

Aula Grand Diamond malam itu bersinar terang oleh lampu gantung kristal, yang harganya setara dengan biaya makan Arkan selama sepuluh tahun.
Udara di dalam ruangan itu terasa berat, bukan karena kelembapan, melainkan karena aroma parfum mahal yang bercampur dengan keangkuhan yang menyesakkan dada.
Arkan berdiri di sana, di antara pilar-pilar marmer yang dingin, mengenakan seragam pelayan yang sedikit kesempitan di bagian bahunya.
Bagi semua orang yang hadir, Arkan hanyalah furnitur bergerak. Dia adalah bayangan tanpa nama, yang bertugas memastikan gelas-gelas sampanye tetap terisi dan lantai tetap bersih dari noda sekecil apa pun.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik dahi yang tertutup poni rambut kusam itu, sebuah badai sedang berkecamuk.
Sejak usia tujuh tahun, Arkan memiliki 'penyakit' yang ia rahasiakan dari dunia. Terkadang, kepalanya berdenyut seolah-olah ada jarum panas yang menusuk saraf matanya. Dan tepat setelah rasa sakit itu, dunia akan melambat. Waktu akan membeku, dan sebuah proyeksi cahaya perak akan menunjukkan apa yang akan terjadi beberapa detik hingga beberapa menit ke depan.
"Hei, sampah! Berapa lama kau akan berdiri mematung di sana, hahh?" Suara itu memecah lamunan Arkan.
Kevin Pratama, putra mahkota dari Pratama Group, berdiri di depannya dengan seringai yang memuakkan.
Kevin adalah definisi dari keberuntungan kelahiran—tampan, kaya, dan memiliki kekuasaan yang ia gunakan untuk menginjak orang-orang seperti Arkan.
"Maaf, Tuan," suara Arkan rendah, nyaris tak terdengar. Ia mencoba melangkah pergi, namun Kevin menggeser kakinya, sengaja menghalangi jalan Arkan.
"Aku bicara padamu, pecundang! Aku dengar dari orang-orang di kampus bahwa kau tinggal di sebuah gubuk yang bahkan tikus pun enggan masuk. Bagaimana rasanya hidup sebagai parasit? Kau dan orang tua angkatmu itu ... benar-benar pemandangan yang merusak keindahan mata kota ini."
Arkan mengepalkan jemarinya di balik nampan perak yang ia bawa. Penghinaan terhadap dirinya adalah makanan sehari-hari, namun ketika Kevin mulai membawa-bawa nama Pak Baskoro dan Bu Lastri, darahnya mulai mendidih.
Pak Baskoro adalah seorang buruh cuci mobil yang tangannya kasar dan pecah-pecah demi membiayai sekolah Arkan.
Bu Lastri adalah wanita yang rela melewatkan waktu makan agar Arkan bisa memiliki bekal yang layak. Mereka adalah segalanya bagi Arkan.
"Jangan bawa-bawa orang tuaku," desis Arkan.
Kevin tertawa terbahak-bahak, memancing perhatian para sosialita di sekitar mereka.
"Orang tua? Maksudmu pasangan gelandangan yang memungutmu dari selokan? Kau bahkan tidak punya darah mereka. Kau hanyalah barang buangan yang kebetulan dipungut oleh orang yang salah."
Tepat saat itu, serangan itu datang.
Zing!
Dunia mendadak sunyi. Musik klasik yang dimainkan orkestra di panggung terjebak dalam satu nada yang memanjang tanpa akhir. Arkan melihat Kevin dalam wujud transparan berwarna perak.
Kevin dalam visi itu sedang tertawa sambil mengangkat gelas anggur merahnya tinggi-tinggi. Ia akan melangkah mundur dengan sombong, namun tumit sepatu mahalnya akan tergelincir pada sisa tumpahan es krim yang jatuh dari piring seorang tamu beberapa menit lalu.
Ia akan jatuh ke belakang, tepat ke arah menara gelas sampanye yang disusun setinggi dua meter.
Arkan menarik napas panjang. Rasa sakit di kepalanya mulai mereda, digantikan oleh ketenangan yang dingin. Dalam hitungan mundur yang hanya ia yang tahu, takdir akan bermain.
