Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
ASTRAEL

ASTRAEL

Dio Septian | Bersambung
Jumlah kata
44.6K
Popular
100
Subscribe
0
Novel / ASTRAEL
ASTRAEL

ASTRAEL

Dio Septian| Bersambung
Jumlah Kata
44.6K
Popular
100
Subscribe
0
Sinopsis
FantasiSci-FiPerangTeknologiSci-Fi
Di galaksi yang terpecah antara perlindungan dan dominasi, dua pemuda berusia tujuh belas tahun melangkah ke arah yang berlawanan.Holden bergabung dengan Astral Union untuk menjaga batas terakhir kemanusiaan, sementara Gorgon dibentuk kejam oleh vorn killian untuk menegakkan ketertiban dengan kekuatan mutlak. Ketika ancaman senjata pemusnah massal dan ekspansi antarplanet semakin mendekat, pilihan pribadi berubah menjadi penentu nasib banyak dunia.Sebuah kisah fiksi ilmiah tentang perang, tanggung jawab, dan garis tipis antara menjaga perdamaian atau menghancurkannya.
MALAM ITU

Holden arka, seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun, terbangun dengan jantung berdebar saat tidur nyenyak. Seluruh dinding dan atap tiba-tiba bergetar, ia terdiam dan bingung karena belum sepenuhnya sadar, hingga cahaya merah menyelinap masuk melalui jendela kamarnya. Langit di luar menyala seperti terbakar. Rudal spacetrooper menghantam diluar lingkungan rumahnya.

Holden buru-buru bangkit tempat tidur. Dengan nafas terengah, kakinya masih lemas saat menyentuh lantai. Tanpa sempat berpikir, ia berlari keluar kamar tidurnya menuju pintu depan. Bau asap dan logam panas memenuhi udara. Di luar, orang-orang berteriak ketakutan. Beberapa ada yang jatuh.

Holden keluar di luar rumah berdiri mematung. Tangannya dingin, kepalanya kosong. Ia tidak mengerti apa yang sudah terjadi. Ia hanyalah anak polos

“ Ayah…ibu….” panggilnya lirih. Ia berlari ke kiri, lalu ke kanan. Tidak ada jawaban. Yang ia temukan hanya bayangan-bayangan yang bergerak cepat dan suara jerit ketakutan. Ayahnya seorang commander astral union, dia berada di garis depan pertempuran. Holden tahu itu, tapi tetap berharap melihatnya muncul kembali

“Holden, ke sini!” ibunya menarik lengan kasar. Wajah perempuan itu pucat, matanya tegang, “Kita harus pergi. Sekarang”.

“Tapi ibu, di mana ayah?” suara Holden bergetar ketakutan. Matanya mulai panas ibunya tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan holden lebih erat dan mulai berlari, jalanan terasa asing. Rumah-rumah yang ia kenal banyak yang rusak, beberapa terbakar. Langit terus menyala, disusul suara ledakan yang datang bertubi-tubi

Mereka belum jauh melangkah ketika ledakan lain menyambar. Cahaya putih memenuhi pandangan Holden. Tubuhnya terlempar ke udara. Dunia seakan berhenti berputar.

Saat ia membuka mata, segalanya terasa berhenti. Telinganya berdenging keras. Dadanya sesak, sulit bernapas. Holden mencoba bangkit, tapi kakinya gemetar. Tanah dibawahnya hangat dan basah.

“ ibu…?” panggilnya pelan. Tidak ada jawaban. Ia menoleh ke sekitar mencari sosok yang tadi menggenggam tangannya. Beberapa langkah dari tempatnya berdiri, ia melihat tubuh tergeletak. Tubuh itu terbelah, pakaian yang dikenalnya koyak, wajahnya hancur tak bisa dikenali.

Holden berjalan mendekat dengan langkah terseret. Lututnya melemas saat ia menyadari itu adalah ibunya. Napasnya tersendat. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia ingin berteriak, ingin memanggil ibunya. Namun suaranya mati di tenggorokan. Untuk pertama kalinya, Holden benar-benar mengerti arti perang.

Asap semakin tebal. Tembakan terdengar semakin dekat. Seorang laki-laki bertubuh jangkung menerobos asap dan berlutut di depan Holden. Wajahnya penuh debu dan darah kering.

“Holden,” katanya cepat. “Kamu tidak apa-apa. Kita harus pergi sekarang.” Holden tidak menjawab. Matanya masih tertuju pada ke arah tubuhnya ibunya

Laki-laki jangkung itu adalah pamannya (daren arka) mengangkat holden dan menggendongnya dengan tergesa-gesa. Di sekeliling mereka, ledakan terus mengguncang tanah. Holden merasakan dada pamannya naik turun cepat, napasnya berat, seolah ketakutan berlari bersama mereka.

Di dalam gendongan itu. Holden menatap langit yang memerah. Tidak ada tangisan. Tidak teriakan, hanya denging yang menetap di telinganya. Menelan semua suara lain.

