

Langit di atas desa Cibadak yang terletak di kaki Gunung Galunggung mulai berganti warna perlahan-lahan. Awalnya hanya sedikit warna jingga yang menyebar di ufuk barat, kemudian perlahan merambah ke seluruh hamparan langit menjadi oranye kemerahan yang memukau, sebelum akhirnya berubah menjadi nuansa ungu pekat yang semakin dalam seiring matahari tenggelam perlahan di balik deretan pegunungan yang menjulang gagah. Udara malam yang segar mulai menyelimuti setiap sudut desa, membawa aroma khas daun kemangi yang tumbuh liar di sekeliling rumah-rumah, campuran dengan bau tanah basah yang baru saja terkena hujan gerimis beberapa menit yang lalu. Suara cicak yang mulai bersiul di tembok kayu, dikombinasikan dengan suara katydid yang bersahutan dari dalam hutan belakang desa, menciptakan simfoni malam yang sudah akrab di telinga setiap penduduk desa.
Di dalam sebuah rumah kayu tua yang berdiri kokoh di tepi lereng bukit, di mana temboknya dipasangi batu bata merah yang sudah menguning akibat usia dan cuaca, suara tangisan bayi yang kuat dan jelas tiba-tiba menghiasi udara malam itu. Saatnya itu tepat berada di antara waktu Maghrib dan Isya—saat yang selama berabad-abad dipercaya oleh penduduk desa sebagai waktu antara dua dunia, saat gerbang antara alam nyata dan alam gaib dipercaya masih terbuka lebar. Rumah itu milik keluarga Jaya, yang telah menetap di desa ini sejak lima generasi yang lalu, dan dikenal sebagai keluarga yang menyimpan banyak rahasia serta beban tak terlihat yang mengikat setiap anggota mereka.
Di dalam kamar yang hanya diterangi oleh sinar lilin dari beberapa obor yang ditempatkan di sudut kamar, Ibu Siti terbaring di atas ranjang kayu yang dilapisi dengan tikar anyaman rotan dan kasur empuk yang diisi dengan serat kapas lokal. Peluh menetes deras di dahinya yang sudah ditutupi oleh kain batik merah tua yang menjadi kain selimut kelahiran sesuai adat desa. Dia mengerang pelan namun kuat, sambil erat menggenggam tangan suaminya, Bapak Jaya, yang berdiri di sisi ranjang dengan wajah penuh kekhawatiran dan harapan yang saling bersilangan. Tangan Bapak Jaya yang kasar akibat bekerja di ladang setiap hari terasa hangat dan memberikan rasa tenang pada istri yang sedang berjuang melahirkan anak ketiganya.
“Sudah hampir, Bu Siti,” ujar Ibu Mardi, bidan yang sudah berpengalaman selama lebih dari tiga puluh tahun dan telah membantu melahirkan sebagian besar anak di desa Cibadak. Rambut putihnya yang sudah banyak terkumpul di bagian dahi tertutupi oleh kerudung batik hitam, dan tangannya yang lentur namun kuat dengan lembut membantu proses kelahiran. Dia sering disebut sebagai ibu semu oleh banyak keluarga di desa, tidak hanya karena keahliannya dalam membantu kelahiran, tetapi juga karena pengetahuannya tentang tradisi dan kepercayaan lokal yang dia warisi dari neneknya. “Hanya tinggal sedikit lagi, tarik napas dalam-dalam ya.”
Ibu Siti mengikuti arahan bidan dengan susah payah, setiap napasnya diiringi dengan pelan meratap. Bapak Jaya terus mengusap punggung istri dengan lembut, sambil berbisik doa-doa yang dia pelajari dari ayahnya dulu. Di sudut kamar, duduk seorang wanita tua yang mengenakan baju lurik hitam putih dengan ikat pinggang yang terbuat dari kain songket emas. Dia adalah Nenek Sri, ibu dari Bapak Jaya, yang sudah berusia hampir delapan puluh tahun namun masih memiliki pandangan yang tajam dan tubuh yang kuat. Tangan kanannya memegang sebuah cangkir kecil berisi air yang sudah dicampur dengan ramuan herbal dari berbagai tanaman obat yang tumbuh di sekitar desa, sementara tangan kirinya memegang erat sebuah kalung besi tua yang memiliki ukiran rumit berbentuk makhluk mitologis yang tak dikenal.
