

Hujan rintik turun malas di pinggir kota, seperti sengaja menunda malam agar tak benar-benar gelap. Lampu jalan memantul di aspal basah, membentuk garis-garis kuning yang bergetar setiap kali motor tua itu melintas. Mesin motor meraung pelan, seolah ikut mengeluh bersama pengendaranya.
Di atas joknya, seorang driver ojek online bernama Raka menarik napas panjang sambil menepikan motor di bawah lampu jalan yang redup. Bahunya pegal, punggungnya kaku, dan pikirannya penuh sesak oleh hitungan-hitungannya sendiri.
Ponselnya menyala.
Order masuk.
Raka menatap layar beberapa detik. Jempolnya menggantung di udara. Satu order lagi berarti tambahan receh yang mungkin cukup buat makan besok pagi. Menolak berarti pulang dengan perasaan kalah.
Saldo hari itu pas-pasan. Bonus harian sudah lewat. Tubuhnya lengket oleh keringat bercampur air hujan. Helmnya sudah terasa berat, bukan karena bobotnya, tapi karena hari yang terlalu panjang.
“Ya udah lah… terakhir,” gumamnya, lalu menekan tombol terima.
Lokasi penjemputan tak jauh. Sebuah gang sempit di belakang ruko-ruko tua yang lampunya sebagian mati. Cat dinding mengelupas, papan reklame usang berdecit diterpa angin. Tempat yang membuat orang normal enggan berlama-lama.
Seorang pria paruh baya berdiri di ujung gang. Jaketnya lusuh, sepatunya basah, dan di tangannya ada tas kain besar yang tampak berat. Wajahnya biasa saja, tapi tatapan matanya terlalu tenang untuk seseorang yang berdiri sendirian di tempat seperti itu.
“Mas Raka?” tanyanya singkat.
“Iya, betul Pak.”
Pria itu mengangguk dan naik ke jok belakang tanpa banyak bicara. Tidak menanyakan rute, tidak membuka ponsel, hanya duduk tegak seolah sudah tahu ke mana mereka akan pergi.
Motor melaju perlahan. Hujan masih turun rintik-rintik, cukup untuk membasahi jaket tapi tidak cukup deras untuk berhenti. Jalanan lengang. Lampu lalu lintas terasa tak berarti di jam segini.
Raka mengantar dengan kecepatan sedang. Pikirannya melayang ke banyak hal yang tak pernah selesai—kontrakan yang jatuh tempo minggu depan, motor yang mulai sering mogok, dan hidup yang rasanya berhenti di titik yang sama sejak bertahun-tahun lalu.
Ia pernah bermimpi banyak hal. Kuliah, kerja kantoran, hidup mapan. Tapi mimpi itu terkikis pelan-pelan, tergilas kebutuhan, sampai akhirnya ia belajar satu hal: mimpi tidak selalu kalah karena salah, kadang hanya kalah karena waktu.
“Mas,” suara penumpang tiba-tiba terdengar.
“Iya, Pak?”
“Hidup itu berat ya, Mas?”
Pertanyaan itu datang tanpa emosi. Raka tertawa kecil. “ya begitulah pak, lumayan, Pak.”
Pria itu terdiam lagi. Motor terus melaju.
Tujuan tak jauh. Sebuah bangunan tua yang lampunya hampir mati. Begitu sampai, pria itu turun, merapikan tas kainnya.
“pak, kembaliannya ini,” Raka berseru ketika pria itu sudah melangkah pergi.
Pria itu berhenti, menoleh, lalu tersenyum tipis. Senyum yang aneh,bukan senyum ramah, tapi senyum orang yang tahu sesuatu.
“Tidak perlu,” katanya. “Terima kasih atas perjalanannya.”
Ia berjalan menjauh dan menghilang di balik gelap.
Aplikasi berbunyi. Order selesai.
Raka memarkir motor di pinggir jalan. Hujan sudah reda, tapi dingin masih menggigit. Ia mematikan aplikasi, memasukkan ponsel ke saku jaket, lalu menghela napas panjang.
“Capek juga ya hidup begini,” katanya pada dirinya sendiri, setengah bercanda, setengah pasrah.
Ia pulang ke kamar kontrakannya ruangan kecil dengan satu kasur tipis, kipas angin tua, dan lampu neon yang sering berkedip seperti mau mati. Helm diletakkan sembarangan di lantai. Jaket masih menempel di badan.
Raka menjatuhkan tubuh ke kasur tanpa sempat berganti baju.
