

Malam di perbatasan Kerajaan Utara selalu terasa lebih dingin dari biasanya, namun bagi Arkan, dinginnya angin malam itu tak sebanding dengan es yang telah membeku di dalam hatinya selama delapan belas tahun. Ia berdiri di atas tebing batu, menatap jauh ke arah lembah di mana lampu-lampu Ibu Kota Kerajaan Matahari mulai terlihat berkelap-kelip seperti taburan permata di atas permadani hitam.
Di sana, di balik tembok-tembok raksasa yang angkuh itu, sebuah pengkhianatan besar pernah dirayakan.
"Kau yakin akan melakukan ini sendirian, Arkan?"
Suara itu datang dari belakangnya. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian bangsawan yang bersahaja namun berwibawa melangkah mendekat. Ia adalah Permaisuri Valerine dari Kerajaan Musuh, wanita yang menemukannya hanyut di sungai belasan tahun lalu dan membesarkannya dengan tangan besi serta kasih sayang yang penuh rahasia.
Arkan tidak menoleh. Matanya tetap tertuju pada istana megah di kejauhan. "Sungai itu tidak membunuhku saat aku hanya seorang bayi yang lemah, Ibu. Itu artinya, takdir memang menyisakan nyawaku hanya untuk satu tujuan: melihat mereka berlutut di kakiku."
Valerine menghela napas panjang. Ia menyerahkan sebuah bungkusan kecil berisi kain sutra yang sudah kusam dan sebuah liontin giok yang retak di bagian tengahnya. "Ini adalah kain bedung yang menyelimutimu saat kau ditemukan di tepian sungai. Ada lambang naga emas di sana—lambang yang hanya boleh dimiliki oleh keturunan murni kaisar. Pergilah. Jadilah pedang yang menghancurkan kebohongan mereka."
Arkan menerima benda itu. Jemarinya yang kasar karena luka pedang meraba permukaan giok yang dingin. Di kepalanya, ia seolah bisa mendengar suara gemericik air sungai yang deras dan tangisan seorang wanita yang sayup-sayup memanggil namanya. Namun, ingatan itu kabur, terkubur oleh kenyataan pahit bahwa ia adalah "bayi buangan".
Keesokan harinya, Arkan telah berada di gerbang utama Ibu Kota. Ia tidak lagi mengenakan zirah perang Kerajaan Utara. Kini, ia mengenakan pakaian lusuh seorang tentara bayaran pengembara. Rambutnya diikat sembarangan, dan sebagian wajahnya tertutup oleh tudung kain.
Suasana kota sangat meriah. Bendera-bendera merah dengan simbol matahari—simbol kekuasaan ayahnya—berkibar di mana-mana. Arkan berjalan di tengah kerumunan rakyat yang bersuka cita. Dari pembicaraan orang-orang, ia tahu bahwa hari ini adalah perayaan ulang tahun Pangeran Kenzo, putra dari Selir Amara yang kini telah dinobatkan menjadi Permaisuri baru.
"Lihatlah! Pangeran Kenzo sangat gagah, ya? Dia benar-benar cahaya bagi kerajaan ini," seru seorang pedagang di pinggir jalan.
Arkan mendengus pelan. Cahaya? pikirnya sinis. Dia hanyalah bayangan yang menempati tempat yang bukan miliknya.
Langkah kaki Arkan membawanya ke depan papan pengumuman besar di pusat kota. Di sana tertulis: "Dibutuhkan pengawal pribadi tambahan untuk keamanan istana selama perayaan musim semi. Seleksi terbuka bagi siapa pun yang mampu menjatuhkan perwira penjaga."
Ini adalah kesempatannya. Jalan tercepat untuk masuk ke dalam jantung pertahanan musuh tanpa harus membawa pasukan.
Arena seleksi terletak di lapangan luas di depan gerbang kedua istana. Ratusan pria berbadan kekar mengantre untuk mencoba peruntungan. Di atas panggung tinggi, duduklah seorang pemuda dengan pakaian mewah yang sangat mencolok. Itulah Kenzo. Wajahnya tampan, namun garis bibirnya menunjukkan keangkuhan yang nyata. Di sampingnya, duduk seorang wanita cantik dengan tatapan mata yang tajam dan licik—Selir Amara.
Arkan mengepalkan tangannya di balik jubah. Itu adalah wanita yang memesan kematiannya delapan belas tahun lalu. Wanita yang membayar peramal untuk memfitnah ibunya sebagai pembawa kutukan.
"Peserta selanjutnya! Arka dari perbatasan!" teriak petugas pendaftaran.
