
- Jumlah kata
- 4.6K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
Sinopsis
Laki -laki memang terlahir untuk berjuang dan memperjuangkan,begitu juga Tuck. Dia akan selalu berjuang selama hidupnya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Minna
Tuck adalah anak laki laki yg seumur hidupnya tak pernah mengenal sosok ayah.sejak usia 2 bulan dia sudah diurus olek kakek dan neneknya.Ibunya menitipkan Tuck dengan alasan terlalu repot jika harus mengurus tiga anak sekaligus.Ya Tuck sebenarnya memiliki dua kakak dan hidup bersama ibunya.sedangkan Tuck dibesarkan oleh kakek dan neneknya.Ibu Tuck adalah anak satu satunya kakek nenek yg sudah renta itu.jadi mereka sangat senang mengurus Tuck.
Tuck sangat di sayangi kakek neneknya,jadi dia tidak pernah merasa kurang kasih sayang walaupun ibunya tak pernah menjenguknya.Tuck hanya tahu sosok ibunya dari album foto milik kakeknya,dan video call saja.
Tuck tumbuh dewasa dengan pertanyaan yang selalu menghantui pikirannya. Mengapa dia harus tinggal bersama kakek neneknya, sedangkan kedua kakaknya, Tomi dan Soni, tinggal bersama ibunya? Dia selalu merasa ada yang tidak beres, tapi tidak ada yang bisa dia tanyakan.
Kakek neneknya selalu menjawab dengan jawaban yang sama: "Ibumu terlalu sibuk bekerja, nak. Dia tidak bisa mengurus kamu bertiga sendirian." Tapi Tuck tidak percaya. Dia tahu ibunya bekerja keras, tapi mengapa dia harus dipisahkan dari kakak-kakaknya?
Tuck tumbuh menjadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab. Dia selalu berusaha membantu kakek neneknya, meskipun mereka tidak pernah meminta. Ketika dia berusia 18 tahun, dia akhirnya berani menanyakan pertanyaan yang selalu menghantui pikirannya kepada kakek neneknya.
"Tomi dan Soni tinggal bersama ibu, tapi aku tidak. Mengapa?" Tuck bertanya dengan suara yang bergetar.
Kakek neneknya saling menatap, lalu kakeknya menjawab, "Ibumu terlalu sibuk, nak. Dia tidak bisa mengurus kamu bertiga sendirian. Kami hanya ingin membantu."
Tuck tidak puas dengan jawaban itu, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menerima keadaan dan berusaha membuat yang terbaik dari hidupnya.
Seiring waktu, Tuck tumbuh menjadi dewasa yang mandiri. Dia mendapatkan pekerjaan yang baik dan mulai mengirimkan uang kepada kakek neneknya setiap bulan. Dia merasa bahagia bisa membantu mereka yang telah merawatnya selama ini.
Tomi dan Soni sering mengunjungi Tuck di tempat kerjanya, terutama di akhir bulan ketika Tuck menerima gaji. Tuck tidak bisa tidak merasa ada yang tidak beres. Mengapa mereka hanya mengunjungi dia ketika dia memiliki uang?
Tuck mulai merasa ada yang tidak benar. Dia memutuskan untuk mencari tahu kebenaran tentang masa lalunya. Dia mulai bertanya kepada kakek neneknya lagi, tapi mereka masih tidak mau memberitahu.
Tuck merasa frustrasi. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tapi dia tahu dia tidak bisa terus-menerus hidup dalam ketidakpastian. Dia harus mencari tahu kebenaran, tidak peduli apa yang terjadi.
Tuck merasa frustrasi. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tapi dia tahu dia tidak bisa terus-menerus hidup dalam ketidakpastian. Dia harus mencari tahu kebenaran, tidak peduli apa yang terjadi.
Dia mulai memperhatikan perilaku Tomi dan Soni. Mereka selalu mengunjungi dia di akhir bulan, dan mereka selalu meminta uang. Tuck mulai merasa mereka hanya memanfaatkan dia.
Suatu hari, Tuck memutuskan untuk mengikuti Tomi dan Soni setelah mereka meninggalkan tempat kerjanya. Dia ingin tahu apa yang mereka lakukan dengan uang yang dia berikan.
Tomi dan Soni pergi ke sebuah rumah mewah di pinggiran kota. Tuck mengikuti mereka dari jauh dan melihat mereka masuk ke dalam rumah itu. Dia menunggu beberapa menit, lalu dia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah itu.
