

Perkenalan tokoh.
Damar Anggara itulah nama lengkapku. aku adalah anak kedua dari dua bersaudara dan usiaku kini telah menginjak 19 tahun.
Setelah lulus sekolah di SMK 002, aku gak ngelanjutin kuliah karna terbentur masalah biaya.
---------------
Dipagi yang cerah, suara Bu Wati memecah keheningan.
"Damar... Ayo cepat bangun, nak,!" panggil Bu Wati pada putranya yang saat ini masih tertidur pulas.
Merasa tidak ada sahutan, Bu Wati kembali mengulangi panggilannya.
Tak lama kemudian, terdengar sahutan dari putranya itu.
"Iya Bu.. Damar sudah bangun kok,!" sahut Damar.
Secara perlahan, Damar turun dari tempat tidurnya. Walaupun matanya masih terasa berat, dia tetap melakukannya. karena di rumah ini hanya ada mereka berdua.
Damar segera keluar dari dalam kamarnya, kemudian mendatangi ibunya yang ada di dapur, dan saat ini sedang mencuci piring .
"Bu kenapa ibu bangunin Damar? Kan belum ada jam tujuh Bu,!" dia sedikit protes. Karna selama dia lulus sekolah, bisa dibilang ibunya sangat jarang membangunkannya.
"Apa kamu lupa sama janjimu?"
"Emangnya Damar janji apa'an Bu?''
"Malam tadi kamu janji sama ibu, mau beli'in dedak buat pakan bebek, sekalian sama beras dua puluh kilo. Masa baru ngomong malam tadi, paginya sudah lupa..,!" tegur Bu Wati.
Apa yang diucapkan ibunya, membuat Damar menepuk jidatnya.
"He he he.. Iya Bu, Damar kelupaan. ya udah, Damar mandi dulu ya Bu,!", ucap Damar.
Dia bergegas masuk ke dalam kamarnya, mengambil handuk, lalu pergi ke kamar mandi.
Byur.. Byur.. Byur...
Dari dalam kamar mandi, terdengar air yang terus diguyurkan. tidak sampai dua menit, dia sudah keluar dari kamar mandi.
Bu Wati yang melihat putranya telah keluar dari kamar mandi, langsung menegurnya.
"Damar, kopimu sudah ibu taruh di meja ruang tamu. Nanti kalau sudah selesai ngopi, uangnya ambil di laci meja paling bawah. Belinya tempat pak Udin aja Mar, lebih murah dari toko lainnya."
"Iya Bu,!" sahut Damar, ia bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Ibunya Damar adalah wanita tipe pekerja keras, dia adalah seorang karyawan pabrik rokok terkenal di kota Kudus. rutinitas kerja karyawan pabrik, dari hari Senin sampai hari Sabtu. Sedangkan untuk hari Minggu, libur total.
Semenjak bercerai dari sang suami, Bu wati merawat kedua anaknya dengan telaten, tulus dan ikhlas.
Anak pertamanya yang bernama Bramantyo, sudah bekerja di Ibukota. Kepulangan tidak menentu, kadang dua atau tiga bulan sekali, baru bisa pulang ke rumah.
Damar yang sudah berpakaian rapi, bergegas masuk ke dalam kamar ibunya. Dia mengambil uang di dalam laci seperti yang tadi dikatakan ibunya.
"Bu uangnya sudah Damar ambil! Damar langsung berangkat aja ya, Bu,!" teriak Damar. karena ibunya saat ini, berada di samping rumah tengah menjemur pakaian.
"Iya mar... Sekalian kamu isi bensin motormu,!"
"Siap bu! ya udah Damar pergi dulu.!" Sahut Damar. Ketika melewati ruang tamu dia menyempatkan menyeruput kopi yang ada diatas meja, untuk melegakan tenggorokannya. Setelah itu dia menyalakan motor Beat yang selalu menemaninya kemanapun dia pergi.
Bromm... Brom...
Suara kenalpot brong terdengar memekakkan telinga. Damar segera memacu motor kesayangannya, tidak sampai 15 menit, motor Beat yang sudah di modifikasi itu, telah tiba di depan toko sembako milik pak Udin. setelah memarkirkan motornya, Damar memasuki toko tersebut.
Tak disangka, di dalam toko ada seorang wanita cantik, yang dulunya merupakan kakak kelas Damar, semasa sekolah di SMK 002.
"Eh, kamu Lin... lagi beli apa'an?" tanya Damar.
"Biasa Mar disuruh ibu beli susu buat adikku," sahut Lina.
"Wah... enak dong adiknya minum susu terus. Aku juga mau kalau ditawarin,"
"Kalau mau, ya tinggal beli Mar. Gampang kan,"
"Menurutmu sih gampang... Tapi menurutku susah,"
"Emangnya kamu mau beli susu apa'an Mar? Apa susunya gak ada di jual disini?" tanya Lina dengan wajah serius.
"Gak ada yang jual lin.. kalaupun ada pasti mahal harganya,"
"Emangnya susu apa Mar?'' tanya Lina penasaran.
"Susu itu,!" Damar menunjuk ke arah dada Lina, yang baju bagian atasnya terbuka. Entah kancingnya putus, atau kelupaan mengancingkannya. Dimana payvdara Lina yang tidak memakai bra, tersembul separuhnya.
'Awww..!" Teriak Lina. Dengan cepat, ia menutupnya dengan kedua tangan, kemudian berbalik membelakangi Damar.
"Edan kamu Mar,!" umpat Lina, wajahnya memerah menahan malu.
"Kamu makin cantik aja Lin, kalau lagi malu... Pesonamu semakin memikat," goda Damar.
'Hei, kenapa kalian dengan berdua? Kalau mau pacaran jangan di sini, di luar sana! Di sini tempat jualan,!" Pak Udin menegur Damar. Karena dia melihat Damar, sedari tadi selalu menggoda Lina.
"He he he... jangan marah dong pak. Damar cuma bercanda, ntar bapak lekas tua loh... Pak Udin, beli berasnya satu karung, dedak 20 kilo sama bensin 2 liter,!' ucap Damar.
"Oke mar, kamu mau beli apa Lin?" tanya pak Udin
"Beli susu pak, buat adikku,!" Lina mengambil susu, SGM, kemudian membayarnya.
"Lin, ntar malam kita keluar, yuk! Aku traktir makan bakso, mau nggak?" tanya Damar.
"Lihat ntar aja lah Mar.. Kalo nggak sibuk sih,!'' Lina berkata dengan sedikit ketus. Dia masih jengkel dengan kelakuan Damar tadi.
'Lin, kamu semakin cantik aja kalau lagi marah,!" Damar kembali menggoda Lina.
"Nggak usah dipercaya omongannya Damar Lin, dia itu pakai rayuan cap knalpot brong,!" ujar pak Udin, sambil mengisi bensin ke dalam tangki motor Damar.
"Halah... Pak udin bisanya cuma ikut campur, urusan anak muda. Gak tau apa, kalo Damar lagi usaha," sahut Damar.
Sebetulnya, hati Lina berbunga-bunga ketika Damar mengatakan dirinya cantik. Wanita mana yang tidak suka, jika dipuji oleh oleh pria tampan seperti Damar.
Bisa dibilang, Damar merupakan salah satu pria yang disukai banyak wanita. Dia memiliki paras tampan, rambut sedikit ikal, tinggi badan hampir 180 cm. Bentuk badannya terbilang cukup berotot, namun yang paling berkesan bagi Lina adalah, pupil matanya yang kebiru-biruan layaknya anak blasteran.
"Lina, ntar malam aku jemput ya,!" ucap Damar wajahnya dibuat semelas mungkin.
"Damar, kamu serius mau traktir aku makan bakso? jangan-jangan... Entar malah aku yang bayarin makan baksonya,!"
"Seriuslah... Jangan khawatir,!" Damar bergaya seolah-olah punya uang.
"Hahaha... Palingan dia minta sama ibunya atau minta transfer sama kakaknya ya ada di perantauan,!" Pak Ujang kembali meledek Damar.
"Pak Ujang! Jangan ikut campur urusan anak muda. Makanya, Pak Ujang cepat nikah, jangan kelamaan jadi duda. Pasti pak Ujang kesepian, kan?" Damar balas menggoda pak Ujang.
Dulunya, Lina adalah salah satu wanita tercantik di sekolahnya. Semenjak lulus SMK, Lina tidak melanjutkan sekolahnya. Dia memilih langsung bekerja di salah satu konveksi, menjadi penjahit pakaian yang gajiannya sistem borongan.
'Ya udah mar... Aku pulang dulu ya! Jangan lupa taktriannya,!" ucap Lina sambil menstater motor Vario miliknya.
'Siap tuan putriku yang cantik jelita,!" sahut Damar. Ia menampilkan senyum terbaiknya.
Umur Lina lebih tua 1 tahun dari Damar, tapi itu bukan masalah baginya. Nikmati hidup Selagi belum berumah tangga, itulah prinsip yang ada di pikiran Damar saat ini.
Setelah pesanannya sudah disiapkan pak Udin, Damar menaikkan beras dan dedak ke atas motornya. kemudian membayar apa yang barusan dibelinya. Setelah menerima kembalian dari pak Udin, Damar menyalakan motor, kemudian tancap gas menuju ke kediamannya.
Brom... Brom...
Hanya butuh waktu beberapa menit, kini Damar telah sampai di depan rumah. Dia segera memikul beras dan dedak, kemudian meletakkan di dapur.
"Bu, dedak sama berasnya udah Damar taruh di dapur. terus... Apa lagi yang bisa Damar bantu?" tanya Damar berbasa-basi dengan ibunya.
'Sudah nggak ada lagi mar. Sebaiknya kamu habiskan kopimu, ibu juga sudah masak telur bebek untuk lauk kita,!' sahut Bu Wati, yang saat ini tengah melipat pakaian.
Damar berjalan masuk ke dalam kamar ibunya.
" Bu,Damar minta duit Bu 50.000 aja Bu,! Damar ada janji sama teman Bu,!" Damar mendekati ibunya, kemudian memijat punggung ibunya.
Apa yang dilakukan Damar, Bu Wati sudah sangat hafal sifat putranya itu. Jika Damar bersikap seperti demikian, pasti ada kemauannya yang minta dituruti.
'Hmm... anak ibu ini paling pintar kalau lagi ada maunya. Tapi sebelum ibu kasih uangnya, kamu harus ngomong sama ibu! kamu janjian sama siapa?" tanya Bu Wati
"Ya sama temen lah Bu, Kami janji mau makan bakso di tempat pak Ujang. Baksonya terkenal enak, Bu,!" Damar mengacungkan jempolnya.
'Bakso di tempat pak Ujang memang terkenal enak. Ibu dulu juga sering beli di situ. Damar, ibu pengen tau, siapa orang yang sudah janjian sama kamu. Kalau kamu nggak mau ngasih tau, ibu gak jadi ngasih kamu duit," kata Bu Wati sambil menatap wajah putranya.
'Lina, Bu, anaknya pak Imron," jawab Damar, dengan sedikit gugup.
'Hemm... Rupanya anak ibu sudah mulai dewasa. Tapi ingat pesan ibu! Dalam menjalin sebuah hubungan, bersikaplah sewajarnya dan jangan sampai kebablasan! Kamu paham kan maksud ibu?" tanya Bu Wati pada putranya.
"Iya Bu, Damar paham maksud ibu," jawab Damar.
"Mau makan baksonya kapan? Ini kan masih siang,"
"Ntar malam, Bu," jawab Damar.
"Ya udah, di dalam dompet ibu yang ada di dalam laci, kamu ambil seratus ribu,"
"Wahh... Makasih banyak Bu," ucap Damar senang.
Dia bergegas menarik laci yang ada dibawah meja, mengambil dompet kecil yang ada didalamnya.
Ibu Wati hanya memperhatikan apa yang dilakukan oleh putranya itu sambil tersenyum.
Bu Wati adalah sosok wanita yang tidak pernah mengekang perkembangan anaknya. Dia selalu mengarahkanya ke jalan yang benar. terutama, dalam hal pergaulan.