Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kemampuan Elang Yang Mengesankan

Kemampuan Elang Yang Mengesankan

Alaixar20 | Bersambung
Jumlah kata
218.1K
Popular
101.9K
Subscribe
9.3K
Novel / Kemampuan Elang Yang Mengesankan
Kemampuan Elang Yang Mengesankan

Kemampuan Elang Yang Mengesankan

Alaixar20| Bersambung
Jumlah Kata
218.1K
Popular
101.9K
Subscribe
9.3K
Sinopsis
18+FantasiFantasi TimurKekuatan SuperHarem21+
Elang adalah pemuda yatim piatu yang tumbuh di bawah bayang-bayang perundungan dan pengabaian. Hidup mengajarkannya diam, bukan melawan—hingga sebuah peristiwa merenggut kepolosan itu sekaligus membuka pintu kekuatan yang tak pernah ia minta. Semesta memilih Elang, memberinya kemampuan luar biasa yang mengubah posisinya dalam sekejap. Dari sosok tak terlihat, ia menjadi pusat perhatian. Kekuasaan, hasrat, dan para wanita datang bersamaan, membawa godaan yang jauh lebih berbahaya daripada luka masa lalu.
Prolog

Hari itu, Elang tampil rapi. Dengan kemeja terbaiknya, membawa buah tangan yang dianggap pantas untuk kekasihnya. Elang sudah memberi kabar sebelumnya bahwa ia akan datang.

Hari Minggu adalah waktu luang bagi Nunik, yang bekerja sebagai staf biasa di kantor kelurahan. Seharusnya, ia ada di rumah.

Namun, pemandangan di depan rumah membuat kening Elang berkerut. Sebuah motor sport keluaran terbaru terparkir gagah di sana.

Setahu Elang, Nunik tinggal sendiri sejak orang tuanya meninggal, sementara kakak-kakaknya sudah berkeluarga dan merantau ke kota.

Rasa penasaran menuntun langkah Elang menuju teras. Baru saja tangannya hendak mengetuk pintu, sebuah percakapan dari dalam menghentikan gerakannya. Suara itu begitu jelas, begitu menjijikkan.

"Aaaahh, Pak Lurah… jangan nakal," desah suara yang sangat Elang kenali.

"Enak tidak, dipegang-pegang begini?" sahut suara pria yang berat.

"Hu-um…"

"Kalau sama pacarmu si Elang itu, kamu pernah dibeginikan?"

"Enggak pernah, Pak Lurah. Elang mana berani pegang-pegang saya…"

"Ya iyalah, kamu sih jatuh cinta sama pria miskin begitu. Memangnya apa yang buat kamu jatuh cinta sama dia?"

"Elang ganteng sih, Pak Lurah…"

"Halah! Ganteng saja mana bisa buat makan. Besok kalau sudah tua juga peyot gantengnya. Pilih yang seperti aku, banyak uang!"

"Iya, Pak Lurah…"

"Sini, aku gelitikin kamu!"

"Pak Lurah nakal…!"

Suara gelak tawa mesra pecah, menghantam dada Elang hingga sesak. Ia tak menyangka Nunik, wanita yang selama ini ia anggap pendiam dan sederhana, ternyata diam-diam bersikap semurahan itu. Berselingkuh dengan seorang lurah yang sudah punya istri dan anak seumuran dengannya.

Elang merasa betapa tololnya ia jika tetap berdiri mematung di sana, mendengarkan desahan yang memuakkan itu.

Meski kakinya lemas dan hatinya hancur berkeping-keping, ia harus pergi. Ia meletakkan buah tangan yang dibelinya dengan susah payah di atas meja teras, lalu melangkah pergi dengan sisa harga diri yang remuk.

Elang melajukan motornya dengan kencang, ingin rasanya ia lari ke puncak tebing dan berteriak sekencang mungkin. Namun, kesialan nampaknya belum mau beranjak. Di sebuah tikungan, ia menyerempet sebuah mobil mewah milik pemuda kaya di desa itu.

Sang pemilik mobil tak terima. Pria itu keluar dengan wajah merah padam, langsung mencengkeram kerah baju Elang.

"Kalau kau mati dan terlahir kembali tujuh kali pun, itu belum cukup untuk mengganti lecet di mobilku ini dengan motor bututmu!" hardiknya kasar.

"Maaf.." Hanya itu yang bisa keluar dari bibir Elang. Pria itu benar. Ia hanya pemuda miskin yang lemah. Harga dirinya seolah tak lebih berharga dari goresan kecil di badan mobil mewah itu.

"Enak saja minta maaf. Kau harus dihajar!" Tanpa aba-aba, sebuah pukulan mentah mendarat di wajah Elang hingga ia terhuyung ke belakang.

"Mas, sudah! Kita nanti terlambat," panggil seorang gadis dari dalam mobil. Gadis itu menatap Elang dengan pandangan kasihan, seolah tahu pemuda itu sering menjadi sasaran perundungan.