Kalung itu adalah pusaka keluarga yang telah diwariskan dari leluhur paling awal, sejak zaman ketika leluhur mereka masih menjadi pemimpin spiritual di wilayah ini. Menurut cerita turun temurun, kalung itu menyimpan energi dan kenangan dari setiap generasi keluarga Jaya, termasuk beban karma yang telah mengikat mereka selama berabad-abad. Setiap anggota keluarga yang lahir akan disentuh dengan kalung itu saat masih bayi, sebagai tanda bahwa mereka menerima bagian dari beban tersebut—kecuali satu orang yang akan datang sebagai pemutus lingkaran itu.
“Saatnya sudah dekat, anakku,” ujar Nenek Sri dengan suara rendah namun jelas, matanya tetap terpaku pada proses kelahiran yang sedang berlangsung. “Saya merasakan getaran yang berbeda di udara. Seolah alam semesta sedang berkumpul untuk menyaksikan kelahiran anak kita ini.”
Baru beberapa saat kemudian, suara tangisan bayi yang kuat dan jelas menusuk kedalaman malam. Tangisan itu terdengar berbeda dari tangisan bayi pada umumnya—ada kekuatan dan kedalaman tertentu yang membuat semua orang di dalam kamar terdiam sejenak. Ibu Mardi dengan hati-hati membersihkan tubuh bayi laki-laki yang baru lahir, kemudian membungkusnya dengan kain kapas putih yang sudah dipanaskan sedikit di dekat bara api. Kulit bayi itu sedikit kemerahan, namun matanya yang terbuka lebar sudah bisa melihat sekeliling dengan tatapan yang terasa lebih dalam dari bayi seusianya. Saat pandangannya menyentuh mata Nenek Sri, sang nenek mengangguk perlahan seolah mereka saling memahami sesuatu yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata.
“Waktu yang tepat sekali, Pak Jaya,” ujar Ibu Mardi dengan nada rendah, seolah takut mengganggu sesuatu yang sakral yang sedang terjadi. Dia menurunkan kepalanya sebentar sebagai bentuk penghormatan sebelum melanjutkan bicara. “Dia lahir tepat pada saat matahari benar-benar hilang dari pandangan dan sebelum azan Isya berkumandang—saat gerbang antara dunia nyata dan gaib masih terbuka lebar. Ini adalah tanda besar, seperti yang sudah kita dengar dari cerita nenek moyang kita.”
Bapak Jaya mengangguk perlahan, matanya tetap terpaku pada wajah anaknya yang baru lahir. Mata besarnya yang biasanya terlihat tegas karena bekerja sebagai pemimpin kelompok tani di desa kini penuh dengan kelembutan dan campuran perasaan yang kompleks. Tangan kirinya secara refleks menyentuh kalung besi tua yang tergantung di paku kayu di dinding kamar—kalung yang selalu ada di sana sejak dia lahir dan menjadi saksi atas setiap suka dan duka yang menimpa keluarga mereka. Dia ingat betul cerita yang selalu diceritakan oleh ayahnya dulu tentang ramalan leluhur: bahwa anak terakhir dari garis keturunan mereka akan lahir di waktu yang sama seperti ini, dan akan dihadapkan pada pilihan besar yang akan menentukan bukan hanya masa depannya sendiri, tetapi juga masa depan seluruh keluarga dan bahkan desa ini.
“Kita akan namainya Raka,” ujar Bapak Jaya dengan suara yang mantap namun penuh beban, setiap kata keluar dengan jelas dan tegas. Dia menoleh ke arah istri yang sudah mulai tenang setelah proses melahirkan. “Raka, karena dia akan menjadi yang membawa kita keluar dari lingkaran yang tak berujung. Nama itu diambil dari kata rakai yang berarti pemimpin, dan karka yang berarti pemberi kebebasan menurut kitab kuno leluhur kita.”
Ibu Siti mengangguk lembut, air matanya menetes ke pipinya yang sudah mulai tampak lelah namun penuh kegembiraan. Dia mengulurkan tangannya yang lembut untuk meraih bayi Raka yang sudah dibungkus rapi, kemudian dengan hati-hati membawanya ke dadanya. Saat kulit bayi yang hangat menyentuh tubuhnya, dia merasakan getaran lembut yang tak biasa mengalir dari tubuh anaknya ke dalam dirinya—seolah ada energi lain yang menyertai Raka sejak saat pertama dia terbentuk di dalam kandungan. Bahkan sebelum lahir, Ibu Siti sering merasakan bahwa anak ini berbeda; terkadang dia merasakan adanya cahaya lembut yang menyala di dalam perutnya saat malam hari, atau mendengar suara bisikan yang tak jelas namun memberikan rasa tenang.
