

Suara tetesan air yang membentur ember plastik di sudut kamar menjadi alarm alami bagi Bryan Santoso di pagi itu. Ia membuka mata perlahan, menatap langit-langit kos-kosannya yang penuh bercak hitam bekas rembesan air hujan. Sudah tiga bulan atap kamar ini bocor, tapi Bu Siti, pemilik kos, selalu bilang “nanti” setiap kali ia komplain.
“Sudah jam berapa?” gumamnya sambil meraih ponsel kusam di samping bantal tipis. Layar retak di sudut kanan menampilkan angka 05:47. Masih ada waktu tiga belas menit sebelum alarm berbunyi.
Bryan Santoso atau dipanggil Bryan saja oleh teman-temannya, adalah pemuda dua puluh tiga tahun yang hidup sendirian di kawasan Wonokromo, Surabaya. Kos-kosannya berada di gang sempit bernama Gang Kenanga III, sebuah lorong yang bahkan tidak cukup lebar untuk dilalui mobil. Di sini, suara tetangga bertengkar, tangis bayi, dan alunan dangdut koplo dari warung seberang adalah simfoni sehari-hari.
Ia bangkit dari kasur tipis yang pegas-pegasnya sudah menyembul di beberapa titik. Kamar berukuran 3x3 meter itu adalah seluruh dunianya: sebuah kasur, lemari kayu tua warisan pemilik kos sebelumnya, meja lipat untuk belajar, dan tumpukan buku kuliah yang berdebu di sudut. Kamar mandi bersama berada di ujung koridor, harus berbagi dengan tujuh penghuni kos lainnya.
Setelah mandi dengan air dingin dari bak penampungan yang airnya kecokelatan, Bryan bersiap untuk memulai hari. Ia memakai celana jeans lusuh dan kaos oblong hitam yang sudah melar, seragam andalannya untuk kerja di proyek konstruksi. Wajahnya yang tampan, rahang tegas, hidung mancung, dan mata tajam yang mewarisi darah campuran Indonesia-Tionghoa dari almarhum ayahnya, sering membuat orang tidak menyangka ia adalah buruh kasar.
Bryan adalah mahasiswa semester 5 di Universitas Terbuka jurusan Manajemen Bisnis. Bukan pilihan pertamanya, tapi satu-satunya pilihan yang masuk akal secara finansial. Kuliah jarak jauh memungkinkannya bekerja sambil kuliah, meski IPK-nya hanya 2.8, hasil dari ujian yang sering ia ikuti dalam kondisi kelelahan setelah kerja seharian.
Hidup tidak selalu sesulit ini bagi keluarga Santoso. Sepuluh tahun lalu, mereka masih tinggal di rumah sederhana namun layak di Gresik. Ayahnya, Santoso Gunawan, memiliki toko kelontong kecil yang cukup untuk menghidupi keluarga. Ibunya, Liana, adalah ibu rumah tangga yang hangat dan penyayang. Bryan punya seorang adik perempuan, Celine, yang kini berusia tujuh belas tahun.
Semuanya berubah saat Bryan berusia tiga belas tahun. Ayahnya meninggal mendadak karena serangan jantung. Toko kelontong harus dijual untuk membayar utang yang ternyata cukup banyak, ayahnya sering meminjam modal dari rentenir untuk mengembangkan usaha. Setelah rumah dan toko ludes, yang tersisa hanya cukup untuk menyewa rumah kontrakan kecil di kampung.
Ibunya terpaksa bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kediaman keluarga kaya bernama keluarga Wijaya di kawasan Kebomas, Gresik. Gaji ibunya sebesar 2.5 juta rupiah per bulan, tinggal di rumah majikan, pulang sebulan sekali. Uang itu untuk menyewa kontrakan, biaya sekolah Celine, dan kebutuhan sehari-hari.
