

Setelah dijebloskan ke penjara oleh keluarganya sendiri, Wira tidak menyelesaikan masa hukumannya yang tiga tahun itu. Bukan karena mendapatkan remisi beruntun, melainkan karena pada tahun kedua masa hukumannya, ia tiba-tiba menjadi gila.
Sebenarnya, tidak tiba-tiba juga, sih. Semasa di penjara, Wira pernah dikeroyok oleh tujuh orang sesama narapidana.
Akibatnya, Wira menjadi linglung dan tidak bisa diajak bicara. Terkadang, ia mendadak menjerit-jerit ketakutan. Kadang menangis, tak jarang pula tertawa keras tanpa sebab yang jelas.
Intinya, Wira menjadi gila. Titik.
Wira lalu menghabiskan akhir masa hukumannya di rumah sakit jiwa. Wira baru dilepaskan dari RSJ setelah dua tahun dirawat, setelah dokter berhasil meyakinkan keluarganya—serta aparat penegak hukum—bahwa pemuda itu tidak berbahaya dan dapat dikembalikan ke masyarakat.
Namun, pembebasannya tidak serta merta membuat Wira diperlakukan dengan baik oleh keluarganya yang keji. Di kediaman keluarganya yang seluas lapangan sepakbola itu, ia lebih banyak dikurung di sebuah kamar sempit dengan lampu redup yang lebih banyak padamnya daripada menyala.
Wira lalu dilupakan oleh keluarganya selama berbulan-bulan. Hingga kakek Wira, Surya, pulang ke tanah air setelah berobat di luar negeri selama setengah tahun.
Keluarga pun berinisiatif mengadakan pesta penyambutan untuk merayakan kesembuhan Surya. Surya sendiri tidak menampik pesta tersebut karena ia ingin berkumpul dengan keluarga besarnya setelah berhasil sembuh dari penyakit yang pernah bersarang di tubuhnya.
“Aku ingin semua anggota keluarga berkumpul pada acara itu. Semuanya. Jangan ada yang tertinggal,” titah Surya.
Sabda itu membuat keluarga terperangah. Semuanya? Apakah termasuk Wira, anak kurang ajar yang telah menyerang kekasih dari abangnya sendiri hingga dijebloskan ke penjara? Anak yang telah mencoreng nama besar keluarga Kurniawan?
“Ya, termasuk Wira,” kata Surya tegas.
Maka, tidak ada pilihan selain mengikutsertakan Wira dalam pesta yang menjadi wujud rasa syukur itu. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Wira bergabung di perhelatan istimewa keluarga besarnya.
Di antara hadirin yang berpenampilan mewah dan wangi, terselip sosok Wira yang hanya mengenakan kemeja dan celana yang sudah kumal, pakaian lamanya sebelum ia dijebloskan ke penjara. Meskipun sudah mandi, sisa-sisa bau tak sedap masih menguar dari tubuhnya, membuat pemuda dua puluh lima tahun itu hanya bisa menarik diri dari keramaian.
Dari tempatnya duduk, Wira menyaksikan ayah, ibu, abang dan segenap keluarga lainnya bercengkerama satu sama lain. Sepupu-sepupunya dengan manja mengelilingi kakek mereka, memberikan hadiah-hadiah mahal dengan harapan sang kakek akan membalasnya dengan hadiah yang jauh lebih bernilai. Mobil sport atau modal untuk mendirikan kafe yang tidak perlu mencetak untung, misalnya.
Wira mengembuskan napas berat. Ia sebenarnya ingin bersembunyi di kamarnya yang sempit dan gelap namun terasa damai itu. Tapi, tentu saja ia tidak akan diizinkan pergi. Setidaknya hingga makan malam dimulai.
Saat sedang termenung, Wira dikejutkan oleh sosok jangkung yang tahu-tahu telah berdiri di hadapannya. Di sebelahnya, berdiri seorang pria lain yang Wira ketahui adalah penjaga keamanan di kediaman ini.
“Istriku takut padamu. Aku pun khawatir kau tiba-tiba menyerang anak kami. Aku akan melakukan apa saja demi keamanan keluarga ini dari orang sepertimu.”
Wira mendongak, menatap pria yang sedang bersedekap tersebut. Satria, abang tertuanya. Orang yang telah merebut Dinda dari sisi Wira dan memfitnahnya tiga tahun silam.
Sepasang mata Wira menyala saat tatapannya berserobok dengan Satria. Bayangan masa lalu saat ia dituduh hendak melecehkan Dinda, berkelebatan di pelupuk matanya.
Wira tahu, tuduhan itu hanyalah tuduhan kosong. Namun, ia kalah suara dan kalah kuat daripada Satria.
Laporan polisi dibuat. Interogasi, intimidasi, lalu sidang demi sidang yang melelahkan, Wira jalani sebelum vonis dijatuhkan.
