
Dibalik Caping yang Kelam
masa laluku|Bersambung
- Jumlah kata
- 17.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 4
- Jumlah kata
- 17.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 4
Sinopsis
Rudi adalah seorang ayah yang bekerja keras di pedesaan, namun kehadirannya perlahan menghilang di rumah yang ia jaga sepenuh hati. Ia memberi tanpa dihitung, pulang tanpa disambut, dan bertahan tanpa dipuji. Di balik caping lusuh yang selalu ia kenakan, tersimpan luka seorang lelaki yang tak lagi diharapkan, bahkan oleh keluarganya sendiri. Ketika rumah berubah menjadi tempat paling asing, Rudi harus memilih: bertahan sebagai bayangan, atau berjalan pelan mencari makna dirinya sendiri—tanpa meninggalkan tanggung jawab sebagai ayah. Ini bukan kisah tentang lelaki sempurna. Ini kisah tentang lelaki yang memilih tetap berdiri kokoh walaupun diterpa masalah dunia
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Dibalik caping yang kelam
Setelah dua puluh lima tahun, barulah aku sadar siapa diriku.
Bukan karena ada yang memberitahu, melainkan karena tak ada satu pun yang mencariku.
Aku menyayangi keluarga seperti seseorang menjaga rumahnya sendiri—membersihkan, memperbaiki, menguatkan. Namun rumah itu tak pernah benar-benar menganggapku ada.
Mungkin, di mata mereka, aku hanya pelengkap. Hiasan yang diam di tempatnya.
Namaku Rudi.
Di dapur, aku melihat tulang ayam yang sudah kering dan dikerumuni semut. Itu berarti ayam itu dimakan saat aku bekerja, dan tulangnya dibiarkan menungguku pulang.
Aku tidak marah. Dua puluh lima tahun terlalu lama untuk terkejut.
Ibunya Kila selalu memberi lauk pada anak-anak ketika aku pergi. Mungkin ia pikir aku cukup dengan nasi dan rasa syukur.
Aku ayah yang bekerja, tapi bukan ayah yang dihitung.
“Pak, tadi Fafan, Kak Rizal, dan Nia makan ayam,” kata Irfan lirih.
Aku terdiam.
“Hus, kita cuma makan sambal,” suara ibunya cepat menyela.
Aku tersenyum—senyum yang sudah kuhafal bentuknya.
“Tidak apa-apa,” kataku. “Ayah memang cocok makan sambal.”
Kalimat itu ringan di mulut, tapi berat di dada.malam itu aku bersimpuh di atas sajadah.
Ya Allah,
jika aku tak dianggap di rumah ini, jangan biarkan aku tak dianggap di hadapan Mu.aku tidak meminta bahagia,aku hanya ingin kuat.karena selain Engkau,aku sendirian.
Aku tahu istriku tak lagi menginginkanku seperti dulu. Saat aku di rumah, ia memilih pergi. Saat aku pergi, rumah ini hidup seperti rumah yang lain.
Malam mengirimkan suaranya dari kejauhan.
ting… ting… so bakso…
Semua ada di luar sana. Hanya terang yang tak singgah di rumah kami.
Lampu padam. Tak ada lilin. Tak ada minyak. Aku mengetuk pintu ibu mertua—pelan, seperti mengetuk harga diriku sendiri.
“Boleh pinjam minyak, Bu? Ublik di rumah mati.”
“Selalu saja merepotkan.”
Namun botol kecil itu tetap berpindah tangan.
Aku berlari pulang. Batu mencium kakiku. Sakitnya singkat, tapi jujur.
Di rumah, Kia ingin jambu mete di sawah dekat Pak Pri. Keinginan kecil di malam yang terlalu besar.
“Gelap,” kataku. “Nanti saja.”
Ia menghentakkan kaki. Kata-katanya tajam. Aku diam, karena lelaki sering kehabisan kata.
“Aku cari senter,” bisikku.
Aku berlari ke sawah, terlalu yakin pada gelap. Sampai kusadari aku telah melewati pohon itu. Aku berbalik, terpeleset, jatuh.
Malu lebih dulu datang daripada sakit.
Aku memanjat pohon jambu mete itu. Saat berada di atas, baru kusadari: turun jauh lebih sulit daripada naik.
Berteriak berarti mengaku tak mampu. Maka aku diam. Menghitung sampai seratus, menunda takut.
Semut mulai naik. Getah menempel di kulit. Aku bertahan.
Saat kakiku kembali menyentuh tanah, aku menghela napas—napas orang yang lolos, bukan yang menang.
“Nanti jangan lupa beli rujak,” kata Kia singkat.
Aku mengangguk. Tidak menjelaskan bahwa uang di saku tinggal lima ribu.
Di kebun, aku menghirup udara pagi. Segar. Kemalasan luruh dengan sendirinya.
Cangkul menghantam tanah. Nyeri menyambar."pelan-pelan,Rud,"suara pak pri dari kejauhan.aku tersenyum tipis." "Biasa,pak."
Tanah terbelah.keringat turun.Pagi berjalan seperti seharusnya. Dan entah kenapa,itu justru yang paling berat.
Ayah tidak pulang.anak sulung ku mencariku.sebenarnya bukan mencariku- ia hanya butuh teman memancing
"Ayah disini dulu,"perintah Rizal padaku.
aku mengangguk.