Matanya menatap langit-langit kusam yang penuh noda.
“Apa ya rasanya hidup enak,” gumamnya lirih.
Kelopak matanya terasa berat.
Dn dunia pun menggelap.
Raka terbangun oleh aroma yang asing.
Bukan bau lembap kontrakan, bukan juga bau bensin atau asap knalpot. Aroma ini lembut, hangat, seperti kayu tua, bunga kering, dan sesuatu yang sulit ia namai. Matanya terbuka perlahan, dan hal pertama yang ia rasakan adalah empuk. Terlalu empuk.
Ia mengerjapkan mata.
Di atasnya, bukan langit-langit bercat kusam, melainkan ukiran rumit berwarna emas dengan pola simetris yang berkilau halus. Tirai tebal menjuntai di sisi ruangan, bergoyang pelan oleh angin entah dari mana.
Raka menegakkan badan dengan gerakan kaku.
“Ha.…?” Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.
Kasur tempat ia duduk lebih besar dari seluruh kamar kontrakannya. Spreinya halus, bantalnya berlapis-lapis. Di ujung ranjang, terdapat ukiran naga dan simbol-simbol aneh yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
Ia menunduk.
Bajunya bukan kaos kusam. Ia mengenakan pakaian panjang berwarna gelap, bahannya berat dan lembut, dengan sulaman benang emas di bagian dada.
“Ini.… mimpi?” bisiknya.
Belum sempat ia mencubit diri sendiri, pintu besar di sisi ruangan terbuka perlahan. Beberapa orang masuk dengan langkah teratur. Mereka mengenakan pakaian yang tampak kuno. Begitu melihat Raka duduk, mereka langsung berlutut serempak.
“Selamat pagi, Yang Mulia.”
Raka membeku.
“Eeh… siapaa?” katanya refleks.
Para pelayan saling berpandangan, lalu menunduk lebih dalam.
“Mohon ampun atas kelancangan kamii,” ucap salah satu dari mereka. “Kami akan segera memanggil pejabat istana.”
“Bentar-bentar,” Raka mengangkat tangan. “Ini salah kamar. Saya cuma .....”
Ucapan itu terhenti ketika seorang pria tua berambut putih masuk, membawa tongkat dengan kepala berbentuk naga. Auranya berbeda. Tatapannya tajam, penuh perhitungan, seperti orang yang sudah melihat terlalu banyak rahasia.
Ia berlutut.
“Yang Mulia telah terbangun. Puji syukur kepada langit.”
Kata "Yang Mulia" menghantam kepala Raka lebih keras daripada hujan semalam.
“Yang Mulia?” ulang Raka pelan.
Pria tua itu mengangkat kepala sedikit. “Apakah Yang Mulia masih merasa tidak enak badan?”
Raka membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Otaknya berputar cepat, tapi tak menemukan satu pun penjelasan masuk akal. Ia melihat ke sekeliling. Lukisan-lukisan besar di dinding menggambarkan pertempuran, penobatan, dan sosok raja-raja berjubah megah. Anehnya, wajah-wajah dalam lukisan itu. … mirip.
Mirip dirinya.
Jantung Raka berdegup keras.
“Ini… bukan prank, kan?” katanya lirih.
Tak ada yang tertawa. Tak ada yang membantah. Mereka hanya menunduk, menunggu perintah.
Pria tua itu berdiri. “Kementerian Ritus telah menunggu kabar kesehatan Yang Muliia. Mereka meminta audiensi secepatnya.”
“Kementerian apa?”
“Kementerian Ritus, Yang Mulia,” jawabnya hati-hati. “Mereka membawa urusan yang… sangat mendesak.”
Raka menelan ludah. Perasaan tak enak mulai merayap.
“Urusan apa?”
Pria tua itu terdiam sejenak, seolah menimbang kata. Lalu ia berkata dengan suara pelan namun jelas, “Mengenai status Yang Mulia…. yang hingga saat ini belum memiliki permaisuri maupun selir.”
Ruangan mendadak terasa lebih sunyii.
Raka menatap pria itu dengan mata membesar. “Belum.… punya?”
“Benar, Yang Mulia.”
Di kepalanya, bayangan hidup sebagai ojol, kontrakan sempit, dan motor tua bercampur dengan kata kaisar, istana, dan permaisuri. Semua terasa absurd, seperti miimpi yang terlalu serius untuk disebut mimpi.
Ia menarik napas panjang.
“Kayaknya… hidup saya baru aja riibet,” gumamnya.