

Aula besar Istana Kencana tidak pernah tidur, terutama saat perayaan pergantian musim seperti malam ini. Ribuan lilin kristal menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya keemasan pada gaun-gaun sutra dan lencana kebangsawanan yang berkilau. Di tengah kebisingan musik harpa dan tawa basa-basi para menteri, Raegar Alexis berdiri dengan keanggunan yang tampak malas.
Raegar, sang Putra Mahkota, adalah pusat gravitasi di ruangan itu. Dengan segelas anggur merah di tangan kanan, ia membiarkan seorang putri dari kadipaten selatan menyandarkan kepala di bahunya. Senyum Raegar tampak tulus, jenis senyum yang bisa membuat wanita mana pun merasa seolah dialah satu-satunya orang di dunia ini.
"Pangeran," bisik wanita itu, suaranya gemetar oleh pesona Raegar, "apakah benar Anda akan mengunjungi wilayah kami bulan depan?"
"Jika kecantikanmu adalah bayangan dari keindahan wilayahmu, Lady Elena, maka aku tidak punya alasan untuk menolak," jawab Raegar lembut.
Ia mencondongkan tubuh, membisikkan kata-kata manis yang membuat pipi wanita itu merona hebat. Namun, di balik kerlingan mata karismatik itu, pikiran Raegar bekerja seperti mesin yang dingin dan presisi. Matanya yang tajam menyapu setiap sudut aula, memetakan siapa saja yang hadir, siapa yang berbisik dengan siapa, dan siapa yang menatapnya dengan kebencian yang tertutup rasa hormat.
Reputasi Raegar sebagai seorang Pendosa—pria penggoda yang tidak memiliki ambisi selain kesenangan—adalah perisai terbaik yang pernah ia ciptakan. Selama orang-orang menganggapnya sebagai playboy yang tidak berguna, mereka tidak akan pernah melihat taring yang ia sembunyikan di balik jubah sutranya.
Tiba-tiba, langkah kaki yang berat mendekat. Raegar segera mengubah postur tubuhnya, menjadi sedikit lebih santai, hampir terlihat mabuk.
"Raegar," suara berat itu berasal dari Raja Alexis, ayahnya.
Sang Raja berdiri di sana dengan wajah yang keras, kontras dengan suasana pesta. Di sampingnya, berdiri Seraphine Camellies, selir ambisius yang selalu memandang Raegar seolah-olah ia adalah bidak catur yang perlu segera disingkirkan.
"Ayahanda," sapa Raegar dengan nada riang yang dibuat-buat. "Anda melewatkan anggur terbaik musim ini."
"Ikut aku ke ruang kerja. Sekarang," perintah Raja tanpa mempedulikan godaan putranya.
Raegar memberikan ciuman singkat pada punggung tangan Lady Elena sebagai pamit, meninggalkan wanita yang tersipu itu untuk mengikuti langkah ayahnya keluar dari aula. Begitu pintu aula tertutup dan kebisingan pesta meredup menjadi kesunyian koridor istana, topeng ceria di wajah Raegar perlahan luntur, menyisakan tatapan dingin yang mampu membekukan darah.
Di dalam ruang kerja Raja yang dipenuhi aroma kayu cendana dan kertas tua, suasana berubah menjadi tegang. Raja tidak membuang waktu. Ia melemparkan sebuah gulungan perkamen yang tersegel lilin hitam ke atas meja.
"Klan lama mulai bergerak kembali, Raegar," kata Raja, suaranya rendah. "Isu pemberontakan yang kita kira sudah padam dua dekade lalu kini muncul lagi di perbatasan."
Raegar meraih perkamen itu, membacanya dengan cepat. Garis-garis di keningnya mengencang saat ia melihat sebuah nama yang tertulis di sana.
"Anda ingin aku melakukan apa?" tanya Raegar, suaranya kini dalam dan serius, jauh dari nada bicaranya di aula tadi.
"Gunakan reputasimu yang memalukan itu untuk sesuatu yang berguna," ujar Raja dengan nada menyindir. "Ada seorang wanita bernama Kalista Arabella. Dia adalah kunci untuk menemukan sisa-sisa klan pemberontak tersebut. Dekati dia. Buat dia percaya padamu. Temukan di mana mereka bersembunyi."
Raegar terdiam sejenak. Ia tahu ini bukan sekadar misi mata-mata biasa. Ini adalah permainan manipulasi yang berbahaya. Baginya, mendekati wanita adalah hal mudah, namun catatan tentang Kalista menyebutkan bahwa wanita ini berbeda. Dia adalah Wanita yang tak bisa ditaklukkan.
"Dia tidak akan mudah luluh dengan kata-kata manis, Raegar," tambah Raja seolah bisa membaca pikiran putranya. "Dia tumbuh dengan luka akibat konflik politik masa lalu. Dia waspada."
Raegar melipat kembali perkamen itu dan menyembunyikannya di balik pakaiannya. Sebuah kilatan tertantang muncul di matanya.
"Sesuatu yang sulit selalu lebih menarik untuk dikejar, bukan?" gumam Raegar dengan senyum tipis yang kali ini tidak ditujukan untuk siapa pun kecuali dirinya sendiri.
Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, sebuah ingatan pahit muncul sekilas, bayangan api dan teriakan dari tragedi masa kecilnya yang melibatkan pengkhianatan keluarga. Itulah alasan sebenarnya mengapa ia tidak pernah benar-benar membiarkan siapa pun masuk ke dalam hatinya. Baginya, cinta adalah kelemahan, dan emosi adalah senjata yang hanya boleh digunakan untuk menjatuhkan lawan.
