
Perang Dua Pangeran
Sabda Sundari|Bersambung
- Jumlah kata
- 47.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 9
- Jumlah kata
- 47.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 9
Sinopsis
Ricky Gouw bukan putra mahkota dalam kelompok triad Sayapmas yang dipimpin ayahnya. Dia hanya anak kedua yang diminta untuk duduk manis, menyaksikan sepak terjang bisnis hitam keluarganya. Namun semua berubah ketika dia melihat abangnya berteman dekat dengan musuh keluarga mereka. Felix, abangnya, berteman dengan perwira polisi jahat dan ambisus. Upaya Felix meyakinkan Ricky bahwa bisnis mereka akan dilindungi aparat justru membuat Ricky yakin Felix sedang menyeret ayah mereka ke lapangan eksekusi. Dengan sekuat tenaga dia mengubah arah bisnis keluarganya agar menjadi bisnis legal. Namun upayanya itu terganjal oleh kelompok-kelompok triad kecil yang selama ini mendompleng nama besar Sayapmas. Perang antar triad pun tidak terelakan, memaksa Ricky keluar dan bertarung di bawah hujan peluru.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Malam Panjang Di Harvest Night
Suara musik dari dance floor terdengar riuh mengguncang gendang telinga Ricky Gouw. Seorang DJ berpakaian seksi meliukkan tubuhnya dengan goyangan pinggul yang menggoda.
Pertunjukan sang DJ disambut riuh para pria yang sedang jingkrak-jingkrak mengikuti irama.
Dari sofa di mezzanine floor Ricky melihat semua kehebohan itu dengan tatapan dingin. Dunia malam tidak pernah menjadi minatnya. Tapi ,malam itu ayahnya sedang berulang tahun. Dan semua pentolan triad Sayapmas datang ke tempat itu untuk mengucapkan selamat.
"Kamu sudah menyiapkan kue ulang tahunnya?" tanya Ricky pada Felix.
Felix Gouw adalah abang kandung Ricky. Berdasarkan urutan lahir, Felix yang berhak untuk menerima suksesi kepemimpinan dari Albert. Sementara Ricky hanya putra kedua yang pendapatnya tidak pernah didengar.
Felix menoleh tanpa minat. Tubuhnya bergoyang mengikuti dentuman musik dari dance floor. "Sudah."
"Lilinnya?"
"Angka enam dan lima."
"Bagus."
Felix tersenyum lebar. "Urusan pesta serahkan saja padaku. Aku pakar dalam menyiapkan pesta," ujarnya dengan pongah.
Ricky menarik napas berat. Harus diakui, Felix memang rajanya pesta. Sesuatu yang sulit untuk disaingi Ricky.
"Kamu kenapa? Wajahmu kusut begitu," ujar Albert Gouw pada putra bungsunya.
"Dia tidak suka pesta, Papa," sela Felix. "Maunya dia duduk di kamar sambil main PS. Iya 'kan?"
Ricky tersenyum kecil mendengar tebakan abangnya. "Aku hanya tidak terbiasa berada di tepat seperti ini."
"Cobalah untuk menikmati malam ini. Ini hari ulang tahun Papa," kata Felix mengingatkan adiknya.
"Kalau kamu tidak suka suasana ramai seperti ini kita bisa pindah di ruang VIP," ujar Albert menawarkan opsi terbaik.
"Tidak usah, Papa. Aku suka di sini. Benar kata Koh Felix. Aku seharusnya membiasakan diri di tempat seperti ini."
Felix menepuk pundah adiknya. "Bagus. Sekarang kita panggil cewek-cewek ke sini. Tony mana Tony?"
"Saya di sini, Bos," sahut seorang pria berkemeja merah marun. Gayanya seperti orang kantoran yang baru pulang bekerja lalu mampir minum-minum.
"Panggil cewek-cewek ke sini," ujar Felix pada Tony.
"Akutidak mau. Kalian saja," tolak Albert dengan suara tegas. "Mama kalian pasti bisa mencium parfum murahan yang menempel di bajuku. Aku tidak mau ada masalah."
"Aku juga tidak mau," sambung Ricky.
Kening Felix berkerut menatap Ricky. "Kenapa kamu tidak mau? Sudah punya pacar ya?"
