
Dikhianati Pacar Dimanja Ibunya
Roselini|Bersambung
- Jumlah kata
- 83.8K
- Popular
- 1.7K
- Subscribe
- 270
- Jumlah kata
- 83.8K
- Popular
- 1.7K
- Subscribe
- 270
Sinopsis
Galih, pemuda miskin perintis usaha keripik singkong, harus menelan harga dirinya saat memergoki pacarnya berselingkuh dan dihina habis-habisan oleh ayah sang pacar. Di tengah kehancuran mentalnya, ibu pacarnya datang memanjakannya. Lewat bimbingan dan suntikan dana dari sang calon mertua, Galih melepaskan kepolosannya dan bangkit menjadi pria dominan yang tak kenal ampun.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Resah
Galih menggosok velg motor tuanya dengan kain lap kusam sampai urat di punggung tangannya menonjol. Noda oli membandel menempel di sela-sela jarinya, bercampur keringat yang menetes dari dagu.
"Tujuh hari gak ada kabar," gumam Galih pelan.
Dia melempar kain lap itu ke tanah berdebu di halaman kontrakannya. Layar ponsel retak di atas sadel motor dibiarkan tergeletak begitu saja. Ponsel itu sama sekali tidak bergetar sejak minggu lalu.
Gadis bernama Wulan itu menghilang tanpa jejak.
Galih tahu betul tabiat buruk pacarnya. Wulan tidak pernah menjauhkan ponsel dari tangannya. Gadis dua puluh tahun itu selalu cepat merespons pesan, terutama jika ada pria asing yang mengiriminya godaan.
Wulan juga sangat gampang ditebak saat berbohong soal lokasi keberadaannya. Dia sering beralasan ada jadwal kuliah tambahan saat pergi ke tempat lain.
Galih tidak bisa terus-terusan menunggu tanpa kepastian. Usaha keripik singkong skala rumahan miliknya butuh perhatian penuh, namun pikirannya terlanjur kacau balau hari ini.
Pemuda itu menekan tombol starter motornya keras-keras.
Suara mesin menderu kasar.
Galih menginjak pedal gigi dan menarik gas kencang. Dia memutuskan mendatangi rumah pacarnya demi meminta kejelasan hubungan mereka hari ini juga.
Ban depan motor tuanya berhenti tepat di atas paving block halaman rumah keluarga Suryana. Galih mematikan mesin, membiarkan keheningan mengambil alih suasana perkarangan.
Pemuda dua puluh tahun itu mengusap debu tipis di jok motornya dengan telapak tangan. Perasaan gelisah merayap pelan menyadari pacarnya menghilang tanpa kabar selama seminggu penuh.
Dia melangkah maju mendekati bangunan utama. Sepatu pudar miliknya menapak perlahan menaiki anak tangga teras berlantai keramik putih mengkilap.
Pintu kayu jati berukir di depannya terbuka lebar.
Galih mendapati sosok Irma berdiri membelakangi pintu masuk. Wanita berusia empat puluh lima tahun itu sedang melipat setumpuk pakaian kering di atas meja ruang tamu.
Ibu dari pacarnya itu mengenakan daster rumahan berlengan pendek bermotif bunga. Rambut panjangnya dijepit seadanya menggunakan jepitan plastik hitam di belakang kepala.
"Permisi, Bu," sapa Galih.
Irma langsung menghentikan aktivitasnya tepat ketika mendengar kedatangan Galih di ambang pintu depan. Wanita itu memutar tubuhnya perlahan.
Ibu pacarnya tersebut tidak menunjukkan reaksi terkejut berlebihan. Irma hanya tersenyum ramah menyambut kedatangan tamu yang sudah lama tidak berkunjung ke rumah tersebut.
"Eh, Galih. Sini masuk, Lih," panggil Irma santai.
Irma merapikan tumpukan baju itu ke dalam keranjang plastik biru di lantai. Dia meletakkan keranjang tersebut di sudut ruangan sebelum menepuk pelan tangannya sendiri.
"Duduk sini, Lih."
Wanita itu menunjuk sofa panjang berbahan kulit sintetis berwarna cokelat di ruang tamunya. Dia mempersilakan Galih duduk sambil menyingkirkan bantal sofa bermotif geometris.
Galih melangkah masuk dengan canggung. Padahal, dia hanya berniat menanyakan keberadaan Wulan sejenak tanpa ingin berlama-lama mengganggu waktu Irma.
"Maaf kalau saya datang tiba-tiba, Bu," ucap Galih duduk di pinggir sofa.
"Tidak apa-apa, Ibu kebetulan cuma lagi beres-beres cucian saja," balas Irma ramah.
Galih memperbaiki posisi punggungnya. Dia menatap lurus ke arah Irma karena ingin langsung menanyakan tujuan utamanya datang kemari.
"Bu, saya mau nanya, Wulan ada di rumah? Sudah satu minggu ini saya tidak dapat kabar dari dia."
