Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pecundang Jadi Milyarder

Pecundang Jadi Milyarder

Gadis Nakal | Bersambung
Jumlah kata
29.1K
Popular
327
Subscribe
85
Novel / Pecundang Jadi Milyarder
Pecundang Jadi Milyarder

Pecundang Jadi Milyarder

Gadis Nakal| Bersambung
Jumlah Kata
29.1K
Popular
327
Subscribe
85
Sinopsis
18+FantasiIsekaiReinkarnasiHarem21+
"Kau hanyalah sampah, Aris. Pecundang yang menghabiskan hidup untuk mengejar wanita yang bahkan tidak sudi mencium bau badanmu." Kata-kata itu adalah hal terakhir yang didengar Aris sebelum belati menembus jantungnya. Di sebuah gubuk reyot di pinggiran ibu kota, Aris mati sebagai pria lumpuh yang dikhianati oleh Nadia—istri yang ia puja seumur hidupnya namun justru berselingkuh dan merampas seluruh hartanya. Namun, maut ternyata bukan akhir. Aris terbangun di sebuah pagi yang cerah pada Mei tahun 2000. Tubuhnya kembali muda, kakinya kembali kuat, dan ibunya masih hidup. Hari itu adalah hari di mana ia berencana menjual sapi terakhir keluarganya demi membiayai ambisi Nadia ke kota, hari di mana dia belum menikah dengan Nadia. Aris diberikan kesempatan kedua, menebus semua kebodohan, dosa, di masa lalu. Dengan ingatan 24 tahun masa depan di kepalanya, Aris bersumpah, dia akan menyelamatkan keluarganya, dan membalas setiap tetes air mata dengan keberhasilan yang tak terbayangkan. Dan kali ini, ia tidak akan lagi berpaling dari Santi—gadis tulus yang di kehidupan sebelumnya ia sia-siakan hingga mati dalam kesunyian. Satu ingatan masa depan. Ribuan penyesalan yang harus ditebus. Inilah perjalanan Aris mengulang takdir di tanah kelahirannya. Mungkinkah Aris mampu mengubah takdir dengan kesempatan kedua yang diberikan langit padanya?
Bab 1

"Masih belum mati juga, Aris? Kau ini benar-benar keras kepala, ya."

Nadia berdiri di ambang pintu gubuk yang reyot, payung hitamnya masih meneteskan air hujan ke lantai tanah yang becek. Di belakangnya, seorang pria berbadan tegap menatap Aris dengan seringai meremehkan—selingkuhan istrinya sendiri.

Aris mencoba bersuara, namun hanya erangan parau yang keluar. Tubuhnya yang lumpuh dan kering kerontang hanya bisa meringkuk di atas kasur usang dan apek berbau pesing yang sudah koyak di beberapa sisi.

"Kenapa menatapku begitu?" Nadia melangkah maju, sepatu hak tingginya menginjak ujung kaki Aris yang tak lagi bisa merasakan apa-apa.

"Kau pikir aku akan sudi merawat rongsokan sepertimu selamanya? Kalau bukan karena tanah rawa di desa itu akan digusur untuk proyek tol, aku sudah membiarkanmu membusuk di selokan sejak tahun lalu."

Nadia membungkuk, wajah cantiknya yang dulu dipuja Aris kini tampak seperti iblis.

"Surat kuasanya sudah kupalsukan. Aku butuh tanda tanganmu, tapi karena tanganmu sudah gemetar tidak berguna, menghilang saja adalah pilihan terbaik. Kau hanya sampah, Aris. Pecundang yang menghabiskan hidupnya untuk mengejar wanita yang bahkan tidak sudi mencium bau badanmu."

Nadia memberi isyarat kecil. Pria di belakangnya maju, mencengkeram leher Aris yang tinggal tulang, lalu mengarahkan sebilah belati mengkilap ke dada pria malang itu.

Aris tidak melawan. Tidak ada air mata untuk wanita ini lagi. Di sisa napasnya yang sesak, justru wajah Santi—gadis desa yang dulu ia campakkan demi Nadia—yang melintas. Santi yang tulus, yang mati dalam kemiskinan karena ulahnya.

‘Bodoh... aku sangat bodoh…,’ batinnya menjerit saat dinginnya besi menembus jantung.

Dalam kegelapan yang kian pekat, Aris membisikkan satu kalimat terakhir, "Andai masa lalu bisa diubah... aku tidak ingin menjadi pecundang lagi, aku akan membalaskan semua dendam ini ….”

JLEB!

Kesadarannya hilang. Dingin. Gelap.

Namun, rasa dingin itu tiba-tiba berubah menjadi hangat yang menyengat kulit wajahnya. Suara bising knalpot ibu kota berganti menjadi kokok ayam jantan yang lantang dan aroma tanah basah yang segar.

Aris tersentak bangun. Ia tidak merasakan sakit di dadanya. Ia mencoba menggerakkan kakinya, dan kakinya bergerak dengan kuat. Ia menatap tangannya yang kencang, berurat, dan kecokelatan dimakan matahari.

Di dinding kayu di depannya, sebuah kalender kertas usang tergantung dengan angka besar berwarna merah, 12 MEI 2000.

"Aris! Bangun!" suara ibunya berteriak dari dapur. "Katanya hari ini mau jual sapi buat modal si Nadia ke kota? Cepat mandi, dia sudah menunggu di depan pagar!"

