Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pengawal Selir dari Masa Depan

Pengawal Selir dari Masa Depan

Author Jawir | Bersambung
Jumlah kata
30.5K
Popular
161
Subscribe
63
Novel / Pengawal Selir dari Masa Depan
Pengawal Selir dari Masa Depan

Pengawal Selir dari Masa Depan

Author Jawir| Bersambung
Jumlah Kata
30.5K
Popular
161
Subscribe
63
Sinopsis
18+FantasiFantasi TimurPedangRajaPerang
Joko Austin Jesyem, seorang pemuda blasteran Jawa Amerika harus ke masa lalu akibat pistol temannya yang bernama Broto. Akibatnya, Joko terdampar di sebuah kerajaan Jawa kuno dan menjadi seorang pengawal Selir kesayangan Raja yang mana selir tersebut sangat menyukainya. Setiap hari harus bertaruh nyawa karena selir kesayangannya teramat sayang dan selalu menggoda. Bagaimana cara Joko mempertahankan hidupnya sedangkan Sang Raja mulai mencurigai sikap selirnya? Yuk baca.. .
1. Ke Masa Lampai

"Berhasil, yes!" ungkap Joko saat ia berhasil menciptakan penemuannya mengenai ramuan yang dapat menumbuhkan rambut lebih cepat. Teman-temannya mendekat dan memberikan selamat.

"Mari kita praktekkan," sahut Reno sambil membawa seekor kucing anggora yang telah digunduli. "Ayo teteskan!"

Joko pun meneteskan satu tetes ramuan di atas kepala kucing anggora tersebut. Suatu keajaiban terjadi dan tiba-tiba tumbuhlah rambut si kucing anggora sepanjang 5 cm. Semua terpesona melihat keberhasilan Joko meski ada satu orang yang tampaknya tidak suka.

Di ruang terbuka, semua penemuan pun diperlihatkan termasuk milik Joko dan yang lainnya. Semua istimewa dengan keunikannya masing-masing. Universitas tersebut memang sangat terkenal.

Setelah acara selesai, Joko ke toilet. Di lorong, seseorang telah menunggu. Ia adalah Broto , teman satu kelasnya. Dengan sengaja Broto menembakkan pistol hasil temuannya itu sehingga menyebabkan Joko terjatuh.

Dan ternyata pistol itu dapat mengantarkan Joko ke masa lalu beberapa ratus tahun silam.

.

Joko terbangun.

"Aduh, pusing sekali rasanya. Kepalaku seperti kepentok batu," ujar Joko saat terbangun dari tidurnya. Dan kaget saat bangun, ia mendapati dirinya berada di sebuah ruangan semacam bilik dan ranjangnya dikelilingi kelambu berwarna putih yang terbang oleh angin.

"Astaga, di mana aku?" gumamnya kaget. Namun tiba-tiba ada seorang wanita dengan pakaian mirip wanita zaman dahulu menggunakan kemben dan kain. Wanita itu membawa nampan dan segelas air yang terbuat dari tanah liat.

"Kamu siapa?" tanya Joko tak dapat menyembunyikan kekagetannya. Dan yang lebih kaget lagi, ia menggunakan pakaian kuno seperti pakaian seorang prajurit di jaman kerajaan.

"Tuan sudah bangun?"

"Tuan?"

"Iya, Tuan sudah bangun? Tadi soalnya Tuan kecebur sungai di hutan dan pingsan."

"Hah?!" Joko melongo, padahal sama sekali ia tidak ke hutan.

"Tuan, minumlah ramuan ini. Ini khusus buat Tuan dari Ratu." Wanita itu memberikan cangkir yang terbuat dari tanah liat kepada Joko. Karena terlalu pusing, Joko mengambil dan meminumnya.

"Pahit!"

"Itu memang ramuan khusus, Tuan."

Dan memang setelah minum ramuan itu, Joko merasa badannya lebih segar dan sedikit demi sedikit pusingnya menjadi hilang.

Setelah memberikan ramuan itu, wanita itu pun meninggalkan bilik.

Tak lama seorang wanita cantik menggunakan gaun berwarna biru muda dengan rambut tergerai panjang, datang dengan senyuman paling manis mendekati Si Joko.

"Kok mirip Rere," gumamnya. "Re, lu ngapain?"

"Aku bukan Rere," balas wanita itu dengan senyum mengembang lalu mendekati Joko dan duduk di sisi ranjang sembari membelainya.

"Sayang, syukurlah kamu tidak apa-apa, aku sangat khawatir. Di sini kamu aman."

"Aman?" Joko benar tidak mengerti dengan ini.

Wanita itu tersenyum lembut. Tangannya masih membelai rambut Joko yang kini terikat rapi seperti prajurit kerajaan.

“Tentu aman. Kau adalah pengawalku. Selama aku masih menginginkanmu di sisiku, tak seorang pun berani menyentuhmu.”

Pengawal? Joko masih tak mengerti.

"Iya, kamu adalah pengawalku, pengawal paling setia," ungkapnya membuat kepala Joko makin pening.

Ia pun menunduk dan memperhatikan pakaiannya ia terperanjat.

"Astaga!" teriaknya.

