

Perut Hilmi kembali melilit sejak pagi. Rasa lapar itu tidak lagi terasa tajam, hanya menekan pelan dari dalam. Sejak kemarin malam, dirinya belum makan apa pun selain setengah bungkus mie instan yang dibagi untuk dua orang.
Hilmi berdiri di pinggir posko darurat, menahan pusing sambil memandang antrean warga yang semakin panjang. Wadah-wadah plastik kosong di tangan mereka beradu pelan, menimbulkan bunyi kering yang terasa menyedihkan.
“Kak, ada kabar soal orang tua saya?” ucap Hilmi kepada seorang relawan yang baru saja turun dari mobil bak terbuka.
Relawan itu berhenti sejenak, membuka buku catatan lusuh, lalu menggeleng pelan. “Namanya siapa, Dek?”
“Hilman Rohadi sama Sariyah,” sahut Hilmi cepat, seperti takut kesempatan itu lewat begitu saja.
Relawan itu membalik beberapa halaman, menelusuri daftar panjang dengan alis berkerut. Setelah beberapa detik, kepala itu kembali terangkat. “Belum ada, Dek. Kalau ada kabar, nanti diumumin.”
Hilmi mengangguk kecil. “Iya.”
Tidak ada nada kecewa di suaranya, hanya datar. Dirinya sudah mendengar jawaban yang sama sejak hari keempat.
Dua minggu lalu, banjir besar itu datang malam-malam dan menyeret orang tuanya entah ke mana. Air naik terlalu cepat. Lampu mati. Jeritan bercampur suara benda-benda dihantam arus. Setelah itu, hanya sisa lumpur dan nama-nama yang dicatat di kertas.
Hilmi kembali ke tempat duduknya di bawah tenda terpal yang warnanya mulai pudar. Bau tanah basah dan sampah membusuk masih melekat di udara. Bantuan datang tidak tentu. Kadang beras, kadang mie, lebih sering janji. Untuk makan hari ini saja belum tentu cukup, apalagi besok.
Dirinya meneguk air dari gelas plastik. Rasanya hambar, tapi cukup menenangkan tenggorokan yang kering.
Dari arah lain posko, suara-suara mulai meninggi.
“Negara ke mana, hah?” bentak seorang bapak-bapak dengan wajah merah dan mata cekung.
Beberapa orang langsung menyahut. “Iya! Kita ditinggal begini aja!”
“Dua minggu cuma dikasih mie! Kasihan anak-anak!”
Hujatan itu bergema di bawah tenda. Para orang tua yang biasanya diam kini ikut meluapkan kemarahan. Kata-kata kasar meluncur tanpa ditahan, ditujukan pada pemerintah yang terasa jauh dan tidak terlihat.
Hilmi mendengarkan tanpa ikut bersuara. Rasa ditelantarkan itu juga dirasakan dirinya, tapi berteriak tidak akan membuat perutnya terisi atau orang tuanya kembali. Dirinya lebih memilih memperhatikan sekitar, menghitung jumlah orang, memperkirakan sisa logistik, menimbang kemungkinan terburuk.
Kalau bantuan makin jarang, orang-orang akan mulai berebut. Kalau sudah begitu, yang lemah akan jatuh lebih dulu.
Pikiran itu muncul tenang, tanpa emosi. Bukan karena tidak peduli, tapi karena panik tidak pernah jadi solusi. Hidup sudah terlalu sering mengajarkan hal yang sama, bertahan dulu, selebihnya belakangan.
Hilmi memandang ke arah sungai yang kini hanya menyisakan aliran kecil berwarna cokelat. Dua minggu lalu, air itu merenggut segalanya. Sekarang diam, seolah tidak pernah berbuat apa-apa.
Dirinya mengepalkan tangan di atas lutut. Lapar masih ada. Ketidakpastian juga. Tapi selama masih bisa berdiri dan berpikir jernih, Hilmi tahu satu hal.
Hari ini harus dilewati. Entah bagaimana caranya.
Suara mesin kendaraan terdengar dari kejauhan. Perlahan, bunyinya makin jelas, menembus gumaman dan keluhan di posko. Beberapa kepala terangkat hampir bersamaan. Truk bak terbuka masuk ke area lapang dengan terpal biru menutupi muatannya.
“Bantuan datang!”
Kalimat itu menyebar cepat, lebih cepat dari orang-orang yang berdiri. Antrean yang semula acak mulai terbentuk, walau tidak rapi. Wajah-wajah lelah mendadak berubah waspada, sebagian berharap, sebagian siap bersitegang.
Petugas turun satu per satu. Rompi mereka masih bersih dibanding pakaian warga yang penuh lumpur kering. Salah satu dari mereka mengangkat tangan, memberi isyarat agar semua tenang.
“Ibu-ibu sama anak-anak dulu!” serunya lantang.
Beberapa perempuan langsung bergerak ke depan sambil menggandeng anak masing-masing. Ada yang menggendong, ada yang menarik tangan kecil yang tampak terlalu lelah untuk berjalan. Hilmi berdiri di tempatnya, tidak ikut mendekat. Pandangannya mengikuti barisan itu, menghitung kasar jumlah paket yang diturunkan.
Setelah ibu dan anak-anak, giliran bapak-bapak dipanggil. Suasana mulai berubah. Suara desakan terdengar, bahu saling bersenggolan. Beberapa lelaki maju tanpa sabar, takut kehabisan.
Hilmi melangkah pelan, mencoba mendekat. Tubuhnya yang kurus mudah terhimpit. Siku orang lain beberapa kali menyentuh dadanya, membuat napasnya tertahan. Dirinya berhenti, mundur setengah langkah. Berebut hanya akan menghabiskan tenaga yang tidak seberapa.
Dirinya menunggu.