Tuck sangat mengejutkan ketika dia melihat ibunya di dalam rumah itu. Ibunya sedang berbicara dengan Tomi dan Soni, dan mereka semua tertawa bersama. Tuck merasa ada yang tidak beres. Mengapa ibunya tidak pernah mengunjungi dia, tapi dia mengunjungi Tomi dan Soni?
Tuck merasa hatinya hancur. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia memutuskan untuk meninggalkan rumah itu dan tidak pernah kembali lagi.
Tuck berjalan kaki selama beberapa jam, mencoba memahami apa yang baru saja dia lihat. Dia merasa seperti dia tidak pernah mengenal keluarganya. Dia merasa seperti dia hanya seorang alat untuk mendapatkan uang.
Tuck akhirnya tiba di sebuah kafe kecil di pinggiran kota. Dia memesan secangkir kopi dan duduk di meja, mencoba memahami apa yang baru saja dia lihat.
Tuck duduk di meja, menikmati kopi hangat dan mencoba memahami apa yang baru saja dia lihat. Dia merasa seperti dia berada di dunia lain, jauh dari masalah dan kekecewaan yang baru saja dia alami.
Saat dia sedang menikmati kopi, dia tidak sengaja melihat ke arah wanita yang duduk di bangku tengah kafe itu. Wanita itu terlihat anggun dan elegan, dengan rambut hitam yang jatuh di pundaknya dan mata yang indah. Tuck merasa hatinya berdetak lebih cepat, dan dia tidak bisa tidak menatapnya.
Tuck merasa malu dan cepat mengalihkan pandangannya, tapi dia tidak bisa tidak mencuri-curi pandang ke arah wanita itu. Dia berharap tidak ketahuan, tapi wanita itu tidak terlihat memperhatikan dia.
Tuck merasa seperti dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia ingin berkenalan dengan wanita itu, tapi dia takut ditolak. Dia merasa seperti dia tidak cukup baik untuk wanita seanggun itu.
Wanita itu, yang bernama Minna, tidak terlihat memperhatikan Tuck, tapi dia sebenarnya sudah memperhatikan dia dari tadi. Dia melihat Tuck yang duduk sendirian, dengan ekspresi yang sedih dan kehilangan. Minna merasa ingin tahu apa yang membuat Tuck sedih, dan dia ingin membantu.
Minna memutuskan untuk mengambil inisiatif dan mendekati Tuck. Dia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Tuck, dengan senyum yang manis di wajahnya.
"Apakah aku bisa bergabung?" Minna bertanya, sambil menunjuk ke kursi di sebelah Tuck.
Tuck merasa hatinya berhenti sejenak. Apakah wanita itu benar-benar ingin berbicara dengan dia?
Tuck merasa seperti dia berada di awan, saat Minna duduk di sebelahnya. Dia mencoba untuk tenang, tapi hatinya masih berdetak kencang.
"Hai, aku Minna," kata Minna dengan senyum yang manis.
"Hai, aku Tuck," jawab Tuck, mencoba untuk tidak terdengar terlalu grogi.
Minna tertawa, "Tuck? Nama yang unik. Apa artinya?"
Tuck merasa sedikit lebih santai, "Aku tidak tahu, sebenarnya. Aku hanya tahu itu nama yang diberikan oleh kakekku."
Minna tersenyum, "Aku suka. Aku Minna, seperti yang sudah aku katakan. Aku baru saja pindah ke kota ini."
Tuck merasa penasaran, "Oh, dari mana kamu pindah?"
"Dari Jepang," jawab Minna. "Aku bekerja di sini sekarang."
Tuck merasa seperti dia tidak tahu apa yang harus dikatakan lagi. Dia merasa seperti dia tidak cukup baik untuk berbicara dengan Minna.
Minna memperhatikan ekspresi Tuck, "Hey, kamu tidak apa-apa? Kamu terlihat sedikit sedih."
Tuck merasa seperti dia bisa terbuka dengan Minna, "Aku hanya... aku baru saja mengalami hari yang buruk, itu saja."
Minna menempatkan tangannya di atas tangan Tuck, "Aku bisa mendengarkan, jika kamu ingin berbicara."
Tuck merasa seperti dia bisa percaya pada Minna. Dia mulai menceritakan tentang masalahnya dengan keluarganya, dan Minna mendengarkan dengan sabar.
Tuck merasa seperti dia sedang berada di tengah-tengah cerita yang menarik, tapi tiba-tiba saja, seorang pria dengan setelan jas hitam rapi menghampiri mereka berdua. Pria itu memiliki ekspresi yang serius dan tidak ramah.
"Minna, kita harus pergi sekarang," kata pria itu dengan nada yang tegas.
Minna terlihat sedikit terganggu, tapi dia segera berdiri dari tempat duduknya. "Maaf, Tuck, aku harus pergi sekarang."
