

Di sebuah desa terpencil yang jauh dari kebisingan kota, desa ini di kelilingi hutan lebat dan punggung punggung gunung yang berlapis kabut, desa itu bernama Wana Arga, hiduplah pemuda buruk rupa bernama Lingga. Ia tinggal hanya berdua bersama ibunya.
" Mbok iyem" Begitulah warga memanggilnya, sementara ayahnya sudah lama meninggal karena sakit parah yang tidak wajar, di duga karena ilmu santet kiriman dari temanya sendiri karena perebutan lahan.
Jalan tanah merah menjadi satu-satunya penghubung ke dunia luar, dan sinyal telepon sering kalah oleh desir angin. Di tempat itulah Lingga belajar mengenal sunyi, mengenal langkahnya sendiri, dan mencintai kebiasaan menjelajahi gunung sejak remaja.
Wajahnya terkena air panas ketika ia masih kecil saat itu ibunya sedang memasak di dapur tanpa sengaja Lingga terjatuh,wajahnya masuk kedalam panci yang berisi air mendidih.
Itulah sebabnya Lingga di kenal dengan sebutan pemuda buruk rupa.
Pagi itu cuacanya sangat cerah Lingga ingin menghirup udara segar dengan ber jalan-jalan keliling kampung.
Saat itu orang -orang sudah mulai berlalu lalang memadati jalan, ada yang berangkat ke sawah ada yang pergi bekerja dengan baju yang rapi ada anak-anak berangkat sekolah.
Mereka sibuk dengan aktivitasnya masing- masing.
Sementara Lingga masih setia dengan hobinya yaitu mendaki gunung, sesekali ia juga membantu ibunya di ladang.
Di tengah perjalanan Lingga bertemu se gerombolan anak-anak kecil yang super bandel mereka hendak berangkat ke sekolah.
"Plakkkkkkkk!!!!" Sebuah batu berukuran kecil tepat mengenai kepala bagian belakang Lingga.
"Haaaa.., haaaa..,haaaaa., kena juga kamu ya si wajah buruk rupa wleeeeee" Ucap bagas anak Bu Ida yang sangat nakal.
Seketika temen-temen bagas juga ikut tertawa melihat Bagas mengolok-olok Lingga.
" Mukanya kaya monsterrr ya temen-temen hiii seremmm ayo kita kaburrrr" Kata Bagas lagi sambil berlari menuju jalan raya.
Lingga yang mendengar ucapan anak nakal itu merasa sangat kesall!.
Bukan pertama kalinya bagi Lingga mendapat perlakuan seperti itu, bahkan setiap cewe yang memandang Lingga mereka seolah melihat dengan rasa jiji.
Di kampung ia jarang bergaul dengan teman -teman sebayanya. Karena Lingga minder dengan wajahnya.
Meskipun gak semua orang jiji sama Lingga tapi Lingga lebih memilih untuk menyendiri,
Setiap Lingga merasa sedih tempat yang pasti Lingga kunjungi adalah gunung.
kebetulan jalur pendakian itu sangag dekat dengan rumah Lingga.
Dengan berbekal ransel lusuhnya dan menyusuri jalur-jalur lama yang hanya dikenal oleh pemburu.
Gunung bagi Lingga bukan sekadar hobi ,melainkan mencari ketenangan di atas sana, dari jahatnya mulut-mulut manusia yang merasa dirinya paling sempurna.
Setelah berjam -jam menyusuri jalur akhirnya sampai juga di lereng gunung semeru.
Hari sudah sore, saat itu hujan rintik rintik Lingga menemukan sebuah pondok reyot yang bisa buat berteduh sebentar sembari menunggu huja reda.
Pondok itu seolah luput dari waktu.
Lingga singgah sebentar untuk meneduh.
Di dalamnya, ia menjumpai seorang kakek berjanggut putih dan berambut panjang matanya bening seperti telaga. Kakek itu bernama Ki Ranasakti.
" Heei pemuda buruk rupa mau apa kau kesini" Ucap ki ranasakti.
Lingga pun terkejut
" Saya mau mencari ketenangan kek" Ucap lingga dengan suara agak panik ketakutan.
Ki ranasakti pun mnjwab "baiklah jika itu tujuanmu silahkan lanjutkan, sambil nunggu hujan reda istirahat dulu di sini.
sambil menyeduh kopi pahit.
Sebelum berpisah, Ki Ranasakti menyerahkan sebuah jimat barupa kalung liontin dengan batu permata berwarna keemasan.
"sepertinya kamu orang yang tepat untuk meneruskan jimat ini nak" ujar Ki Ranasakti tegas.
" Apa ini kek kalungnya bagus banget berkilau" kata lingga kagum melihat kalung liontin itu memiliki batu permata yang bersinar.
" Umurmu sekarang 17 tahun kan?"
" Dari mana kakek tau?"