Satu per satu paket berpindah tangan. Tumpukan di bak truk makin menipis. Petugas mulai berbicara lebih cepat, nada suaranya meninggi, mencoba mengatur kerumunan yang mulai gaduh.
“Udah, udah! Mundur dulu! Yang lain nanti!”
Ketika akhirnya giliran Hilmi mendekat, bak truk itu sudah kosong. Terpalnya dibiarkan terangkat, memperlihatkan lantai besi yang basah dan berkarat.
Hilmi berdiri di depan petugas dengan tangan kosong. “Pak, saya belum dapet.”
Petugas itu menoleh sekilas, lalu menggeleng. “Habis, Dek.”
Hilmi diam sejenak. Perutnya kembali melilit, kali ini terasa lebih nyata.
“Kalau mau ambil, ke posko ujung sana,” lanjut petugas itu sambil menunjuk ke arah jalan kecil di balik deretan tenda. “Masih ada distribusi lanjutan.”
Hilmi mengikuti arah telunjuk itu dengan pandangan. Posko di ujung terdengar jauh, melewati area yang lebih sepi.
Petugas itu melirik Hilmi, lalu berkata singkat, “Pake gelang. Tanpa gelang, enggak bisa masuk posko ujung,’ seraya menunjuk ke sebuah kantong di dashboard depan truk bak.
Hilmi menunduk, melihat pergelangan tangannya sendiri yang kosong. Tidak ada apa-apa di sana selain kulit yang sedikit menggelap karena matahari.
“Gelangnya di mana?” tanyanya lagi. Hilmi menarik napas pelan dan mulai berjalan ke arah yang ditunjuk. Perutnya kosong, pikirannya tetap jernih. Selama masih bisa bergerak, dirinya tahu satu hal.
Tidak semua bantuan datang dengan cara yang adil. Dan hari ini, dirinya baru saja berdiri di barisan paling belakang.
Setelah menemukannya, Hilmi pun memakainya. Gelang itu terasa kencang di pergelangan tangan Hilmi. Bukan menyakitkan, tapi cukup untuk mengingatkan kalau benda itu tidak bisa dilepas. Permukaannya dingin, transparan, nyaris seperti plastik biasa. Tidak ada tulisan, dan tidak ada tanda apapun.
Beberapa langkah setelah dipakai, gelang itu bergetar halus. Sangat ringan, hampir tak terasa. Hilmi berhenti.
Cahaya hijau berkedip.
Satu garis tipis muncul di permukaannya, berdiri tegak dari atas ke bawah, seperti bar baterai yang baru diisi. Garis itu menyala pelan, lalu berkedip lagi. Kedua. Ketiga. Keempat.
Hilmi menahan napas.
Garis-garis hijau itu bertambah cepat. Cahayanya menebal, semakin terang, sampai seluruh gelang bersinar penuh. Lingkaran hijau utuh mengitari pergelangan tangannya, menyinari kulitnya sendiri. Terlalu terang untuk benda sekecil itu.
Belum sempat Hilmi bergerak, cahaya itu mulai surut.
Satu per satu garis menghilang. Terang berubah redup. Penuh menjadi setengah. Setengah menjadi sedikit. Hingga akhirnya, hanya tersisa satu garis hijau yang berkelip lemah.
Lalu padam.
Gelang itu kembali kosong, seolah tidak pernah menyala.
Hilmi menelan ludah. Jantungnya berdetak lebih cepat, tapi pikirannya tetap tenang. Tidak ada kepanikan, hanya satu kesadaran yang muncul pelan di kepalanya, “Ini mencurigakan!”
Hilmi melangkah ke pintu posko di ujung area. Dari luar, bangunan itu terlihat sama seperti tenda lain. Terpal kusam, rangka besi, papan kayu di lantai. Tidak ada yang terasa berbeda.
Dirinya melangkah masuk.
Begitu kaki Hilmi melewati ambang pintu, dunia berubah.
Tidak ada terpal. Tidak ada rangka. Tidak ada lantai kayu. Ruangan itu gelap total. Hitam pekat, tanpa bentuk. Hilmi berhenti refleks dan menoleh ke belakang.
Pintu itu tidak ada.
Bukan tertutup. Bukan bergeser. Pintu itu memang sudah tidak ada. Dinding pun tidak terlihat. Tidak ada sudut, tidak ada langit-langit. Hanya gelap yang menekan dari segala arah.
Hilmi berdiri diam. Dirinya mengangkat tangan, mencoba melihat gelang di pergelangan tangannya. Tidak ada cahaya. Gelap menelan segalanya.
“Tenang,” gumamnya pelan.
Napas diatur pendek dan perlahan. Satu langkah ke depan. Tidak ada suara langkah. Tidak ada gema. Seolah lantai pun tidak benar-benar ada.
Di kejauhan, sebuah titik cahaya muncul.
Kecil dan Putih
Satu-satunya benda yang bisa dilihat.
Hilmi memandang titik itu lama. Gelap di sekitarnya tidak memberi pilihan. Diam tidak akan mengubah apa pun. Tidak ada jalan lain yang bisa dipilih, karena memang tidak ada jalan.
Dirinya melangkah ke arah cahaya itu.
Setiap langkah terasa seperti keputusan tanpa opsi. Semakin dekat, cahaya itu semakin terang, cukup untuk membuat bayangan tubuhnya sendiri muncul samar di permukaan hitam yang entah terbuat dari apa.
Gelang di pergelangan tangannya tetap mati.
Hilmi terus berjalan. Tidak cepat. Tidak ragu. Mau tidak mau, hanya itu yang bisa dilakukan.
Dan untuk pertama kalinya sejak banjir datang, Hilmi benar-benar merasa berada di tempat yang tidak dikenalnya sama sekali.