Pria itu menoleh ke kekasihnya, lalu kembali menatap Elang dengan tajam. "Kali ini aku memaafkanmu. Tapi lain kali kau berulah lagi, mampus kamu!"

Elang hanya bisa menghela napas panjang melihat mobil itu berlalu. Wajahnya berdenyut nyeri. Ia bermaksud duduk sejenak di atas motornya untuk meratapi nasib, namun sial, ia memarkirkan motor di tanah yang miring. Motornya roboh, membuat Elang ikut terjatuh dan berguling-guling ke bawah tebing hingga masuk ke sungai.

Di sungai itu, ternyata sedang banyak ibu-ibu dan gadis remaja yang mencuci dan mandi. Melihat seorang pria tiba-tiba terjatuh di tengah mereka, teriakan histeris pecah. Mereka ramai-ramai menghajar Elang dengan cucian basah yang berat.

"Maaf, Maaf…!" Elang membungkuk, melindungi kepalanya dengan kedua lengan dari amukan kain-kain basah.

"Kurang ajar! Mau ngintip kamu, ya?!" bentak salah seorang ibu.

"Pasti tidak sekali dua kali dia mengintip kita, Mak!" yang lain ikut mencecar.

"Bukan, Mbak, Bu. Saya tergelincir dari atas sana!" Elang berjongkok penuh rasa malu. Sama sekali tak ada niat di hatinya untuk mengintip, namun nasibnya memang sedang berada di titik nadir.

"Sudah-sudah… biarkan dia pergi. Elang itu anak baik, dia pasti memang tidak sengaja tergelincir," bela salah satu wanita yang merasa iba.

Elang pergi dengan kaki terseok dan tubuh yang sakit semua. Bukan hanya hatinya yang hancur, raganya pun remuk. Sudah dikhianati, dipukuli pria kaya, terjatuh, lalu dihajar emak-emak pakai cucian basah. Ini bukan lagi sekadar sakit, tapi malu yang luar biasa.

Saat ia naik kembali untuk mengambil motornya dengan rambut penuh semak kering, segerombolan anak sekolah yang melintas menunjuk-nunjuknya sambil tertawa. "Orang gila… orang gila!"

"Hush! Tidak boleh begitu!" tegur Elang lemas.

Mereka malah meledek dan lari terbirit-birit. "Tolong! Ada orang gila…!"

Elang hanya bisa melenguh. Harga dirinya benar-benar lenyap, bahkan di depan anak kecil sekalipun.

Setelah merapikan diri seadanya, ia menaiki motornya lagi, mencari tempat sepi hanya untuk menangis sebentar. Hanya sebentar saja…

Baru saja ia hendak menumpahkan air matanya, suara cempreng bibinya mengejutkannya.

"Lang! Kebetulan ketemu di sini. Dari tadi Bibi cari-cari kamu! Ke mana saja? Ini pesanan dodol wijen sudah ditunggu orangnya buat lamaran. Antar sekarang!"

Elang cepat-cepat menyeka sudut matanya yang basah dan menghampiri bibinya.

"Ngapain kamu? Nangis?" tanya bibinya curiga melihat mata keponakannya yang merah.

"Enggak kok, Bi."

"Pasti kamu habis pacaran lagi sama Nunik, kan? Kamu sih, seleranya ketinggian. Nunik itu pegawai kelurahan, seleranya bukan pria seperti kamu!"

Kata-kata bibinya seperti garam yang ditaburkan di atas luka yang masih basah. Bahkan pegawai staf biasa di kelurahan saja tak berselera padaku, lalu wanita macam apa yang pantas untukku? pikirnya getir.

"Iya, Bi. Mana dodolnya? Biar aku antar." Elang mengambil kresek merah besar itu. Ia tak ingin berdebat. Lebih baik bekerja daripada terus diingatkan tentang Nunik yang mengiris hatinya.

"Nanti uangnya pakai buat beli tepung di tokonya Juragan Handoko, ya!" teriak bibinya saat Elang mulai menyalakan motor. "Habis itu langsung pulang, belahin kayu bakar!"

Elang melaju, menertawakan nasibnya sendiri di sepanjang jalan. Usianya 25 tahun, namun hidupnya masih begini-begini saja. Pantas saja wanita dengan mudah menyepelekannya, berpura-pura suka padahal hanya mempermainkannya.

"Tega kau, Nunik!" gerutunya di tengah jalan, membuang sisa-sisa sesak di dadanya.

Persetan dengan cinta.

Mulai detik ini, Elang bersumpah tidak akan lagi membiarkan wanita mempermainkannya.

Bumi tetap berputar, perut tetap butuh makan, dan kayu di rumah tetap harus dibelah.

Hidup harus terus berjalan, meski hatinya dipermainkan begini.

Lanjut membaca
Lanjut membaca