

“Alpha, kamu mau kemana? Apa tidak bisa sehari saja kamu diam di rumah? Bunda kesepian karena kamu selalu keluyuran dan jarang pulang,” mohon Bu Tyas, wanita paruh baya yang selalu berpenampilan glamour.
“Aku ada urusan,” sahut Alpha singkat.
“Urusan apa malam-malam begini? Kamu anak laki-laki Bunda satu-satunya, kebanggaan Bunda. Kalau kamu seperti ini terus kamu mau jadi apa?” teriak Bu Tyas geram dengan tingkah laku anaknya yang semakin susah dikendalikan.
“Ceramahnya besok saja Bun, aku sedang buru-buru.” Alpha tak lagi ingin mendengar ocehan ibunya, dia segera menyambar helm dan melesat meninggalkan kediaman yang sang bunda. Alpha memang tidak betah di rumah, dia kesepian. Bundanya selalu sibuk dan hanya akan mengomel saat di rumah.
Yah, disaat manusia normal lainnya tengah asik mengarungi bahtera mimpi. Kehidupan Alpha, pemuda 25 tahun itu baru dimulai. Alpha adalah seorang yatim, ayahnya meninggal 3 tahun lalu karena serangan jantung. Alpha terlahir dari keluarga abdi Negara, ayahnya seorang tentara angkatan laut dan ibunya seorang anggota dewan.
Alpha adalah anak ke 2 dari dua bersaudara. Dulunya dia adalah anak rumahan pada umumnya, tapi semenjak ayahnya meninggal. Alpha yang memang selalu dimanjakan oleh sang bunda mulai mengenal dunia malam karena salah pergaulan.
Saat ini, dugem, perempuan dan obat-obatan terlarang adalah hobinya. Dan tanpa banyak orang ketahui, dia juga menjadi pembunuh bayaran. Grim Reapers adalah julukannya, dan dia juga ketua perkumpulan Alpha Legion.
Alpha tiba di jalanan yang telah dipadati manusia. Malam ini, aspal jalanan di pinggir kota terasa memanas, bukan karena terik mentari, melainkan karena getaran knalpot-knalpot bising yang saling bersahutan. Aroma bensin dan oli merajai udara, menciptakan atmosfer khas yang memompa adrenalin. Di bawah rembulan yang merangkak naik, puluhan mata tertuju pada garis start imajiner yang sudah ditandai dengan cat semprot.
“Bos,” sapa Andra. Dengan elegan Alpha turun dari kuda besinya, bergabung dengan kelompoknya yang sudah menunggunya sejak tadi.
Alpha melepas helm dan meletakkanya di atas jok. Mata elangnya menyapu sekeliling, ekspresinya yang selalu datar membuat lawan maupun kawan sulit menebak apa yang ada dalam benaknya.
“Siapa yang main?” tanya Alpha tanpa menoleh.
“Kevin, Bos. Hanya coro-coro yang turun.” Alpha tidak menyahut, hingga suara seorang gadis yang sering membuat Alpha pusing mengalihkan perhatian.
“Sayaaang, kamu sudah datang? Aku menunggumu di mobil sampai ketiduran.” Marisa atau selalu disapa Ica, gadis cantik nan seksi berbalut pakaian minim bahan merangkul Alpha. Bahkan tanpa permisi dia mendaratkan bibir seksinya di mulut Alpha.
Alpha tidak menolak, bahkan dia mengulum bibir manis yang sering jadi mainannya. Dunia serasa milik berdua bagi yang sedang jatuh cinta, mungkin itu ungkapan yang cocok untuk Ica dan Alpha. Dan itu bukan hal tabu bagi anak- anak perkumpulan Alpha Legion. Sebab mereka juga sering malakukan hal yang sama.
“Aku tidak turun, kenapa kau ke sini?” ujar Alpha setelah puas dengan lumatannnya.
“Bukankah sudah seharusnya, di mana ada Alpha di situ Ica berada?” Ica mengerling diiringi suara manja.
Alpha kembali menunduk dan menggigit sebelah telinga Ica, “tunggu aku di markas, ini tidak akan lama!” bisiknya pelan.
Ica cemberut, tapi dia tetap melangkah pergi meninggalkan arena balap liar yang semakin bising. Ica tahu, setiap ucapan Alpha adalah perintah. Dan siapapun tidak ada yang boleh membantah, termasuk dirinya.
Kerumunan manusia memadati sisi jalan, sebagian besar dari mereka mengenakan jaket dan topi terbalik. Bisik-bisik antusias bercampur tawa dan teriakan. Gawai-gawai diacungkan tinggi-tinggi, siap merekam setiap detik ketegangan. Mata-mata tajam memindai barisan motor yang berjejer, menaksir kekuatan dan kelemahan masing-masing. Di antara mereka, nampak Kevin telah bersiap, dengan jaket kulit hitam kebanggaan, menunggangi motor modifikasi kesayangan.
