

Malam di Desa Arkael biasanya ramah. Lampu-lampu minyak berjajar di depan rumah-rumah kayu, cahayanya lembut dan kekuningan, memantul di jalan tanah yang dipadatkan oleh langkah kaki bertahun-tahun. Angin berembus pelan dari ladang gandum, membawa aroma jerami kering bercampur sup hangat dan roti panggang. Dari kejauhan, tawa anak-anak mengalir bebas, ringan, jujur, seperti lagu yang tak pernah lelah dinyanyikan dunia.
Malam adalah waktu ketika segala sesuatu terasa aman.
Waktu ketika monster hanya hidup dalam dongeng pengantar tidur, ketika kegelapan hanyalah tanda untuk memejamkan mata dan bermimpi. Waktu ketika dunia, untuk sesaat, tampak baik.
Aren percaya itu.
Ia selalu percaya.
Karena di usianya yang masih terlalu muda untuk mengenal kebencian, kepercayaan adalah satu-satunya hal yang ia miliki.
Dan malam itu, malam ketika langit tampak terlalu sunyi, mengajarinya satu kebenaran pahit:
bahwa dunia tidak pernah benar-benar baik. Ia hanya pandai berpura-pura.
Aren duduk di lantai rumah mereka, kaki telanjang bersila, memainkan potongan kayu yang ia pahat sendiri menjadi bentuk pedang kecil. Ujungnya tumpul, gagangnya tak simetris, tapi bagi Aren, itu adalah senjata seorang pahlawan. Ia mengayunkannya pelan, menirukan gerakan para penjaga desa yang sering ia lihat berpatroli.
Di dekat tungku, ibunya, Lysa, duduk dengan kaki terlipat, menjahit pakaian yang robek. Api kecil di tungku memercik pelan, cahayanya menari-nari di wajah Lysa, menyorot garis-garis lelah yang tak pernah benar-benar hilang sejak ayah Aren pergi. Namun api itu juga membuat wajahnya tampak hangat, hidup—rumah.
Sesekali, Lysa melirik Aren dan tersenyum.
Senyum yang selalu membuat dada Aren terasa penuh, seolah dunia tidak akan pernah berani menyentuhnya selama senyum itu ada.
“Besok kau bantu Ibu ke ladang, ya,” kata Lysa pelan, jarumnya bergerak cekatan. “Gandum di sisi timur sudah siap dipanen.”
Aren mendongak, matanya berbinar. Ia segera mengangguk cepat, terlalu cepat, takut jika ibunya berubah pikiran.
“Iya, Bu!” katanya antusias. “Aku bisa angkat karung kecil sekarang.”
Lysa tertawa kecil. “Jangan sombong dulu. Kau memang besar… tapi belum sepenuhnya.”
Aren tersenyum lebar. Ia ingin terlihat dewasa di mata ibunya. Ingin menjadi cukup kuat agar suatu hari, ia tidak hanya dijaga—tetapi menjaga.
Ayahnya sudah lama pergi. Orang-orang desa bilang ayah Aren bekerja di utara, tapi Aren tahu, itu hanya cara orang dewasa menghaluskan kehilangan. Sejak hari itu, dunia Aren menyempit. Hanya ibunya. Hanya desa kecil ini. Dan ia merasa itu sudah cukup.
Sampai tanah bergetar.
Awalnya sangat halus. Seperti denyut yang salah tempat. Mangkok-mangkok di rak kayu bergetar ringan, air di kendi beriak pelan.
Aren berhenti bermain.
“Ibu?” Ia menoleh, ada getar kecil dalam suaranya.
Lysa berhenti menjahit.
Jarum terlepas dari jari-jarinya dan jatuh ke lantai dengan bunyi nyaring yang terdengar terlalu keras di keheningan. Wajahnya berubah, bukan panik, tapi sesuatu yang lebih dalam. Pengakuan akan bahaya.
Ia berdiri terlalu cepat.
Kemudian teriakan terdengar.
Bukan satu. Banyak.
Teriakan yang tidak membawa kata, hanya rasa takut murni yang diperas dari dada manusia. Teriakan yang diikuti suara kayu retak, logam dihantam, dan kemudian…raungan.
Raungan yang tidak pernah diciptakan untuk telinga manusia. Raungan itu begitu memekakkan telinga.
Lysa berlari ke pintu dan mengintip keluar. Matanya terbelalak. Wajahnya memucat, seolah darahnya ditarik keluar sekaligus.
“Aren,” katanya, suaranya gemetar tapi tegas, “ke belakang. Sekarang.”