Bryan yang waktu itu masih SMP bertekad membantu ibunya. Ia mulai kerja serabutan: jadi kuli bangunan saat libur sekolah, jadi tukang cuci motor, bahkan sempat jadi pengamen jalanan. Saat lulus SMA dengan nilai pas-pasan, ia tahu kuliah adalah kemewahan. Tapi ibunya menangis memohon, “Kamu harus kuliah, Bry. Ibu tidak mau kamu jadi seperti Ibu selamanya.”
Maka Bryan pindah ke Surabaya dengan modal dua juta rupiah hasil tabungan ibunya selama setahun. Ia mendaftar di Universitas Terbuka, mencari kos termurah yang bisa ditemukan, dan mulai mencari pekerjaan apa saja yang bisa menghidupinya sambil kuliah.
Tiga tahun sudah ia bertahan dengan pola hidup yang sama: bangun pagi, kerja di proyek konstruksi atau di pasar sebagai kuli angkut barang, pulang sore, belajar sedikit jika masih ada tenaga, tidur, dan ulangi. Setiap bulan ia mengirim 500 ribu hingga 1 juta rupiah ke ibunya, sisanya untuk kos, makan, dan biaya kuliah.
Pagi itu, seperti biasa, Bryan berjalan kaki tiga kilometer ke pasar tradisional Wonokromo untuk mencari pekerjaan harian. Ia biasa berkumpul dengan para kuli lain di warung kopi Pak Karso, tempat para mandor atau juragan pasar mencari tenaga kerja.
“Bryan! Ke sini!” teriak Mas Joko, mandor yang sering memanggilnya untuk kerja di proyek-proyek kecil.
Bryan menghampiri dengan langkah cepat. “Ada kerjaan, Mas?”
“Hari ini nggak ada, Bry. Proyeknya mandek, investor mundur,” jawab Mas Joko sambil menggeleng. “Tapi coba kamu cek handphone. Tadi ada yang tanya-tanya soal kamu. Deni, supir truk yang pernah kerja bareng kamu. Katanya ada info lowongan kerja.”
Bryan langsung cek ponselnya. Benar ada pesan WhatsApp dari Mas Deni, supir yang pernah ia bantu bongkar muat barang setahun lalu.
“Bry, ada lowongan jadi pelayan rumah tangga di rumah bos gue. Gajinya gede, 5 juta sebulan, tempat tinggal sama makan ditanggung. Minat nggak? Kalau minat, gue kasih nomor kepala pelayannya.”
Lima juta? Bryan membaca pesan itu berulang kali. Gajinya sebagai buruh harian maksimal 2.5 juta sebulan, itupun kalau dapat kerja setiap hari, yang jarang terjadi. Lima juta artinya ia bisa kirim lebih banyak ke ibunya, bahkan mungkin nabung untuk masa depan.
Tapi pelayan rumah tangga? Bryan tidak punya pengalaman. Ia hanya pernah kerja kasar: angkat-angkat barang, aduk semen, pasang batu bata. Tapi apa salahnya mencoba?
Dengan jari gemetar, ia membalas: “Minat banget, Mas. Tolong kirim nomornya.”
Tak sampai semenit, Mas Deni mengirim nomor kontak bernama “Pak Trimo : Kepala Pelayan Residence Alvaro.”
Residence Alvaro? Nama yang terdengar sangat mewah. Bryan menarik napas panjang sebelum mengetik pesan:
“Selamat pagi, Pak Trimo. Saya Bryan Santoso, teman Mas Deni. Beliau bilang ada lowongan pelayan rumah tangga. Saya berminat melamar. Apakah masih tersedia? Terima kasih.”
Ia mengirim pesan itu jam 07:15 pagi. Sambil menunggu balasan, Bryan memesan kopi hitam murah di warung Pak Karso, cuma 3000 rupiah. Ia duduk di bangku kayu sambil menatap layar ponsel dengan harap-harap cemas.
Jam 11:30, saat Bryan sedang membantu Pak Karso membersihkan meja, kerja tanpa upah tapi dapat makan siang gratis, ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal.
“Halo?” jawabnya gugup.