Alpha hanya memandangi dari atas motor sambil menikmati nikotin. Wajahnya yang selalu datar dan tanpa ekspresi membuat jantung Kevin berdebar kencang, menyaingi deru mesin yang siap mengaum. Dia takut mengecewakan Alpha sang ketua. Ini bukan hanya tentang balapan meskipun ini bukan kali pertama, tapi tentang harga diri, dan pengakuan di jalanan yang kejam ini.
Para pembalap melakukan ritual terakhir mereka. Ada yang menepuk-nepuk tangki bensin, seolah memberikan semangat pada kuda besi mereka. Ada yang menunduk, memejamkan mata, memfokuskan pikiran. Kevin sendiri menghela napas panjang, merentangkan jemarinya di atas setang. Ia lirik lawannya di samping, Darko, tangan kanan perkumpulan Kalajengking merah, permainannya dikenal brutal dan tak kenal ampun. Rivalitas mereka sudah melegenda di arena balap liar.
Malam ini Alpha memang tidak turun ke arena. Sebab si penantang, yaitu Marco sang ketua perkumpulan Kalajengking merah sedang keluar kota. Pertaruhan terlanjur diputuskan, maka pertarungan di jalan pun tidak bisa dibatalkan.
Kevin melirik Alpha dengan ekor matanya. Bibirnya melengkung kala Alpha mengacungkan jempol. Dan seorang wanita cantik yang nyaris telanjang, melenggok bak peragawati dengan membawa sapu tangan merah maju ke depan. Menjadi penanda segera dimulainya balapan.
Kerumunan sontak terdiam, hanya menyisakan gemuruh mesin yang merusak gendang telinga. Lampu start darurat, senter flash dari ponsel yang diacungkan, mulai dihitung mundur.
“Tiga ... Dua ... Goo .... “ Teriak sang gadis penuh semangat.
Begitu senter diayunkan ke bawah, ledakan suara memecah kesunyian malam. Kevin memelintir gas sekuat tenaga. Darko atau yang lebih dikenal dengan sebutan ‘Si Bandit’ melesat, meninggalkan jejak ban di aspal. Ia merasakan hembusan angin menerpa wajahnya, memabukkan. Arya di sampingnya tak mau kalah, anggota perkumpulan Elang hitam itu merangsek maju, memotong angin dengan agresif. Mereka bersaing ketat, saling menyalip disetiap tikungan, mengadu keberanian di setiap lintasan lurus. Teriakan penonton semakin membahana, menyemangati pembalap favorit mereka.
Jalanan yang remang-remang berubah menjadi garis-garis blur saat kecepatan mencapai puncaknya. Kevin menunduk, menyatu dengan motornya, merasakan setiap getaran dan goncangan. Ia melirik spion, Arya dan Si bandit selalu memepet dengan ketat. Tikungan terakhir! Kevin memiringkan motornya tajam, mengambil risiko maksimal.
Kaki kanan Si Bandit menendang ban belakang Kevin. Ban belakangnya sedikit bergeser, namun ia berhasil menguasai keadaan. Ia merasakan dorongan terakhir dari mesinnya, menyalip Si Bandit dan melewati garis finish dengan selisih tipis.
Kevin melepas pegangan tangannya pada stang. Dia berteriak kegirangan dan menghentikan laju motornya tepat di hadapan Alpha yang parkir di sisi jalan. Kevin membuka kaca helmnya, dia menyeka keningnya yang basah oleh keringat, namun senyum kemenangan terpancar jelas di wajahnya.
Kevin mengangkat tinjunya, pongah dengan kemenangan yang baru saja dia raih. Malam ini, di bawah naungan sang Dewi malam, Kevin sekali lagi membuktikan bahwa di jalanan ini, Alpha Legion tetaplah adalah rajanya.
“Cabut!” perintah Alpha seraya mengenakan helm. Andra sudah mengambil barang yang mereka sebut hadiah yang akan mereka pakai untuk menghabiskan malam.
“Bos, mereka pasti tidak akan melepaskan kita begitu saja.” Kevin tahu betul, arena balap tidak akan meriah jika meraka pulang tanpa luka lebam. Dia ingin membuat perhitungan dengan Si bandit yang hampir membuatnya terjungkal.
Tapi Alpha memang tidak sedang berselara. Sebelum geng Kalajengking merah dan Elang mendekat untuk memancing keributan. Alpha membawa teman-temannya melesat meninggalkan kerumunan.