

Dingin di Kota Nyxovaris malam itu tidak seperti biasanya. Udara seolah membeku, bukan karena salju, melainkan karena kehadiran sesuatu yang jahat yang merayap di sela-sela pilar marmer kastil. Zen, yang saat itu baru menginjak usia lima belas tahun, berlari melintasi koridor panjang dengan jantung yang berdegup kencang melawan rongga dadanya. Sepatu botnya menghantam lantai batu dengan irama yang kacau, menggema di dinding - dinding yang bisu.
Bau itu menyerang indranya sebelum ia sampai. Bau tembaga yang tajam - amis darah yang kental.
Pikirannya berputar liar. Baru beberapa saat yang lalu, sebuah teriakan yang menyayat kalbu memecah kesunyian malam, berasal dari kamar kakaknya, Alden. Bagi Zen, Alden bukan sekadar ksatria emas kebanggaan kerajaan; ia adalah satu-satunya manusia yang tidak pernah memandangnya sebagai beban atau keganjilan. Di dunia yang membenci keanehan, Alden adalah perlindungannya.
"Alden!" Zen berteriak, suaranya pecah oleh ketakutan. Ia menghantam pintu kayu yang berat itu hingga terbuka lebar.
Namun, langkahnya terhenti seketika. Oksigen di paru-parunya seolah tersedot habis. Di tengah ruangan yang biasanya hangat itu, Alden tergeletak bersimbah darah. Di tengah dadanya, tepat di atas jantung yang selalu berdetak untuk keadilan, terdapat sebuah lubang hitam yang berdenyut tidak wajar.
Asap gelap keunguan keluar dari luka itu, menari-nari seperti ular yang kelaparan.
Zen mengenalnya. Ia mengenal energi itu lebih baik dari siapapun. Itu adalah Vanta, sihir kegelapan terlarang yang selama ini dikubur dalam jiwanya—kekuatan yang menurut legenda hanya dimiliki oleh mereka yang dikutuk oleh iblis.
"Tidak... tidak mungkin," gumam Zen dengan suara bergetar. Lututnya melemas, menghantam lantai di samping tubuh kakaknya yang mendingin.
Dengan tangan gemetar, ia mencoba menekan luka itu, mencoba menghentikan aliran darah yang membanjiri permadani. Namun, saat kulitnya bersentuhan dengan luka tersebut, energi hitam di dalam tubuh Zen justru bereaksi liar. Alih-alih menyembuhkan, asap dari tangannya justru tersedot ke dalam luka Alden, menciptakan ilusi mengerikan seolah-olah Zen sedang menghisap sisa-sisa terakhir nyawa kakaknya.
"Zen... lari..." Suara Alden hanya berupa bisikan parau, hampir tenggelam oleh suara darah yang menyumbat tenggorokannya. Mata emas yang biasanya memancarkan kehangatan itu perlahan meredup, kehilangan cahayanya, hingga akhirnya hanya menyisakan tatapan kosong yang menatap langit-langit tanpa arti.
"Alden! Jangan tinggalkan aku!"
Sebelum Zen sempat meratapi kehilangannya, pintu kamar kembali terbanting terbuka. Puluhan prajurit merangsek masuk, obor-obor mereka menerangi ruangan dengan cahaya jingga yang menyakitkan mata. Di tengah barisan itu, berdiri Jenderal Nightveil—ayah mereka.
Nightveil menatap pemandangan di depannya dengan mata yang membelalak. Ia melihat putra kesayangannya tewas, dan putra "terkutuknya" sedang bersimpah darah dengan energi hitam yang masih mengepul dari jemarinya.
"Bajingan..." Suara Nightveil rendah, bergetar hebat oleh amarah yang melampaui logika. "Aku sudah tahu kau lahir dengan noda di jiwamu, tapi aku tidak pernah mengira kau akan benar-benar menjadi iblis yang membunuh saudaramu sendiri demi kekuatan itu!"
"Ayah, tidak! Dengarkan aku!" Zen berdiri, tangannya yang hitam pekat terangkat untuk memohon. "Ada orang lain di sini... bayangan berjubah! Aku hanya mencoba menolongnya!"
"DIAM!"
Satu tamparan keras mendarat di wajah Zen, membuatnya tersungkur menghantam lemari kayu. Nightveil tidak lagi menatap Zen sebagai seorang anak, ia menatapnya sebagai serangga yang menjijikkan. Sang Jenderal menghunus pedang peraknya yang bersinar terang.
"Kau bukan putraku. Kau hanyalah monster yang salah lahir. Sebuah kesalahan yang seharusnya aku habisi saat kau pertama kali menangis di dunia ini."
Malam itu, keadilan menjadi barang mewah yang tidak mampu dibeli Zen. Tanpa pengadilan, tanpa pembelaan. Namanya dicoret dengan tinta hitam dari silsilah keluarga besar Nightveil. Ibunya (Lady Evaluna), wanita lemah lembut yang selalu memberikan Zen senyum sembunyi-sembunyi, hanya bisa berdiri di kejauhan, terisak dengan wajah tertutup tangan. Ia bahkan tidak berani menatap Zen saat anak bungsunya itu diseret paksa keluar dari gerbang kota yang angkuh.
