

Pukul dua dini hari, keheningan desa hanya dipecah oleh bunyi gesekan pisau besi di atas talenan kayu yang sudah usang. Tangan kanan Bagas, salah satu anggota tubuh yang masih bekerja dengan baik, bergerak cepat, namun jelas menanggung beban dua kali lipat.
Adonan risol mayo dingin itu licin, sulit digenggam, dan setiap kali ia membalik isiannya, terkadang tangannya tergelincir. Efek keterbatasan gerak tangan kirinya membuat ia kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari. Ditambah kaki kirinya juga tidak berfungsi normal, yang membuat beban fisiknya bertumpu di sisi kanan.
"Sialan," desisnya lirih, napasnya pendek-pendek.
Ia harus berhenti sejenak, menopang siku kiri pada meja reyot. Rasa lelah luar biasa akibat kurang tidur dan stres ekonomi selalu menyerang paling parah pada jam-jam sebelum subuh ini. Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan jantung yang berdebar tidak karuan. Jualannya harus siap sebelum matahari terbit; jika tidak, ia sulit untuk membeli bahan jualan untuk esok, jika tidak jualan besok dengan apa ia akan membayar tagihan listrik dan air.
"Aduh!" Nyeri menyerang kaki kirinya.
Bagas memaksa dirinya berdiri. Tumpuan berat tubuhnya jatuh dominan pada kaki kanan, sementara kaki kiri yang pincang itu hanya menjadi jangkar yang kaku. Ia berjalan terpincang-pincang ke sudut ruangan, tempat cermin kecil dengan bingkai kayu yang terbelah dua tergantung. Ia membutuhkan sedikit pembenaran diri, sebuah mantra sebelum memulai neraka hari itu.
Pantulan yang menyambutnya adalah ironi yang menyakitkan. Di sana berdiri seorang pemuda 18 tahun, kurus, dengan mata cekung dan bekas luka terbakar dari pelipis kanan hingga pipinya, membuatnya terlihat seperti monster. Tangan kirinya terkulai tak bertenaga, jemarinya lemas, engselnya tidak bisa bergerak sebebas tangan kanan.
Nawasena Bagaskara. Nama itu terasa asing, terlampau megah untuk dibebankan pada rongsokan fisik ini. Nawasena yang berarti masa depan cerah, pasukan yang kuat. Sementara Bagaskara berarti matahari, pencipta cahaya. Nama yang sangat gagah.
Namun, tidak ada yang menggambarkan arti nama itu pada dirinya. Ia adalah Bagas—yang pincang, yang cacat, yang warisannya hanyalah kemiskinan dan bau minyak goreng. Satu-satunya yang melambangkan Bagaskara adalah bekas luka bakar di wajahnya, bukan arti yang baik.
Bahkan nama panggilannya saja punya arti yang berat, banyak orang yang berkata kalau ia keberatan nama, tubuhnya tidak mampu menampung nama itu dan berakhir seperti ini.
"Nawasena," bisiknya pada cermin retak itu, suaranya parau.
Ia mencoba membayangkan sosok yang seharusnya ia miliki—kuat, tegap, seorang pria yang tidak perlu merasa takut saat berjalan melewati keramaian. Tapi yang ia lihat hanyalah bayangan yang patah.
"Setidaknya, kamu harus punya nama itu, Nak," suara almarhum Ibu Surti tiba-tiba terngiang di kepalanya, suara yang lembut namun tegas. "Sebuah nama adalah harapan. Jangan biarkan mereka mencurinya darimu."
"Iya, Ibu bener, tapi di mata mereka, aku tetap si cacat yang namanya terlalu berat untuk dipikul." Bagas tertawa kering.
Harapan. Ya, harapan adalah kemewahan yang tidak mampu ia beli dan impikan. Kata orang mimpi itu jangan terlalu tinggi, kalau jatuh sakitnya luar biasa. Bagas percaya itu, untuk seorang laki-laki yang mempunyai kekurangan kronis, mimpi menjadi pria tampan, kuat, berani dan bisa bekerja di tempat bagus dengan gaji tinggi adalah mimpi kosong.
Bagas menarik napas dalam-dalam, memaksa paru-parunya menampung udara dingin dini hari. Ketegangan di bahu kanannya terasa seperti simpul tali yang siap putus. Rasa rendah diri yang sudah mengakar kuat itu kembali mencengkeram perutnya.
Ia tidak pernah bisa lepas dari bayangan ketidaksempurnaan ini. Ia bukan Nawasena. Ia hanyalah bayangan yang membuat Ibu harus berjuang begitu keras menjual lontong sampai akhir hayatnya.
"Apa orang cacat sepertiku gak pantes diperlakukan seperti orang normal?" Matanya sendu. "Aku seperti ini bukan karena keinginanku, siapa yang mau cacat? Gak ada."
Ia berbalik dari cermin, mengabaikan refleksi mengerikan itu. Tidak ada waktu untuk meratap.
Bagas kembali ke meja, mengambil wajan. Proses membungkus risol dimulai. Dengan tangan kanan yang terampil, ia menakar isian, melipat kulit tipis dengan presisi yang terlatih, dan mengunci pinggirannya. Setiap risol yang sempurna terasa seperti sebuah kemenangan kecil atas nasib buruknya. Ia harus memastikan setiap lapisannya renyah, setiap gigitan isinya memuaskan.
Setelah tiga jam penuh berkutat dengan adonan, seratus risol berbaris rapi di atas nampan besar, siap digoreng. Di sebelahnya, lontong-lontong yang sudah direbus semalam tampak menggoda, menunggu untuk disiram bumbu kacang yang ia racik sendiri.
Ia menyeka keningnya dengan punggung tangan kiri yang kaku. Gerakan itu terasa canggung dan menyakitkan, tapi berhasil.
"Selesai," katanya pada dapur yang kosong, "andai aku normal, pasti gak akan selama ini." Lagi-lagi Bagas menghela napas.
Pukul empat pagi, tugas pertama selesai. Bagas mengemasi piring kotor dan mematikan kompor. Keheningan rumah reot itu terasa lebih berat sekarang. Ia memaksakan sudut bibirnya terangkat, membentuk sudut senyum yang sangat tipis—senyum seorang penjual yang tahu bahwa sebentar lagi ia harus menghadapi dunia yang benci melihatnya berusaha. Itu adalah topengnya yang pertama, jauh sebelum Kara tercipta.
Ia harus kuat. Demi dagangannya, demi mengenang Surti, dan demi diri yang masih berharap ada hari di mana nama Nawasena itu terasa pas di kulitnya.