"Kau tahu, Kevin," Arkan berbicara dengan nada yang tiba-tiba berubah, tidak lagi rendah dan takut.
"Masa depan terkadang tidak berpihak pada mereka yang sombong. Mungkin dalam sepuluh detik, kau akan menyadari bahwa jas mahalmu itu tidak bisa melindungimu dari rasa malu."
"Apa kau bilang? Kau berani mengancamku?!" Kevin maju satu langkah, wajahnya memerah karena amarah.
Ia bersiap untuk menampar Arkan, namun ia memilih untuk mundur sejenak guna mengambil ancang-ancang agar tamparannya lebih keras.
Satu... dua... tiga...
Kaki Kevin menginjak noda lengket di lantai marmer. Keseimbangannya hilang seketika. Kedua tangannya menggapai udara dengan liar, mencoba mencari pegangan.
Sial baginya, satu-satunya hal yang bisa ia raih adalah ujung taplak meja tempat menara gelas kristal berada.
PRANGGG!
Suara pecahan kaca yang memekakkan telinga memenuhi aula. Kevin terjerembap dengan posisi yang sangat memalukan—telentang di atas lantai yang basah oleh anggur mahal, dengan potongan-potongan kaca yang berserakan di sekelilingnya.
Anggur merah tumpah tepat di atas wajah dan jas putihnya, membuatnya tampak seperti badut yang baru saja disiram darah.
Seluruh ruangan terkesiap. Para wanita menjerit kecil, dan para pria berdiri dengan wajah pucat.
Arkan berdiri hanya satu meter dari sana, tidak setetes pun air atau pecahan kaca yang mengenainya. Ia menatap Kevin dengan tatapan yang sangat datar, seolah-olah ia sedang menatap seekor serangga yang terjepit.
"Sepertinya prediksiku benar," ucap Arkan lirih, hanya cukup didengar oleh Kevin yang sedang merintih kesakitan.
Tanpa menunggu satpam datang, Arkan meletakkan nampannya di atas kursi terdekat dan berjalan keluar melalui pintu belakang. Ia sudah selesai dengan tempat ini. Ia sudah selesai dengan sandiwara sebagai pecundang yang lemah.
Ada sesuatu yang lebih penting yang harus ia urus—rasa tidak enak di hatinya mengenai rumahnya.
Hujan turun dengan begitu deras saat Arkan menempuh perjalanan pulang dengan bus tua yang berderit. Pikirannya melayang pada visi singkat yang ia dapatkan saat keluar dari gedung tadi. Sebuah mobil hitam mewah di depan rumahnya yang reyot.
Rumah Arkan terletak di ujung gang sempit yang becek. Namun malam ini, pemandangan di sana sangat tidak biasa. Dua pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam berdiri tegak di depan pintu kayu rumahnya yang sudah rapuh.
Mereka memegang payung hitam besar, menjaga seseorang yang berada di dalam.
Arkan mempercepat langkahnya, jantungnya berdegup kencang.
Apakah ini penagih hutang? Ataukah Kevin mengirim orang untuk membalas dendam secepat ini?
Saat ia masuk ke dalam, pemandangan di dalam ruang tamu yang sempit itu membuatnya terpaku.
Pak Baskoro, pria tua yang biasanya tegar, terlihat bersujud di atas lantai semen yang dingin. Bu Lastri duduk di kursi kayu satu-satunya, menutupi wajahnya dengan tangan sambil terisak.
Di hadapan mereka, seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih namun memiliki aura otoritas yang luar biasa, berdiri sambil memegang sebuah kotak beludru hitam.
"Bapak, Ibu ... apa yang terjadi?" tanya Arkan dengan nada waspada.
Mendengar suara Arkan, pria asing itu berbalik. Matanya yang tajam menatap Arkan dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah sedang memindai setiap sel dalam tubuh pemuda itu. Sesaat kemudian, pria itu membungkuk dalam-dalam di depan Arkan.
"Kami telah mencari Anda selama delapan belas tahun, Tuan Muda," ucap pria itu dengan suara berat yang bergetar.
Arkan tertegun. "Tuan Muda? Anda salah orang. Saya hanya putra seorang buruh."