"Tidak. Aku belum punya pacar. Aku hanya tidak suka berdekatan dengan orang asing. Apalagi wanita."
Seketika itu juga suara tawa Felix pecah. "Kamu jadi biksu saja deh," ujarnya dengan nada mengejek.
Ricky tidak mengubris ucapan abangnya. Dia malah melihat ke pinggir pagar mezzanine. Matanya terarah pada Tony yang tengah melambaikan tangan pada seseorang. Sepertinya dia memberi kode dengan jarinya sebelum kembali duduk di sofa.
"Berapa orang yang kamu pesan?" tanya Felix.
"Delapan orang, Bos."
"Mantap!"
Tidak lama kemudian dari arah tangga, muncul serombongan wanita muda berbaju sexy. Semuanya tersenyum manis. Kedatangan mereka disambut hangat para pria yang duduk melingkar di sofa itu.
Albert tertawa kencang melihat semua anak buahnya mengejar para wanita yang dibawa oleh sang mucikari. Tingkah mereka seperti bocah yang berusaha menangkap anak ayam warna-warni.
Felix tidak mau ikut-ikutan mengejar para wanita itu. Dia menjaga reputasinya sebagai calon penerus Albert. Dengan penuh wibawa, Felix menggerakan ujung telunjuknya ke arah dua wanita berbaju ketat dengan belahan dada yang terlihat jelas.
"Duduk di sampingku, Manis," ujar Felix.
Kedua wanita itu tersenyum manja dan langsung menuruti permintaan Felix.
Berbotol-botol vodka diantarkan ke hadapan Albert. Suara tawa mereka bersaing dengan musik remix. Semakin malam suasana semakin ramai dan semarak.
Di tengah keramaian itu tiba-tiba Felix merogoh kantong jaketnya. Ekspresi wajahnya mendadak berubah. Dia yang semula terlihat santai mendadak tampak tegang. Matanya tidak berkedip menatap layar ponsel.
"Aku pergi sebentar," ujar Felix sambil melepaskan pelukan wanita yang bergelayut manja di lehernya.
"Ada apa?" tanya Albert melihat perubahan wajah putra sulungnya. "Apa ada masalah? Apa barang kita tertahan?"
Felix tersenyum kecil. "Tidak ada masalah apa-apa. Aku hanya mau ke toilet."
Albert menanggapi ucapan Felix dengan angukan. Dia kembali meneguk vodkanya. Ini sudah botol kedua yang dihabiskannya malam itu.
"Kamu tidak minum?" tanya Albert pada Ricky yag sejak tadi hanya diam, mengamati keadaan sekitarnya.
"Masih ada," jawab Ricky sambil menunjuk gelas yang masih berisi setengah.
Tiba-tiba dari arah tangga muncul seorang pelayan muda membawa kue cake ulang tahun. Di atas kue itu terdapat dua lilin yang menyala.
Seketika itu juga semua orang di lantai itu terdiam. Semua mata tertuju pada sosok pelayan wanita yang berdiri kikuk.
"Siapa yang menyuruhmu naik ke sini?" tanya Tony galak.
"Ini permintaan Bos Felix. Katanya tepat jam dua belas malam, saya harus muncul membawa kue ini." Pelayan itu berkata dengan wajah agak menunduk. Seakan tidak ingin ada kontak mata dengan semua orang di lantai mezzanine itu.
"Letakkan saja kue itu di atas meja," ujar Tony memberi perintah.
Ternyata abangku cukup punya nama di tempat ini. Sampai-sampai pelayan rendahan pun tahu namanya. Bisik hati kecil Ricky.
Pelayan itu menuruti perkataan Tony. Tepat saat dia menundukan tubuhnya condong ke depan, tanpa sengaja Ricky melihat sekilas pin nama di baju pelayan itu.
Namanya Erin.
Kelar dengan tugasnya, pelayan itu pergi dengan langkah tergesa-gesa. Tidak seorangpun peduli pada sosoknya. Semua kembali lebur dalam keriuhan Harvest Night Club malam itu.
Albert mengedarkan pandangan matanya, mencari sosok sang pewaris. "Felix tidak ada di sini. Kalau dia terlalu lama di toilet, tahu-tahu lilinnya habis meleleh," ujarnya.
