Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kultivator Paket Bintang 5

Kultivator Paket Bintang 5

Kim Chi | Bersambung
Jumlah kata
53.4K
Popular
574
Subscribe
252
Novel / Kultivator Paket Bintang 5
Kultivator Paket Bintang 5

Kultivator Paket Bintang 5

Kim Chi| Bersambung
Jumlah Kata
53.4K
Popular
574
Subscribe
252
Sinopsis
18+FantasiSci-FiDunia Masa DepanSistemHarem
Hanya seorang kurir paket, Arka terbiasa menerima makian lebih banyak daripada uang tip." Hidup Arka berada di titik terendah: motornya rusak, ratingnya anjlok, dan ia baru saja dipermalukan di depan umum oleh seorang pria kaya. Namun, sebuah paket misterius yang ia antar ke alamat 'gaib' membangkitkan Sistem Kultivasi Bintang Lima. Kini, setiap bintang lima yang ia dapatkan bukan sekadar angka digital, melainkan poin untuk memurnikan tubuhnya menjadi sempurna dan kekuatannya menjadi tak tertandingi. Dunia modern yang ia kenal ternyata menyimpan sisi gelap; ada kultivator yang bersembunyi di balik kemegahan gedung pencakar langit. Saat Arka menyelamatkan Clarissa Orlin, pewaris tunggal Orlin Group yang dingin dan berkuasa, takdirnya berubah total. Dari seorang pengantar paket, Arka naik menjadi sosok misterius yang membuat bidadari-bidadari kota—mulai dari dokter jenius hingga selebgram papan atas—bertekuk lutut. "Paket Anda sudah sampai, Nona. Apakah saya bisa mendapatkan rating bintang lima... dan hatimu?"
Bab 1_Bintang Satu dan Kotak Hitam Misterius

​Terik matahari Jakarta siang itu terasa seperti membakar kulit. Arka menyeka keringat yang mengucur deras ke matanya dengan lengan baju seragam kurirnya yang sudah kusam dan berbau asap knalpot.

​"Maaf, Pak. Ban motor saya tadi bocor di jalan, jadi paketnya agak terla—"

PLAK!

​Kalimat Arka terputus saat sebuah paket kotak sepatu dilemparkan tepat ke dadanya. Pria di hadapannya, seorang pemuda klimis dengan jam tangan emas yang berkilau, menatap Arka dengan tatapan jijik.

​"Terlambat lima belas menit itu artinya sampah, tahu nggak?! Ini sepatu mahal! Kalau sampai acara saya berantakan gara-gara kurir dekil kayak kamu, apa kamu sanggup ganti?" maki pria itu.

​Arka menunduk, tangannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih. "Sekali lagi saya minta maaf, Pak..."

​"Nggak perlu maaf. Saya sudah kasih kamu rating Bintang Satu dan laporan resmi ke kantor kamu. Sekarang, pergi dari rumah saya! Bau keringat kamu bikin mual!"

​Arka berjalan lunglai kembali ke motor bebeknya yang butut. Benar saja, di layar ponselnya yang retak, notifikasi masuk: Rating Anda turun drastis. Akun Anda dalam penangguhan sementara.

​"Sial..." gumam Arka. Air mata hampir menetes, tapi ia tahan. Hidupnya sudah cukup hancur sejak kecelakaan dua tahun lalu yang merenggut orang tuanya dan meninggalkan bekas luka di harga dirinya.

​Tiba-tiba, sebuah notifikasi aneh muncul di aplikasi kurirnya. Berwarna hitam pekat, bukan hijau seperti biasanya.

​[Misi Darurat: Antar Paket Rahasia ke Sektor 0. Imbalan: Tak Terbatas.].

​Alamatnya berada di sebuah gudang tua di pinggiran kota yang bahkan tidak muncul di Google Maps. Tanpa pikir panjang, karena merasa tidak ada lagi yang bisa hilang dari hidupnya, Arka memacu motornya menembus kemacetan.

​Sesampainya di sana, gudang itu tampak kosong dan gelap. Di tengah ruangan, terdapat sebuah kotak hitam kecil yang memancarkan aura dingin yang menusuk tulang. Saat Arka mendekat dan menyentuh kotak itu untuk mengambil label alamatnya...

BZZZZZT!

​Aliran listrik jutaan volt seakan menyengat seluruh sarafnya. Arka terjatuh, mengerang kesakitan saat merasakan tulang-tulangnya seperti dipatahkan dan disusun ulang. Kulitnya yang kusam mulai mengelupas, digantikan oleh lapisan kulit baru yang sehalus porselen namun sekeras baja.