Keluarganya terguncang. Surya pun terkena serangan jantung yang membuatnya harus dirawat intensif hingga ke luar negeri.
Wira pun resmi dibuang oleh keluarganya. Hingga ia dinyatakan gila. Hanya kemurahan hati Surya yang membuat Wira dapat kembali ke kediaman keluarga, meskipun harus menerima perlakuan yang lebih buruk daripada hewan.
Kini, Satria kembali menekan Wira. Bersandiwara seolah-olah dirinya adalah korban, padahal Satria-lah pelaku utamanya.
Wira mengepalkan kedua tangan. Hanya untuk mengendurkannya lagi. Tatapannya pun berangsur meredup.
Wira tidak akan membalas dendam pada Satria. Setidaknya untuk saat ini. Akan ada waktu yang tepat untuk melakukannya.
Wira lalu beranjak meninggalkan tempat duduknya. Kehadirannya tidak diinginkan, jadi untuk apa bertahan di tempat ini?
“Tetap di situ!” tukas Satria sambil menarik bahu Wira agar tetap duduk. “Kau mau membuat Kakek kecewa?”
Wira menoleh pada Surya yang kini berbincang dengan para keponakannya, sepupu dari orang tua Wira dan Satria. Orang tua itu terlalu sibuk dengan keluarganya. Tentunya beliau tidak akan menyadari kepergian Wira.
“Lalu aku harus bagaimana?” tanya Wira dengan nada malas. Satria sudah membuatnya kebingungan.
Alih-alih menjawab, Satria malah menoleh pada penjaga keamanan yang bersamanya. Ia mengisyaratkan agar pejaga keamanan itu melakukan sesuatu.
Pria berbadan besar tersebut mengangguk. Dengan kasar, ia mengikat kedua tangan Wira ke belakang. Kemudian menghempaskan tubuh kurus mantan tuan mudanya itu agar duduk di salah satu kursi di sudut ruangan. Terpisah dari kerumunan di tengah ruangan.
“Baik-baik di situ. Atau kau akan dikembalikan ke RSJ,” ancam Satria sebelum kembali berkumpul dengan keluarganya.
Dengan nanar, Wira menatap kepergian Satria. Abangnya itu tampak menemui seorang wanita muda yang menggendong seorang anak berusia satu tahun.
Wira menarik napas berat saat mengenali wanita yang ditemui oleh Satria tersebut. Dia adalah Dinda, bekas kekasih Wira yang berpaling pada Satria. Gadis yang bersekongkol dengan Satria untuk memfitnah Wira untuk alasan yang hingga kini belum Wira ketahui.
Tatapan Wira dan Dinda sempat bertemu hingga sepasang mata Wira kembali terbakar dendam. Dinda segera memalingkan wajah, lalu mengikuti Satria yang beranjak menghampiri Surya.
“Tuan Wira, memang tidak salah jika sembilan puluh sembilan orang kembaranmu bersatu untuk membantumu. Anda menyedihkan sekali.”
Wira terkesiap mendengar suara seorang wanita yang tampaknya berbicara dengannya. Ia menoleh dan melihat seorang wanita tengah berdiri di sebelahnya sambil memandang Satria dan Dinda.
Wanita tersebut mungkin sebaya dengan Wira. Wajahnya manis, namun terlihat acuh tak acuh. Ia mengenakan setelan blazer dan celana panjang berwarna gelap seperti yang umumnya dipakai oleh pekerja kantoran.
“Siapa kau?” tanya Wira heran. Ia belum pernah melihat wanita itu sebelumnya. Lagipula, jika para wanita di ruangan ini mengenakan gaun pesta yang mewah, mengapa sosok asing ini justru memakai pakaian kerja?
Sebenarnya, tidak hanya Wira yang heran. Penjaga keamanan yang bertugas mengawasi Wira pun tampak heran melihat Wira berbicara dengan seseorang.
“Kau baik-baik saja? Siapa yang kau ajak bicara?” tanya penjaga keamanan tersebut dengan curiga.
“Aku berbicara dengan nona yang berdiri di sebelahku ini,” jawab Wira, bingung.
“Siapa? Tidak ada siapa-siapa di sebelahmu.”
Wira tercekat. Apa penjaga keamanan ini rabun, ya? Jelas-jelas ada seorang wanita yang tengah mengamati keadaan pesta, berdiri tepat di samping Wira.
“Dia tidak bisa melihat kami,” sahut wanita berpakaian kerja tersebut. “Sebab, kami diciptakan khusus untuk Anda, Tuan Wira 100.”
Wira terkejut dan semakin kebingungan.
Tidak bisa melihat? Kami? Diciptakan khusus untuk dirinya? Wira 100?
Apa-apaan ini?!