

“Ndre…lebih kenceng..lebih dalem….Aah..aku…sebentar lagi keluar..Tahan ya..kita harus punya anak.” Desahan Sari. Kakinya terangkat membentuk sudut 45 derajat di atas meja.
“Iya sayang, aku berusaha.” Jawab Andre, yang setengah berdiri, bertelanjang dada, sambil mengatur napas. Kulitnya hitam, wajahnya pas-pasan. Maklum, dia sering ikut proyek lapang. Hanya, saat seperti ini dia seperti laki-laki idaman, Dadanya bidang, tubuhnya jangkung, dengan sedikit bulu tipis dari dagu hingga dada. Sebuah pesona yang digemari banyak wanita.
“Lebih kencang Ndre, aku harus keluar pagi ini, kamu tahan.” Sari menekuk leher, matanya sedikit merem.
Andre segera mengelus pelan pipi Sari, lalu mengarahkan kepalanya ke buah dada yang sedari tadi memuncung merah muda. Ia mengelus pelan dengan bibir, lalu mengecupnya, menggigit serta menarik ujungnya memanjang.
“Ndre, bukan disitu. Coba ganti gaya. Aku harus dapat feel dulu baru bisa keluar.” Ucap Sari yang langsung memaksa Andre menarik batang senjata dari lubang senja.
Sari berdiri, lalu membelakangi Andre. Menyingkap kembali daster yang sempat jatuh, akibat tarikan itu b0kong mulus Sari yang besar bak galon air minum yang tidak mau diisi ulang itu terbuka. Sari menungging, tangannya berpegangan pada ujung meja. Sebuah bantal yang memang disiapkan langsung dia sematkan dibawah kepala.
Andre menelan ludah. Meski dia sudah tiga tahun melihat pemandangan itu, dia tetap tidak tahan saat melihat pinggul Sari yang aduhai tersebut. Pant4t Sari yang besar dan mulus itu memang daya puncaknya. Tentu, torpedo miliknya semakin keras. Sari menyukai posisi begitu dalam bercinta karena dia membaca, potensi mendapatkan anak lebih laki-laki besar.
“Ayo Ndre, masukan sampai full dan kencang ya. Seharusnya ini gaya yang paling tepat agar sel sp3rma kamu bisa langsung nembus dinding rahimku. Ingat kita harus keluar bersama, jadi tunggu aku.”
Laki-laki itu tidak mengeluarkan jawaban. Sesuai permintaan, dia segera menggeser tongkatnya kearah yang dituju. Dengan posisi ini, Andres juga leluasa mencumbui punggung Sari. Hanya selain bok0ng, dia suka meremas buah dada Sari yang berukuran 38D tersbeut.
Sari menggeliat, tubuhnya sedikit terangkat. Remasan tangan Andre semakin lama semakin kencang. Tanpa sadar ia menarik rambut Andre, bukan kesakitan.
“Ndre…aku mau dapat ini rasanya, tahan sebentar lagi ya…”
Andre mempercepat gerakan, kata itu yang sudah dia tunggu dari tadi.
“Iya Ndre disitu..lebih kencang lagi Ndre.”
Tetapi yang terjadi sungguh diluar prediksi BMKG. Andre malah sudah melemah, sambil cekikan tidak karuan. Lalu, menjatuhkan badannya ke tubuh Sari.
“Ndre…jangan bilang kamu sudah keluar dulu? Aku gak suka ya!” Sari protes.
“Ma..maaf sayang..”
Sari mendengus kesal. Memalingkan wajah. Lalu mendorong tubuh Andre yang lemah seperti mayat hidup itu.
Untuk kesekian kalinya, Sari selalu gagal mendapat kenikmatan dari Andre. Padahal, dia terlihat perkasa di luar. Buru-buru tangan sari mengambil tisu dan mengelap santan suaminya. Sari berjalan ke dapur untuk menyiapkan sesuatu, meski wajahnya muram karena kesal.
“bagaimana aku dapat warisan kalau aku gak punya anak! Papa pasti akan mencoret namaku! Aku harus cari cara lain.” gusar Sari sambil mencincang bawang bombay dengan penuh emosi. Sementara Andre sudah keluar rumah dengan alasan kerja.
Padahal? Dia sudah pengangguran!
Setelah berputar dan bertanya kesana kemari perihal lowongan, Andre menyerah. Semua menolaknya.
“lebih baik aku jujur ke Sari kalau dipecat.” Gumamnya.
Ia memutuskan untuk pulang. Baru saja, Andre kembali ke rumah. Ada suara berisik dari arah kamarnya. Andre mendekatkan telinga.
Betapa kagetnya, disana Sari sudah telanjang bulat dengan posisi diatas, mengangkangi seorang laki-laki berambut pirang.
“suamimu pasti tidak akan bisa bertahan lama bukan?” Ucap laki-laki itu.
“Aargh…ah..” Sari hanya mengucapkan desahan
Tangan laki-laki itu langsung menggigit buah dada Sari yang menggelantung bagai pepaya.
“ayo jawab, kamu pilih aku atau suamimu!”
“Ah..gigit terus beb, suamiku gak akan pulang.“
“Kamu pilih aku atau suami lemahmu itu?” kali ini tangan laki-laki itu meremas kencang buah dad4 Sari.
“Aah…iya..beby, aku sudah orgasme tiga kali bersamamu. Sama suamiku seumur umur tidak pernah.”
Braak…
Kesabaran Andre sudah habis. Dia menendang pintu tersebut. Membuat dua orang yang tengah dikuasai nafsu tersebut langsung melompat.
“Andre, kenapa kamu pulang?” Sari melotot menatap Andre,”bukanya kamu kerja?”