Minna menyelipkan secarik kertas ke tangan Tuck, "Ini nomer teleponku. Aku ingin kita bisa berbicara lagi."
Tuck merasa seperti dia mendapatkan hadiah yang berharga, "Terima kasih, Minna."
Minna tersenyum dan segera meninggalkan kafe bersama pria itu, meninggalkan Tuck yang masih duduk di tempatnya, merasa sedikit bingung dan penasaran. Siapa pria itu? Dan mengapa Minna harus pergi begitu cepat?
Tuck melihat secarik kertas yang diberikan oleh Minna dan merasa ingin menghubungi dia. Dia memasukkan kertas itu ke dalam saku dan memutuskan untuk menghubungi Minna besok.
Tuck merasa lapar setelah seharian mengikuti Tomi dan Soni, jadi dia memutuskan untuk memesan makanan di kafe itu. Dia memesan nasi goreng dan minuman, dan sambil menunggu makanannya datang, dia terus memikirkan tentang Minna.
Tuck merasa sangat senang sudah bertemu Minna, dan pertemuannya dengan Minna membuatnya melupakan kesedihan tentang masalah kakak dan ibunya itu. Dia merasa seperti ada sesuatu yang baru dan menyenangkan dalam hidupnya.
Setelah makanannya datang, Tuck menikmati setiap suapannya dengan lahap. Dia merasa lebih baik dan lebih santai setelah makan.
Setelah selesai makan, Tuck beranjak pulang. Dia memutuskan untuk menghubungi kakeknya dan menceritakan semua yang terjadi hari ini.
"Halo, Kek," Tuck menyapa kakeknya melalui telepon.
"Halo, Tuck! Apa kabar, nak?" jawab kakeknya.
"Kek, aku ingin cerita sesuatu," Tuck memulai. "Aku bertemu dengan seorang gadis hari ini, namanya Minna. Dia sangat cantik dan baik."
Kakeknya terdengar senang, "Wah, itu bagus, Tuck! Cerita lebih lanjut!"
Tuck menceritakan semua yang terjadi hari ini, dari pertemuan dengan Minna sampai kepergian Minna dengan pria misterius itu. Kakeknya mendengarkan dengan sabar dan memberikan kata-kata dukungan.
"Baiklah, Tuck, aku senang kamu bertemu dengan Minna. Tapi jangan lupa, keluarga kita ada di sini, nak," kata kakeknya.
Tuck tersenyum, "Aku tahu, Kek. Aku tidak akan lupa."
Tuck bisa merasakan nada yang sedikit serius dalam suara kakeknya, meskipun dia masih terdengar hangat dan menyayangi.
"Baiklah, Tuck, aku senang kamu bertemu dengan Minna," kata kakeknya. "Tapi, nak, aku ingin kamu berhati-hati. Kamu tidak tahu banyak tentang dia, dan kita tidak tahu apa yang dia inginkan."
Tuck merasa sedikit dipahami, "Aku tahu, Kek. Aku akan berhati-hati, jangan khawatir."
Kakeknya terdengar sedikit lebih santai, "Aku hanya ingin kamu aman, nak. Kamu adalah cucuku yang paling aku sayangi, dan aku tidak ingin kamu terluka."
Tuck tersenyum, "Aku tahu, Kek. Aku akan berhati-hati, janji."
Kakeknya terdengar tersenyum, "Baiklah, nak. Aku percaya padamu. Jangan lupa, kita selalu ada di sini untukmu."
Tuck merasa hangat di hatinya, "Aku tahu, Kek. Aku cinta kamu."
Kakeknya menjawab dengan suara yang lembut, "Aku cinta kamu juga, nak."
Tidak lupa tak juga menanyakan kabar neneknya,karena semenjak dia pergi dari rumah dan bekerja diluar kota neneknya sering sakit sakitan.
Tuck merasa sedikit khawatir ketika dia menanyakan kabar neneknya.
"Kek, bagaimana kabar Nenek?" Tuck bertanya.
Kakeknya terdiam sejenak sebelum menjawab, "Nenekmu baik-baik saja, nak. Dia hanya sedikit lelah, itu saja."
Tuck bisa mendengar suara batuk lembut di latar belakang, dan dia merasa khawatir.
"Kek, aku bisa mendengar Nenek batuk. Apa dia baik-baik saja?" Tuck bertanya dengan nada yang lebih serius.
Kakeknya terdengar mencoba untuk menenangkan Tuck, "Aku sudah bilang, nak, Nenek baik-baik saja. Dia hanya perlu istirahat, itu saja."