“Selamat siang. Dengan Saudara Bryan Santoso?” suara pria paruh baya terdengar tegas dan formal di seberang.
“Benar, Pak. Saya Bryan.”
“Saya Trimo Wibowo, kepala pelayan di Residence Alvaro. Saya sudah terima pesan Anda tadi pagi. Apakah Anda benar-benar serius ingin melamar posisi ini?”
“Sangat serius, Pak!” jawab Bryan dengan semangat yang mungkin terlalu berlebihan.
“Baik. Saya perlu informasi Anda: usia, pendidikan terakhir, pengalaman kerja, dan apakah Anda bersedia tinggal di tempat kerja?”
Bryan menjawab sejujur-jujurnya: dua puluh tiga tahun, mahasiswa Universitas Terbuka semester 5, pengalaman kerja sebagai buruh konstruksi dan kuli pasar, dan ya, ia sangat bersedia tinggal di tempat kerja.
Ada jeda panjang di seberang. Bryan bisa mendengar suara Pak Trimo mengetik sesuatu.
“Anda tidak punya pengalaman sebagai pelayan rumah tangga?”
“Tidak, Pak. Tapi saya cepat belajar dan pekerja keras. Saya siap dilatih,” jawab Bryan dengan nada memohon.
Pak Trimo terdiam lagi. “Baiklah. Besok, Kamis, jam 2 siang, datang ke alamat yang akan saya kirim lewat pesan. Bawa fotokopi KTP, ijazah SMA, dan foto 4x6 terbaru dua lembar. Pakai baju rapi, kemeja dan celana bahan kalau punya. Interview hanya 15 menit, jangan terlambat.”
“Siap, Pak! Terima kasih banyak!” Bryan hampir berteriak.
Telepon ditutup. Sedetik kemudian, pesan masuk berisi alamat: Jl. Bukit Darmo Golf No. 88, Surabaya.
Bukit Darmo Golf. Bryan tahu kawasan itu, daerah paling elite di Surabaya Barat, tempat para pengusaha kaya dan pejabat tinggi tinggal. Ia bahkan tidak pernah berani masuk ke kawasan itu, merasa seperti orang asing yang tidak pantas berada di sana.
Sisa hari itu dan sepanjang malam, Bryan menyiapkan segala sesuatu. Ia pergi ke fotokopi terdekat, mencetak KTP dan ijazah. Lalu ke studio foto murahan untuk cetak pas foto, menghabiskan 25 ribu rupiah. Ia hanya punya satu kemeja, putih pudar dengan sedikit noda bekas tinta di saku, tapi sudah cukup.
Malam itu, di kamar kosnya yang sempit, Bryan duduk di lantai sambil menatap berkas-berkas lamarannya yang tersusun rapi. Ia teringat ibunya.
Ia mengambil ponsel dan menelepon.
“Halo, Bry?” suara ibunya terdengar lelah tapi hangat.
“Bu, kabar baik. Aku dapat info lowongan kerja, gajinya lima juta sebulan. Besok aku interview.”
“Benaran, Nak? Syukurlah! Kerja apa?”
“Pelayan rumah tangga di rumah orang kaya, Bu. Aku tahu Ibu juga kerja begitu, tapi ini beda, Bu. Gajinya lebih gede, dan kalau aku diterima, aku bisa kirim uang lebih banyak. Celine juga bisa sekolah lebih baik.”
Ibunya terdiam. Bryan bisa mendengar isak tangis kecil di seberang.
“Ibu bangga sama kamu, Nak. Kamu sudah jadi laki-laki yang tangguh. Tapi jangan lupa kuliah kamu, ya? Ibu mau kamu lulus, jadi sarjana.”
“Iya, Bu. Aku janji.”
Setelah mengobrol sebentar dengan Celine yang antusias mendengar kabar kakaknya, Bryan menutup telepon. Ia berbaring di kasur tipis, menatap langit-langit yang bocor, dan membayangkan bagaimana hidupnya bisa berubah kalau ia diterima kerja besok.