Sebelum ia benar-benar dibuang ke hutan, para ksatria melakukan satu hal terakhir. Sebuah ritual pengusiran. Punggung Zen ditekan dengan besi panas yang telah dirapal mantra kuno. Ia berteriak hingga suaranya habis saat kulitnya terbakar, membentuk segel permanen Fratricide atau Pembunuh Saudara.
Tiga Tahun Kemudian....
Distrik Bawah Nyxovaris adalah tempat di mana matahari seolah enggan bersinar. Di sini, bau sampah yang membusuk dan aroma kemiskinan menjadi udara sehari-hari. Zen duduk di atap rumah tua yang miring, kakinya menjuntai di tepi bangunan yang hampir roboh. Ia kini berusia delapan belas tahun, namun matanya memiliki kedalaman trauma yang tidak dimiliki orang tua sekalipun.
Wajahnya setengah tertutup kain kelabu, menyisakan tatapan mata yang tajam dan waspada. Di bawah sana, kehidupan berjalan seperti biasa. Orang-orang kaya di Distrik Atas mungkin sedang berdansa di bawah lampu kristal, memuji keberanian para ksatria cahaya yang menjaga gerbang.
Mereka tidak tahu apa yang sedang mengintai di balik bayangan selokan.
Zen memejamkan mata, memfokuskan indranya. Ia merasakan denyut panas yang menyakitkan di punggungnya—segel itu berinteraksi dengan energi yang mendekat. The Void. Manifestasi kegelapan murni yang mulai merayap keluar dari celah-celah batu jalanan. Jika dibiarkan, monster-monster tanpa wajah itu akan masuk ke rumah-rumah warga dan mencabut nyawa mereka dalam tidur.
"Lagi, Zen? Kau benar-benar tidak pernah belajar."
Sebuah suara berat membuyarkan lamunan Zen. Dari balik bayangan tembok, muncul seorang pria dengan fisik yang luar biasa besar. Namanya Kaelo, seorang mantan ksatria yang kini hanya memiliki baju zirah berkarat sebagai pengingat masa lalunya. Kaelo adalah korban dari politik kotor militer; ia dikambinghitamkan sebagai pengecut, padahal ia adalah orang terakhir yang bertahan demi melindungi pasukannya yang kabur.
"Mereka sudah mulai merayap ke arah pasar utama," jawab Zen dingin, suaranya kering seperti dedaunan musim gugur. "Jika kita membiarkan pusatnya menguat, segel kota tidak akan sanggup menahannya."
Bara menghela napas, tangan besarnya mengasah pedang tumpul yang penuh retakan. "Kau tahu, Zen? Tadi pagi, orang-orang pasar membakar gubuk tempatmu biasa berteduh. Mereka tahu kau 'si pembunuh' yang dibuang itu tinggal di sana. Kenapa kau masih repot-repot menyelamatkan orang-orang yang ingin melihatmu mati di tiang gantungan?"
Zen terdiam sejenak. Ia menatap telapak tangannya. Asap hitam tipis mulai keluar dari sela-sela jarinya, menari mengikuti emosinya yang tertekan.
"Aku tidak melakukannya untuk mereka," ucap Zen pelan namun tegas. "Aku melakukannya karena Alden mencintai kota ini. Dia memberikan hidupnya untuk menjaga tempat ini tetap berdiri. Aku tidak akan membiarkan warisannya hancur sebelum aku menyeret pembunuh sebenarnya ke lubang kubur yang sama."
Tepat saat itu, sebuah bayangan melompat lincah dari atap ke atap, mendarat dengan anggun di samping mereka tanpa suara sedikitpun. Vaelis, Gadis itu memiliki penutup mata kulit di mata kirinya, namun mata kanannya yang berwarna perak berkilau menembus kegelapan. Ia bisa melihat aliran sihir—sesuatu yang bagi orang biasa hanyalah udara kosong.
"Tiga monster kelas Cormorant merayap menuju gerbang pasar," ujar Vaelis tanpa basa-basi. "Energi mereka sangat tidak stabil. Jika kita terlambat sepuluh menit saja, pagi besok Nyxovaris akan sibuk menggali liang lahat baru untuk anak-anak mereka."
Zen berdiri, merasakan segel di punggungnya berdenyut semakin kencang, memompa rasa sakit sekaligus kekuatan ke dalam nadinya. Ia tidak butuh pedang cahaya atau pengakuan dari sang ayah. Kegelapan ini adalah kutukannya, tapi malam ini, kegelapan ini adalah satu-satunya pelindung bagi mereka yang membencinya.
"Ayo," Zen memberi aba-aba. "Jangan tinggalkan jejak. Biarkan warga kota bangun besok pagi dan mengira semua kekacauan ini hanyalah mimpi buruk yang lewat bersama angin."
Ketiganya melesat, hilang ditelan bayang-bayang. Bagi Nyxovaris, mereka adalah sampah, pengkhianat, dan pembunuh saudara. Namun bagi dunia yang tengah sekarat, mereka adalah satu-satunya alasan mengapa fajar masih diberikan kesempatan untuk menyingsing di atas tanah yang penuh dosa ini.