Perutku lapar, tapi aku tak bisa menolak. Kami duduk di tepi parit sawah. Ia menenggelamkan kailnya dengan wajah riang, sementara perutku berbunyi pelan, meminta diisi.
“Ayo, Nak. Sudah siang,” kataku akhirnya.Ia menarik pancing, lalu berdiri dengan wajah kesal.ah,ayah tidak asik.aku tidak menanggapi.sebisa apa pun aku menuruti,tetap saja aku tak pernah benar-benar dihitung.
Di rumah, aku membasuh kaki dan tangan. Kuminum air sampai tenggorokanku yang kering terasa basah.piring-piring bekas makan berjejer dimeja.aku memaklumi istriku sedang mengandung.
Kuberesi satu persatu.kubersihkan tempat untuk makan.
"Dimana lauk? tanyaku pelan.lauk apa,yah?"jawab mereka."kan ada garam.kalimat itu jatuh ringan.dan seperti biasa,aku belajar menelan nya.
Kujumput sedikit garam dan kuteteskan minyak jelantah di atas nasi.entah kenapa, rasanya tetap bisa dinikmati.selesai makan,kukemas piring itu.kuberesi dapur,kurapikan sisa-sisa yang ada.
Kualihkan pandanganku, mencoba menenangkan pikiranku sendiri.sekelebat bayangan melintas, diam-diam masuk kamar istriku.Bukan pencuri.bukan pula kucing.
Kuhampiri dari kejauhan. Tak terlihat siapa orangnya, namun bayangannya terasa tak asing. Terlalu akrab untuk diabaikan.
Aroma wangi bercampur lezat menyentuh inderaku. Bukan bau rumah ini bau yang jarang singgah, seolah sengaja dibawa.
Samar-samar terdengar bisikan. Pelan Tertahan.seperti rahasia yang tak boleh diketahui siapapun.loh,kok baru pulang kesawah lagi,Rud?"
Bu Imas, penjual kelontong di desaku, menatap heran.oh iya,bu.tadi arit saya tertinggal,elakku.
“Takut kena kaki orang.”mampir dulu ,Rud,"sapa pak leman,suami Bu imas.ya ,pak.lain kali,jawabku singkat.
“Yowes, hati-hati ya,” katanya lagi.aku mengangguk.langkah ku makin cepat, menyusuri jalan setapak, seolah ingin meninggalkan pertanyaan yang tak sanggup ku jawab.
Baru beberapa langkah menyusuri pematang, suara tawa terdengar dari bawah pohon randu.beberapa lelaki duduk melingkar,bekas gelas kopi masih hangat di tangan mereka.
“Eh, itu Rudi, ya?”.Salah satu dari mereka menyengir."pulang-pergi rumah tapi sawahnya tetap sepi.
Tawa kecil menyusul.
“Yang penting istrinya kenyang,” sahut yang lain.nasi putih sama garam juga udah cukup kan?"
Aku pura- pura tidak mendengar.mataku lurus kedepan,tapi dadaku mengeras.
"Sekarang enak jadi laki-laki,ya,"suara itu menyindir lagi."caping di pakai, kerja entah kemana.yang penting pulang ada rumah.
Tangan kiriku mengepal.bukan marah pada mereka tapi pada diriku sendiri yang tak punya kata untuk membantah.
Langkahku tetap berjalan.jika aku berhenti, mungkin bukan hanya mulutku yang terbuka.
Apa lagi yang harus kulakukan?
Pikiranku melompat ke tempat yang tak seharusnya,Tentang jalan pintas.tentang bisikan-bisikan gelap yang sering dibicarakan orang desa dengan suara setengah berani.
Pesugihan,babi ngepet, kandang Bubrah.jika dunia ini tak mengenal dosa, mungkin aku sudah melangkah kesana Tampa menoleh.
Astaghfirullah,aku menutup mata.menarik nafas panjang, seolah ingin mengusir pikiran kotor itu keluar dari kepalaku.
Ya Allah,ampuni aku bahkan untuk niat yang belum sempat kulakuka
Aku ini hanya lelaki lapar, yang lelah dipandang tak berguna.ah sudahlah, daripada pikiranku makin jauh terseret lebih baik tubuhku yang bergerak.
Aku menuruni pematang,menceburkan diri ke parit sawah.airnya keruh,dingin,tapi jujur. Tanganku meraba-raba lumpur mencari ikan kecil seolah mencari alasan untuk tetap bertahan hari ini.
Tanganku meraba lumpur yang dingin,tiba-tiba.cekrek, seekor kepiting menjepit jariku."Astaga..."
Aku meringis,sakit, memang.lumayan,tapi entah kenapa, rasanya tidak sesakit kata orang-orang.mungkin karena aku sudah terlalu sering dijepit keadaan,hingga rasa sakit seperti ini tak lagi terasa istimewa.
Aku melepaskan kepiting itu pelan, membiarkannya kembali ke lumpur.tanganku berdenyut,namun dadaku tetap kosong.dan aku sadar yang menyakitkan bukan capitnya, melainkan hidup yang tak pernah benar-benar melepaskanku.
Aku segera bangkit dan pulang kerumah,Dari kejauhan, kulihat asap rokok mengepul di teras.ada suara tawa laki-laki lain.aku mengenalnya.
Langkah kakiku terhenti.tanganku masih perih oleh capit kepiting,namun dadaku terasa lebih sesak malam itu aku akhirnya sadar kelaparan bukan satu-satunya hal yang harus kutelan.
Daftar bab
16 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








