

Bugg!
Tama langsung mengerang kesakitan saat bogem mentah mendarat di wajahnya. Satu pukulan telak itu berasal dari tangan Sony yang sebenarnya kurus dan tidak pantas disebut petarung atau petinju. Apalagi penyanyi.
“Nggak usah belagak paling baik, kau!” hardik Sony pada Tama yang sudah terkapar di lantai sambil memegangi perutnya. Di sebelah Sony, wanita cantik yang merupakan karyawan baru, hanya memandangi Tama yang tengah kesakitan walaupun dia-lah penyebab perkelahian itu.
Tidak. Ini bukan perkelahian karena Tama hanya diam tanpa perlawanan.
Bukan karena Tama penakut apalagi loyo, lemah, letih, lesu karena kurang jamu kuat, tapi posisinya sebagai Office Boy dan Sony yang merupakan Supervisor, membuatnya tidak kuasa melawan. Walaupun rasanya dia ingin membuka kemejanya dan memamerkan otot dan juga baju ketat berwarna merah biru dengan logo S di dada.
Memangnya Tama itu Superman? Bukan juga, sih. Ngayal kan sah-sah saja.
Namun, kalau dia melawan, bukan hanya posisinya yang terancam tapi juga mata pencahariannya—untuk menghidupi anak-anak ayam di rumahnya—akan hilang. Kemana lagi dia harus mencari nafkah? Di kolong tempat tidur? Di balik kulkas? Atau di pojokan Alfamart? Yang hilang kan bukan remote TV.
Tama berusaha bangkit, berniat meminta makan, eh meminta maaf.
“Masih mau ngelawan kau?!” hardik Sony. Padahal sedari tadi dia tidak melawan, hanya mengumpat, itu juga lewat story WA yang diprivasi dari semua karyawan kantornya.
“Nggak, Pak. Saya minta maaf,” ucap Tama sambil menahan sakit di ulu hati.
Sisca, yang menurut Sony dilecehkan oleh Tama—hanya karena Tama menangkapnya secara spontan tanpa uhuy—memandang iba pada Tama tapi tidak bisa berkutik. Sisca tadi tiba-tiba jatuh karena terpeleset lantai yang baru dipel oleh office boy berusia 28 tahun tersebut.
Sony yang melihat Tama memegangi pinggang Sisca, langsung mendorong Tama dan meninju perutnya sambil menghardik dengan ucapan kasar berisi penghuni Hutan Madagascar. “Dasar kadal burik, buaya buntung, cicak feodal! Ngapain kau pegang-pegang Sisca?!”
Seperti itu lah cerita awalnya.
“Kalau saya lihat kamu berbuat seperti ini lagi, saya tidak segan-segan memecat kamu!” ancam Sony sambil menunjuk ke wajah Tama yang sebenarnya tampan, hanya saja tertutup daki dan keringat sisa-sisa perjuangan hidup.
“Ada apa ini?” Tiba-tiba seorang lelaki berpakain rapi dengan setelan jas dan dasi berwarna senada, datang. Wangi parfumnya mampu membuat malaikat muncul dan bertanya, ‘siapa Tuhanmu?’ karena wanginya seperti kuburan baru jadi, menguar ke mana-mana.
“Ini, Pak, si Tama, udah kurang ajar sama Sisca!” adu Sony pada lelaki itu. Tama yang menunduk hanya terdiam bagai artefak zaman prasejarah.
“Tama?” si lelaki tersebut menyebut nama Tama dengan nada lagu Balonku. Ehm, maksudnya dengan nada suara bertanya, seperti mengenal office boy tersebut.
Tama mengangkat dagu dan sedikit terkejut melihat lelaki dihadapannya. Itu Ferdy.
Ferdy lalu tertawa sinis sambil memandangi seragam OB yang dikenakan Tama. “Udah saya duga, 10 tahun yang lalu kita satu sekolah, saya selalu berpikir kamu akan hidup seperti ini.”
“Loh, Bapak kenal dia?” tanya Sony.
“Terpaksa kenal. Karena dulu waktu SMA, dia dengan sombong dan angkuhnya merebut pacar saya yang merupakan gadis populer. Gila, kan? Padahal dia cuma anak sopir, tapi cewek-cewek mengira dia sultan karena bapaknya gonta-ganti mobil yang ternyata punya majikan. Lihat ‘kan sekarang gimana nasib kami yang seperti bumi dan langit?” tutur Ferdy dengan sombong.
Sony tertawa. “Belagak kali kau, Tama! Pak Ferdy ini Kepala Cabang kita yang baru. Dia menantu dari Pak Gantara, Dewan Direksi kita. Nggak ada bandingannya sama kau yang cuma OB tengik!”
“Sudah, sana kerja kamu, Sony.” Ferdy menyuruh Sony yang penjilat itu pergi, lalu dia beralih ke Sisca, “Sisca, kamu ikut saya. Dan kamu, Tama, Sisca ini personal asisten saya yang baru. Kalau sampai kamu ganggu Sisca kayak kamu dulu ganggu Vania, saya nggak segan-segan memecat kamu!” ancamnya dengan tatapan yang mengintimidasi.
Tama hanya menunduk, terima nasib dari pada tidak terima gaji lagi.
Ferdy melangkah pergi diikuti Sisca. Namun, Sisca sempat menoleh ke belakang memandang Tama dengan perasaan bersalah.
*
“Tama! Bikinin gue kopi, dong!”
“Tama, fotokopiin berkas gue, nih!”
