

‘If life were predictable it would cease to be life and be without flavor.’ -Eleanor Roosevelt
[-]
Ada tiga hal yang selalu menjadi kegiatan Jazz setiap hari.
Kuliah, main game dan membangun sarang impian.
Ia sering menghabiskan waktu untuk menekuni hal yang dia sukai, terbilang penyendiri yang tak butuh kehidupan sosial seperti remaja pada umumnya.
Rajata Trian Sumantri, pemuda berusia sembilan belas tahun itu akrab dipanggil Jazz.
Ibunya menjabat sebagai direktur rumah sakit yang bergelar dokter spesialis syaraf, sementara ayahnya merupakan ilmuwan biologi yang bekerja untuk negara.
Tidak setiap hari Jazz bertemu kedua orang tuanya.
Mereka terlalu sibuk bekerja dan hampir tidak ada waktu untuknya. Namun Jazz tidak pernah memikirkan hal tersebut. Ia tahu, tanggung jawab ibu dan ayahnya sangat besar.
Bertempat tinggal di sebuah wilayah dingin di kota Bogor, orang tuanya membangun rumah yang cukup mewah di area perkebunan teh. Jazz benar-benar hidup berkelimpahan harta. Sebagai anak tunggal, pemuda itu tidak memiliki hal menarik untuk ia lewatkan bersama saudara kandung atau teman, dan memilih untuk mengutak atik berbagai hal yang berkaitan dengan teknologi.
Satu-satunya sahabat yang ia miliki hanyalah Wisnu dan kini mereka tidak lagi sering berhubungan karena ayah sahabatnya tersebut berganti pekerjaan ke kota lain.
Entah apa rencana Jazz ketika memutuskan membangun bunker yang dilengkapi berbagai alat teknologi yang super canggih di belakang rumah, karena diam-diam pemuda itu juga merancang senjata sendiri dengan konsep yang terinspirasi dari fitur game.
Pagi itu seperti hari-hari sebelumnya.
Bangun pagi, olahraga, mandi, lalu sarapan.
Jam sembilan adalah jadwal kuliahnya.
Jazz menempuh pendidikan di universitas yang menjadi salah satu terbaik di negeri merah putih ini. Karena otak cerdas yang menurun dari kedua orang tuanya, tahun ini adalah tahun terakhir bagi Jazz sebelum menyandang gelar sarjana tehnik.
“Mama akan kembali tiga hari lagi,” ucap ibunya sambil menenteng tas kerja, menuruni tangga untuk bergabung dengannya di meja makan.
Ibunya adalah wanita yang sangat cantik dan pintar, sementara sang ayah merupakan pria gagah dengan otak luar biasa cemerlang. Sayang, selama dia menjadi anak mereka, Jazz nyaris tak pernah menghabiskan waktu berkualitas dengan ibu juga ayahnya.
“Ya. Seperti biasa, bukan?” tanggap Jazz ringan.
Ibunya tersenyum lalu—sebelum duduk—mengecup dahi putranya.
“Kondisi saat ini sangat mencekam, Jazz. Mama bahkan mendengar hal buruk sudah menimpa beberapa negara. Para ilmuwan mulai menemukan penyakit menular yang tidak ditemukan penyebab dan obatnya,” sahut Rina, ibunya.
“Jadi itu penyebab papa nggak pernah pulang?” tanya Jazz, mengerling ke arah ibunya dengan wajah penuh selidik.
Ibunya mengangguk dengan lesu. Ponsel ibunya berdering dan ia segera mengusap ikon hijau untuk mengangkat. Beberapa saat wajah Rina meredup lalu menutup panggilan dengan wajah pias.
“Indonesia sudah terjangkiti. Ada dua pasien yang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit mama,” ucap ibunya dengan suara gemetar. “Mama harus pergi. Kamu sarapan sendiri, ya?”
Jazz tersenyum lembut.
“Iya, nggak apa-apa, Ma. Hati-hati.”
Ibunya mengangguk dan meraih sesuatu dari dalam tas.
“Simpan dan bawa kemana pun kamu pergi. Jika sesuatu terjadi, telan kapsul ini dan imunitas tubuhmu akan meningkat,” ucap ibunya sambil mengangsurkan tabung kecil kaca berisi sebutir kapsul.
“Apa ini, Ma?” Jazz terkesiap menatap tabung kecil seukuran 10ml di tangannya.
“Sesuatu yang ayahmu sedang kembangkan untuk bisa menjadi penyelamat rakyat kita nanti,” jawab ibunya dengan suara lirih.
Rina kembali mengecup dahi putranya cukup lama, lalu bergegas dengan langkah cepat, pergi. Jazz menatap punggung ibunya yang menghilang.