Galih bertanya dengan sopan namun bernada tegas.
Irma menahan gerakan tangannya. Wanita itu sebenarnya menyimpan rasa iba melihat raut wajah pemuda di depannya ini.
Sebagai seorang ibu, Irma tahu betul kelakuan buruk anak bungsunya di luar sana. Wulan sangat sering bergonta-ganti pacar dan mudah merespons godaan pria bermobil.
Namun, wanita itu tidak langsung menjawab pertanyaan Galih.
"Ibu ambilkan minum dulu. Kamu tunggu sebentar," kata Irma berdiri dari posisinya.
Irma melenggang pergi menuju dapur, meninggalkan Galih yang duduk meremas lututnya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Irma kembali membawa segelas air putih di atas nampan kayu. Dia meletakkan gelas kaca yang berembun dingin itu tepat di hadapan Galih.
Irma duduk menyamping di sofa tunggal sebelah Galih. Wanita empat puluh lima tahun itu menghela napas panjang sebelum membuka suara.
"Diminum dulu airnya, Lih," tawar Irma.
Galih menggelengkan kepalanya. "Jadi Wulan ke mana, Bu?"
Irma memberitahu secara tenang, "Wulan sudah tiga hari ini tidak pulang ke rumah, Lih."
Dada Galih seketika terasa sesak bagai dihantam benda tumpul.
"Tiga hari?" ulang Galih menaikkan nada suaranya.
"Iya, dia pamitnya menginap di rumah teman wanita sekampusnya," jawab Irma. "Katanya ada tugas kelompok yang harus diselesaikan sampai malam."
Fakta tersebut membuat Galih menahan kecewa bercampur curiga yang menyengat kepalanya. Urat di leher pemuda itu terlihat sedikit menegang.
"Kalau memang dia menginap bersama teman wanitanya, pasti ada waktu luang untuk sekadar memberi kabar."
Galih memajukan tubuhnya ke depan.
"Ini sama sekali tidak ada pesan masuk. Telepon saya juga tidak pernah diangkat."
Irma merapatkan duduknya di sofa. Dia menatap mata Galih mencari cara meredam emosi pemuda itu.
"Kamu kan tahu sendiri Wulan itu susah kalau sudah kumpul sama teman-temannya," bujuk Irma pelan.
"Saya sangat khawatir, Bu. Seminggu tanpa kabar itu bukan hal wajar," bantah Galih memotong.
Pemuda itu membuang muka menatap dinding kosong. "Pesanan keripik singkong saya minggu ini banyak yang terbengkalai gara-gara saya harus keliling mencari keberadaan dia setiap malam."
"Iya, Ibu paham perasaan kamu, Lih."
Irma mencondongkan badannya ke depan. "Wulan baik-baik saja, mungkin dia tidak ada kuota internet untuk mengabari kamu."
Galih mendengus pelan mendengar alasan tersebut.
"Dua hari lalu saya sudah belikan pulsa lima puluh ribu ke nomor dia, Bu. Transaksinya juga sudah sukses masuk," jawab Galih mematahkan alasan Irma mentah-mentah.
Keheningan sejenak melanda ruang tamu berpendingin ruangan itu.
Irma terdiam kehabisan kata-kata. Alasan yang dia susun di kepalanya hancur oleh fakta pengorbanan finansial Galih. Wanita itu meremas ujung dasternya menyadari tingkah buruk sang anak.
"Coba sabar tunggu sampai besok, Lih. Ibu janji bakal suruh Wulan langsung hubungi kamu kalau pulang," ucap Irma memecah keheningan.
"Nomor teman-temannya juga tidak ada yang membalas pesan saya," balas Galih datar.
Segala bentuk penyangkalan di otaknya kini bermuara pada kesimpulan pahit yang berusaha dia hindari. Pacarnya sengaja menghindar darinya.
Galih menarik napas panjang. Dia tidak ingin terlihat hancur berantakan di depan ibu pacarnya sendiri.
Pemuda itu merapikan kerah kemejanya.
"Kalau begitu, saya pamit pulang saja dulu, Bu. Maaf sudah mengganggu waktu istirahatnya," ucap Galih sopan.
Tepat ketika pemuda itu berpamitan untuk segera pulang menutupi rasa patah hatinya, suara petir menyambar kencang di atas atap rumah.
Irma ikut berdiri dari kursinya.
"Loh, buru-buru amat? Airnya belum diminum itu, Lih," cegah Irma menahan langkahnya.
Hujan deras mendadak turun mengguyur desa dengan sangat lebat. Titik-titik air berukuran besar menghantam atap teras berulang kali hingga menciptakan suara bising.
Angin kencang meniupkan tampias air hujan menembus pintu depan yang terbuka, membasahi sebagian lantai keramik ruang tamu tempat mereka berdua berdiri.
Langkah Galih terhenti.
Ikuti Cerita Selanjutnya!...
Daftar bab
76 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








