

“Jadi, konsep kami menekankan kesan baru yang segar, relevan untuk pasar muda.”
Aku berdiri di depan layar, menjelaskan slide satu per satu. Ruang meeting perusahaan klien terasa dingin dan terlalu tenang. Di seberang meja, beberapa orang dari tim marketing mengangguk, mencatat, terlihat tertarik.
Diana duduk di antara mereka.
“Ini fresh,” katanya. “Brand kita memang butuh pendekatan baru.”
Aku tersenyum tipis ke arahnya. Tunanganku. Marketing senior yang secara tidak langsung membuatku berdiri di ruangan ini. Dialah yang merekomendasikan agensiku setelah CEO-nya bosan dengan vendor lama.
“Kalau soal timeline produksi, kami bisa mulai dalam tiga sampai lima hari,” lanjutku. “Full campaign, digital dan offline.”
Pertanyaan tentang budget dan target audience menyusul. Aku menjawab semuanya otomatis. Sudah terlalu sering melakukan ini tanpa gugup.
Presentasi selesai. Beberapa orang terlihat puas.
“Kami akan diskusikan ini di rapat internal,” kata salah satu dari mereka sambil berdiri.
Aku menjabat tangannya. “Baik. Kami tunggu kabar selanjutnya.”
Diana menepuk lenganku pelan saat semua orang mulai berkemas.
“Good job. Aku yakin konsepmu bakal disukai.”
Aku tersenyum.
“Kalau bukan karena kamu, mungkin aku nggak sampai di sini.”
“Jangan senang dulu,” katanya. “Ibu Bos belum lihat langsung.”
“Sudah sampai tahap ini aja sudah bagus,” jawabku ringan. “Lima puluh persen lagi deal.”
Diana tersenyum.
“Kita makan malam yuk,” kataku kemudian. “Aku penasaran seperti apa Bos kamu. Biar siap kalau harus ketemu.”
“Tapi kamu yang traktir,” pintanya.
“Ini aja belum tentu deal…” candaku.
“Ih, pelit,” rajuknya.
“Bercanda, sayang.”
Aku bertemu Diana pertama kali di halte bus, malam hari, hujan deras. Dia berdiri sendirian, basah kuyup. Aku sudah sering melihatnya sebelumnya, tapi tak pernah menyapa. Malam itu aku sempat melewatinya, lalu memutar balik.
Dia sempat mengira aku pria mesum. Wajar. Tapi akhirnya naik juga, mungkin karena lebih takut sendirian di tengah malam yang hujan lebat. Aku mengantarnya sampai rumah tanpa menyentuhnya. Kami bertukar nomor. Setelah itu, semuanya mengalir begitu saja.
Setelah terlalu lama menyandang gelar jomblo akut, aku melamarnya. Diana menerima. Aku tidak pernah kurang ajar padanya. Aku menghormatinya. Aku menjaganya. Rencananya tahun depan kami menikah.
Diana manja, anak bungsu, terbiasa dipenuhi keinginannya. Kadang menyebalkan, sering merajuk bahkan di tempat umum. Tapi aku selalu berpikir, nanti kalau sudah jadi istri, mungkin dia akan berubah.
Dia manis, girly, feminin hampir seperti anak kecil dalam tubuh perempuan dewasa.
Sangat berbeda dengan wanita yang kukagumi di masa lalu.
Wanita itu dewasa, keibuan, dan melindungiku tanpa pernah membuatku merasa kecil. Di kakinya aku bisa bertekuk lutut menyerahkan seluruh jiwaku.
Masalahnya, dia ibu sahabatku sendiri.
Aku mengenal sahabatku sejak SD. Saat itu cuma kagum. Kagum pada ibunya yang cantik, tegas, dan single mom. Kagum saat ia membelaku di depan orang tuaku. Kagum karena masakannya selalu jadi favoritku.
Belum cinta. Hanya kagum.
Sampai mereka pindah ke luar negeri karena ibunya menikah lagi. Saat itu aku menangis, bukan karena kehilangan sahabat, tapi karena kehilangan satu-satunya wanita yang pernah membuatku merasa aman tanpa syarat.
Jika dibandingkan, Diana dan wanita itu seperti kutub utara dan selatan.
Mungkin aku memilih Diana karena bersamanya aku merasa superior. Sedangkan dengan wanita itu, aku selalu merasa ingin pulang.
Malamnya aku menjemput Diana di depan kantornya, mau makan malam sambil ingin tahu bagaimana bigbosnya. Setidaknya saat bertemu nanti, aku sudah siap.
Di meja makan, sambil makan aku bertanya sedikit dan Diana menceritakannya banyak hal.
“Eh, kamu tahu nggak, Bos aku itu cantik banget,” katanya sambil menyeruput minumannya. “Padahal umurnya sudah empat puluhan.”
Aku cuma mengangguk sambil fokus ke makananku sendiri.
“Namanya Ibu Mariana. CEO, owner juga, tapi kelihatan kayak umur tiga puluhan. Cowok-cowok kantor aja banyak yang naksir.”
“Wah cantik banget dong itu,” jawabku datar.
“Serius. Aku aja kadang iri. Mandiri, kaya, pinter, tapi nggak mau pacaran sama siapa pun. Dia role modelku banget, Mas...”
Aku tersenyum tipis.
“Nggak mau pacaran? Trauma mungkin?”
“Mungkin... denger-denger sih pernah gagal nikah.”
Entah kenapa, aku jadi teringat lagi pada wanita idamanku itu. Dia cantik, mandiri, dan pintar juga. Waktu itu belum kaya, biasa saja tapi aku selalu merasa suatu hari dia pasti sukses karena dia setangguh itu.
Saat aku SMA, dia sempat kembali ke Indonesia. Tinggal lagi di rumah mantan suaminya yang sudah meninggal, ayah dari sahabatku. Dia mulai usaha kecil-kecilan... kue, cokelat, brownies, cheesecake. Semuanya enak, semuanya laris. Aku dan sahabatku sering membantu jualan, sekadar antar pesanan atau jaga di rumah. Aku melakukannya dengan senang hati, ikhlas tanpa bayaran. Tapi dia selalu memberiku upah, tak seberapa, cukup buat jajan bakso saja sudah sangat senang.
Di kelas sebelas, aku mulai jatuh cinta sama dia. Nggak bisa tidur, dan selalu memikirkannya. Tentu saja sahabatku tidak tahu. Kalau sampai tahu, mungkin aku sudah dihajar habis-habisan waktu itu. Tapi jelas ini cinta tak sampai. Aku tidak pernah berani mengatakan perasaanku padanya. Aku hanya berusaha ada untuk dia. Disuruh ke pasar, belanja stok, mengantar dia kemana-mana, menemaninya ngobrol kalau lagi bikin kue atau membantunya mengadon. Tunggu, ini inisiatifku sendiri. Sebenarnya dia menyuruh anaknya, tapi sahabatku ini sering melemparnya ke aku, dan ini kesempatanku untuk dekat-dekat sama dia.
Aku tidak pernah pacaran sejak dia pergi lagi, pindah kota karena rumah itu harus dijual. Kami berpisah lagi setelah lulus SMA. Dia berpesan padaku untuk belajar yang rajin, kejar cita-cita setinggi langit, dan jangan pernah sedih. Katanya, banyak yang sayang sama aku... termasuk dia. Ih, aku senang banget saat dia bilang itu. Aku selalu ingat pesannya itu, dan kubawa sampai sekarang.
Aku pikir, waktu bisa menyembuhkan cinta yang bertepuk sebelah tangan tapi nyatanya tidak. Rasa itu masih ada, hanya karena tak mungkin saja akhirnya mengubur rasa itu dalam-dalam. Aku berharap, dia baik-baik saja di tempatnya sekarang. Ya ampun, aku merindukannya...
“Ih, Mas dengar nggak sih ceritaku? Malah diam, mana senyum-senyum sendiri...” suara Diana membuyarkan pikiranku.
“I-iya dengar, aku lagi nyimak kok...”
“Terus kenapa tadi senyum-senyum, kan nggak ada yang lucu...” ujarnya sambil cemberut.
“Enggak, Mas hanya tiba-tiba ingat sesuatu aja.”
Diana masih manyun aja, aku cuma mendesah karena tahu ngambeknya bisa lama. Tapi aku tahu kelemahannya, tinggal dibeliin kue kesukaan dia... bakal cair lagi moodnya.
Setelah makan malam, aku mengantar Diana pulang ke rumahnya. Kami berpisah di dalam mobil. Diana mengecup pipiku sebelum turun, lalu melambaikan tangan sambil tersenyum.
Bahkan setelah masuk rumah, ia masih sempat mengintip dari balik gorden di samping pintu.
Aku melambaikan tangan lalu pergi dari sana. Diana terlalu bucin sama aku, dan kadang itu membuatku terkekang.
***