Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Suami Gaib Istriku

Suami Gaib Istriku

Hayisa Aaroon | Bersambung
Jumlah kata
28.2K
Popular
403
Subscribe
65
Novel / Suami Gaib Istriku
Suami Gaib Istriku

Suami Gaib Istriku

Hayisa Aaroon| Bersambung
Jumlah Kata
28.2K
Popular
403
Subscribe
65
Sinopsis
HorrorHorrorMenantuPria MiskinKutukan
1950. Gigih hanya tukang panggul karung gabah yang menghidupi ibu dan tujuh adiknya yang yatim. Lalu juragan terkaya di desa memanggilnya untuk menjadikannya menantu. "Kalau kau menolak, aku pecat hari ini juga. Detik ini. Aku pastikan tidak ada juragan lain yang mau mempekerjakanmu." Sejak awal Gigih tahu ada yang salah, dia tidak punya pilihan. Dan memang benar, ada yang salah dengan Wening. Wening bukan gadis biasa. Di balik wajahnya yang rupawan, ada kegilaan yang tersembunyi. Ia kerap "bercinta" dengan seseorang yang tidak terlihat. Melukis gambar-gambar erotis pria Belanda yang sudah mati. "Rebut putriku dari makhluk itu," perintah sang juragan. "Itu tugasmu sebagai suaminya." Kini ia terjebak di rumah berhantu, dengan istri yang membencinya, dan saingan yang tidak bisa ia sentuh.
1. Lamaran Tak Terduga

"Gih, aku ingin mengambilmu sebagai mantu."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Juragan Warsito yang duduk di balik meja kerjanya.

Gigih membatu. Telinganya pasti salah dengar.

Tubuhnya masih membungkuk dalam posisi hormat. Keringat membasahi sekujur badannya sehabis mengangkut karung gabah dari pagi buta. Bau apak keringat dan debu gabah menguar dari tubuhnya, membuatnya semakin tidak nyaman berdiri di ruangan semewah ini.

"Gih." Suara berat Juragan Warsito memecah keheningan. "Kau tidak mendengar aku berkata apa?"

"J-Juragan …," Gigih menelan ludah. "S-saya ...."

"Aku ingin menikahkanmu dengan putri semata wayangku. Ratih Wening."

Gadis itu langsung terlintas di benak Gigih. Perempuan muda yang hanya pernah ia lihat sekilas dari kejauhan. Cantik dengan kulit putih mulus.

Siapa yang tidak mau? Seluruh pemuda di desa ini bermimpi bisa meminangnya. Anak-anak juragan dari desa tetangga banyak yang datang melamar. Tapi entah mengapa lamaran-lamaran itu tidak pernah berlanjut ke pelaminan.

Dan sekarang, Gigih, seorang tukang panggul karung gabah yang baru sebulan bekerja, diminta menjadi suaminya?

"Tapi Juragan," suara Gigih keluar ragu-ragu, "saya tidak punya apa-apa."

Tawa berat menggelegar memenuhi ruangan.

"Tidak punya apa-apa, katamu?" Juragan Warsito bangkit dari kursinya. Tubuhnya yang pendek dan gemuk bergerak mengelilingi meja, mendekati Gigih. Ia harus mendongak untuk menatap wajah pemuda yang berdiri di hadapannya.

Gigih semakin tidak nyaman. Ia bisa mencium wangi minyak cendana yang menguar dari tubuh juragan, sementara dirinya berbau seperti gudang gabah.

"Gih, Gih." Tangan Juragan Warsito menepuk bahu Gigih, merasakan otot yang keras seperti batu di balik kemeja putih kumal. "Aku tidak melihat hartamu. Aku melihat potensimu."

Gigih diam.

"Aku sudah mengawasimu selama sebulan ini." Juragan Warsito meremas bahu Gigih sekali lagi sebelum melepaskannya. "Kau selalu datang paling pagi. Bekerja tanpa mengeluh. Tidak banyak bicara. Pulang paling akhir. Menyapu gudang tanpa disuruh."

Ia mundur selangkah, mengamati Gigih dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Dan kau pekerja paling kuat di penggilinganku. Karung seratus kilo kau angkat sendiri tanpa banyak protes. Pekerja lain butuh berdua." Juragan Warsito mengangguk-angguk. "Tubuhmu tinggi besar. Bahumu lebar. Tanganmu kuat. Perempuan suka laki-laki perkasa sepertimu, Gih. Aku ingin putriku bahagia. Lahir dan batin. Kau mengerti maksudku, kan?"

Gigih mengangguk kaku, meski tidak sepenuhnya paham.

"Sayang sekali kau hitam begini. Rambutmu sampai merah terbakar matahari." Juragan Warsito berdecak. "Padahal wajahmu tampan. Hidung mancung, rahang tegas. Mirip bapakmu waktu muda. Kalau dirawat sedikit, kau bisa seperti bintang film."

"Tapi Juragan, saya memberi makan adik-adik saya saja sudah susah. Bapak saya sudah meninggal. Adik saya tujuh orang. Simbok sakit-sakitan. Bagaimana saya bisa menghidupi istri, apalagi putri Juragan yang ...."

Ia tidak sanggup melanjutkan.