“gak penting itu sekarang! Kenapa kamu kotori rumah kita dengan perbuatan hinamu ini!” bentak Andre.
“Oh si tukang sampah datang, lihat istrimu memilihku!.” Laki-laki itu sudah mengenakan celana dalam kembali, tangannya langsung merangkul Sari.
Kini mereka saling menatap dan Andre kini tahu. Laki-laki yang berselingkuh dengan istrinya ini adalah James, mantan pacar Sari yang dulu kabur ke luar negeri.
Andre langsung meninju wajah James, namun pukulan itu lemah dan ditangkap dengan mudah oleh James. Akibatnya, perut Andre menjadi sasaran tendakan James. Andre kembali, mutah darah.
“Istrimu tetap nikmat dan pintar bergoyang di atas sejak dulu, kamu lihat sendiri bukan?” James tertawa kembali.
Andre menatap istrinya,” kenapa kamu bela laki-laki sialan yang sudah mencampakanmu tiga tahun silam ini?”
“jaga mulutmu ya Ndre, aku dan James akan segera menikah dan kami akan punya anak laki-laki. Aku akan mewarisi seluruh harta papa. Tidak sudi aku hidup miskin terus denganmu!”
“Apa? Apa maksudmu, Sari? Kau memlih dia daripada aku?!
“jelas! Denganmu terbukti kere selamanya, Ndre! Mau beli skincare nunggu awal bulan, mau makan KFC nunggu akhir tahun, rumah ngontrak, kemana-mana naik sepeda motor butut! ”
Sari segera mengambil sebuah map biru dan melemparkan. Andre langsung membukanya, isinya adalah sebuah surat cerai yang suda ditanda tangani oleh Sari.
“surat cerai?” tanya Andre.
“Dia sudah memilihku, kau tuli!” James memegang wajah Andre dengan satu tangan. Lalu mengibaskan seperti tikus got.
“James, sebaiknya kamu pulang dulu. Biar aku urus lelaki sampah ini.” Ucap Sari.
“Oh begitu, baiklah. Demi kamu sayangku.” Kata James lalu mengecup bibir Sari, di depan Andre yang masih berusaha bangun.
“cepat tanda tangani, sekarang!”
“Aku akan tanda tangani di rumah orang tuamu. Dulu, aku memintamu secara baik-baik menjadi istriku di hadapan kedua orang tuamu. Sekarang, kalau kita berpisah aku harus mengembalikanmu ke orang tuamu secara baik pula.” Tutur Andre seperti penceramah.
Dulu Andre menikahi Sari karena kecelakaan. Dimana Sari hamil, tetapi James malah kabur ke luar negeri dengan alasan study. Tidak mau keluarganya malu, Sari memaksa Andre menikahinya karena tahu Andre mengejarnya sejak lama. Tetapi orang tua Sari yang kaya tidak pernah setuju dengan Andre. Akibatnya, ada yang menaruh penggugur kandungan pada minuman Sari. Sehingga, Sari kehilangan anak itu.
Di hadapan kedua orang tua Sari, Andre menandatangani surat perjanjian itu. Tentu, Miranda riang bukan main.
“akhirnya kamu melepaskan kutukan dari the beast ini my princess, anakku. Meski terlambat, syukurlah kamu sadar.” kata Miranda, mama Sari, memeluk anaknya.
“Maafkan Sari ma, Sari sudah salah memilih suami,” ucap Sari lemah,”pa setelah ini Sari akan menikah dengan James. Dia sudah kembali, dia anak dari Hartono pemilik toko elektronik terbesar di Nusantara.”
“Oke papa setuju, kalian tidak ada harta gono-gini bukan? Hahaha” Ujar Santosa, papa Sari, lalu tertawa dengan puas.
“Harta apa? Buat makan saja masih susah.” Sahut Miranda.
Ingin rasanya Andre menggebrak meja yang dia gunakan alas tanda tangan, tetapi siapa dia?
“Ma..pa..”
“jangan pernah pakai kata itu lagi, kamu bukan anakku dan bukan menantuku.” Miranda meradang.
“baik, oom tante.. saya kembalikan Sari ke oom dan tante. Terima kasih kesempatannya maaf saya tidak bisa menjadi menantu yang bisa oom dan tante andalkan.” Kata Andre yang langsung disambut di gerakan mencibirkan bibir dari Miranda.
“Ya, kamu laki-laki gagal. Nyetir mobil saja gak bisa apalagi beli mobil! Namun sebagai sesama laki-laki, saya menghargai itikad baik mu mengantar anakku kembali. Ini sebagai tanda apalah namanya selama tiga tahun ini kamu merawat Sari.” Kata Santosa menyerahkan uang dalam amlop coklat. Mungkin isinya 10 juta rupiah.
“cepat terima dan pergi dari sini, itu yang kamu cari bukan?” Kata Sari dengan bola mata melotot, menunjuk pintu.
Andre hanya membalasnya dengan senyum. Dia segera berdiri, bermaksud menjabat tangan, untuk kali terakhir. Tentu Miranda segera menyembunyikan tangannya, sementara Santosa memberikan tanda kibasan tangan keras. Seperti menyuruh pergi tanpa kompromi.
Sadar diri, Andre segera keluar dari rumah itu. Belum sempurna dia keluar rumah, seorang perempuan lain bernama Santi, dia adalah adik Sari, yang sedari tadi mengintip langsung berlari menyusul Andre.
“Hei si buruk rupa, kamu lupa ini?” Kata Santi sambil melemparkan amlop berisi uang pemberian Santosa tadi. Uang itu berhamburan. Jatuh ke dari udara ke tanah. Beserta seluruh harga diri dan dendam dalam diri Andre.