“Tama, ini sepatu gue kotor, bersihin!”
Suruhan demi suruhan tanpa menganggap lelahnya Tama, datang silih berganti. Kadang, suruhan mereka di luar nasar.
“Tama, beliin gue nasi padang yang penjualnya orang Brazil, dong!”
“Eh, OB, ambilin gue pulpen di gedung DPR, ya. Nggak pake lama!”
“Yoga Pratama! Tangkepin ulet bulu, dong! Gue mau dandanin Nina tapi lupa bawa kuas blush on!”
Kalau sudah begitu, tinggal Tama yang garuk-garuk sampah. Bingung. Tapi tetap dia kerjakan karena kalau tidak, ada saja cemoohannya, bahkan kadang dia dipermalukan di depan banyak orang jika dia menolak suruhan karyawan-karyawan sana. Bukan tips juga yang dia dapat jika dia mengerjakan semuanya, hanya ucapan terima kasih yang diucapkan dengan bibir tanpa senyum.
Entah kenapa, mungkin karena semua OB adalah bawaan dari orang dalam, jadi mereka aman. Hanya Tama yang dipekerjakan karena usahanya sendiri dan doa emaknya tetangga.
Habis Maghrib, setelah dia membersihkan noda kopi yang tumpah—tepatnya disiram ke mukanya oleh Melly si anak admin purchasing—karena menurutnya kopi buatan Tama terlalu pahit, Tama membereskan diri dan bersiap pulang.
Saat dia melewati ruangan Ferdy, dia tidak sengaja mendengar suara Sisca yang ketakutan. Tama mendekati dan mengintip dari luar melalui celah pintu yang sedikit terbuka.
“Jangan, Pak!”
“Nggak usah takut, Sisca. Semua yang jadi asisten saya bakal aman kalau ikutin semua mau saya,” ucap Ferdy dengan nada menekan.
Sisca ternyata sudah duduk di kursi Ferdy dengan dikungkung oleh Kepala Cabang baru itu yang berdiri di hadapannya. Tangan Ferdy terlihat menggerayangi tubuh Sisca walaupun selalu dia tepis.
Kemudian, Ferdy membuka resleting celananya dan mengarahkan pensil bagong berurat ke arah mulut Sisca yang sejajar dengan barang haram itu. Memaksa kepala Sisca mendekat.
Tama yang tidak tega memutar otak bagaimana cara menyelamatkan Sisca. Tapi tiba-tiba kakinya tidak sengaja menendang pintu karena kehilangan keseimbangan lalu pintu terbuka lebar dan dia jatuh.
Ferdy dan Sisca menoleh ke arah Tama. Ferdy segera membetulkan celananya.
“Tama! Ngapain kamu di situ?!” teriak Ferdy.
“M-maaf, Pak, saya kesandung.”
“Kamu pasti ngintip, kan?!” Ferdy dengan berang menghampiri Tama, sedangkan Sisca langsung kabur.
Bugg!
Tama kembali ditonjok, kali ini di wajahnya dan oleh pelaku yang berbeda.
“Awas kamu kalau menyebarkan soal ini, saya nggak akan segan memecat kamu!” ancam Ferdy.
Lelaki bertubuh sedikit gemuk itu kembali meninju wajah Tama yang tirus. Terdengar bunyi engsel rahangnya yang gemeretak. Lalu Ferdy pergi tanpa ada rasa kasihan apalagi rasa matcha.
Tama hanya duduk sebentar mengatur rasa sakitnya.
“Ngidam apa Emak gue dulu, sampe punya anak sial terus kayak gini?” sesalnya.
Dia mencoba berdiri, mematikan lampu di lantai itu dan turun ke bawah dengan lift barang yang menghubunginya langsung ke pintu gerbang. Namun, saat keluar, ternyata dia bertemu Sisca.
Tanpa bicara, Sisca menarik Tama ke dalam mobilnya, mereka masuk ke jok belakang.
“Tama, makasih banyak udah selamatin aku, ya?” Dia meraih wajah Tama yang lebam. “Ya ampun, kamu dipukul Pak Ferdy?”
Sisca segera meraih kotak P3K di dashboard, tangannya bergerak cepat meski jantungnya berdebar tak karuan. Ia kembali ke sisi Tama yang masih menahan perih di sudut bibirnya. Dengan hati-hati, Sisca membersihkan luka itu, jemarinya gemetar tipis setiap kali kapas menyentuh kulit Tama.
Mobil terasa sunyi, hanya napas mereka yang terdengar bersahutan dalam jarak yang terlalu dekat. Tama tak berkata apa-apa. Tatapannya justru membuat Sisca semakin gugup. Saat dia meniup pelan luka itu agar tidak terlalu perih, wajah mereka semakin mendekat.
Dan tanpa aba-aba Sisca tiba-tiba malah menciumnya!
Tama sangat terkejut mendapati bibirnya dilumat oleh Sisca. Dia segera menarik diri.
“Kenapa, Tam?” Sisca terlihat kecewa.
“Mba, ini nggak pantes. Aku—”
Sisca dengan cepat meraih tangan Tama dan meletakkan di dada besarnya. “Aku lebih baik disentuh kamu daripada si Ferdy.”
Keringat dingin dari tubuh Tama mulai mengucur. Tangannya dikunci oleh tangan Sisca agar tetap menempel di dada, bahkan dia menggerakkan tangan Tama untuk meremasnya. Lelaki itu hampir terbuai. Dedek gemes di balik celananya juga sudah mulai bereaksi.