Di luar rumah, angin mulai bertiup kencang tiba-tiba, menyapu dedaunan kering yang menumpuk di halaman depan rumah serta mengoyakkan beberapa daun dari pepohonan jambu air yang tumbuh di halaman belakang. Beberapa penduduk desa yang sedang pulang dari ladang atau dari mengerjakan pekerjaan di sawah berhenti sejenak dan melihat ke arah rumah Jaya yang terletak di atas lereng bukit. Mereka merasakan adanya sesuatu yang berbeda di udara malam itu—seolah ada getaran khusus yang mengelilingi rumah tersebut. Beberapa yang lebih tua, terutama mereka yang tahu tentang sejarah keluarga Jaya, menghela napas panjang dengan ekspresi wajah yang serius dan penuh kekhawatiran. Mereka tahu bahwa babak baru dalam sejarah keluarga Jaya dan desa Cibadak telah dimulai, dan tidak ada yang tahu apakah hal itu akan membawa kebaikan atau malah memperparah keadaan yang sudah ada.
Pak Kadir, seorang petani yang sudah berusia lebih dari enam puluh tahun dan tinggal di rumah paling dekat dengan keluarga Jaya, berhenti di tengah jalan dan melihat ke arah rumah kayu tua itu. Dia meraih pipinya dengan tangan kanannya—adalah tanda bahwa dia merasakan kehadiran makhluk halus atau sesuatu yang sakral. “Semoga Tuhan melindungi anak itu,” bisiknya pelan sebelum melanjutkan langkahnya pulang ke rumah, sambil mengingat cerita tentang keluarga Jaya yang pernah diceritakan oleh ayahnya dulu.
Saat suara azan Isya mulai berkumandang dengan jelas dari menara masjid desa yang terletak di kaki bukit, dibacakan oleh Kiai Hasan yang memiliki suara merdu dan dalam, bayi Raka yang baru saja tenang di pangkuan ibunya tiba-tiba menangis lagi. Tapi kali ini, tangisannya tidak seperti tangisan bayi pada umumnya yang cenderung ceria atau karena merasa tidak nyaman. Ada nada tertentu di dalamnya—seolah ada kesedihan atau pemahaman mendalam yang membuat tangisannya terdengar penuh dengan emosi yang dalam. Beberapa kali dia berhenti menangis sebentar, melihat sekeliling kamar dengan mata yang tampak sudah bisa memahami apa yang ada di sekelilingnya, sebelum menangis lagi dengan nada yang sama.
Nenek Sri berdiri perlahan dari tempat duduknya dan mendekati ranjang. Dia mengambil cangkir berisi ramuan herbal yang sudah disiapkannya, kemudian dengan hati-hati mengoleskan sedikit ramuan tersebut pada dahi bayi Raka. Segera setelah itu, tangisan Raka perlahan mereda dan dia kembali tenang, bahkan mulai menunjukkan ekspresi wajah yang seolah sedang tersenyum. “Dia melihat sesuatu yang tidak bisa kita lihat, anak-anakku,” ujar Nenek Sri dengan suara yang penuh hikmat, sambil mencium dahi bayi Raka dengan lembut. “Dia melihat beban yang kita bawa selama ini, dan dia merasakan kesusahan kita. Itulah mengapa dia menangis.”
Bapak Jaya berdiri dan menghadap ke arah jendela kamar yang menghadap ke arah masjid, sambil mengpegang erat kalung besi tua itu yang dia turunkan dari dinding. Cahaya bulan yang mulai muncul dari balik awan menyinari kalung itu, membuat ukiran rumit di atasnya tampak seperti sedang bersinar dengan cahaya sendiri. Dia berdoa dengan tulus di hati, memohon perlindungan dan kekuatan bagi anaknya yang baru lahir. Dia berharap bahwa Raka benar-benar memiliki kekuatan untuk memutus belenggu karma yang telah menghantui keluarga mereka selama berabad-abad—belenggu yang membuat setiap generasi keluarga Jaya harus menghadapi berbagai kesulitan dan penderitaan yang tak bisa dihindari. Namun di dalam hati yang paling dalam, dia juga tahu bahwa jalan yang akan ditempuh oleh Raka tidak akan pernah mudah. Bahkan mungkin, jalan itu akan penuh dengan rintangan dan bahaya yang belum pernah dibayangkan oleh siapapun.
Di luar, bulan sudah muncul dengan jelas di atas langit yang penuh dengan bintang-bintang yang bersinar terang. Udara malam menjadi lebih sejuk, dan suara alam yang ada di sekitar desa kembali terdengar dengan jelas. Semua tampak tenang dan damai seperti biasa, namun bagi keluarga Jaya dan beberapa penduduk desa yang tahu, mereka menyadari bahwa sesuatu yang besar telah dimulai pada malam itu—saat seorang bayi bernama Raka lahir di waktu antara dua dunia.