok itu hanya diam dan semakin menjauhinya, membuat pemuda manis itu merasa aneh. "Seharusnya yang takut itu aku, bukan dia." batin Jono masih terus menatap aneh pada gadis yang mirip dengan genderuwo itu.

"Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu," lirih Jono semakin mendekati Yuriem.

"Hrrrrghhhh" suara Yuriem membuat kaget Jono.

"Busyet, raungannya.” celetuk Jono.

“Hmm … Mbak. Eh … Non, apakah kamu bisa bicara?" tanya Jono dengan pelan dan hati-hati, tapi makhluk berwujud genderuwo itu semakin memberontak. Dia mendorong tubuh Jono hingga terpental jauh.

"Auh," pekik Jono yang merasakan nyeri di pinggangnya karena ulah Yuriem tersebut.

"Kurang ajar, dasar tidak punya sopan santun. Padahal, dengan pria tadi dia sangat mesum dan lembut pastinya. Giliran denganku, dia sok lugu dan penakut," gerutu Jono yang berusaha berdiri.

"Baiklah, aku sudah tidak bisa bersabar lagi. Terserah kamu mau ngapain. Sekarang pekerjaanku yang pertama adalah membersihkan gubukmu yang kotor dan bau ini. Ih ... kenapa kamu jorok sekali sih. Nama boleh keren, tapi lihat kondisi tempat tinggalmu," ucap Jono tanpa henti. Rasa takut yang tadi menyelimutinya, kini lenyap begitu saja, tertutupi oleh kesibukan.

Jono mulai membersihkan gubuk lembab milik Yuriem dengan tekun dan telaten. Lantai yang kotor dan terasa lengket diinjak, mulai disapu oleh Jono. Dia juga tidak lupa mengepel dan mengelap semua bagian yang penuh noda serta debu yang menempel. Sedangkan Yuriem, terlihat cemas dan penasaran, mengamati setiap gerak-gerik pria yang ada di depannya.

"Kenapa dia diam saja, bukannya tadi dia sangat agresif? Ah, ngomong apa sih, aku. Tapi, kalau dilihat-lihat, si Yuriem ini memang misterius, apakah dia selalu begitu setiap ada pria yang datang ke gubuknya?" batin Jono, sambil mengamati sosok berbulu itu.

Dalam hatinya, Jono berkata, “Aku ingin membantu Yuri, mungkin selama ini dia merasakan kesendirian dan terasing dari lingkungan sekitar, bahkan keluarganya sendiri.”

Jono berniat ingin memberikan harapan dan kebahagiaan, agar wanita berbulu itu tidak lagi merasa kesepian dan hidup dalam kepiluan.

"Semoga melalui usahaku ini, kami bisa menjadi teman baik dan saling menyemangati satu sama lain," harap Jono sambil menyelesaikan pekerjaannya.

"Akhirnya selesai juga," ucap Jono sambil menghela napas lega. Gubuk yang tadinya begitu kotor dan lembab, kini nampak bersih dan nyaman. Jono masih belum habis pikir, bagaimana bisa para pria itu datang dan menghabiskan waktu bercinta dengan sosok berbulu itu, di tengah kondisi ruangan gubuk yang begitu kotor dan tidak nyaman.

"Apakah kamu pernah mandi?" tanya Jono mendekati sosok itu.

Lagi-lagi Yuriem mendorong tubuh ringkih Jono hingga terpental membentur dinding gubuk.

“Kuat sekali dia,” lirih Jono, sambil memegangi pinggangnya.

"Eit … jangan mendekat, Mbak. Eh … Non. Aduh … Mbok dhe! Mbak Wowo!” tiba-tiba kepala Jono berputar-putar dan terdengar suara benturan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca