Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Jaka yang Perkasa

Jaka yang Perkasa

Rocky | Bersambung
Jumlah kata
56.1K
Popular
7.6K
Subscribe
892
Novel / Jaka yang Perkasa
Jaka yang Perkasa

Jaka yang Perkasa

Rocky| Bersambung
Jumlah Kata
56.1K
Popular
7.6K
Subscribe
892
Sinopsis
18+PerkotaanSupernatural21+HaremUrban
Jaka, pemuda miskin yang hidupnya tidak pernah lepas dari hinaan, bau amis, tidak berguna, dan selalu dipandang rendah. Takdirnya berubah saat ia menemukan sebuah kalung dengan bandul batu laut misterius. Sejak itu, tubuh kurusnya menjelma menjadi kuat dan gagah. Tatapannya menjadi tajam, mampu melihat hal yang tak kasat mata. Para juragan mencarinya dan para wanita terpikat padanya. Di tengah pujian dan godaan tanpa henti, mampukah Jaka mengendalikan hidup barunya yang penuh kejutan?
Bab 1

"Kamu lagi? Sudah berapa kali saya bilang jangan kemari lagi, hah?"

Suara bentakan itu membuat Jaka refleks mundur selangkah. Pria paruh baya dengan wajah merah dan mata melotot itu berdiri di ambang pintu.

Pria itu adalah ayah Rina, wanita yang sedang Jaka incar. Sejak pertama kali ia memberanikan diri datang ke rumah ini, tatapan ayah Rina selalu bengis dan tidak ramah.

Jaka menelan ludah. "Saya cuma mau ketemu Rina, Pak. Sebentar saja."

"Sebentar, sebentar!" Nada suara itu meninggi. "Kamu pikir saya nggak tahu kalau kamu ngejar anak saya? Memangnya kamu punya apa? Miskin itu tahu dirilah!"

Beberapa ibu-ibu yang baru pulang dari warung memperlambat langkah mereka. Di kampung, teriakan seperti ini begitu cepat jadi tontonan. Bahkan Pak RT yang mendengar keributan itu pun langsung muncul.

"Ada apa ini? Ada apa ribut-ribut?" seru Pak RT menengahi.

"Ini Pak RT, tolong beritahu dia untuk berhenti nyari anak saya. Rina itu sudah saya jodohkan sama anak bos di kota. Anak orang kaya, punya masa depan, bukan buruh tambak harian kayak dia!"

Ayah Rina menatap Jaka dengan tatapan jijik yang sama sekali tidak disembunyikan. "Kamu itu bisa makan apa enggak tiap hari saja nggak jelas, masih berani ngejar anak gadis orang!"

Setiap kata terasa seperti lemparan batu ke dada Jaka. Ia ingin membantah, tetapi suaranya tercekat di tenggorokan.

"Ngaca dong!" lanjut pria itu tanpa ampun. "Badan bau amis! Hidup nggak keurus, jangan mimpi terlalu tinggi!"

"Sudah! Sudah! Semua bisa kita bicarakan baik-baik, Pak!" sahut Pak RT.

Sementara Jaka sudah merasakan panas menjalar ke wajahnya, bukan karena marah, tapi karena malu.

Jaka memang orang miskin, ayahnya sudah meninggal sejak ia kecil dan ibunya pergi merantau tapi tidak pernah pulang. Jaka hanya tinggal dengan neneknya yang sakit-sakitan. Beberapa bulan lalu saat Jaka baru lulus SMA, neneknya ikut meninggalkannya selamanya.

Kini di umurnya yang baru sembilan belas tahun, Jaka sudah sebatang kara, bekerja sebagai buruh tambak harian agar bisa makan, sewaktu-waktu bisa dipecat dan jadi pengangguran. Benar kata ayah Rina, masa depannya memang tidak jelas.

"Nggak ada yang bisa dibicarakan baik-baik! Pergi!" bentak ayah Rina lagi. "Kalau kamu masih berani datang ke sini lagi, saya bakal panggil orang kampung buat ngusir kamu sekalian! Tolong bawa dia jauh-jauh, Pak RT!"

"Sudah, Jak! Ayo ikut Bapak!" ajak Pak RT. "Ayo yang lain, bubar! Bubar!"

Warga kampung bubar, tapi Jaka masih di tempatnya. Sekilas ia bisa melihat Rina mengintip dari dalam rumah, tapi gadis itu juga tidak membelanya sama sekali. Sudah jelas cinta Jaka ditolak mentah-mentah.

"Maaf, Pak," kata Jaka lirih. "Saya permisi!" seru Jaka yang akhirnya pergi bersama Pak RT sampai ke pos ronda di ujung gang.

"Sudah, Jak! Kerja dulu yang benar baru ngejar anak orang," seru Pak RT.

"Bener itu, Jak. Si Rina itu sudah punya pacar orang kota. Kalah saing kamu, cari yang lain saja," timpal Pak Mul yang juga sedang duduk di pos ronda dengan puntung rokok di tangannya.

Jaka makin lemas mendengarnya.

Tepat saat itu, sebuah sepeda motor matic datang dan melaju lambat ke arah mereka. Ketiganya menoleh bersamaan.

"Nah, daripada si Rina, lebih baik si Andin, Jak, anak juragan dari kota itu!" bisik Pak Mul yang memberi kode ke arah motor matic yang akhirnya berhenti di depan pos ronda.

"Selamat pagi, Pak RT, Pak Mul!" sapa gadis manis itu sambil membuka helmnya.

"Selamat pagi, Nak Andin," sahut mereka bersamaan.

"Jaka!" Andin tersenyum manis menatap Jaka.

"Eh, iya, Ndin."

Andin turun dari motor dan mendekati Jaka. Ia mengenakan jaket tipis dan celana panjang rapi, penampilannya kontras dengan Jaka yang lusuh dan berdebu, kaos tipis yang sudah berlubang, celana pendek seperti orang kebanjiran, dan baunya amis karena setiap hari bergelut dengan ikan.

Andin adalah orang kota yang sering datang ke desa ini. Ayahnya pemilik usaha pengolahan es dan cold storage ikan terbesar di kota, pemasok utama untuk pasar-pasar besar di sekitar pesisir.

Karena itulah, Andin sering bolak-balik ke desa, menempuh jarak sekitar tiga puluh menit dengan motor, entah untuk mengantar berkas atau sekedar memastikan urusan ayahnya di tambak-tambak sekitar berjalan lancar.

"Kok kamu di sini, Jak?" tanya Andin ramah.

"Biasa, habis dimarah Bapaknya Rina lagi," sahut Pak Mul cepat. "Dikatain nggak punya masa depan."

"Eh, bukan gitu kok, Ndin. Nggak ada apa-apa," ralat Jaka sungkan.

Andin menatap Jaka lama, seolah bisa melihat luka yang berusaha ia sembunyikan. "Sudah, nggak usah dengerin Bapaknya Rina, Jak. Nggak usah dimasukin hati ya."

Jaka menghela napas pelan. "Iya, Ndin, tapi yang dia bilang memang kenyataan, Ndin."

"Kenyataan versi mereka," bantah Andin lembut. "Aku tahu kamu kerja keras. Nggak semua orang kuat hidup kayak kamu."

Kata-kata itu membuat dada Jaka menghangat, meski hanya sedikit. Pak RT dan Pak Mul pun manggut-manggut.

"Makasih ya, Ndin," kata Jaka akhirnya. "Tapi aku harus kerja lagi. Kalau telat, nanti dipecat. Mari Pak RT, Pak Mul!"

"Hati-hati, Jak!" sahut Pak RT.

"Kerja yang rajin, Jak!" sahut Pak Mul juga.

Sedangkan Andin hanya bisa mengangguk kecewa karena Jaka tidak pernah peka pada perhatiannya. Jaka tidak tahu dan tidak pernah menyangka, bahwa di balik perhatian itu ada perasaan yang sudah lama Andin pendam.