Pak Baskoro mendongak, matanya berkaca-kaca. "Tidak, Arkan. Sudah waktunya kau tahu kebenarannya. Kami ... kami bukan orang tuamu. Kami hanyalah pelayan yang ditugaskan oleh ibumu untuk menjagamu di tempat yang paling tidak mungkin ditemukan oleh musuh-musuhnya."
Dunia Arkan seakan runtuh dan dibangun kembali dalam sekejap. Selama ini, ia merasa dikucilkan karena ia miskin. Ternyata, kemiskinannya adalah sebuah perisai. Sebuah penyamaran yang dirancang dengan sangat rapi.
"Ibumu," lanjut pria asing itu, yang ternyata bernama Malik, mantan kepala keamanan di keluarga besar yang namanya bahkan tidak berani disebutkan oleh sembarang orang. "Dia memberikan kami tugas untuk melindungimu dengan nyawa kami. Dia memberikan liontin ini sebagai bukti."
Bu Lastri menyerahkan sebuah liontin emas dengan ukiran phoenix yang sayapnya bertatahkan berlian kecil. Saat Arkan menyentuh liontin itu, sebuah kilatan perak yang paling kuat yang pernah ia rasakan menghantam kesadarannya.
Ia tidak melihat masa depan kali ini. Ia melihat masa lalu.
Ia melihat seorang wanita cantik dengan mata yang sama persis dengannya, sedang berlari di tengah hutan sambil mendekap seorang bayi. Wanita itu menangis, namun wajahnya penuh tekad. Ia menyerahkan bayi itu kepada Pak Baskoro muda dan Bu Lastri, lalu menyerahkan liontin itu.
"Bawa dia pergi! Jangan pernah biarkan mereka tahu dia masih hidup. Biarkan dia tumbuh dalam kesulitan, karena hanya kesulitan yang akan menumbuhkan kekuatannya. Jika saatnya tiba, biarkan matanya yang memandu jalan pulangnya."
Visi itu berakhir dengan suara ledakan di kejauhan. Arkan tersentak kembali ke kenyataan. Napasnya terengah-engah. Kini ia mengerti mengapa ia memiliki kemampuan ini. Ini bukan penyakit. Ini adalah warisan darah.
"Di mana ibu saya sekarang?" tanya Arkan, suaranya kini terdengar lebih berat dan penuh wibawa.
Malik menunduk sedih. "Itulah alasan kami di sini. Beliau menghilang setelah malam itu. Namun, kami menemukan jejak bahwa beliau masih hidup, disekap oleh mereka yang mengudeta posisi keluarga Anda. Kami butuh kemampuan Anda, Tuan Muda. Kami butuh 'Netra Sang Pelopor' untuk menumbangkan mereka."
Arkan menatap tangannya yang kasar karena kerja paksa. Ia melihat ke sekeliling rumah kecil yang selama ini menjadi dunianya. Kemarahan yang selama ini ia tekan kini berubah menjadi bahan bakar yang dingin.
"Mereka menghina saya karena saya tidak punya harta," ucap Arkan pelan sambil mengepalkan tangan. "Mereka mengucilkan saya karena saya tidak punya nama. Sekarang, tunjukkan pada saya siapa mereka. Saya akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik saya, dan saya akan meruntuhkan setiap orang yang pernah membuat ibu saya menangis."
Malam itu, Arkan si pelayan serabutan sudah mati. Yang lahir saat ini adalah seorang pemangsa yang bisa melihat setiap langkah musuhnya sebelum mereka sempat memikirkannya.
"Pak Baskoro, Bu Lastri," Arkan memeluk kedua orang tua angkatnya itu. "Terima kasih telah menjagaku di tempat gelap ini. Sekarang, biarkan aku membawa kalian ke tempat yang seharusnya."
Arkan keluar dari gubuk itu, melangkah menuju mobil mewah yang menunggunya. Hujan masih turun, namun kali ini, air hujan itu seolah membilas semua penderitaan masa lalunya.
Di matanya, kilatan perak bersinar lebih terang dari sebelumnya. Ia melihat sebuah menara tinggi di pusat kota, dan di puncaknya, ia melihat dirinya sendiri berdiri di atas tumpukan kehancuran musuh-musuhnya.
Perjalanan mencari keluarga yang sebenarnya baru saja dimulai. Dan dunia belum siap menghadapi apa yang bisa dilihat oleh mata Arkan.