Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sistem Kacamata Pengubah Takdir

Sistem Kacamata Pengubah Takdir

Ana J | Bersambung
Jumlah kata
30.7K
Popular
357
Subscribe
99
Novel / Sistem Kacamata Pengubah Takdir
Sistem Kacamata Pengubah Takdir

Sistem Kacamata Pengubah Takdir

Ana J| Bersambung
Jumlah Kata
30.7K
Popular
357
Subscribe
99
Sinopsis
PerkotaanAksiMiliarderSistemZero To Hero
Setelah kedua orang tuanya meninggal, Jagara diasuh oleh bibi dan pamannya, tetapi mereka justru merampas seluruh warisan, kekuasaan, dan masa depannya, karena sudah dianggap tak berguna, dia diusir dari rumah. Pada saat yang sama, Jagara mengetahui bahwa tunangannya berselingkuh dengan sepupunya sendiri. Di tengah kekacauan hidupnya, Jagara berjalan tanpa tentu arah, hingga tubuhnya ambruk di depan tempat pembuangan sampah. Namun, dari situlah takdirnya berubah. Di antara bau busuk yang menyengat, Jagara menemukan sebuah kacamata usang yang tiba-tiba aktif dan memperkenalkan diri sebagai, “Kacamata Pengubah Takdir.” Benda itu akan memberinya misi demi misi, dengan imbalan kekuatan yang tak pernah dibayangkan. Semakin banyak misi yang diselesaikan, semakin kuat pula sistem yang dia miliki. Mulai dari membaca peluang keberuntungan, mengenali musuh tersembunyi, hingga menembus isi hati dan pikiran orang lain. Kini, Jagara bertekad menjadi sosok paling kuat, kaya, dan berpengaruh di negeri ini, serta membuat semua orang yang menghancurkannya menyesal seumur hidup.
Bab 1

“Pergi dari sini, sudah bodoh, ceroboh lagi! Kita gagal suplay hasil perkebunan gara-gara ulahmu yang membuat semuanya membusuk!” bentak Lidya.

“Bukan aku yang bertugas di bagian packing dan kontrol, mengapa aku yang disalahkan? Lagi pula, ini rumahku. Bibi dan Paman tidak berhak mengusirku!” tampik Jagara.

Dia bekerja sebagai tenaga bongkar muat di gudang, terkadang juga disuruh menjadi buruh di perkebunan.

Ketika pulang ingin istirahat, tiba-tiba diseret paksa ke hadapan bibi serta pamannya. Lalu, difitnah melakukan hal yang tidak-tidak.

Jagara sudah lama memendam amarahnya, diperlakukan tak adil serta menjadi babu di rumah serta perkebunan milik ayahnya.

“Rumahmu?” tanya Dario mengejek, lalu melempar sebuah dokumen ke arah wajah Jagara. “Baca, semua aset atas namaku, dan sekarang kau tak berhak atas apa pun itu.”

Napas Jagara tercekat saat membaca semua yang tertera di dokumen itu. Semua aset-aset peninggalan orang tuanya atas nama pamannya, bahkan perkebunan itu sekali pun.

“Paman benar-benar keterlaluan! Padahal dulu ayahku sudah membantumu banyak, tapi mengapa kau melakukan ini padaku?!” Dada Jagara naik turun, menahan ledakan emosi, semua hasil kerja keras ayahnya raib begitu saja.

Dia terima tak digaji dan disuruh kerja siang malam dari usia 13 tahun, dan sekarang saat menginjak usia 20 tahun, dia ingin menunut hakknya, lelah diperlakukan semenna-mena.

Sebenarnya dulu dia pernah melawan, tapi berakhir di gudang bawah tanah dan tak diberi makan selama tiga hari, serta dipukul habis-habisan hingga rasanya berada di ambang kematian.

Dario tertawa mengejek. “Aku yang mengurus perkebunan dan beberapa perusahaan yang ayahmu tinggalkan. Jika tidak ada aku, semua ini pasti tidak berkembang seperti sekarang. Lantas, sekarang kau dengan mudahnya meminta balik semuanya? Jangan membual, lebih baik susul saja ayah dan ibumu yang sudah jadi tanah, dan salahkan mereka karena mati terlalu cepat, meninggalkan anaknya yang bodoh ini.”

Rahang Jagara mengeras mendengarnya, tangannya mengepal kuat dengan urat leher yang menonjol.

“Kami hanya mengambil apa yang seharusnya milik kami. Toh, kami sudah merawatmu dengan baik. Walau menjadi anak bodoh dan pembangkang, seperti sekarang ini,” timpal Lidya. Lalu memanggil anak buahnya yang berjaga. “Seret bedebah tak berguna ini, jangan biarkan dia menginjakkan kaki di rumah ini!”

“Tidak, aku tidak akan keluar dari rumahku!” Jagara melawan, walau tubuh kurusnya diseret paksa oleh tiga pria berbadan kekar. “Dengar, kalian akan membayar ini semua, aku akan menuntut balik hakku!”