Tuck merasa sedikit tidak percaya, tapi dia tidak ingin membuat kakeknya khawatir. "Baiklah, Kek. Aku akan kirim uang untuk Nenek, ya?"
Kakeknya terdengar senang, "Terima kasih, nak. Nenekmu akan sangat senang."
Tuck merasa ingin segera pulang dan melihat neneknya, tapi dia tahu bahwa dia harus bekerja dulu untuk membantu keluarga. "Aku akan coba pulang secepatnya, Kek."
Kakeknya menjawab dengan suara yang lembut, "Aku tahu, nak. Kami akan menunggu kamu."
Tuck merasa lega setelah menelepon kakeknya dan mengetahui bahwa neneknya baik-baik saja. Dia segera mandi dan duduk di kursi sambil membuka laptopnya, siap untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.
Senyum bahagia tidak pernah lepas dari bibirnya, dan hatinya berbunga-bunga karena pertemuannya dengan Minna hari ini. Dia merasa seperti ada sesuatu yang baru dan menyenangkan dalam hidupnya.
Tuck mulai mengetik di keyboard, tapi pikirannya terus melayang ke Minna. Dia tidak bisa tidak membayangkan wajah cantiknya dan senyum manisnya. Dia merasa seperti dia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama.
Tuck tersenyum sendiri, merasa sedikit gembung. "Aku harus fokus, aku harus fokus," dia mengingatkan dirinya sendiri.
Tapi, pikirannya terus melayang ke Minna, dan dia tidak bisa tidak membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka bertemu lagi. Apakah mereka akan menjadi lebih dekat? Apakah mereka akan jatuh cinta?
Tuck merasa seperti dia sedang berada di awan, dan dia tidak ingin turun ke bumi. Dia ingin terus melayang di awan, menikmati perasaan bahagia yang dia rasakan sekarang.
Senyum bahagia masih terukir di bibirnya, Tuck terus mengetik di keyboard, menyelesaikan pekerjaannya dengan hati yang ringan dan bahagia.
Tuck melihat jam di dinding, sudah menunjukkan pukul 23:00. Dia merasa lelah, tapi dia tahu bahwa dia harus tidur sekarang jika ingin bangun tepat waktu besok pagi.
Dia menyimpan laptopnya, mematikan lampu, dan menuju ke kamar tidurnya. Dia merasa puas dengan pekerjaan yang telah diselesaikan hari ini, dan pikirannya masih melayang ke Minna.
Tuck tersenyum sendiri, membayangkan apa yang akan terjadi besok. Dia berharap bisa menghubungi Minna dan mengajaknya bertemu lagi.
Dengan pikiran yang bahagia, Tuck segera tertidur, siap untuk menghadapi hari esok yang cerah. Zzz...
Hari pun berganti Tuck berangkat kerja dengan semangat yang berbeda, hatinya masih saja berbunga-bunga karena pikirannya masih dipenuhi dengan wajah Minna. Dia berjalan ke kantor dengan langkah yang lebih ringan, tersenyum sendiri tanpa sadar.
Saat tiba di kantor, Tuck langsung menuju ke mejanya dan mulai bekerja seperti biasa. Dia masih baru di perusahaan itu, baru dua tahun, jadi jabatannya masih tergolong rendah. Tuck tidak termasuk karyawan menonjol, tapi dia selalu berusaha melakukan yang terbaik dan tidak pernah mengeluh.
Tuck mulai mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh atasannya, tapi pikirannya terus melayang ke Minna. Dia tidak bisa tidak membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka bertemu lagi.
Sambil bekerja, Tuck tidak sadar bahwa rekan-rekannya mulai memperhatikan dia. Mereka melihat Tuck yang biasanya tenang dan serius, sekarang tersenyum sendiri dan terlihat lebih ceria.
"Hey, Tuck, apa yang membuatmu begitu bahagia hari ini?" salah satu rekan kerjanya bertanya, penasaran.
Tuck tersentak, merasa sedikit malu. "Hmm, tidak ada apa-apa," dia menjawab, mencoba menyembunyikan senyumnya. 😊
Edo tersenyum, "Hmm, tidak ada apa-apa? Aku tidak percaya, Tuck! Kamu pasti ada sesuatu yang membuatmu begitu bahagia. Aku tahu kamu, Tuck. Kamu tidak bisa menyembunyikan apa-apa dariku."
Tuck tersenyum, merasa sedikit terpojok. "Oke, oke. Aku bertemu dengan seseorang, Edo. Aku tidak tahu, dia sangat spesial."
Edo tertawa, "Wah, akhirnya! Aku sudah menunggu ini! Cerita, siapa dia?"
