

Seorang pemuda dengan pakaian pernikahan yang indah berdiri dengan senyum cerah, tapi sayangnya orang-orang tidak bisa melihat keseluruhan wajahnya karena tertutup topeng, terutama di bagian dahi sampai ke hidung.
Dia adalah Julian, seorang kultivator bela diri paling hebat dan paling cemerlang yang ada di dunia ini.
Dengan sebuah pedang, dia berhasil menaklukkan dunia.
Julian bahkan berhasil menikahi seorang gadis paling cantik di benua Medan. Orang-orang mengatakan bahwa benua Medan adalah naga di antara naga.
Julian masih menjadi orang paling cemerlang dari sembilan benua. Hari ini adalah hari pernikahannya dengan gadis paling cantik, yaitu Ainun.
Semua orang merasa iri padanya karena berhasil menikahi Ainun. Dia juga tidak menyangka bahwa dia bisa menikahi Ainun dengan kondisi wajahnya yang menyedihkan.
Dia menggunakan topeng bukan tanpa alasan sehingga hanya bisa menampakkan bibir dan kedua matanya yang cerah. Itu karena dia memiliki bekas luka akibat pedang di usia yang terbilang muda, yaitu 14 tahun.
Sekarang, enam tahun telah berlalu, tapi bekas luka ini tidak kunjung menghilang, bahkan menjadi semakin jelas. Kultivasinya pada saat ini telah menjadi ke Tahap Dewa Legendaris yang tidak pernah dicapai oleh orang lain.
Orang-orang memuja dirinya dan ingin menjadi seperti dirinya. Dia juga merasa bangga. Hari ini dia berjalan keluar untuk melakukan prosesi pernikahan.
Dia dan pasangannya melakukan upacara pernikahan. Setelah itu, pengantinnya berjalan ke kamar pengantin untuk menunggunya, sementara Julian akan menyambut tamu yang datang ke pernikahannya ini.
"Selamat untuk pernikahanmu, aku pasti akan menyusulmu." Ucap seorang pria dengan alis yang tegas dan cerah.
Itu adalah sahabatnya sejak tiga tahun. Mereka bersama-sama melawan musuh, dan Julian telah menganggapnya sebagai saudaranya sendiri.
"Ayo bersulang." Ucap Leon, menuangkan arak untuk Julian.
Julian menerima arak itu dan meminumnya tanpa ragu. Dia menenggaknya sampai habis dalam satu tegukan.
Ini menunjukkan betapa dia mempercayai Julian. Dia bahkan tidak menaruh sedikit pun kecurigaan padanya.
Setelah itu, Julian menyambut lebih banyak tamu sampai malam hari, dan itu adalah waktunya untuk berjalan ke kamar pengantin.
Istrinya sudah menunggunya sejak tadi. Pada saat ini Julian sangat bahagia, hanya saja kepalanya agak pusing. Sepertinya ini akibat dari dia meminum sangat banyak alkohol hari ini.
Dia memaksakan dirinya untuk terus berjalan dengan lurus dan akhirnya menemukan kamar pengantinnya. Dia membuka pintu lalu melihat Ainun yang duduk di tepi ranjang dengan penutup kepala.
Julian berjalan untuk membuka penutup kepala itu, lalu melihat Ainun yang menatapnya dengan tatapan dingin.
"Apakah ada yang salah, istriku?" Tanya Julian dengan ragu.
Ainun tiba-tiba berdiri dan mengeluarkan pedang entah dari mana dan menusukkannya ke jantung Julian.
Julian yang tidak dalam kondisi siap benar-benar terkejut dengan kejadian ini dan menatap Ainun dengan tatapan tidak percaya.
Dia ingin melepaskan pedang ini, tapi tiba-tiba merasa bahwa tangannya kebas, seolah-olah dia telah kehilangan tangannya. Tidak lama kemudian dia jatuh ke tanah dengan keras dan terbatuk darah.
Pedang itu menembus tubuh Julian dengan kejam dan tanpa ampun. Darah membanjiri pakaian pernikahan Julian.
"Kenapa...... kamu melakukan ini?" Tanya Julian dengan terbata-bata dan mulut penuh darah.
"Karena aku. Saudara Juli, kita telah berteman cukup lama. Ini membuatku agak bosan untuk bermain peran terus-menerus." Jawab seseorang di belakangnya.
Julian langsung mengetahui siapa yang mengatakan ini. Bagaimana mungkin dia melupakan pemilik suara ini? Ini adalah milik orang yang dia anggap saudaranya, Leon.
Julian tidak menyangka bahwa orang yang paling dia percayai dan paling dia cintai ternyata orang yang akan mengkhianatinya.
"Kamu kuat, tapi sayangnya terlalu naif. Kamu hanya tahu bagaimana caranya untuk menyelesaikan dengan otot, tapi tidak tahu bagaimana caranya menggunakan otakmu." Lanjut Leon.
"Kamu..... yang memberikan racun padaku?" Tanya Julian sambil terbatuk-batuk dan menatap Leon yang sudah berpindah ke depannya dengan penuh kebencian.
Leon tertawa dan merangkul pinggang Ainun dengan mesra, lalu mengecup dahi gadis itu. Julian melihat ini benar-benar marah dan ingin berdiri, tapi racun itu membuatnya muntah darah sekali lagi.
"Ha ha ha, kamu tidak akan bisa melakukan apa pun. Bagaimanapun, itu adalah Racun Penusuk Jiwa. Orang yang meminumnya akan mati secara perlahan dalam waktu enam jam. Sekarang adalah waktunya. Pasti sangat menyiksa, bukan?" Tanya Leon sambil mengangkat dagu Julian.
Julian merasa bahwa seluruh organ dalamnya terbakar dengan mengerikan. Rasa sakit yang dia alami ini akan dia ingat di dalam hati.
"Aku dan Ainun adalah kekasih, tapi kamu juga menginginkannya. Ayah Ainun melihat bahwa kamu lebih memiliki masa depan yang cerah, jadi ingin membawamu sebagai menantunya. Tapi, aku tidak ingin membiarkanmu mendapatkan Ainun.
Karena itu, aku bekerja sama dengan Ainun untuk menjebakmu sampai ke titik ini. Setelah kamu mati, maka aku akan bisa menyerap Qi mu dengan Labu Sembilan Kehidupan milikku dan menggunakannya untuk melatih kekuatanku. Lalu aku juga akan mengambil Pedang Bintang Surgawi dan mengendalikan dunia!" Seru Leon dengan penuh kebanggaan.
"Aku sudah lama muak dengan dirimu. Kamu jelek dan orang yang kaku. Seandainya saja kamu tidak melamarku, maka aku tidak perlu melakukan semua ini!" Teriak Ainun yang sejak tadi diam.
Julian tidak mengatakan apa pun, bukan karena dia tidak ingin, melainkan karena dia tidak bisa melakukannya. Racun Penusuk Jiwa ini benar-benar menyiksa dirinya.
"Hari ini akan menjadi malam pernikahan bagiku dan Ainun." Ucap Leon dengan tidak tahu malunya dan membawa Ainun ke atas ranjang pengantin.
Tak beberapa lama waktu berlalu, jantung Julian terguncang hebat saat mendengar erangan dari mulut Ainun.
"Mhmm! Mass!" pekik Ainun terdengar jelas ditelinga julian.
"Sedikit lebih dalam Nun!" Pinta Leon sembari menajamkan goyanganya.
"Mass! Akhh!" Suara kasur menggelinjang semakin terdengar hebat, membuat Julian menekan racun dengan semua kemampuan yang dia miliki.
Tiba-tiba aura miliknya membumbung tinggi dan membuat seluruh ruangan menjadi panas. Pedang dengan gagang merah bergaris hitam muncul di hadapan mereka semua.
"Tidak ada orang lain yang bisa menyentuh Pedang Bintang Surgawi, bahkan kamu! Kamu ingin mendapatkan kekuatanku? Bermimpilah! Karena kamu tidak pantas!" Teriak Julian, tiba-tiba berdiri, dan kekuatannya menjadi semakin kuat.
Dia berteriak dengan kencang, dan pedang yang sakti itu menghilang bersamaan dengan jiwanya yang hancur menjadi ribuan keping.
Dia tidak akan memiliki kesempatan untuk masuk ke roda reinkarnasi kehidupan selanjutnya. Dia akan menyatu dengan alam semesta ini dan hilang sepenuhnya.
Kesadarannya perlahan-lahan menjadi kabur dan seolah-olah tenggelam ke dalam lubang hitam tanpa akhir.
"Seandainya ada kehidupan kedua, maka aku pasti akan membalaskan dendam ini."