Dia berteriak ke arah Lidya serta Dario yang sudah kembali duduk manis sambil menikmati teh hangat, seolah-olah dirinya adalah tontonan menarik untuk dua manusia itu.

“Pergi dari sini!”

Ketiga pria itu melempar tubuh Jagara dan menutup rapat pintu gerbang. Jagara sudah melawan, tapi berakhir mendapat pukulan di perut dan wajahnya. Dia berdiri, mengusap sudut bibirnya yang terluka. Jagara menatap rumahnya, berjanji suatu hari nanti akan mengambil haknya kembali.

Saat ini, tempatnya berkeluh kesah hanya pada tunangannya, Jagara memutuskan untuk berjalan kaki ke apartemen Yasinta, meski cukup jauh jika berjalan kaki dari rumahnya.

Tak ada pilihan lain. Dia tak membawa apa pun saat diusir paksa.

Selang 40 menit kemudian, dia sampai di depan apartemen wanita itu. Suara aneh terdengar, Jagara langsung membuka pintu apartemen Yasinta. Matanya membulat menyaksikan tunangannya sedang melakukan hal menjijikkan bersama Mario—sepupunya sendiri.

“Apa yang kalian lakukan!” teriaknya lantang. Rasa sesak di hatinya benar-benar tak terbendung. Tubuhnya sampai bergetar melihat semua ini dengan mata kepalanya sendiri.

Mario dan Yasinta sempat terkejut melihat Jagara muncul tiba-tiba. Namun, wajar saja, karena bodyguard Mario hanya berjaga di lobi, bukan di depan pintu apartemen.

Keterkejutan itu tak berlangsung lama, keduanya kembali bersikap biasa, seolah tidak terjadi apa-apa. Justru, Yasinta dengan enteng bertanya, “Kenapa kau di sini?”

“Dasar pengganggu, apa kau diusir dari rumah? Makanya mendatangi apartemen kekasihku?” Mario tersenyum miring melihat ke arah sepupunya, dia dengan santai menyalakan rokok dan merangkul pinggang Yasinta.

“Kekasih?” ulang Jagara mengeraskan rahang, matanya berkilat tajam. “Kau menghianatiku, Yasinta? Katakan!” bentaknya penuh kekecewaan.

Wanita itu mengangkat bahu acuh tak acuh. “Jika iya, kenapa? Lagi pula, aku juga terpaksa bertunangan denganmu, dan nyatanya kau memang mudah dimanfaatkan. Sekarang aku sudah tidak membutuhkanmu, kau tak punya apa-apa. Hanya anak yatim piatu yang tak memiliki tujuan hidup.”

“Kau!” Jagara menunjuk wajah Yasinta dengan berapi-api. “Kau memang wanita iblis, akan kubuat kau menyesal mengatakan ini padaku!”

“Menyesal? Siapa juga yang menyesal melepas pria tak berguna sepertimu?” Mario juga ikut andil mengejek kekalahannya. “Asal kau tahu, aku berhubungan dengan Yasinta dari kami SMA, dan kami sering menghabiskan waktu berdua, berlibur ke luar negeri layaknya pengantin baru.”

“Aku juga merasa kasihan melihatmu, Jagara. Dari dulu hingga detik ini, aku sama sekali tak pernah menyukai pria bodoh yang kurus dan dekil, jika kau mempunyai kaca, harusnya sadar diri. Seorang model terkenal sepertiku, sudah sepantasnya bersama pria tampan dan mapan seperti Mario, bukan pria buruk rupa serta yatim piatu,” ledek Yasinta.

Dia saja bertunangan karena rencana keluarga Mario ingin merebut semuanya, dan tentu Yasinta dijanjikan keuntungan besar, buktinya dia bisa menembus dunia hiburan sebagai model serta bintang iklan.

“Kau memang wanita iblis Yasinta! Sangat cocok dengan Mario dan keluarganya yang tak hanya menumpang, tapi juga merauk hartaku sampai ke akar-akarnya!”

Mario yang mendengar pernyataan berani itu langsung saja berdiri, rahangnya mengeras, menatap tajam Jagara. “Kurang ajar! Orang sepertimu berani-beraninya berbicara lancang padaku!” Dengan gerakan cepat dia langsung menghantam tubuh Jagara menggunakan kursi kayu yang ada di ruangan itu.

Jagara mengerang sakit, dia bangkit walau susah payah. Dia tahu tak akan menang melawan Mario yang bertubuh kekar. Akan tetapi, peduli setan, harga dirinya sudah diinjak-injak, sangat bodoh kalau tak melawan.

“Brengsek!” bentak Mario ketika tiba-tiba Jagara berlari ke arahnya dan mendorongnya kuat hingga punggungnya membentur ujung meja. Napasnya memburu, wajahnya merah padam. “Yasinta! Panggil bodyguard! Suruh masuk sekarang juga!” pekik Mario lantang, suaranya bergetar menahan sakit.