" Kakek hanya menebak, sudahlah di simpan saja jangan banyak nanya, jimat ini nantinya akan merubah hidupmu jadi lebih baik" Ujar ki Ranasakti.
Lingga menerima jimat itu dengan bingung.
"Baik kek terimakasih banyak saya akan menjaga jimat ini dengan baik" Lingga bergegas menuju puncak.
Sesampainya di puncak Lingga duduk termenung, meratapi nasibnya yang sudah menderita sejak kecil, seolah dunia tak berpihak padanya.
"Apa bener yang kakek itu bilang kalau jimat ini bisa merubah hidupku jadi lebih baik?" Kata Lingga sambil memegang kalung jimat itu.
" Kalau bener yang pertama aku minta adalah wajahkuuu, aku pengen punya wajah yang tampan ya tuhan, biar di sukai banyak orang, selama ini hanya hinaan yang aku dapat." Gumam Lingga.
Setelah menikmati sunset di gunung semeru akhirnya Lingga bergegas turun, karena hari sudah mulai gelap.
" Pulang ah takut ibu khawatir".
Sesampainya di rumah Lingga langsung menyimpan kalung jimat itu di sebuah kotak kecil yang ia simpan di dalam lemari pakainya.
Ke esokan harinya lingga ingin sekali membeli tas ransel ke kota, karena ranselnya sudah lusuh dan tak layak pakai. Lingga berpamitan dengan ibunya.
" Bu aku mau ke kota beli tas ransel boleh?,tasku udah nggak layak pakai nih buu.
Kata Lingga menunjukan tasnya yang sudah koyak.
" Iya boleh , tapi ingat selesai beli tas ransel harus segera pulang." Ucap mbok yem
" Iya bu, tenang saja lagian Lingga juga gak punya temen jadi mau mampir kemana hee.,hee.,hee." Jawab Lingga tersenyum.
Lingga pergi menaiki sepeda ontel peninggalan sang ayah. Sementara di lehernya memakai kalung yang kemarin di kasih Ki Ranasakti.
Setelah mengayuh sepeda kurang lebih 3 kilo meter ahirnya sampai di kota.
Lingga merasakan perubahan dalam dirinya karena ia membawa jimat pemberian dari ki Ranasakti
Perubahan itu terasa pertama kali ketika ia bertemu Sari, seorang guru muda yang baru dipindahkan ke Wana Arga.
Ia juga sedang membeli tas ransel untuk keperluan mengajar, Lingga hanya menyapa dengan sederhana.
Sari memperhatikan sesuatu yang berbeda pada Lingga. Sari menatap lingga dengan penuh kekaguman seolah ia melihat pria sangat tampan di depanya,Lingga heran karena baru pertama kali ada orang menatapnya seperti itu, biasanya nggak ada satupun orangpun berani menatap wajahnya itu karena jiji.
Jimat itu tergantung di leher Lingga, nyaris tak terlihat. Namun yang bersinar adalah wajahnya.
Tanpa berpikir panjang Sari langsung mengajak Lingga berkenalan.
" Hai pemuda tampan, dari mana asalmu?? Sari pun terpesona dengan ketampanan Lingga yang ia lihat,
"Perkenalkan aku sari aku baru saja di pindah tugaskan ke kota ini" Ucap sari
Linggapun bingung celingukan., karena baru pertama kali ada seseorang yang menyebutnya tampan.
" Kamu bicara denganku nona??"
Sari pun menjawab" Ya tentu saja".
Lingga berbicara dalam hati bahwa ia menyadari jimat pemberian ki Rana ternyata sudah bereaksi, ternyata bisa merubah wajahku berarti gak semua orang melihatnya, buktinya tadi ibu gak sadar wajahku berubah tampan.
" Hai nona asalku dari desa Wana Arga yang cukup terpencil dan jauh dari pusat kota ini, ucap lingga dengan ggup, namuku lingga" .
" Wana Arga?? Kebetulan sekali aku juga baru di pindah tugaskan ke desa itu" Kata sari kegirangan.
" Wahhh masaa?? Berati kita bisa sering ketemu dong.
Mereka lalu bercengkrama di sebuah warung baso di dekat toko tas ransel itu, dan keduanya seolah merasa ccok.
Hari-hari berlalu dan kepindahan Sari di Wana Arga akhirnya tiba, mereka semakin akrab, untuk pertama kalinya Lingga punya teman.
Tak jarang, sesekali Lingga mengajak Sari untuk mendaki gunung berdua mereka menyusuri jalur aman, tertawa saat tersesat sebentar, belajar membaca arah dari lumut dan aliran air.
Warga di sekitar lereng gunung itupun herann melihat Lingga yang biasanya mendaki gunung sendirian, sekarang bersama wanita cantik.
" Liat itu si Lingga kok bisa bisanya ada perempuan cantik yang mau berteman sama dia" Ucap salah satu warga.
Lingga semakin yakin bahwa Sari sudah terpikat dengan jimatnya.