*

Tambak menyambut Jaka dengan bau lumpur dan air payau yang sudah akrab di hidungnya. Tanpa mengulur waktu, ia langsung mengangkat karung pakan ikan.

Di sisi tambak, terlihat Roni sedang menjaring ikan-ikan yang mengambang. Roni adalah teman baik Jaka sejak SMA, sama-sama susah dan sama-sama mengerjakan apa pun untuk bertahan hidup.

"Kamu kenapa, Jak? Kusut banget mukamu kayak kanebo kering." 

"Aku diusir lagi sama Bapaknya Rina, Ron. Malu banget aku."

"Ya ampun, Jak. Sudah tahu Bapaknya Rina kayak setan galaknya, kok masih kamu ngejar anaknya. Kalau aku jadi kamu, aku sudah mundur teratur, Jak."

"Namanya cinta, Ron!"

"Cinta monyet, Jak! Lebih baik kita urusin ikan ngambang ini dulu, sebelum diteriakin mandor."

Baru saja Roni berhenti bicara, suara mandor sudah terdengar.

"Air kemarin kacau. Banyak ikan mati! Kamu yang jaga malam?" Tatapan sang mandor terarah pada Jaka.

"Eh, i-iya, Pak," jawab Jaka gugup.

"Berarti kamu yang tanggung jawab."

Upah Jaka dipotong hari itu. Roni ingin mencoba bicara, tapi dihentikan oleh Jaka.

"Apes banget sih, Jak? Sudah gaji dikit, dipotong pula, makan apa kamu nanti?"

"Mau gimana lagi? Buruh tambak harian kayak kita ini ya memang begitu kerjaannya, siap disalahkan kalau gagal panen. Kalau ngeluh, terus besok nggak dipanggil kerja lagi malah mati kita, Ron."

Roni akhirnya terdiam dan hanya bisa lanjut bekerja sambil tidak berhenti mengomel.

Malam harinya, Jaka menerima pekerjaan membantu membongkar ikan di dermaga kecil. Ia harus mendapatkan gaji tambahan untuk menggantikan gaji yang dipotong tadi.

Ia menunggu di sana sampai perahu merapat ke dermaga, sebelum ia mengangkat petinya satu persatu di punggungnya. Kaki telanjangnya hampir tergelincir saat beban peti mendorong tubuhnya ke depan.

Punggung Jaka sudah lemas, lengannya gemetar, tapi ia tetap bertahan sampai akhirnya semua peti berhasil dinaikkan ke mobil dan mobilnya melaju pergi.

Baru saja ia akan ikut pergi saat kakinya menginjak sesuatu. Sontak Jaka menunduk dan melihat apa yang ia injak itu.

Ternyata sebuah kalung dari tali dengan bandulan kecil. Jaka memungutnya.

"Kalung apa ini? Punya siapa?" gumam Jaka sambil menatap benda itu lebih lama.

Sebelum sempat berpikir lebih jauh, teriakan sudah terdengar.

"Jak! Cepat sini, nggak mau duit kamu?"

Jaka tersentak dan langsung memasukkan benda itu ke saku celananya tanpa berpikir panjang.

"Mau, Bang!" sahut Jaka yang segera berlari mengambil bayarannya.

"Nih, bayaranmu! Orang laki kok lemes banget to, Jak? Kamu pikir saya nggak lihat kamu hampir jatuhin peti tadi. Kalau sampai jatuh, saya nggak akan panggil kamu lagi, Jak!"

"Eh, maaf, Bang. Sudah lemes dari pagi, tapi untung nggak jatuh."

"Ya sudah, sana pulang! Olahraga biar nggak lemes-lemes gitu."

"Iya, Bang! Makasih, Bang!"

Jaka pun pulang malam itu sambil memegangi pinggangnya yang tadinya sudah mau copot saking pegalnya. Tapi anehnya dalam perjalanan pulang, pegalnya mendadak hilang.

Lanjut membaca
Lanjut membaca