Arkan melangkah ke tengah arena. Lawannya adalah seorang kapten pengawal bertubuh raksasa yang memegang kapak ganda. Sorak-sorai penonton pecah, mengejek Arkan yang terlihat jauh lebih kurus dan kecil dibandingkan lawannya.
"Hei, Anak Muda! Pulanglah sebelum kapakku membelah kepalamu!" tawa sang kapten menggelegar.
Arkan tidak menjawab. Ia hanya memasang kuda-kuda rendah. Matanya setajam elang, mengunci setiap gerakan lawan.
Serangan dimulai. Sang kapten mengayunkan kapaknya dengan liar. Arkan menghindar dengan gerakan yang sangat tipis, seolah-olah ia adalah air yang mengalir di sela-sela bebatuan. Penonton terdiam. Mereka belum pernah melihat teknik menghindar seanggun itu.
Dalam satu celah sempit, Arkan melesat maju. Tanpa menggunakan pedang yang masih tersarung di pinggangnya, ia menghantam titik saraf di leher sang kapten dengan dua jari. Teknik "Pukulan Arus" yang ia pelajari di Utara.
Bruk!
Tubuh raksasa itu tumbang seketika tanpa sempat mengeluarkan suara. Lapangan menjadi sunyi senyap. Semua mata tertuju pada pria lusuh bertudung itu.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Kenzo dari atas panggung, mulai tertarik namun juga merasa terancam oleh aura yang terpancar dari Arkan.
Arkan berlutut, menundukkan kepala agar wajahnya tidak terlihat jelas oleh Amara. "Hanya seorang pengembara tanpa nama yang mencari nafkah, Yang Mulia," jawab Arkan dengan suara yang diberatkan.
Kenzo tertawa meremehkan. "Menarik. Kau punya nyali dan kemampuan. Mulai hari ini, kau akan menjadi anjing penjaga di pintu kamarku. Jangan biarkan satu lalat pun lewat tanpa izin dariku."
"Hamba mengerti, Yang Mulia," ucap Arkan. Di balik tundukan kepalanya, sebuah senyum dingin terukir.
Ya, aku akan menjadi anjing penjagamu, Kenzo. Aku akan berjaga di depan pintumu sampai tiba saatnya aku sendiri yang akan membukanya untuk menyeretmu keluar dari singgasana itu.
Malam itu, Arkan resmi masuk ke dalam istana. Ia diberikan seragam pengawal tingkat rendah dan ditempatkan di koridor luar paviliun pangeran. Saat ia berjalan melewati lorong-lorong megah yang terbuat dari marmer putih, hatinya bergetar.
Ia melewati sebuah kolam ikan di tengah taman istana. Di sana, ia berhenti sejenak dan menatap bayangannya di air. Bayangan seorang pria yang penuh luka dan dendam. Ia mengeluarkan liontin gioknya dan membisikkan janji pada udara malam yang sunyi.
"Ayah... Ibu... Anakmu telah kembali. Bukan untuk menangis, tapi untuk menuntut setiap tetes air mata yang kalian jatuhkan karena kebiadaban mereka."
Tiba-tiba, suara langkah kaki halus terdengar dari arah taman. Arkan segera menyembunyikan liontinnya. Seorang gadis dengan gaun sutra berwarna hijau zamrud muncul dari balik pepohonan. Ia membawa busur panah di punggungnya. Gadis itu adalah Putri Aristha, anak menteri pertahanan yang memiliki tatapan mata yang seolah bisa menembus segala rahasia.
Aristha berhenti dan menatap Arkan dengan curiga. "Kau pengawal baru itu? Yang menjatuhkan Kapten Braja hanya dengan satu sentuhan?"
Arkan membungkuk hormat. "Benar, Tuan Putri."
Aristha menyipitkan mata, berjalan mengitari Arkan seperti singa yang memeriksa mangsanya. "Gerakanmu... teknik menghindarmu tadi siang. Itu bukan teknik tentara bayaran rendahan. Itu adalah gaya bertarung kuno yang sudah lama menghilang dari kerajaan ini."
Jantung Arkan berdegup kencang, namun wajahnya tetap sedingin batu. "Hamba hanya belajar dari pengalaman di jalanan, Tuan Putri."
"Begitukah?" Aristha tersenyum misterius. "Kita lihat saja nanti, Arka. Di istana ini, dinding-dinding punya telinga, dan bayangan punya mata. Jangan sampai kau tenggelam sebelum sempat berenang."
Aristha pergi meninggalkan Arkan yang masih mematung. Arkan tahu, mulai malam ini, setiap langkahnya adalah tarian di atas mata pedang. Rahasia bayi sungai itu telah kembali ke tempat asalnya, dan badai besar baru saja dimulai.