Pemuda itu termangu beberapa saat.
‘Gimana jadinya dunia ini, kalo virus itu semakin menyebar dan nggak bisa dihentikan?’
[-]
Jazz merapikan laptop juga bukunya ke dalam tas. Dengan cepat ia menentang ransel dan melenggang keluar kelas. Kuliah baru usai dan Jazz tidak lagi memiliki jam kuliah berikutnya. Rencana hari ini adalah pulang dan melanjutkan proyek senjata terakhirnya.
Ia berjalan menuju parkiran dan berpikir untuk membeli beberapa keperluan di toko listrik.
“Jazz!”
Jazz menoleh dan melihat seorang gadis berambut pendek mendekatinya. Ia lupa nama gadis itu, tapi mengenal dengan baik sebab mereka satu kelas di beberapa mata kuliah.
“Aku bisa pinjam modul yang kemarin kamu kerjain? Aku kehilangan semua karena tasku ketinggalan di kereta,” ucap gadis itu lagi.
“Modul apaan?” Jazz mengernyitkan dahi atas permintaan yang tak jelas itu.
“Maket yang harus kita kelarin minggu ini,” sahut cewek tersebut dengan suara memelas. “Semua yang udah kukerjain ilang, raib sekalian lapto-ku.”
“Oh ... tapi aku nggak punya dalam bentuk hard-copy,” sahut Jazz dengan datar.
“Bisa kirim soft-copy ke email aku?” tanya gadis itu penuh harap.
“Email kamu apa?” tanya Jazz meraih ponselnya. Gadis itu menyebutkan akun emailnya beserta nomor telepon.
“Milen, namaku,” ucap gadis itu memberikan namanya. “Aku tahu, kamu nggak bakal kenal siapa aku,” lanjut Milen lagi.
Jazz menyipitkan mata dan memandang Milen dengan picingan tak suka.
“Kok gitu?”
Milen menghela napas, lalu menunduk.
“Cewek kuper kayak aku mana mungkin sih diliat sama mahasiswa elit,” balasnya pelan—tanpa bermaksud menyinggung.
“Aku juga mahasiswa yang nggak pernah disadari keberadaannya,” balas Jazz dengan sedikit sinis. “Mana ada yang kenal aku?”
Milen hanya tersenyum tipis.
“Aku tunggu emailnya, ya?”
Usai berkata demikian, cewek itu berbalik meninggalkan Jazz.
Ia hanya menatap kepergian Milen dengan helaan napas panjang.
‘Minta tolong tapi judes banget!’
Pemuda itu menaiki motor sport-nya dan melaju meninggalkan parkiran kampus.
[-]
Jazz mengantri di kasir dengan keranjang yang berisi kebutuhannya. Ada tiga orang di depan dan Jazz mulai tidak sabar. Mendung mulai terlihat semakin pekat. Bogor memang tidak pernah luput dari guyuran air dari langit setiap hari.
Walaupun begitu Jazz menyukai tinggal di kota hujan tersebut.
Akhirnya, setelah lama mengantri, satu orang lagi dan akan tiba gilirannya. Jazz menjatuhkan pandangannya ke layar televisi yang tergantung di belakang kasir. Tayangan breaking news yang sedang berlangsung menarik perhatian Jazz. Ia untuk memusatkan konsentrasi penuh pada layar kaca tersebut.
“… saat ini wilayah sekitar RSP sudah dalam kondisi siaga dan warga sedang dihimbau untuk segera mengungsi. Lolosnya pasien yang diduga mengidap penyakit bahaya setelah kembali dari luar negeri di sinyalir merupakan pasien yang memiliki diagnosa yang sama dengan negeri tetangga ….”
Seketika semua orang yang berada di toko tersebut saling berpandangan, termasuk Jazz. Raut kebingungan bercampur ngeri terpancar dari wajah masing-masing. Setelah pelanggan di depannya selesai, Jazz maju dan meminta untuk segera melakukan pembayaran.
'Aku harus ketemu mama!' batin Jazz ingin segera bergegas.
Kasir itu terlihat gugup dan sesekali menoleh ke layar televisi.
"Mas, ma-maaf. Ki-kita tutup toko!" ucap kasir tersebut mulai panik dan dengan gemetar mengunci mesin uang.
"Hei, tunggu! Aku mau bayar ini dulu!" tahan Jazz dengan suara kesal.
Suara sirine meraung dari luar dan orang-orang di sekitarnya mulai tampak cemas juga kalut. Satu persatu keluar toko dengan tergesa-gesa, namun begitu mencapai luar, mereka mulai berteriak histeris serta berlari.