"Rompi kulit, sabuk dengan sarung keris, kain panjang yang dililitkan gagah di pinggang. Tunggu, pakaian macam apa ini?" tanyanya penuh penasaran.

Ia melihat lagi, dan tubuhnya terasa lebih kekar. Bahkan ada bekas luka tipis di lengannya.

"Ini bukan mimpi, kan?" ungkap Joko sambil menepuk pipinya membuat sang Ratu menggelengkan kepalanya.

“Siapa sebenarnya kamu?” tanya Joko hati-hati.

Wanita itu terkekeh pelan, seolah pertanyaan itu menggelikan.

“Kamu berarti belum sepenuhnya sembuh dan masih linglung.” Wanita cantik itu mendekat, wajahnya hanya sejengkal dari wajah Joko. Harumnya menguar membangkitkan sisi kelelakiannya, “Aku Selir Larasati. Kesayangan Raja.”

Deg!

Joko spontan mundur hingga punggungnya menempel ke kepala ranjang.

"Selir Raja? edan, aku ada di jaman kerajaan?!" bisik Joko yang mulai sadar akan keadaannya.

"Iya, masak kamu lupa?"

“Tu-tunggu, selir raja?”

Larasati mengangkat alisnya dengan tatapan yang tajam. Hal itu justru mengandung sesuatu yang lain. Sesuatu yang membahayakan.

“Aku tidak ingat apa-apa,” jawab Joko jujur. Mata Larasati menyipit, meneliti wajah Joko.

“Kecebur sungai ternyata membuatmu lupa ingatan.”

Tiba-tiba ia menyentuh dada Joko, tepat di atas jantungnya membuat Jantung pemuda itu berdesir. Keringat dingin mengucur.

“Jangan lupa satu hal saja, kamu milikku!”

Jantung Joko berdegup keras.

Miliknya?!

Belum sempat ia mencerna ucapan itu, suara langkah kaki terdengar dari luar bilik.

“Yang Mulia Raja akan segera segera tiba!" teriak seseorang dari luar.

Tubuh Larasati menegang. Senyum manisnya seketika berubah serius.

“Dengarkan aku baik-baik! Kamu milikku, kamu pengawal pribadiku dan kamu setia padaku, kamu tidak banyak bicara, kamu pendiam, paham?" bisiknya cepat.

“Hah? Tapi tadi kamu... .”

“Diam.”

Ia bangkit dengan anggun, lalu sebelum menjauh, ia membungkuk sedikit dan berbisik di telinga Joko.

“Jangan sampai Raja tahu kalau aku menyentuhmu seperti tadi atau kepalamu akan terpisah sebelum matahari tenggelam, paham?"

"Busyet!"

Langkah kaki semakin dekat, Suara berat dan berwibawa terdengar di luar.

“Larasati.”

Joko menelan ludah, Ini bukan tempatnya, ini bukan universitasnya, jika salah langkah, kamu akan benar-benar mati.

Pintu bilik terbuka.

Seorang pria paruh baya berkepala botak menggunakan jubah kebesaran dan mahkota emas kecil di kepalanya, masuk dengan tatapan tajam. Tatapan itu langsung berhenti pada Joko.

“Dia sudah sadar?” tanya sang Raja datar.

“Sudah, Yang Mulia,” jawab Larasati lembut. “Pengawalku memang kuat.”

Raja melangkah mendekat. Tatapannya menelusuri wajah Joko dari ujung kepala sampai kaki.

"Gila, lelaki tua bangka memiliki selir secantik ini, edan ini!" bisik Joko pelan sebelum raja benar-benar mendekat.

Raja terdiam sesaat, Selir memberi kode. Joko sedikit mengingat sesuatu lalu reflek ia membungkuk.

"A-ampun, Raja," ucap Joko menunduk.

"Kamu belum sepenuhnya sadar, aku ampuni kamu. Lain kali jika bertemu denganku, kamu harus hormat."

"Siap, Raja!" balas Joko membungkuk kembali. Sang Raja masih meneliti seluruh tubuh Joko.

“Menarik,” gumamnya.

Joko merasakan hawa dingin menjalar di tengkuknya.

"Besok akan ada seleksi pengawal utama istana. Aku ingin melihat apakah kamu layak menjaga selir kesayanganku, atau kepalamu terpisah!"

Joko mendelik. Suasana menjadi hening. Joko membeku, ia berpikir, apakah mampu menjadi pengawal utama?

Raja berbalik meninggalkan bilik itu. Begitu langkahnya menjauh, Larasati menoleh pada Joko dengan tatapan yang tak bisa ia baca.

"Joko, aku heran denganmu. Sebelum kecebur sungai di hutan, kamu adalah prajurit tangguh!"

"Aku butuh waktu untuk menyadarkan pikiranku," ujar Joko.

"Oke," ujar Larasati lalu keluar bilik.

Joko ingat, saat di kampus, saat berada di lorong arah toilet, Broto menembaknya dengan pistol sehingga terlempar ke sini.

Peluru itu membawanya ke takdir yang lain. Dan besok, jika gagal, maka namaku akan tercatat dalam sejarah, bukan sebagai pahlawan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca