

Arga selalu tiba di gedung itu sebelum pukul sepuluh malam. Bukan karena aturan tertulis, melainkan kebiasaan yang ia rawat sejak lama seolah keterlambatan kecil bisa mengacaukan seluruh malamnya.
Sebuah Gedung bekas perkantoran dengan warna tembok yang sudah terlihat lusuh. Bangunan itu berdiri di sudut jalan yang sudah jarang dilalui. Siang hari tampak biasa saja, bahkan nyaris dilupakan orang. Namun malam mengubahnya menjadi ruang yang bergaung, penuh pantulan langkah kaki dan dengung lampu yang tak pernah benar-benar padam.
Arga melangkah pelan seolah ada keengganan yang menggelayuti hati dan pikirannya. Sejenak ia turun dari motor yang tak kalah butut dengan Gedung yang dia datangi. Tangannya meraih sebuah kunci dari dalam saku jaketnya. Anak kunci itu ditatapnya dengan tatapan yang mungkin hanya dia yang tahu artinya. Tak lama sebuah suara decitan terdengar menandakan Arga membuka sedikit pintu gerbang yang telah berkarat .
Motor itu dia dorong sebentar lalu Arga kembali menutup gerbang denga suara decitan yang tak berbeda. Arga mentatap sekeliling “hmmm” desahnya ringan namun terdengar begitu jelas di antara kesunyian Gedung tua itu.
Arga membuka pintu samping, menyalakan lampu lorong, lalu mencatat waktu kedatangannya di buku jaga. 21.47. Selalu angka yang sama, atau setidaknya mendekati. Ia tidak pernah mengejarnya, tapi waktu seakan menunggu.
Arga melangkah mendekati sebuah ruangan kecil, di sana hanya ada 1 meja dan beberapa kursi. Arga menghempaskan pantatnya di salahsatu kursi,
”kayaknya minum kopi lebih enak nih,” gumamnya pada diri sendiri.
Tak menunggu lama dia memasuki ruang di sebelah ruangan tadi, ruangan itu bisa disebut dapur kecil lengkap dengan kompor dan perlengkapan dapur kantor pada umumnya.
Sejurus arga menyalakan kompor gas, tak lama uap airpun menyembul dari ceret mini yang dia isi air dari kran. Asap mengepul aroma kopi menguar memenuhi ruangan,
” mmm harumnya mantap ini pasti kopinya,” kembali Arga berbicara dengan dirinya sendiri. Dengan senyum puas dia berjalan kembali menuju ruangan di mana dia berjaga setiap malam.
Jarum jam tua berdetak terdengar begitu jelas, Arga melirik nya setelah lelah matanya menatap layar kecil di tangannya.
Ia berjalan menyusuri lantai dasar, suara langkahnya terdengar jelas, lampu senter diarahkan ke bagian-bagian gelap di segenap ruangan memeriksa pintu darurat, memastikan tidak ada jendela yang terbuka. Semua dalam keadaan terkunci. Seperti seharusnya. Seperti kemarin. Seperti hari-hari sebelumnya.
Saat tiba di depan lift, Arga berhenti sejenak.
Lampu indikator menyala di angka tiga.
Ia mengerutkan dahi.
“ah” desahnya terdengar jelas seperti hendak bertanya tapi taka da sesiapa yang bersamanya. Gedung ini sudah kosong sejak pukul enam sore. Tak ada penyewa yang tersisa. Ia tahu itu, karena ia sendiri yang mengunci pintu utama.
Namun lift itu turun perlahan, seperti sedang memenuhi panggilan.
Ding.
Pintu terbuka. Kosong.
Arga menatap pantulan dirinya di dinding baja. Wajah yang sama, garis lelah yang itu-itu juga. Ia menghela napas pendek, lalu menekan tombol lantai dasar, meski lift sudah berada di sana. Pintu menutup, terbuka kembali. Tetap kosong.
“Mungkin sistemnya bermasalah,” gumamnya, lebih kepada diri sendiri daripada siapa pun. Arga berlalu dengan muka dingin kembali ke pos jaga lalu duduk sambil meluruskan kakinya.
