

Hujan turun perlahan di desa kecil bernama Lembah Aruna. Tetesannya membasahi atap kayu rumah-rumah tua yang berdiri rapat, seolah berusaha melindungi penghuninya dari dunia luar yang penuh bahaya. Di ujung desa, seorang pemuda berdiri sendirian di bawah lampu minyak yang redup.
Namanya Arka
Matanya menatap ke arah hutan hitam yang terbentang luas di hadapannya. Sejak kecil, la selalu merasa ada sesuatu di dalam hutan itu yang ditemukan. Bukan dengan suara, melainkan dengan perasaan-seperti bisikan yang mengalir langsung ke dalam darahnya.
Arka memegang erat liontin kecil yang diingatnya. Itu adalah satu-satunya peninggalan dari ibunya yang menghilang sepuluh tahun lalu. Tak ada yang tahu ke mana ibunya pergi. Tidak ada jasad, tak ada jejak, hanya liontin ini... dan mimpi buruk yang terus menghantuinya.
Dalam mimpi itu, la selalu melihat api, kota yang terbakar, jeritan, dan sosok bayangan tinggi yang menatap dengan mata merah menyala.
"Kenapa mimpi itu selalu kembali..." gumam Arka pelan.
Langkah kaki terdengar dari belakang.
"Arka! "
Seorang pria tua berambut putih mendekatinya. Namanya Tuan Bram, kepala desa yang telah merawat Arka sejak ibunya menghilang.
"Kau masih di sini? Sudah malam, kau harus masuk." kata Bram dengan suara khawatir.
Arka menoleh. "Tuan Bram... apakah Anda pernah merasa seperti... tak termasuk di tempat ini?"
Bram teringat sejenak, menatap Arka dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Kau anak yang Istimewa, Arka. Tapi dunia ini tak selalu ramah pada mereka yang berbeda."
Arka mengerutkan keningnya. "Berbeda bagaimana?"
Bram tidak menjawab. la hanya meletakkan tangan di bahu Arka. "Suatu hari, kamu akan mengerti."
Malam itu, Arka tidur dengan nyaman. Mimpinya kembali datang
Kali ini, ia melihat dirinya berdiri di tengah lingkaran cahaya merah. Tanah di sekelilingnya direbut kembali, dari kegelapan muncul sosok yang sama tinggi, gelap, dan menakutkan.
"Bangkitlah, pewaris..." suara itu bergema.
"Apa yang kamu inginkan dariku?!" teriak Arka
"Takdir."
Arka terbangun dengan napas terengah-engah. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat.
Tapi yang membuatnya membeku adalah... tangan menyala.
Api kecil berwarna biru meremas telapak tangan tanpa membakar kulitnya.
"Apa ini..." bisiknya dengan gemetar.
Arka merasa tubuhnya dingin, padahal api di tangannya panas…pikirannya kacau.
Ketakutan menyergapnya ia mencoba menyelesaikannya, tapi api itu justru semakin membesar. Panik, Arka berlari keluar rumah.
Di halaman, api biru itu menyajikan batu dan membuatnya retak.
"A-aku melakukan ini?" Arka membuka tangannya sendiri dengan ngeri.
Langkah cepat terdengar. Tuan Bram muncul bersama beberapa warga.
"Arkal Hentikan!"
"Aku tidak tahu caranya!" teriak Arka dengan suara hampir menangis.
Bram menatap api itu, wajahnya pucat. "Jadi... akhirnya bangkit juga."
"Bangkit? Apa maksudmu?!"
Namun sebelum Bram bisa menjawab, tanah bergetar. Dari arah hutan, terdengar raungan yang bukan berasal dari makhluk biasa.
Warga mulai panik.
"Monster dari wilayah terlarang!" seseorang berteriak.
Dari kegelapan muncul makhluk besar dengan tubuh hitam dan mata merah. la mendekat, seolah tertarik pada energi di tangan Arka.
Arka gemetar, ketakutan melumpuhkan tubuhnya.
"Aku tidak mau mati... aku tidak mau menyakiti siapa pun..." bisiknya.
Namun monster itu menyerang.
Dalam sepersekian detik, sesuatu di dalam diri Arka meledak. Rasa takutnya berubah menjadi tekad.
"Aku akan melindungi mereka."
Api biru di tangannya menyala terang. Tanpa sadar, Arka menggenggam tangannya ke depan. Sebuah gelombang energi menghantam monster itu dan melemparkannya kembali ke hutan.
Sunyi menyembunyikan desa.