Jazz menoleh keluar dan pemandangan horor melintas di depannya!
Seorang pria tampak sedang menggigit wanita yang menggendong bayi dan darah muncrat dari leher wanita tersebut.
Sisa pengunjung toko dan pegawainya berhamburan panik.
“Hei!!” teriak Jazz refleks.
Dia melupakan tentang keranjangnya dan berlari cepat menabrak pintu dengan keras. Jazz menarik bayi dari rengkuhan ibunya, lalu menendang pria yang berwajah mengerikan itu dengan sekuatnya. Pria itu terpental dan ditabrak truk yang melintas dengan telak.
Tidak ada yang peduli!
“To-tolong ....”
Mendengar permintaan tersebut, Jazz sempat terpaku beberapa saat. Ia menatap perempuan malang yang susah payah memegang lehernya dengan mata terpaku.
“Ku-mohon ....”
Jazz ingin mengatakan sesuatu, namun seketika benaknya dipenuhi adegan film dan game zombie.
Seseorang yang pernah digigit akan turut berubah dengan cepat!
“Maaf, aku nggak bisa nolong ka-kamu,” ucap Jazz dengan gugup dan mundur perlahan.
“Se-selamatkan ba-bayiku,” pinta wanita berwajah oriental itu dengan suara tersendat. “Pastikan anakku hidup.” Wanita itu mengangsurkan gendongan bayi kepadanya.
Tak ada lagi waktu untuk menimbang!
Jazz menerima tanpa pikir panjang, lalu berlari menjauh untuk menuju motornya diparkir.
Suasana kian kacau, sementara semua orang tampak berlarian kalang kabut. Belum banyak yang berubah menjadi makhluk tadi, tapi histeria mulai melanda semua warga yang berada di daerah Padjajaran tersebut.
Jazz memandang bayi yang ada dalam dekapannya penuh kebingungan. Bayi itu tidak menangis, namun terus menatapnya dengan lekat.
Bayi yang cantik bermata sipit.
Jazz melepas ransel dan memasukkan bayi tersebut ke dalam. Setelah menaruh ransel di depan dadanya, Jazz menyalakan motor. Otaknya harus berpikir keras dan cepat untuk mencari rute ke rumah sakit yang mudah ia capai.
Dalam kondisi saat ini pasti semua orang akan mengungsi. Hingga detik ini Jazz belum bisa mempercayai bahwa akan tiba situasi mengerikan seperti sekarang dalam dunianya.
“Jangan menangis, ya? Kita ketemu mamaku dulu,” ucap Jazz pada bayi perempuan tersebut.
Tangannya memasang helm dengan sigap. Motor meraung dan Jazz siap menarik gas untuk melaju. Teriakan dari belakang membuatnya urung serta menoleh.
Milen berlari dengan wajah pucat.
“Ak-aku boleh ikut nggak?” tanyanya penuh harap.
Pemuda itu agak ragu dan tidak segera menjawab.
“Aku belum terkena gigitan!” Milen memperlihatkan lengan juga lehernya. “Please ... ak-aku nggak punya kendaraan untuk kabur!”
Cewek judes itu menahan tangis, mungkin saking takutnya. Tetapi, sejujurnya Jazz cukup kagum akan mental Milen yang masih bisa mengendalikan diri untuk tidak berteriak histeris.
“Jangan berisik, nggak usah protes dan duduk diem-diem!”
Tanpa bantahan apa pun, Milen mengangguk cepat dan segera naik—seraya menghapus air mata yang nyaris luruh.
Mereka berdua siap melesat, sementara para monster mulai berlari dengan kaki terseok dari arah Milen datang.
“Bisa buruan dikit?” tanya Milen dengan suara gemetar. “Me-mereka udah makin deket.”
Dengan buru-buru Jazz memindahkan ransel ke belakang—memberikan kepada Milen.
“Bawain!”
Menerima dengan gugup setengah mati, Milen memeluk ransel itu di dadanya. Motor dalam hitungan detik melaju di trotoar dan menghindari orang-orang yang berlari tidak tentu arah.
Betapa terkejutnya Milen, saat ransel tersebut bergerak-gerak. Ia membuka resleting dan melotot lebar ketika mengetahui ada bayi dalam ransel Jazz.
“I-ini anak siapa?!!” pekik Milen.
“Ibunya terkena gigitan!” seru Jazz keras mengalahkan suara motor.
“Ke-kenapa jadi kayak gini, Jazz?!” Milen akhirnya tak mampu menahan diri, terisak sambil mendekap bayi itu kuat-kuat.
Jazz menggelengkan kepala dan menyimpan pertanyaan yang sama dalam benaknya.
Dunia sudah kiamatkah?