Malam itu, ketika mereka akhirnya tiba di tempat yang disebut orang-orang sebagai aman, Holden menyadari sesuatu yang belum bisa ia ucapkan dengan kata-kata. Sebagian dari dirinya tertinggal di jalanan itu bersama ibunya, bersama api, dan bersama ledakan yang tak akan pernah benar-benar berhenti di kepalanya.

Holden selamat dan dibawa ke tempat pengungsian. Ia berhenti bicara sejak itu. Karena ia setiap mendengar suara ledakan mengingatkannya pada ibunya. Di akhir, holden menyadari:perang mengubah dirinya.

Beberapa hari setelah kematian ibu, perang berakhir. Holden mengetahui bahwa ibunya mati sebelum gencatan senjata berakhir. Kota merayakan perdamaian dengan kembang api suara yang mirip ledakan. Holden menutup telinga, menangis sendirian, sementara orang dewasa bersorak.

Seorang dokter menghampiri holden. Ia melihat holden yang malang itu, tatapan holden kosong, dokter menanyakan keadan dia. “ Bagaimana keadaan mu nak?” tanya dokter. Holden hanya diam saja tidak menjawab sepatah kata pun

Holden menatap lantai dengan tatapan kosong. Dokter itu berbicara, tapi Holden tidak mendengar apa pun. Kata-kata orang dewasa selalu terdengar jauh sejak malam itu.

Paman holden datang ke tempat pengungsian, tempat pengungsian penuh dengan orang-orang terluka, banyak diantara mereka adalah warga tidak bersalah. Ia menghampiri petugas di sana untuk mencari holden. “apakah kau melihat anak kecil bernama Holden arka?” tanya daren. “Dia berambut coklat matanya berwarna emas” “Aku tahu anak itu, dia ada di tenda anak-anak.” Jawab petugas itu sambil menunjukkan tenda anak-anak. Daren segera meninggalkan tenda medis melewati deretan ranjang lipat dan bau obat yang tak bisa dihilangkan oleh bau.

Daren sampai di tenda anak-anak, dia melihat holden sedang di obati oleh dokter. Daren menghampiri mereka. Daren menurunkan suara. “ Bagaimana keadaannya, dok?”tanya daren. Dokter itu tidak langsung menjawab, ia melihat Holden duduk di ranjang lipat. “Secara fisik hanya luka ringan.” jawab dokter itu “ Tidak ada yang serius”.

Daren mengganguk tapi nafasnya masih tertahan “yang lain bagaimana?”

Dokter menghela nafas “ Dia mengalami trauma psikologis. Dia tidak mau berbicara sama sekali” “Apakah bisa sembuh dokter?” tanya daren dengan nada khawatir. Dokter diam sejenak “ Anak-anak seperti dia tidak lupa. Mereka belajar hidup dengan ingatan itu”. Daren mengepalkan tangan. “Berapa lama?” “Tidak ada waktunya,” jawab dokter jujur. “Bisa berbulan-bulan. Bisa bertahun-tahun.”

Daren menoleh ke holden. Dia melihat tragedi mengerikan di hidupnya. “Apa harus saya lakukan?”. Dokter menatapnya “Jangan memaksanya bicara. Jangan berbohong semuanya baik-baik saja.” Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, “Dan bilang dia kuat.”

“Apa kau ayahnya?” tanya dokter. “Saya bukan ayahnya, saya pamannya, daren arka.” “Lalu apa kau tahu ayahnya?” jawab dokter dengan penasaran. Daren dengan berat hati ingin menjawab pertanyaan dokter, daren mendekatkan untuk berbisik ke telinga dokter “Ayah dia sudah gugur di medan perang.” “Kau bisa kasih kabar ayah dia nanti.” kata dokter “Sekarang kasih dia istirahat.” daren menundukkan kepala ke holden dan berbisik kepadanya “Aku selalu ada disini, nak.” mereka berdua mulai meninggalkan holden. Holden tetap duduk di sana, tapi ada sesuatu dalam dirinya yang mulai menjauh.

Waktu telah menunjukkan tengah malam. Kesunyian menghantui holden di kepala dia, tidak tidur karena mengingat pengalaman mengerikan dalam hidupnya. Waktu terus berjalan, ia menatapi langit-langit tenda pengungsian suara-suara ledakan masih terus menghantui nya sepanjang malam.

Malam berlalu, dan pagi hari datang tanpa benar-benar ia sadari. Lalu masuk anak laki-laki bernama lio masuk ke tenda pengungsian. Ia melihat holden duduk diam di ranjang lipatnya.

Dia berniat menghampiri untuk menyapa, dan lio duduk di samping holden, lalu dengan nada ragu-ragu “Apakah aku boleh duduk di sampingmu?” tanya lion. Heldon bergeser sedikit dan sambil menunjukkan tangan kanan untuk duduk “Kamu bisa duduk sebelahku disini”ucap heldon dengan nada pelan. Lio duduk disana, sambil memegang lolipop ditangan. “Apakah kamu lolipop, aku ada dua” ucap lio dengan nada polos. Holden menerima lolipop itu tanpa berkata-kata. Tangannya bergemetar sedikit saat membukanya. Ia menatap permen itu lama, seolah lupa apa fungsinya, lalu perlahan memasukkannya ke mulut. Rasa manis menyentuh lidahnya rasa yang asing setelah hari-hari penuh debu, darah, dan ketakutan.

Lio tersenyum kecil, ia mengayun-ayunkan kakinya di sisi ranjang lipat. “Aku lio” katanya. “Aku juga disini sendirian.” Holden tidak menjawab. Tapi kali ini, ia tidak menutup diri sepenuh nya. Dia mendengarkan. “Rumahku hancur,” lanjut Lio, suaranya pelan. “Ayahku bilang kami akan membangun lagi. Tapi aku gak tahu di mana ayahku sekarang.” holden menggenggam stik lolipop itu lebih erat. Kata ayah terasa seperti batu yang jatuh ke dalam dadanya. Ia teringat suara terakhir ibunya, teringat ledakan, teringat keheningan setelahnya. Napasnya tercekat

“Aku holden” suaranya hampir tidak terdengar. Lio menoleh matanya membesar dikit, seolah itu sesuatu yang penting. “Nama kamu bagus juga ternyata.” katanya jujur. Holden tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya menunduk. Tapi untuk pertama kalinya sejak berada di pengungsian, ada seseorang yang duduk di sampingnya tanpa menanyakan apa pun, tanpa menuntut apa pun.

Mereka duduk diam cukup lama. Tenda bergoyang pelan tertiup angin pagi. Di luar, suara orang dewasa masih terdengar suara membicarakan masa depan, perbaikan, harapan. Semua kata itu terasa jauh bagi Holden. Ledakan kembang api semalam masih terngiang di kepalanya.

“Aku benci suara keras” kata lio. Holden menoleh “ Aku juga benci suara keras”. Lio tersenyum lagi, senyum kecil, tapi nyata. Saat siang datang, Daren kembali. Ia berdiri di pintu tenda, melihat Holden duduk bersama anak lain. Daren tidak langsung menghampiri. Ia hanya mengamati dari jauh, dadanya terasa sedikit lebih ringan bukan karena Holden sembuh, tapi karena Holden tidak sepenuhnya sendirian.

Daren menghampiri mereka di ranjang lipat. “Kalian berdua disini,” ucap daren. “ Apakah kalian berdua saling kenal?” “kita baru saja berkenalan” ucap lio. “Apakah kamu baik-baik saja holden.”Daren melihat holden, menyentuh kepalanya, lalu mencium keningnya. “Kalian tidak mau main di luar tenda?”. “ Aku masih takut dengan suara-suara itu paman” holden suaranya pelan. “Kalau begitu kalian berdua lebih baik di sini saja,” kata daren “lio akan menenemani mu holden.” “aku harus membantu orang-orang yang masih di luar tenda ya” daren menyentuh kepala holden dengan lembut dan mulai meninggalkan mereka berdua.

Lio menengok ke arah holden ingin menanyakan sesuatu “ itu pamanmu.”

“iya dia pamanku.” jawab holden “dia seorang petugas polisi daerah”.

“aku pikir dia ayahmu.”.

holden terdiam mendengar ucapan itu dia tidak tahu ayahnya berada dimana, hatinya aku tidak tahu dimana ayahku. Ia menjawab pertanyaan tersebut dengan berat, “aku gak dimana ayahku berada.”

“kamu gak tahu dimana ayahmu?” tanya lio

“ayahku seorang komandan” jawab holden.

Lio merasa bernasib sama dengan nya, karena dia tidak tahu ayahnya. “ayahku seorang ilmuwan” ucap daren. “disaat kita di serang, dia membawa aku dan ibuku buru-buru ke tempat aman tetapi ayahku menuju ke rumah lagi dia bilang ada sesuatu yang ketinggalan disaat kita menunggu ayahku. Dia tidak pernah terlihat lagi”.

Dan seorang perempuan masuk ke tenda tersebut, perempuan itu adalah ibu lio. Melihat anaknya sedang berbicara dengan anak lain, ,menghampiri mereka di ranjang lipat. “lio kau disini rupanya ibu sudah mencari-cari mu nak”.

“ibu, aku disini bersama heldon”. Lio mengenalkan teman baru ke kepada ibunya. Ibunya menyapa ke heldon “hai nak kamu baik-baik saja”. Perempuan menanyakan kabarnya. Heldon hanya bisa mengangguk dan diam, ia melihat hubungan ibu dan lio. Teringat kenangan-kenangan indah dengan ibunya sendiri.

Lanjut membaca
Lanjut membaca