

Rega Alfarezel menatap kalung yang sebenarnya jelek, dengan tali hitam kusam dan liontin kecil berukir simbol naga kuno, terlihat aneh. Jika bukan karena wasiat kakek yang meninggal 3 bulan lalu, Rega pasti sudah membuangnya dari dulu!
“Ini satu-satunya barang yang bisa kakek kasih ke kamu. Pakailah, supaya hidupmu bahagia.”
Mau tak mau Rega pun terpaksa memakainya malam ini, karena baru teringat ketika memikirkan utang dua digit di bank emok.
Saat ini tepat pukul 00.00 dan Rega lupa mematikan aplikasi ojek online-nya, yang mengakibatkan sebuah orderan masuk ke ponsel.
Nama penumpangnya tertulis Naya, dengan catatan: “Mas-nya yang sabar, ya.”
Rega refleks nyengir saat membacanya. Catatan seperti itu sudah pasti wanita ini bakal ribet. Mau tak mau Rega pun terpaksa harus menerima orderan itu supaya rating-nya tidak turun, di mana seharusnya Rega ingin sekali tidur karena kelelahan ngojek dari jam 05.00 subuh.
Begitu sampai di titik jemput, Rega langsung paham kenapa wanita itu memintanya sabar.
Wanita bernama Naya terlihat berdiri di pinggir jalan dengan blus putih agak terbuka di bagian leher, yang mengakibatkan belahan surga itu terpampang jelas.
Tidak hanya itu, dia juga mengenakan rok pendek, pendek sekali sampai membuat pahanya terekspos hingga membuat Rega jadi refleks meneguk saliva. Rambutnya disanggul asal sehingga leher jenjangnya yang mulus terlihat juga.
“Kamu … Mas ojol, ya?” tanyanya.
Rega langsung gelagapan, lalu menjawab, “I–Iya, ini saya.”
Senyum di bibir plumpy itu mendadak sirna ketika menatap kalung di leher Rega, dengan sebelah alis terangkat sedikit.
“Kalungnya unik, Mas,” pujinya, tersenyum lagi.
Mendengar pujiannya yang tulus membuat Rega secara spontan memegang liontinnya, tentunya sambil tersenyum kecut karena pujian aneh Naya. Padahal jelas sekali liontin itu buruk rupa menurut Rega.
Kemudian Naya berjalan dan duduk di belakang tubuh Rega. Sialnya, kedua tangannya justru melingkar tepat di pinggangnya sebelum Rega meminta berpegangan.
Motor pun mulai dijalankan dengan laju yang normal, khawatir terjadi apa-apa di jalan, apalagi bersama wanita cantik nan bohay seperti Naya.
“Mas?” panggilnya pelan dengan nada manja. “Mas-nya sudah punya pacar belum?”
“Belum, Mbak. Mana ada yang mau punya pacar tukang ojek kayak saya,” jawab Rega jujur apa adanya, karena di hubungan terakhirnya sang mantan justru menghina Rega habis-habisan di depan selingkuhannya. Semua itu hanya karena status Rega sebagai tukang ojek.
Rega mencoba melirik spion, melihat wajah Naya yang terlihat adem sekali rasanya sedang senyum-senyum sambil memeluk tubuhnya dari belakang.
“Padahal Mas Rega ganteng loh. Masa iya sih nggak ada yang mau,” rayunya.
“Kalau sama saya ... kira-kira mau nggak?”
Mendengar itu, Rega refleks mengerem laju motor karena terkejut dengan tawaran Naya. Biasanya pria yang akan berbicara begitu pada wanita yang dia suka, tapi ini justru kebalikannya.
“Duh, Mas Rega modus nih! Sengaja ya ngerem dadakan biar bisa ngerasain gunung kembarku?”
Lagi-lagi Rega dibuat gelagapan dengan ucapan konyolnya itu. Kemudian tertawa kecil dan mulai minta maaf karena sudah ngerem dadakan saking terkejutnya.
“Ma–Maaf, saya barusan kaget, Mbak.”
“Kaget kenapa sih, Mas? Belum pernah ditembak sama cewek, ya?”
Entah siapa yang menggerakkannya, kepala Rega justru tanpa sadar mengangguk di depan Naya, yang membuatnya malah tertawa cekikikan. Mungkin menertawakan Rega yang terlihat kikuk dan culun di depannya usai mengangguk.
“Mas Rega gemesin deh!” Pipi Rega dicubit dengan gemasnya oleh Naya.
Rega tidak mau ada orang yang melihat tingkah laku Naya begitu genit ini, lalu segera meminta untuk berpegangan lagi pada tubuhnya supaya cepat sampai tujuan.
Namun, usai sampai di tujuan, Rega justru dibuat semakin bingung karena Naya yang mengatakan kalimat horor. Iya, saking horornya membuat Rega terdiam beberapa saat.
Kurang lebihnya seperti ini. “Mas Rega, kalau aku suka sama kamu ... kira-kira salah nggak?”
