

"KAEL" Kakek tua berteriak menyebut pemuda yang berdiri di hadapannya.
Wajahnya penuh dengan lumpur akibat terjatuh terjerembab dengan kepala terbenam kelumpur akibat pertarungannya melawan pemuda yang dia sebut Kael.
"Guru, kau mirip kodok guru, hahahaha"
Nampaknya telah terjadi pertarungan antara murid dan guru, terlihat dari sekeliling mereka banyak puhon terbelah dan dahan dahan pohon yang sudah berjatuhan di tanah yang berlumpur.
Kakek tua mengejapkan mata dan tubuhnya telah berpindah ditepi sungai guna membersihkan muka yang penuh dengan lumpur.
Tanpa memejamkan mata tubuh Kael sudah berada dibelakang tubuh gurunya.
"Guru aku punya hadiah untukmu" menunjukan kotak kubus yang terbuat dari emas.
"Simpan dulu aku sedang membasuh muka"
Kael duduk diatas batu untuk menunggu gurunya yang sedang membersihkan muka.
Tiba tiba ikan besar melompat kearah gurunya yang membuat seluruh pakaiannya basah.
"Hahahaha mandi sekalian guru" tawa Kael menambah gurunya kesal.
Kakek tua itu sebenarnya sudah tau ketika Kael duduk diatas batu besar itu untuk melemparkan daun yang dekat dengan batu ke arah ikan ikan yang ada di sungai itu.
"Dasar kau Kael" gerutu gurunya.
Seketika saja batu yang jadi tempat untuk duduk Kael meledak hancur berkeping keping.
Kael menyaksikan batu yang hancur berkeping keping itu dari jauh sambil memakan pepaya di seberang sungai.
Rupanya Kael sudah tau kalau gurunya akan berbuat itu, dan seketika saja sudah berpindah tempat sebelum batu itu meledak.
"Kael temui aku nanti malam"
"Guru ini hadiah mu" menunjukan kembali kotak emas ditangan Kael.
Seketika gurunya telah hilang dari hadapan. Kael lebih memilih memakan pepaya sambil memperhatikan serpihan batu yang telah gurunya ledakan.
Kael membakar ikan dengan api yang sedikit menyentuh ke badan ikan, Kael lebih suka dengan ikan yang matang perlahan, sambil menunggu ikan matang Kael memilih mengambil serpihan batu dan membuat gelang dengan berbagai bentuk, gelang terakhir dia buat berbentuk naga yang melilit terlihat antara ekor dan kepala naga itu berdekatan, terkesan akan kemewahan pada ukiran gelang itu.
Sambil menikmati ikan yang telah matang dia memasukan hasil karyanya itu kedalam cincin penyimpanan
Seketika tubuh Kael sudah berada disamping gurunya.
"Kael sudah waktunya engkau berkelana mencari sisa sisa keluargamu, ilmuku sudah engkau kuasai semua, sudah tidak ada lagi yang harus aku turunkan padamu" berpesan pada muridnya yang sekarang lebih sering membuat dirinya kesal akan segala perbuatan muridnya itu.
"Guru aku hanya ingin bersamamu guru"
"Sudah waktunya kamu membalaskan dendam orang tua mu" lalu memberikan kotak yang terbuat dari kayu yang telah usang dengan logam besi sebagai pelindung sudut tepian kayu, engsel dan kunci penutup yang telah berkarat.
Kael membuka kotak itu didalamnya terdapat 5 lembar foto, 2 buah buku harian yang cukup tebal tebal dan kalung giok naga tanpa kepala.
"Besok kau harus pergi dan mulai lah cari petunjuk dari buku buku itu" "sekarang pergilah"
"Baik guru" dengan seketika saja Kael telah berpindah tempat beserta dengan kotak kayu usang.
"Guru ini hadiah untuk mu" memberikan kotak emas berbentuk kubus.
Kakek tua itu membuka kotak dan keluar kodok raksasa dari kotak dan memakan sang guru.