Tuck merasa sedikit malu, tapi dia tahu bahwa dia bisa percaya pada Edo. "Dia bernama Minna, aku bertemu dengannya di kafe kemarin. Dia sangat cantik dan baik."
Edo tersenyum, "Wah, keren! Aku ingin tahu lebih banyak tentang dia. Kamu harus cerita lebih lanjut saat makan siang, ya?"
Tuck tersenyum, "Baiklah, Edo. Aku akan cerita lebih lanjut."
Edo adalah teman baik Tuck sejak kuliah, dan Tuck tahu bahwa dia bisa percaya pada Edo. Edo juga yang merekomendasikan Tuck untuk bekerja di perusahaan ini, dan Tuck sangat berterima kasih atas itu.
Edo mengingatkan Tuck tentang rapat yang akan diadakan setelah jam makan siang. "Hey, Tuck, jangan lupa rapat setelah makan siang, ya? Ini akhir bulan, jadi kita harus siap untuk presentasi laporan."
Tuck menjawab dengan santai, "Tidak masalah, Edo. Aku sudah siap. Aku sudah siapkan bahan presentasi semalam."
Edo tersenyum, "Keren! Aku tahu kamu sudah siap. Dan jangan lupa, setelah rapat ada agenda perkenalan direksi baru. Kamu harus siap untuk membuat kesan yang baik, ya?"
Tuck tersenyum, "Jangan khawatir, Edo. Aku akan berusaha membuat kesan yang baik."
Edo menepuk bahu Tuck, "Aku tahu kamu bisa, Tuck. Aku akan duduk di sebelah kamu saat rapat, jadi jangan ragu untuk bertanya apa saja."
Tuck tersenyum, merasa nyaman dengan Edo sebagai senior dan teman baiknya. "Terima kasih, Edo. Aku siap untuk ini."
Saat jam makan siang Edo mengajak Tuck untuk pergi ke resto langganannya
Tuck tersenyum, "Wah, Edo! Kamu mau memperkenalkan aku dengan calon istrimu? Aku sangat penasaran!"
Edo tersenyum, "Ya, aku ingin kamu bertemu dengan dia. Dia sangat spesial, Tuck. Aku ingin kamu mengenalnya."
Tuck dan Edo berjalan ke resto yang tidak terlalu jauh dari kantor. Saat mereka tiba, Tuck melihat seorang wanita cantik dengan senyum yang manis sedang menyambut mereka.
"Edo, kamu datang!" wanita itu berkata dengan suara yang lembut.
Edo tersenyum, "Ya, aku datang. Aku ingin memperkenalkan kamu dengan teman baikku, Tuck."
Tuck tersenyum, "Halo, senang bertemu dengan kamu."
Wanita itu tersenyum, "Halo, Tuck. Aku Lina. Senang bertemu dengan kamu juga."
Tuck merasa Lina sangat cantik dan ramah, dan dia bisa melihat betapa Edo sangat mencintainya. "Senang bertemu dengan kamu, Lina. Edo sudah banyak bercerita tentang kamu."
Lina tersenyum, "Aku juga sudah banyak mendengar tentang kamu, Tuck. Aku dengar kamu sangat pintar dan baik."
Edo tersenyum, "Ya, Tuck adalah teman baikku. Aku sangat beruntung memiliki dia sebagai teman."
Tuck dan Lina tersenyum, dan Edo merasa sangat bahagia karena bisa memperkenalkan mereka berdua.
Setelah makan siang mereka kembali ke kantor dan bekerja lalu rapat bersama direksi.
Tuck merasa terkejut dan sedikit tidak percaya saat melihat pria yang sama dengan yang dia temui kemarin di kafe, sekarang berdiri di depan ruangan sebagai direksi baru perusahaan.
"Tuck, apa kamu oke?" Edo bertanya, melihat ekspresi Tuck yang berubah.
Tuck mencoba untuk tetap tenang, "Ya, aku oke. Aku hanya... terkejut."
Edo mengangkat alis, "Terkejut? Apa kamu mengenal dia?"
Tuck menggelakkan kepala, "Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya... aku bertemu dengannya kemarin di kafe. Aku tidak tahu dia adalah direksi baru."
Edo tersenyum, "Wah, itu kebetulan! Kamu pasti akan memiliki kesempatan untuk bekerja sama dengan dia sekarang."
Tuck masih merasa sedikit terguncang, tapi dia mencoba untuk fokus pada presentasi yang sedang berlangsung. Dia tidak bisa tidak memikirkan tentang Minna, dan apakah dia juga terkait dengan direksi baru ini.
Daftar bab
3 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