Yasinta bergegas menelpon bodyguard yang berjaga di lobi untuk segera datang ke kamarnya.

Jagara kembali ingin menyerang Mario, tapi tubuhnya ditendang menjauh. Dia mengerang, merasakan sakit yang melilit pada perutnya.

“Kau pikir bisa menyentuhku untuk yang kedua kali? Tubuh kurus begini, jangan sok-sokkan melawanku, tersapu angin saja kau terbang,” hina Mario. Bersamaan dengan itu, dua pria berbadan kekar masuk. “Pukuli dia sampai tak bisa berdiri lagi, lalu buang ke jalan!”

Tanpa diperintah dua kali, kedua bodyguard itu memukul Jagara, tinju mendarat bertubi-tubi ke wajah serta perutnya, membuatnya seperti samsak hidup. Jagara sempat melawan, dan tendangannya mengenai salah satu di antara mereka. Namun, itu semakin memicu kebengisan keduanya. Mereka menghantam kepala Jagara ke tembok, menginjak dadanya hingga darah segar menyembur keluar dari mulut dan hidung.

Napas Jagara tersengal-sengal, matanya sayu, tubuhnya lemas tak bertenaga.

Mario dan Yasinta tertawa melihat ketidakberdayaan Jagara. “Itulah sebabnya jika kau lancang, sekarang buang dia ke jalan!” titah Mario.

Jagara yang setengah sadar hanya pasrah saat tubuhnya diseret bagai sampah. Kedua pria itu dengan teganya meninggalkan Jagara, tergeletak begitu saja di jalan yang sepi dan dipenuhi bangkai anjing.

Perlahan, dengan sisa tenaga yang dimiliki. Jagara mencoba untuk bangkit. Langkahnya terseok-seok, berjalan tanpa tentu arah. Sampai pada akhirnya tubuhnya kelelahan dan ambruk di depan tempat pembuangan sampah. Tidak ada pilihan lain, dia pun beristirahat di sana.

Ketika merebahkan diri, sesuatu mengganjal di punggung, saat diperiksa, sebuah kacamata usang yang dimakan oleh usia. Waktu disentuh, benda itu bergetar pelan dan memperkenalkan diri. “Sistem aktif, aku adalah Kacamata Pengubah Takdir. Mampu memperkaya dan membawa pemiliknya menuju kekuasaan.”

“Kacamata Pengubah Takdir?” ulang Jagara tak percaya. Bagaimana mungkin benda usang bisa mengubah takdirnya yang menyedihkan ini. “Kau jangan berbohong, di zaman sekarang mana ada hal aneh seperti ini.”

“Diusir dari rumah, harta dirampas bibi dan paman. Tunangan berselingkuh dengan sepupu sendiri, dan sekarang, kau terlunta-lunta di jalanan. Jika kau mau, aku bisa memberi solusi dan membuatmu hebat tak terkalahkan, tentunya dengan mengerjakan misi-misi yang kuberikan,” jelas sistem.

Jagara terkejut karena sistem tahu tentang masalah hidupnya, walau sejujurnya belum paham ada benda seperti ini di zaman yang sudah modern. Akan tetapi, tak ada salahnya jika mencoba mempercayainya, bukan?

“Bagaimana cara kerjanya?” Jagara meneliti kacamata yang ada di tangannya. “Apakah misi akan muncul walaupun tidak menggunakannya? Karena aku tidak terbiasa memakai kacamata.”

Super sistem menjawab, “Pemberitahuan mengenai misi baru tetap diberikan walaupun tanpa kacamata, dan akan tersampaikan langsung ke telinga sang pemilik kacamata.”

Jagara mengangguk mengerti. “Lantas, apa yang harus kulakukan sekarang untuk mengubah nasib buruk ini?”

Sistem memberi pilihan. “Minta maaf kepada bibi dan paman, lalu akan mendapatkan kembali kekuasaan dan kekayaan. Namun, kau tetap bisa dikendalikan, menjadi lemah, dan mudah dimanfaatkan.”

“Minta maaf? Yang benar saja!” dengkus Jagara.

Sistem kembali melanjutkan, “Pilihan kedua, pergi ke pinggir kota, memulai kehidupan baru dan melamar sebagai buruh pabrik, lalu akan mendapatkan cinta, jabatan, serta kekayaan. Tetapi, jika gagal menjalankan misi-misi yang kuberikan, lima tahun kehidupanmu telah hilang. Wajah tetap sama, tetapi jiwamu menyusut.”

Jagara cukup dilema. Namun, di satu sisi dia begitu terpacu dan bertekad tidak akan gagal. Pada akhirnya, dia pun memutuskan. “Aku memilih opsi kedua.”

Lanjut membaca
Lanjut membaca