​Sebuah suara mekanis yang dingin bergema di dalam kepalanya:

​[Sistem Kultivasi Bintang Lima Diaktifkan...]

[Sinkronisasi Tubuh Dewa Penelan Asmara: 100%]

[Bonus Pembersihan Tubuh: Ketampanan +50, Kekuatan Fisik +100]

[Misi Utama Dimulai: Antarkan paket pertama Anda kepada Clarissa Orlin dan dapatkan Rating Bintang Lima pertama Anda.]

​Arka perlahan bangkit. Dia melihat pantulan dirinya di genangan air lantai gudang. Dia tertegun. Pria di dalam pantulan itu bukan lagi Arka yang kusam dan menyedihkan. Pria itu memiliki rahang tegas, mata tajam sebiru samudra, dan aura yang bisa membuat siapa pun menahan napas.

​Arka mengepalkan tangannya, merasakan kekuatan yang luar biasa mengalir di nadinya.

​"Permainan baru saja dimulai," bisiknya dengan suara yang kini terdengar berat dan penuh wibawa.

Arka Danuarta menarik napas panjang. Udara yang ia hirup kini terasa lebih murni, seolah paru-parunya baru saja ditingkatkan menjadi mesin penyaring udara paling canggih di dunia. Setiap jengkal tubuhnya berdenyut dengan kekuatan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Penindasan yang ia terima selama bertahun-tahun seolah luntur bersama kulit lamanya yang kini mengelupas di lantai gudang.

​[Tugas Aktif: Kirimkan Paket Rahasia ke Orlin Tower.]

[Sisa Waktu: 55 Menit.]

​Arka menunduk, menatap kotak hitam kecil yang kini bercahaya redup di tangannya. Kotak inilah yang mengubah takdirnya. Tanpa membuang waktu, ia melangkah keluar dari gudang tua tersebut. Namun, saat ia melihat motor bebeknya yang butut, sebuah keraguan muncul. Bagaimana mungkin sosok dengan aura seperti dewa ini mengendarai motor yang knalpotnya hampir lepas?

​Tiba-tiba, Sistem kembali memberikan notifikasi di sudut matanya:

[Mendeteksi ketidaksesuaian sarana transportasi. Memulai asimilasi kendaraan...]

​ Dalam sekejap, motor bebek karatan itu diselimuti cahaya hitam. Logam-logam tua itu berderit, menyatu kembali, dan berubah bentuk menjadi sebuah motor hyper-sport berwarna hitam matte yang tampak seperti datang dari masa depan. Tidak ada merek, hanya desain aerodinamis yang tajam dan mematikan.

​Arka Danuarta tersenyum tipis. Ia menaiki motor itu dan memacu gasnya. Suara mesinnya bukan lagi suara "brem-brem" yang menyedihkan, melainkan raungan halus namun bertenaga yang mampu menggetarkan aspal jalanan. Ia membelah kemacetan Jakarta dengan kecepatan yang mustahil dilakukan manusia biasa. Refleksnya kini begitu tajam; ia bisa melihat pergerakan mobil-mobil di depannya dalam gerak lambat.

​Kedatangan di Orlin Tower

​Gedung Orlin Tower berdiri megah di pusat distrik bisnis Jakarta, sebuah monolit kaca yang melambangkan kekuasaan absolut keluarga Orlin. Arka menghentikan motornya tepat di depan lobi utama, tempat yang biasanya terlarang bagi kurir kelas teri.

​"Hei! Kurir dilarang berhenti di sini! Gunakan pintu belakang!" teriak seorang petugas keamanan berbadan tegap.

​Arka Danuarta turun dari motornya dan melepas helm. Seketika, suasana lobi yang ramai menjadi sunyi senyap. Petugas keamanan yang tadinya ingin membentak, mendadak membeku. Ia melihat seorang pria dengan wajah yang begitu tampan dan aura yang begitu menekan, hingga ia merasa seolah-olah sedang berdiri di depan seorang kaisar yang sedang menyamar.

​"Saya ada pengantaran untuk Nona Clarissa Orlin," ucap Arka Danuarta. Suaranya yang berat dan penuh wibawa membuat sang petugas refleks membungkuk hormat tanpa berani meminta kartu identitas.

​"S-silakan, Tuan. Lift VIP ada di sebelah sana. Biar saya yang menjaga motor Anda," ucap petugas itu dengan suara bergetar.