Kael dengan girangnya melihat tubuh gurunya dimakan kodok raksasa buatannya itu, tak lama kemudian kodok itu meledak yang mengakibatkan tubuh kodok hancur berkeping keping menyisakan tubuh gurunya yang basah dan bau perut kodok.
Akibat ledakan itu seluruh tempat yang biasa gurunya beristirahat itu dipenuhi dengan potongan tubuh kodok raksaksa, tapi tidak dengan tubuh Kael yang tak ada satu bercak pun menempel, padahal jarak nya sangat dekat dengan sumber ledakan. Ironis bukan?
"Maaf guru" seketika saja menghilang kembali.
Gurunya mematung dengan tongkat kecil yang diacungkan keatas menggunakan tangan kanannya dan tangan kiri mengepal dipinggang,
Tongkat yang berupa seperti tongkat komando yang biasa ada ditangan para jendral perang namun bukan dari kayu melainkan terbuat dari batu karang hitam.
Kael yang sudah berada dalam tempat istirahatnya mulai membuka kotak pemberian gurunya.
Kael mulai memperhatikan foto foto itu satu persatu dimana dibalik foto itu ada tulisan nama nama orang yang ada dalam foto.
Ketika dia melihat ada nama Serne Vo Kael, memutar mutar foto untuk melihat nama dan gambar secara terus menerus hingga hafal wajah serta nama orang tua dan adik adiknya.
KARL EL KAEL
SAB RINA KAEL
SERNE VO KAEL
DIS TIA KAEL / BROWN
LUKAS KAEL
Didalam foto itu nampak laki laki yang menggendong anak berusia kurang lebih 1 tahun itu adalah ayahnya, disampingnya adalah ibunya, dirinya yang berdiri didepan ibunya ketika berusia 9 tahun dan disebelahnya gadis berdiri didepan ayahnya adalah adiknya yang masih berusia 5 tahun.
Menatap foto itu dalam dalam seakan dirinya hadir didalam foto itu berusaha mengingat pada saat difoto kala itu, namun usahanya sia sia tak ada satupun memori yang muncul pada saat itu.
Tak terasa air mata menitik pada lembar foto membuatnya sadar dari lamunan yang mendalam.
Disimpannya kembali foto keluarga itu dan diambil lagi satu foto keluarga lainnya tertulis nama dibalik gambar foto itu.
LUCK NO KAEL
SAMANTHA KAEL
DARSI VO KAEL
KARL EL KAEL
DEAN NI KAEL
SIN TO KAEL / WALTER
Nampak olehnya kakeknya yang sedang duduk memangku bibinya, ayahnya duduk dilantai diantara kaki kakek dan nenek, pamannya yang duduk di kaki kakek dan kaka ayahnya duduk di kaki nenek.
Lalu dia mencari nama SAB RINA KAEL berharap bisa mengetahui wajah ibunya yang masih kecil.
Ketika dia melihat sebuah nama matanya sedikit tercengang ketika melihat foto keluarga ibunya, Kael melihat lebih jelas lagi foto keluarga ibunya, dimana dia melihat foto kakek itu sama persis dengan wajah gurunya itu.
DARIO UN PERIĆ
KATH RINA PERIĆ
SAB RINA PERIĆ / KAEL
NONI ANG PERIĆ / WALL
HARJ RUDIN PERIĆ
"Guru ternyata Kakek ku" gumamnya
Hatinya ingin sekali untuk menjumpai guru nya dan menanyakan tentang kebenaran bahwa guru adalah kakeknya.
Namun niat itu tertahan ketika salah satu buku itu terbuka dengan sendirinya, dalam buku itu tertulis Sarajevo, 19 Agustus 1972.
Secara perlahan Kael mulai membuka buku harian yang ditulis ibunya, berbeda gaya tulisan dengan tulisan yang ada pada foto keluarga.
Tulisan dalam buku terlihat seperti menggunakan pensil dengan ujung yang sangat runcing nampak halus dengan garis yang sangat tipis.
Beda dengan tulisan di foto yang terlihat menggunakan pensil namun ukuran seperti ditulis menggunakan spidol.
"Sepertinya tulisan difoto itu tulisan guru" gumam Kael dalam hati sambil membandingkan kembali.