Semua orang menatap Arka dengan campuran kekaguman dan ketakutan.
Arka melihat orang-orang memandangnya bukan sebagai manusia biasa, ada ketakutan di mata mereka.
Arka menatap tangannya sendiri, tubuhnya gemetar
"Apa... aku ini sebenarnya?"
Tuan Bram melangkah maju. "Kau bukan anak biasa, Arka. Dan dunia di luar sana.. sedang menunggumu."
Arka terdiam, seolah tidak percaya dengan apa yang dia punya
Di balik hutan gelap, takdir Arka baru saja terbangun.
Angin malam berembus dingin, membawa bau tanah basah dan asap tipis dari batu yang retak akibat ledakan api biru tadi. Arka masih berdiri di tengah halaman desa, tubuhnya gemetar, sementara sedikit aneh di telapak tangannya perlahan meredup seperti bara yang kehabisan udara.
Para warga berbisik-bisik. Ada yang mundur beberapa langkah, ada pula yang menatap dengan mata membelalak penuh ketakutan.
“Dia… dia bukan manusia biasa…” bisik seorang wanita sambil menarik anaknya ke belakang.
“Api itu… seperti sihir terlarang" ujar yang lain dengan suara gemetar.
Arka merasakan setiap kali itu menusuk, lebih sakit daripada luka apa pun. Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Bahwa dia juga takut, tapi kata-kata itu terasa seperti terperangkap di tenggorokannya.
Tuan Bram mengangkat tangannya, memberi isyarat agar warga tenang. "Cukup! Tidak ada yang perlu panik, Arka tidak akan menyakiti siapa pun."
Namun, suara Bram pun bahkan terdengar ragu.
Arka menoleh padanya. "Tuan Bram... apa yang terjadi padaku? Api ini... monster itu... semua ini... apa interiornya denganku?".
Bram menatap hutan yang gelap, seolah mencari sesuatu di balik pepohonan hitam itu. Wajahnya tampak lebih tua dari biasanya. “Aku berharap hari ini tak akan datang secepat ini.”
“Berhenti bicara berputar-putar!” Arka meninggikan suaranya, emosinya meluap-luap. "Buku menghilang, mimpi buruk ini menghantuiku, dan sekarang aku bisa memanggil api dari diizinkan. Kau pasti tahu sesuatu!"
Bram terdiam lama. Akhirnya, ia menghela napas berat. “Ibumu bukan orang biasa, Arka. Ia berasal dari keturunan kuno… penjaga kekuatan yang seharusnya bangkit di dunia ini.”
Arka terbelalak. “Penjaga…kekuatan?”
"Api biru yang kau lihat sekilas bukan api biasa. Itu adalah Api Aruna . Kekuatan yang hanya muncul pada mereka yang membawa darah pewaris."
Arka kembali menatap tangannya. Kini api itu telah menghilang, namun sensasi panasnya masih terasa di kulitnya. “Jadi… ini ada hubungannya dengan ibuku?”
“Iya,” jawab Bram pelan. “Dan dengan alasan kenapa dia menghilang.”
Tiba-tiba, gemuruh dari hutan terdengar lagi, lebih jauh namun lebih banyak. Seolah-olah bukan hanya satu makhluk yang terbangun.
Bram menegangkan. “Kekuatanmu telah memanggil mereka. Makhluk dari wilayah terlarang akan terus datang selama aura itu masih menyatu denganmu.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan?!” tanya Arka dengan putus asa.
“Kau tidak bisa tinggal di desa ini lagi,” kata Bram dengan berat. “Lembah Aruna tidak akan aman selama kau di sini.”
Kata-kata itu terasa seperti pukulan telak.
“Pergi…?” Arka berbisik. “Aku harus meninggalkan rumahku?”
“Jika kamu ingin melindungi mereka… dan dirimu sendiri… ya.”
Hening kembali, hujan mulai turun lagi membasahi wajah Arka yang kini dipenuhi campuran rasa takut, sedih, dan marah.
Ia menatap rumah kecil tempat ia tumbuh, lampu-lampu desa, dan wajah-wajah orang yang dulu ia anggap sebagai keluarga.
Jika semua ini adalah takdirnya… maka hidup tak akan pernah sama lagi.
Arka mengangkat tangan.
“Kalau dunia di luar sana menginginkan kekuatan ini" katanya pelan, “…maka aku akan menguasainya.”
Bram memandang dengan campuran bangga dan khawatir.
Dan di kejauhan, di balik hutan hitam bayangan bermata merah tersenyum seolah rencana besar baru saja dimulai.