Rega langung terdiam. Bukan karena nggak tahu jawabannya, tapi karena Rega nggak pernah ada di posisi ini. Biasanya Rega ini seringkali ditolak, dibandingkan, direndahkan oleh para wanita. Sekarang justru ada wanita cantik, centil, bohay, dan sangat percaya diri di depannya malah mengajak berpacaran.
“A–Aku ini cuma ojek, Mbak,” kata Rega akhirnya, sambil menggaruk tengkuk. “Lagi pula kita juga baru kenal. Masa baru kenal udah langsung pacaran, nanti malah Mbak-nya nyesel lagi.”
Rega berharap setelah mengatakan seperti itu, Naya akan mundur dengan niatnya. Namun, Naya malah tersenyum lebar di depan Rega, lalu melangkah lebih dekat. Terlalu dekat. Sampai-sampai Rega dibuat kelimpungan sendiri harus menghindarinya seperti apa lagi.
“Aku tau kalau Mas Rega cuma ojek,” katanya cukup santai. “Makanya aku nanya. Salah atau nggak, Mas?”
Ditatap dari jarak begitu dekat membuat ‘adik kecil’ Rega terasa sesak di dalam tempurungnya, ditambah Rega bisa mencium aroma parfum Naya yang begitu semerbak bunga vanila, tapi bukan yang menyengat. Dan entah mengapa, kalung di leher Rega kembali terasa menghangat setiap kali tubuh Naya terlalu dekat.
“Su–Suka itu urusan perasaan, Mbak,” jawab Rega akhirnya. “Nggak ada yang salah dari rasa sukamu … selama nggak keberatan kalau aku hanya tukang ojek.”
“Oh?” Naya memiringkan kepala, matanya sengaja menyipit usil. “Berarti aku boleh dong?”
“Boleh apa, ya?” tanya Rega pura-pura tidak mengerti.
“Boleh suka … sama kamu,” bisiknya cepat depan wajah Rega, lalu tertawa kecil. Tawanya mungkin terdengar ringan, tapi matanya terus-menerus memandangi mata dan bibir Rega secara bergantian, seperti wanita kesepian yang butuh akan belaian seorang pria.
Setelah menggoda Rega seperti itu, Naya segera mengambil ponselnya, pura-pura mengecek aplikasinya.
“Eh, kok argo-nya masih jalan sih?” protesnya. Padahal jelas motor Rega saja sudah dimatikan mesinnya.
Rega refleks melirik layar ponselnya karena penasaran. Ternyata benar jika argo-nya masih jalan, sungguh aneh karena sebelumnya belum pernah ada kasus seperti ini selama Rega menjadi tukang ojek.
“Harusnya sudah berhenti,” gumam Rega.
Naya mendekat lagi, kali ini sambil mencondongkan tubuh seksinya, membuat garis leher blusnya semakin jelas terlihat oleh mata Rega. Rega langsung memalingkan wajah, berusaha kelihatan profesional meski otaknya mulai kacau akibat ulah wanita ini.
“Mas Rega,” panggilnya pelan, seperti sedang berbisik. “Kalau aku minta nomor kamu di luar aplikasi … kamu bakal kasih nggak?”
Rega menelan saliva. Biasanya Rega yang akan minta nomor penumpang untuk keperluan mendesak, itupun tidak sering. Sekarang malah Rega yang kebingungan dimintai nomor penumpang seksi ini.
“Boleh sih, tapi saya … jarang chatting sama penumpang,” jawab Rega jujur.
“Bohong,” katanya ringan. “Tapi nggak apa-apa. Aku suka yang jujur setengah-setengah.”
Naya tersenyum lagi, lalu tiba-tiba melingkarkan kedua tangannya ke leher Rega, dan kedua retinanya menatap kalung jimat di leher Rega.
Dan di saat itu juga—dada Rega kembali terasa hangat. Napas Naya pun terasa menerpa wajah Rega saking dekatnya mereka berdua. Matanya yang cantik itu mendadak membesar sepersekian detik ketika secara tak sengaja bertatapan cukup lama dengan mata Rega.
“Mas Rega,” gumamnya lirih. “Kok aku jadi pengen cium bibirmu, ya?”
Rega jadi refleks mundur setengah langkah usai melepas dekapan Naya, tetapi Naya lebih dulu menyambar bibir Rega dengan begitu agresif sampai dibuat tertegun beberapa saat usai menerima bibir lembutnya yang begitu hangat.
Usai puas melakukannya, Naya pun tertawa gugup, memegang bibir bawahnya. “Aneh, ya. Biasanya aku nggak gini ke cowok.” Kemudian menyambar ponsel Rega untuk mengambil nomor ponselnya secara paksa.
Rega mencoba menatap kalungnya sendiri. Menatap simbol naga kecil yang dulu dia sebut jelek. Kakek sialan! Sepertinya beliau lupa bilang satu hal penting—kalung ini bukan cuma bikin bahagia, tapi kalung ini pemikat para wanita kesepian!
“Call me, ya, Mas,” ujarnya sambil mengedipkan sebelah mata dan menggigit bibir bawahnya, lalu pergi masuk ke dalam rumah.