Ia menutup buku catatan dan melanjutkan tugas. Jam-jam berikutnya berlalu dengan sunyi yang setia. Televisi kecil di pos jaga menyala tanpa suara, menampilkan berita yang tak benar-benar ia tonton. Kopi di cangkirnya mendingin tanpa disentuh.
Jarum jam masih terus berdetak menjalankan tugasnya, di pukul tiga lewat tujuh menit, Arga mendengar langkah kaki di lantai atas. Suara itu berirama jelas dan teratur, seperti hak sepatu yang beradu dengan lantai.
Bukan bunyi keras. Bukan pula samar. Langkah itu jelas, terukur, seperti seseorang yang tahu ke mana ia hendak pergi.
Arga menegakkan badan. Wajahnya tampak tegang Matanya tertuju pada monitor CCTV. Dia cermati kotak kotak ruangan yang terlihat di monitor. Lantai tiga. Koridor timur. Kosong. Semua tak terlihat perubahan, semua masih sama seperti sebelumnya, kosong.
Langkah kaki itu berhenti tepat di atas pos jaga. Arga terdiam sejenak menajamkan pendengaran dan mata yang masih saja terpaku di layar monitor CCTV yang belum juga menunjukkan perubahan apapun.
Arga menelan ludah. Bukan karena takut. Melainkan karena perasaan asing yang datang bersamaan dengan suara itu perasaan yang terlalu dikenal.
Seperti sesuatu yang lama terkubur, mengetuk dari sisi waktu yang lain. Beberapa saat dia benar-benar diam mematung, menunggu apakah yang terjadi selanjutnya.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Arga sadar: ada jam-jam tertentu yang tidak sekadar lewat. Ya, dia ingat betul malam kemarin juga seperti ini. Malam sebelumnya pun sama. “sudahlah” gumamnya seperti mengatakan pada dirinya untuk tak lagi memikirkan suara-suara itu.
Arga kembali duduk menyandarkan punggungnya sekedar melepas ketegangan yang ternyata sedikit dia nikmati. Dia tersenyum sendiri menertawakan dirinya yang menyadari ada sedikit rasa takut yang muncul setiap suara-suara itu terdengar.
Tak terasa matanya terpejam beberapa waktu, ketika Arga membuka mata adzan subuh sayup terdengar. Arga berdiri lalu meregangkan kedua tangannya, matanya kembali menelisik layar monitor CCTV.
“ tak ada apa-apa” gumamnya lega.
Tak berapa lama pagipun menjelang, langit mulai terlihat terang. Arga kembali berkeliling sebelum dia menyelesaikan tugas jaga malamnya. Mematikan beberapa lampu yang tak diperlukan, kembali mengecek pintu dan jendela. Sejenak dia berhenti di depan pintu lift, menatap pintu besi yang terdiam dingin, dalam pikirannya masih ada sedikit pertanyaan tentang kejadian malam tadi.
“hhh” dengusnya mengiringi langkah kaki menuju pos jaga dan bersiap untuk pulang.
Jarum jam dinding menunjuk ke angka 8, waktunya Arga meninggalkan bangunan tua itu . “waktunya pulang,” serunya seolah ada seseorang yang harus dia beritahu.
Arga meraih jaket yang sempat dia gantung di sandaran kursi tak lupa dia menulis di buku catatan sebuah angka 08.05 angka yang selalu sama.
Sejurus Arga mengunci pintu, matanya kembali beredar meyakinkan taka da hal yang berubah. Dia tersenyum lega hari ini tugasnya selesai dengan baik. Langkahnya mulai terayun menuju motor butut yang setia menantinya di parkiran samping.
Jalanan yang mulai ramai membuat laju motornya sedikit tersendat, sedang mata sudah mulai mengantuk. Di sebuah persimpangan Arga berhenti, lampu merah menyala, ia merutuk karena matanya mulai benar-benar tak bisa diajak kompromi. Tinggal beberapa puluh meter lagi dia sampai ke kontrakan tempat tinggalnya.
“din” sebuah suara klakson mengagetkan Arga dan menyadarkan bahwa dia sedang berhenti di lampu merah.
Lampu hijau menyala Arga menarik gas motornya, yang ada di kepalanya hanyalah segera ingin istirahat.