Api pertama terlihat dari jendela.
Rumah tetangga di seberang jalan terbakar, lidah api menjilat langit malam seperti makhluk hidup yang lapar. Di antara cahaya itu, siluet hitam bergerak—tinggi, bengkok, salah. Bentuk yang terlalu panjang untuk manusia, terlalu hidup untuk bayangan. Sosok itu begitu mengerikan. Seolah bagaimana jagal hifup
Aren mencium bau hangus.
Dan darah.
Desa Arkael runtuh dalam hitungan detik.
Makhluk-makhluk itu keluar dari kegelapan seperti mimpi buruk yang menemukan jalan menuju dunia nyata. Kulit mereka hitam legam, seolah menyerap cahaya di sekitarnya. Mata mereka merah, menyala seperti bara yang menatap tanpa jiwa. Tangan panjang dengan cakar tajam merobek pintu, dinding, dan tubuh manusia tanpa ragu, begitu dingin,dan kejam tanpa emosi.
“Apa itu, Bu?” Aren berbisik, tapi suaranya tenggelam dalam kekacauan.Wajah Aren pucat pasi. Lysa berusaha melindungi anaknya,agar tak melihat mahluk tersebut.
Lysa menarik tangannya keras. “Jangan lihat. Jangan berhenti lari.”
Mereka berlari keluar rumah.
Jalan tanah yang biasa terasa akrab kini berubah menjadi lorong neraka. Orang-orang berlarian ke segala arah, beberapa jatuh, beberapa tidak pernah bangun lagi. Keadaan desa begitu kacau.Seorang pria berteriak memanggil anaknya, teriakan itu terputus saat tubuhnya terbelah dua oleh cakar hitam.
Aren tersandung.
Tubuh kecilnya terhempas ke tanah. Lututnya perih, napasnya tercekik debu dan asap. Dunia terasa berputar. Saat ia mencoba bangkit, jantungnya berhenti.
Makhluk itu berdiri di depan mereka.
Tingginya hampir dua kali manusia. Rahangnya terbelah terlalu lebar, napasnya berbau busuk dan dingin, seperti liang kubur yang dibuka paksa.
Lysa berdiri di depan Aren.
Ia membuka tangan, tubuhnya yang rapuh membentuk perisai terakhir.
“Lari,” katanya. “Aren, lari.”
“Aku tidak mau!” Aren menangis. Air mata bercampur debu. “Ibu ikut!”
Makhluk itu bergerak cepat.
Terlalu cepat.
Satu ayunan cakar.
Aren tidak langsung mengerti apa yang terjadi. Ia hanya merasakan percikan hangat mengenai wajahnya. Baru ketika ibunya terhuyung, ia melihat darah.
Banyak darah.
“Ibu…?” Suaranya pecah.
Lysa jatuh berlutut. Matanya mencari Aren, penuh ketakutan, cinta, dan penyesalan yang tak sempat diucapkan. Dengan sisa tenaga, ia meraih pipi Aren, jari-jarinya gemetar dan licin oleh darahnya sendiri.
“Dengarkan Ibu,” katanya terputus-putus. “Apa pun yang terjadi… jangan pernah membenci dirimu.”
“Ibu, jangan… jangan pergi,” Aren terisak.
Makhluk itu mengangkat cakar lagi.
Lysa tersenyum.
Senyum paling menyakitkan yang pernah Aren lihat.
“Aren… maafkan Ibu.”
Cakar itu menembus dadanya.
Jeritan Aren memecah malam.
Ia berteriak sampai suaranya habis, sampai tenggorokannya terasa robek. Ia memeluk tubuh ibunya yang kini tak bernyawa, darah mengalir membasahi pakaiannya. Dunia di sekitarnya terus terbakar, tapi Aren tidak melihat apa pun selain wajah ibunya yang membeku dalam keheningan.
Makhluk itu menoleh padanya.
Mata merah itu menatap lurus ke mata Aren.
Aren seharusnya mati.
Ia tahu itu.
Namun sesuatu di dalam dirinya retak.
Bukan tulang.
Bukan daging.
Sesuatu yang lebih dalam.
Rasa sakit, ketakutan, kehilangan—semuanya menyatu, menekan dadanya sampai jantungnya seolah hendak meledak. Dalam kegelapan pikirannya, sebuah bisikan bangkit.
Bangkit.
Api di sekelilingnya bergetar.
Darah ibunya yang membasahi tangannya berubah warna.
Merah… menghitam.
Dan di tengah api pembantaian, darah Aren menyala hitam, menandai awal dari sesuatu yang tidak seharusnya terbangun.