Malam itu, saat ia kembali ke kamarnya, Raegar berdiri di balkon yang menghadap ke arah kota kerajaan yang luas. Ia memikirkan nama itu, Kalista. Dia adalah target barunya, bidak selanjutnya dalam permainan catur politik yang mematikan.
"Maafkan aku, Kalista," bisik Raegar pada angin malam. "Tapi di dunia ini, kau harus menjadi predator atau kau akan menjadi mangsa. Demikian, aku sudah lama berhenti menjadi mangsa."
Raegar tahu, perjalanan ini tidak hanya akan menguji kemampuannya dalam memanipulasi, tetapi juga akan menyeret kembali semua rahasia gelap yang selama ini ia kubur dalam-dalam di bawah label sang Pendosa.
Suasana di balkon sayap barat istana jauh lebih tenang dibandingkan keriuhan di aula utama, namun bagi Raegar, ketenangan adalah kemewahan yang jarang ia miliki. Ia baru saja keluar dari ruang kerja Raja dengan gulungan perkamen rahasia yang kini sudah ia bakar habis di perapian kecil kamarnya. Kini, ia harus kembali ke panggung sandiwara.
"Pangeran Raegar, Anda tampak begitu melamun malam ini. Apakah ada beban di pikiran Anda yang bisa saya ringankan?"
Raegar menoleh. Di hadapannya berdiri Lady Genevieve, putri dari keluarga Duke yang baru saja tiba di ibu kota. Wanita itu mengenakan gaun beludru biru tua yang menonjolkan kulit pucatnya. Matanya berbinar dengan kekaguman yang tidak disembunyikan.
Raegar menyunggingkan senyum khasnya, senyum yang menurut gosip istana mampu meluluhkan hati wanita paling dingin sekalipun. "Lady Genevieve," sahutnya dengan suara rendah yang merayu. "Saya hanya sedang merenung, betapa malangnya bulan malam ini karena sinarnya kalah telak oleh kehadiran Anda di sini."
Genevieve tersipu, sebuah reaksi yang sudah sangat dihafal oleh Raegar. Raegar melangkah mendekat, memperpendek jarak hingga ia bisa mencium aroma parfum melati dari wanita itu. Ia membelai jemari Genevieve dengan lembut, memainkan peran sebagai putra mahkota penggoda yang selama ini menjadi citra publiknya demi menutupi misi-misi gelap kerajaan.
"Anda terlalu pandai bicara, Pangeran," bisik Genevieve. "Orang-orang bilang Anda adalah seorang pendosa yang senang mengoleksi hati wanita."
"Lantas apakah Anda takut menjadi salah satu dari koleksi itu?" tanya Raegar sambil menatap langsung ke mata wanita itu, memberikan intensitas palsu yang selalu berhasil.
Namun di dalam kepalanya, Raegar sedang menghitung waktu. Pesta ini adalah tempat terbaik untuk memantau pergerakan para bangsawan. Sambil terus menggoda Genevieve, mata Raegar melirik ke arah kerumunan di bawah balkon. Ia melihat beberapa pejabat kementerian sedang berbisik-bisik dengan wajah tegang. Gosip tentang selir politik baru—sebuah langkah catur dari faksi lawan untuk melemahkan posisinya—mulai terdengar di antara denting gelas sampanye.
"Pangeran?" Genevieve memanggilnya, merasa perhatian Raegar teralih sejenak.
"Maafkan saya, Lady. Keindahan Anda terkadang membuat saya kehilangan kata-kata," dusta Raegar dengan lancar.
Setelah beberapa saat memberikan harapan palsu kepada Genevieve, Raegar berpamitan dengan alasan harus menyapa tamu diplomatik. Begitu ia berhasil melepaskan diri dan berjalan di koridor sepi menuju sayap utara, ekspresi wajahnya berubah drastis. Senyum menawan itu hilang, digantikan oleh garis wajah yang kaku dan dingin.
Ia tidak menyukai keramaian. Ia membenci kepalsuan ini. Tapi ayahnya benar, reputasinya sebagai pria yang hanya peduli pada wanita adalah kamuflase sempurna agar musuh-musuhnya meremehkannya.
Di ujung koridor, bayangan seseorang telah menunggunya. Itu adalah penasihat kepercayaannya.
"Bagaimana?" tanya Raegar singkat, tanpa basa-basi.
"Target baru sudah teridentifikasi, Yang Mulia. Kalista Arabella. Dia jarang terlihat di pesta-pesta seperti ini, yang membuatnya semakin sulit untuk didekati secara alami," lapor sang penasihat dengan suara rendah.
Raegar menyandarkan punggungnya ke dinding marmer yang dingin. "Seorang wanita yang membenci keramaian dan skeptis terhadap bangsawan. Menarik. Justru itu akan membuat pendekatanku terlihat lebih menantang bagi para penggosip istana.”
"Berhati-hatilah, Pangeran. Isu tentang klan pemberontak lama mulai memanas lagi. Beberapa bangsawan mulai menaruh kecurigaan pada aktivitas Anda yang sebenarnya di luar istana," penasihat itu memperingatkan.
Raegar hanya mendengus pelan. "Biarkan mereka curiga. Selama mereka pikir aku hanya sedang mengejar wanita lain untuk kepuasan sesaat, rahasia kerajaan akan tetap aman."
Ia memperbaiki kerah bajunya, memasang kembali topeng karismatiknya, dan bersiap kembali ke dalam aula. Misi untuk mendekati Kalista bukan sekadar tugas politik baginya, melainkan bagian dari penebusan atas tragedi masa lalu yang terus menghantuinya di setiap malam yang sunyi.