

Hujan mengguyur Jakarta dengan keras malam itu. Abichara Anjasmara mengemudikan mobil Toyota Alphard hitam milik keluarga Wibisono dengan hati-hati, tangan kanannya sesekali menyentuh kotak kue kecil di jok samping. Kue ulang tahun pernikahan. Tiga tahun sudah ia menikah dengan Kayla Ameera, putri tunggal konglomerat Bagaskara Wibisono.
"Tiga tahun..." gumamnya pelan, senyum tipis mengembang di bibirnya yang kering. "Tiga tahun aku jadi suami yang... yang apa sih sebenarnya?"
Lampu merah. Ia berhenti, menatap kotak kue itu lagi. Kue marble kesukaan Kayla, dibeli pakai uang gajinya sebagai supir pribadi keluarga Wibisono. Delapan ratus ribu rupiah. Hampir separuh gaji bulanannya habis hanya untuk kue ini. Tapi tidak apa. Kayla sedang hamil tujuh bulan. Bayinya. Darah dagingnya.
"Semoga dia suka," bisiknya lirih, dadanya menghangat membayangkan senyum istrinya.
Mansion keluarga Wibisono berdiri megah di kawasan elite Menteng. Pagar besi hitam setinggi empat meter, taman luas dengan air mancur marmer, dan bangunan bergaya Eropa klasik tiga lantai yang lebih mirip istana. Abichara parkir mobil di garasi samping, tempat biasanya ia parkir setelah mengantar Bagaskara atau Kayla kemana-mana.
Satpam mengangguk padanya. "Pulang cepat, Mas Abi?"
"Iya, Pak Karso. Ada... ada keperluan sedikit."
Ia masuk lewat pintu samping, pintu khusus untuk pelayan dan supir. Tidak lewat pintu depan. Tidak pernah. Meski ia suami Kayla, semua orang di mansion ini tahu tempatnya. Suami supir. Suami kampungan. Suami yang tidak pantas masuk lewat pintu utama.
Kotak kue di tangannya terasa berat. Atau mungkin hatinya yang berat?
Mansion sepi. Lampu ruang tamu redup. Biasanya pada jam segini, pelayan masih mondar-mandir membereskan piring makan malam. Tapi malam ini sunyi. Terlalu sunyi.
Abichara naik tangga marmer menuju lantai dua. Kakinya melangkah pelan, sepatu kulit murahnya hampir tidak bersuara di permukaan licin. Kamar utama. Kamar yang ia tempati bersama Kayla selama tiga tahun terakhir. Kamar yang sebenarnya terlalu mewah untuk orang seperti dia.
Suara.
Ia berhenti di tengah koridor panjang. Suara... aneh. Seperti... erangan?
Jantungnya berdegup lebih kencang. Kotak kue nyaris terjatuh dari genggamannya.
"Kayla?" bisiknya pelan, langkahnya mempercepat.
Pintu kamar sedikit terbuka. Celah kecil, mungkin hanya selebar lima sentimeter. Tapi cukup. Cukup untuk melihat.
Cukup untuk menghancurkan dunianya.
Kayla Ameera. Istrinya. Wanita yang ia cintai sejak pertama kali mereka bertemu empat tahun lalu di klinik tempatnya bekerja paruh waktu sebagai petugas kebersihan. Wanita berkulit putih mulus, rambut hitam panjang berkilau, mata cokelat tajam yang selalu membuatnya merasa kecil. Wanita yang sekarang sedang telanjang bulat, menunggangi tubuh pria lain di atas ranjang sutra merah mewah mereka.
Tubuh Dr. Arjuna Wiradharma.
Sahabatnya. Sahabat karibnya sejak mereka sama-sama kerja di rumah sakit lima tahun lalu. Pria yang selalu ia anggap seperti kakak sendiri.
Kotak kue jatuh.
Bunyi "duk" pelan.
Tapi cukup keras di keheningan malam.
Kayla menoleh. Matanya bertemu mata Abichara. Tidak ada kejutan di sana. Tidak ada rasa bersalah. Hanya... tatapan dingin. Seperti menatap serangga yang menjijikkan.