Ricky mengerti bahasa yang tersirat dari ucapan ayahnya. Sontak dia berdiri dari duduknya. "Aku akan menyusulnya.'
Dengan susah payah Ricky berjalan membelah keramaian pengunjung klub malam itu. Matanya liar bergerak mencari sosok Felix. Cahaya lampu aneka warna menerpa mengaburkan pandanngannya. Untuk sesaat Ricky merasa tubuhnya limbung.
Sialan! Sepertinya aku harus lebih sering ke temoat brengsek ini. Supaya telinga dan penglihatan mataku terbiasa dengan kekacauan ini.
Ricky berjalan menuju lampu warna warni bertuliskan toilet. Feli pasti berada di sana. Namun kemudian matanya teralihkan pada seorang pria yang berjalan menuju lift.
Ricky yakin pria itu adalah Felix. Dia hapal betul cara berjalan dan postur tubuh abangnya. Sejak kecil mereka tidak terpisahkan, meski dalam beberapa tahun belakangan ini keduanya menunjukan minat yang berbeda.
"Untuk apa Koh Felix masuk lift?" tanya Ricky dengan lirih.
Dia berusaha mengejar Felix. Tapi baru dua lanngkah Ricky berjalan, pintu lift itu tertutup, membawa saudara kandungnya ke lantai dua.
Mata Ricky bergerak liar. Dia harus menemukan cara untuk menyusul Felix. Tidak peduli sepenting apa urusan Felix malam itu, dia harus membawa abangnya ke tempat ayah mereka menunggu.
"Di sana rupanya!" ujar Ricky saat melihat pintu menuju tangga darurat.
Ricky langsung berlari, mendorong pintu itu sekuat tenaga. Dia lalu berlari secepat mungkin naik ke lantai dua. Beruntung, saat dia tiba di lantai atas terdengar pula suara denting lift.
Punggung Felix hanya berjarak kurang dari sepuluh meter dari tempat Ricky mematung bingung. Dia ingin memanggil Felix. Namun Felix berjalan terlalu cepat. Hingga kemudian langkahnya terhenti di depan pintu salah satu ruang VIP yang tertutup.
Semula Ricky mengira Felix akan mengetuk pintu itu sebelum masuk ke dalam ruangan tersebut. Tapi ternyata dia salah. Felix dengan tenang membuka pintu itu lalu masuk ke dalamnya.
Jantung Ricky berdegup tidak karuan. Seribu pertanyaaan menyerbu otaknya. Untuk apa Felix naik ke ruang VIP? Siapa yang akan dia temui?
Dengan langkah kaku Ricky menyusuri lorong sepi itu. Di lantai dua, hiruk pikuk dari dance floor tidak terdengar sama sekali. Seakan ruang VIP memiliki dunia sendiri yang terpisah.
Hanya berselang detik berikutnya, dia melihat seorang gadis muda keluar dari ruangan itu. Dia membawa nampan kosong yang dipeluknya erat. Wanita itu berjalan sambil menundukan wajahnya.
"Hei kamu!" seru Ricky seraya mencegat langkah pelayan itu. "Siapa tamu yang ada didalam ruangan VIP itu?"
Pelayan itu mendongak. "Ruang VIP yang mana?"
Ricky agak terkejut saat dia membaca name tag di seragam pelayan itu. Ternyata pelayan itu adalah wanita yang mengantarkan kue ulang tahun untuk Albert beberapa saat yang lalu. Untuk seorang pelayan, wanita itu bergerak sangat gesit.
"Ruangan yang baru saja dimasuki pria berjaket hitam," ujar Ricky sambil menatap liar di sekelilingnya.
"Maaf. Saya tidak bisa memberi keterangan apapun mengenai tamu di lantai VIP."
Ricky berdecak kesal. Kesabarannya sudah diambang batas. Dia tengah berlomba dengan nyala lilin di atas kue ulang tahun ayahnya.
"Aku tidak punya banyak waktu. Jangan sampai membuat emosiku meledak. Jawab saja siapa yang menjadi tamunya?"
Berhadapan dengan Ricky yang terlihat marah, nyali pelayan itu seketika menjadi ciut. "Kapten Hendry."
"Polisi?" tanya Ricky dengan suara bergetar.
Pelayan itu mengangguk pelan.
****
Daftar bab
39 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