Aris terpaku. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak sedang bermimpi. Dia kembali di masa dia belum menikah dengan Nadia?

Aris tidak langsung menjawab teriakan ibunya. Dunianya seolah berputar. Ia mengangkat kedua tangannya di depan wajah, membolak-balikkannya dengan tatapan tidak percaya.

Kulit yang tadi putih pucat, kering, dan menempel pada tulang, kini terasa tebal dan kenyal. Ada urat-urat menonjol yang menandakan kekuatan seorang pemuda yang terbiasa bekerja kasar. Tidak ada lagi bau pesing atau aroma busuk dari luka dekubitus di punggungnya. Yang tercium adalah bau keringat jantan dan sabun batangan murah yang khas.

Gemetar, Aris menyentuh dadanya. Ia meraba area di mana belati Nadia menembus jantungnya tadi. Rata. Utuh. Tidak ada lubang, tidak ada darah.

Ia kemudian meraba wajahnya sendiri. Tulang pipinya terasa padat, dagunya ditumbuhi bulu-bulu halus yang tajam—bukan janggut kotor tak terawat seperti di gubuk itu. Ia meraba hidungnya, telinganya, hingga rambutnya yang lebat dan kasar.

"Ini... ini mustahil," bisiknya. Suaranya tidak lagi serak dan pecah, melainkan berat dan bertenaga.

Aris mencoba duduk di tepi balai-balai kayu. Setiap gerakan sendinya terasa luwes, tanpa rasa nyeri yang biasanya menusuk sumsum tulang.

Dengan jantung yang berdegup kencang, ia perlahan menurunkan kakinya ke lantai semen.

Tap!

Dinginnya semen menyengat telapak kakinya. Aris memejamkan mata, meresapi sensasi yang sudah sepuluh tahun hilang dari hidupnya. Ia menekan jempol kakinya ke lantai, lalu perlahan-lahan berdiri. Kakinya kokoh. Tidak goyah. Tidak lumpuh.

"Aku... aku benar-benar kembali?" gumamnya tak percaya.

Ia melangkah satu per satu, kikuk seperti bayi yang baru belajar berjalan, namun setiap langkah itu terasa seperti mukjizat.

Ia menghampiri sebuah cermin retak yang tergantung di tiang kayu dekat pintu. Di sana, pantulan seorang pemuda berusia 24 tahun menatapnya balik dengan mata yang memerah karena sisa tangis di masa depan.

"Aris! Kau ini tuli ya?" Suara ibunya kembali terdengar, kali ini diikuti langkah kaki mendekat, "Itu si Nadia sudah dandan cantik, jangan bikin dia menunggu lama. Nanti dia ngambek lagi!"

Pintu kamar terbuka. Sosok wanita tua dengan kebaya usang muncul. Aris terpaku. Ibunya masih hidup. Wajah itu belum sekeriput saat meninggal karena beban pikiran sepuluh tahun kemudian.

"Ibu…," suara Aris bergetar. Ia tidak peduli pada Nadia, ia tidak peduli pada sapi. Ia hanya ingin memastikan bahwa wanita di depannya ini nyata.

"Kenapa kau malah bengong begitu? Cepat mandi!" Ibunya menggelengkan kepala, mengira anaknya masih mengantuk. "Sapi di kandang sudah siap. Bapakmu juga sudah nunggu di pasar buat saksi jual beli."

Aris menarik napas panjang, mencoba menekan badai emosi di dadanya. Ingatan tentang pengkhianatan Nadia di masa depan membakar habis rasa bingungnya, menyisakan bara dendam yang dingin.

"Ibu," panggil Aris dengan nada yang mendadak tenang namun tegas. "Hari ini, aku tidak akan menjual sapi. Dan mulai hari ini... Ibu tidak perlu lagi memikirkan hutang atau apa pun. Aku yang akan mengurus semuanya."

Ibunya mengernyit, bingung melihat sorot mata anaknya yang tiba-tiba terlihat seperti orang yang sudah menanggung beban dunia selama puluhan tahun.

"Kau bicara apa, Ris? Sudah, sana temui Nadia dulu. Dia sudah manggil-manggil dari tadi."

Aris mengangguk pelan. Ia berjalan keluar kamar dengan langkah tegap, melewati ruang tamu kecil rumah mereka.

Saat ia mencapai pintu depan, ia melihat sosok wanita berbaju bunga-bunga ketat dengan payung merah di tangannya, bersandar di pagar bambu dengan raut wajah tidak sabar.

Nadia. Di masa ini, dia memang cantik—tipe kecantikan desa yang menonjol. Tapi bagi Aris, wajah itu sekarang tak lebih dari topeng iblis yang akan merobek jantungnya.

"Lama sekali sih, Ris!" Nadia berteriak manja begitu melihat Aris muncul. "Ayo cepat bawa sapinya! Kita harus sampai di pasar sebelum siang, biar uangnya cepat cair!"

Aris berhenti di teras, menatap Nadia dengan tatapan yang membuat bulu kuduk wanita itu mendadak berdiri.

“Kamu kenapa sih, Ris?” tanya Nadia seraya mengerutkan keningnya, biasanya Aris tidak pernah menatapnya dengan tatapan dingin seperti itu, apa yang terjadi ya? Pikir Nadia.

Aris menggelengkan kepala, berusaha untuk tetap bersikap biasa saja.

‘Jangan sampai ada yang curiga, jangan …,’ batin Aris.

Lanjut membaca
Lanjut membaca