"Oh, kau pulang?" suara Kayla datar, napasnya masih tersengal-sengal. Tubuhnya masih menempel pada Arjuna, tidak bergerak untuk menutupi apa pun. "Tumben cepat. Biasanya kan kau nongkrong di warung kopi murahan itu sampai malam."
Abichara tidak bisa bicara. Tenggorokannya tersumbat. Dadanya seperti diremas oleh kepalan tangan besi.
Dr. Arjuna mengangkat wajahnya, senyum tipis mengembang di bibirnya yang basah. "Abi... maaf ya, bro. Tapi... ya begini lah."
"A... apa..." suara Abichara serak, nyaris tidak keluar. "Apa yang... kalian..."
Kayla turun dari tubuh Arjuna dengan gerakan malas, berjalan telanjang menuju lemari, mengambil kimono sutra putih dan memakainya dengan santai. Perutnya yang membuncit tujuh bulan terlihat jelas.
"Kau mau tahu apa, sayang?" nada bicaranya penuh ejekan. "Mau tahu kenapa aku tidur dengan Arjuna? Atau mau tahu kenapa aku tidak pernah menolak sentuhan menjijikkanmu selama tiga tahun ini?"
Abichara melangkah masuk, tangannya bergetar hebat. "Kayla... kau... kau sedang hamil... bayiku..."
Tawa.
Kayla tertawa. Keras. Nyaring. Seperti mendengar lelucon paling konyol sedunia.
"Bayimu?" ia berjalan mendekat, mata coklatnya menatap Abichara dengan tatapan yang begitu... meremehkan. "Kau benar-benar bodoh, ya? Kau pikir aku akan membiarkan darah miskinmu mengalir di tubuh anakku?"
Tamparan.
Satu kalimat yang lebih menyakitkan dari seribu pukulan.
"Bayi ini..." Kayla mengelus perutnya dengan lembut, senyum manis mengembang, "...milik Arjuna. Bukan milikmu. Tidak akan pernah."
Dunia berputar.
Abichara mundur selangkah, punggungnya menabrak kusen pintu. Napasnya tercekat. Matanya memanas, tapi tidak ada air mata yang keluar. Hanya... kosong. Hampa.
Dr. Arjuna bangkit dari ranjang, memakai celana panjangnya dengan santai. "Abi, dengarin gue baik-baik ya. Lo itu cuma... boneka. Mainan. Sejak awal lo cuma alat buat nutupin aib Kayla yang hamil duluan. Keluarga Wibisono butuh suami dadakan buat anaknya. Lo kebetulan ada di sana. Miskin. Bodoh. Gampang diatur."
"Arjun..." suara Abichara bergetar, "...kita... kita sahabat..."
"Sahabat?" Arjuna tersenyum sinis. "Gue cuma kasian sama lo dulu, Bi. Lo kuli pembersih lantai rumah sakit, gue dokter spesialis. Beda kasta. Lo pikir gue anggap lo sahabat beneran?"
Setiap kata seperti pisau yang menusuk jantung Abichara.
"Tapi... tapi kenapa..." Abichara menatap Kayla, matanya memerah, "...kenapa kau nikah sama aku kalau... kalau..."
Kayla melipat tangan di depan dada, kepalanya sedikit miring. "Karena papaku butuh seseorang yang bisa dikendalikan. Seseorang yang tidak akan berani melawan. Seseorang yang akan tutup mulut dan terima nasib. Kau sempurna, Abi. Supir kampungan tanpa keluarga, tanpa pendidikan, tanpa apa-apa. Mudah dibeli. Mudah dibuang."
"Aku... aku mencintaimu..." suara Abichara hampir berbisik, tangannya terkepal erat di sisi tubuh, "...aku... aku bekerja keras... aku..."
"Cinta?" Kayla tertawa lagi, kali ini lebih keras. "Kau pikir aku peduli dengan cintamu? Kau pikir perasaanmu ada harganya? Lihat sekelilingmu, Abi. Lihat kamar ini. Lihat mansion ini. Ini duniaku. Dunia orang kaya. Kau? Kau bukan siapa-siapa."
Pintu kamar terbuka lebar.
Empat orang pria berbadan besar masuk. Bodyguard keluarga Wibisono. Semuanya menatap Abichara dengan tatapan dingin.