​Arka melangkah masuk ke dalam lift emas yang melesat menuju lantai penthouse. Di dalam lift, ia melihat bayangan dirinya di pintu cermin. Arka Danuarta yang dulu sering dihina oleh Rendy—pemuda klimis berjam tangan emas tadi pagi—kini telah tiada. Yang ada hanyalah pemangsa yang siap mengambil kembali harga dirinya.

​Pertemuan dengan Sang Ratu Es

​Pintu lift terbuka, memperlihatkan sebuah ruangan kantor yang sangat luas dengan pemandangan kota 360 derajat. Di ujung ruangan, seorang wanita cantik dengan rambut hitam tergerai sedang berdiri menatap jendela. Clarissa Orlin. Ia dikenal sebagai "Ratu Es" karena sifatnya yang dingin dan tak tersentuh.

​"Sudah kubilang pada sekretarisku, aku tidak ingin diganggu oleh siapa pun saat ini," ucap Clarissa tanpa menoleh. Suaranya jernih namun penuh dengan nada kelelahan.

​"Tugas saya hanya mengantar paket ini, Nona Clarissa," balas Arka tenang.

​Clarissa berbalik dengan cepat, berniat memarahi siapapun yang berani melanggar perintahnya. Namun, saat matanya bertemu dengan mata biru samudra milik Arka Danuarta, ia tertegun. Jantungnya yang biasanya sedingin es, tiba-tiba berdegup kencang secara tidak wajar. Ia terpaku melihat ketampanan pria di hadapannya yang terasa begitu magis.

​"Siapa kau? Dan paket apa itu?" tanya Clarissa, mencoba menenangkan suaranya yang sedikit bergetar.

​Arka meletakkan kotak hitam itu di atas meja marmer Clarissa. "Sesuatu yang Anda butuhkan untuk memenangkan perang di perusahaan ini."

​Clarissa ragu sejenak, namun ia perlahan membuka kotak tersebut. Begitu tutupnya terbuka, sebuah cahaya biru keluar, memperlihatkan sebuah chip data kuno yang berisi bukti konspirasi dewan direksi yang ingin menjatuhkannya. Mata Clarissa membelalak. Ini adalah penyelamat hidupnya.

​"Bagaimana kau bisa mendapatkan ini?!" Clarissa menatap Arka dengan penuh rasa syukur dan ketertarikan yang mendalam. "Apa yang kau inginkan sebagai imbalan? Uang? Jabatan?"

​Arka Danuarta menggeleng pelan. Ia melangkah mendekat, membuat Clarissa secara refleks mundur hingga punggungnya menyentuh meja. Arka menatapnya dalam-dalam.

​"Saya hanya butuh satu hal," ucap Arka pelan namun tegas. "Berikan saya rating Bintang Lima yang paling tulus di aplikasi saya."

​Clarissa terperangah. Pria luar biasa ini, yang baru saja menyelamatkan kerajaannya, hanya meminta rating bintang lima? Tanpa berpikir panjang, Clarissa mengambil ponsel Arka dan memberikan rating tertinggi dengan ulasan: "Pria paling misterius dan hebat yang pernah kutemui."

​[DING!]

[Misi Selesai: Rating Bintang Lima Pertama Diterima!]

[Hadiah: Saldo Bank +Rp1.000.000.000 (Satu Miliar Rupiah)]

[Keahlian Baru Terbuka: Mata Dewa (Melihat rahasia dan kelemahan musuh).]

​Arka merasakan sensasi hangat di matanya. Sekarang, saat ia melihat Clarissa, ia bisa melihat data status wanita itu, termasuk tingkat stres dan kesetiaannya.

​"Terima kasih, Nona Clarissa. Perjalanan kita masih panjang," ucap Arka sambil berbalik pergi.

​"Tunggu! Arka Danuarta!" panggil Clarissa, ia baru sadar bahwa ia belum tahu banyak tentang pria ini. "Siapa kau sebenarnya?"

​Arka berhenti di depan lift, menoleh sedikit dengan senyuman yang sanggup meruntuhkan pertahanan wanita mana pun. "Hanya seorang kurir yang sedang memulai permainannya."

​Begitu pintu lift tertutup, Arka mengepalkan tangannya. Ponselnya bergetar, menunjukkan saldo rekening yang kini berisi angka sembilan nol. Ia teringat pada Rendy, pemuda yang tadi pagi menamparnya dengan paket sepatu.

​"Sekarang," bisik Arka Danuarta, "saatnya membalas bintang satu darimu, Rendy. Aku akan memastikan kau kehilangan segalanya, bahkan sebelum kau sempat meminta maaf."

Lanjut membaca
Lanjut membaca