"Kau tidak perlu pusing soal itu." Juragan Warsito kembali ke kursinya, mengambil rokok yang masih menyala di asbak. "Kalau kau jadi menantuku, keluargamu akan terjamin. Adik-adikmu kusekolahkan. Simbokmu tidak perlu bekerja. Aku hanya minta satu hal."

Matanya menajam.

"Putriku harus bahagia."

Gigih masih bingung.

"Kau tahu kenapa aku tidak menikahkan putriku dengan anak juragan lain?" Raut wajah Juragan Warsito mengeras. "Karena pemuda-pemuda itu kerjanya hanya main perempuan, mabuk, judi. Aku tidak mau putriku menikah dengan laki-laki seperti itu."

Juragan Warsito menghisap cerutunya dalam-dalam.

"Ada satu hal lagi yang ingin kuceritakan padamu. Putriku tidak seperti gadis biasa. Dia tidak suka keluar rumah. Lebih senang di kamar untuk menjahit, menyulam, dan membaca." Juragan Warsito berbicara perlahan, seolah memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Dia gadis yang … pendiam. Itu sebabnya dia lebih cocok denganmu."

Cara Juragan Warsito mengatakannya membuat Gigih merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar kepribadian pendiam.

Juragan Warsito membuka laci mejanya. Mengeluarkan setumpuk uang lembaran dalam jumlah yang belum pernah Gigih lihat seumur hidupnya.

"Ini untukmu. Beli perlengkapan untuk melamar. Bawa simbokmu besok untuk melamar secara resmi."

"Tapi Juragan, saya—"

"Kau menolak?"

Suara Juragan Warsito berubah dingin.

"Kalau kau menolak, aku pecat hari ini juga. Detik ini. Aku pastikan tidak ada juragan lain yang mau mempekerjakanmu."

Gigih membeku.

"Jadi, Gih. Apa jawabanmu?"

Tidak ada pilihan.

Gigih melangkah maju dengan hati bimbang. Tangannya yang kasar dan hitam meraih tumpukan uang di atas meja.

"Terima kasih, Juragan. Terima kasih."

Juragan Warsito tertawa lagi. "Bagus. Sekarang, pulanglah, bilang ke Simbokmu."

Gigih membungkuk, hendak berbalik menuju pintu.

"Tunggu, Gih."

Gigih berbalik. Jantungnya berdegup.

"Ada satu hal lagi yang harus kupastikan. Selama sebulan ini, aku mengawasimu." Matanya menyipit. "Kau berbeda dari pekerja lain. Pekerja lain, matanya jelalatan kalau ada pelayan perempuanku lewat. Tapi kau? Tidak pernah."

Juragan Warsito menghisap rokoknya.

"Aku senang kau sopan. Tapi aku jadi bertanya-tanya. Apa kau memang sopan, atau kau tidak punya telur?"

Gigih terhenyak.

"Aku harus memastikan calon menantuku punya senjata yang cukup untuk memberi keturunan. Putriku harus puas lahir batin. Aku tidak mau putriku menikah dengan laki-laki yang tidak bisa memberinya anak."

Gigih semakin bingung.

"Kemarilah …!"

Perintah itu singkat, tegas.

Gigih melangkah mendekat dengan dada berdebar.

"Kita sama-sama laki-laki, tidak perlu malu." Juragan Warsito meletakkan rokoknya di atas asbak. "Anggap saja aku ini bapakmu. Ini sudah tradisi turun-temurun."

Tangan Juragan Warsito bergerak. Jemarinya yang gemuk menarik tali kolor celana Gigih, melonggarkannya sedikit. Mengintip dari atas pinggang celana yang melonggar.

Gigih menatap langit-langit. Rahangnya mengeras. Wajahnya malu bukan main.

Tawa berat Juragan Warsito pecah.

"Bagus. Bagus sekali." Ia menepuk bahu Gigih. "Kau jantan seperti bapakmu. Lengkap sudah. Badan besar, kuat, dan senjatanya pun sepadan."

Gigih buru-buru membenahi celananya.

"Kau tahu bapakmu dulu terkenal apa?"

Gigih menggeleng.

"Terkenal kuat kawin." Juragan Warsito tertawa. "Istrinya empat. Belum simpanannya. Anaknya puluhan. Badannya tinggi besar sepertimu. Perempuan-perempuan rebutan. Bibitnya bagus. Dan kau mewarisi semua itu."

Ia menepuk lengan Gigih, merasakan otot bisep yang keras.

"Putriku beruntung mendapatkanmu. Sudah, pergilah. Besok pagi kutunggu jam sepuluh."

Gigih membungkuk dalam-dalam, lalu berbalik menuju pintu dengan langkah cepat.

~~~

Setelah berjalan cukup jauh, Gigih tiba di gubuk anyaman bambu yang miring. Bau kotoran ayam dan asap tungku kayu menguar dari pekarangan yang sempit. Adik-adiknya yang kurus berlarian menyambut, berharap ia membawa makanan seperti biasa.

Setiap hari, Gigih selalu pulang dengan membawa sedikit makanan. Sisa jatah makan para pekerja yang diberikan kepadanya karena ia selalu membantu membereskan gudang sebelum pulang. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat adik-adiknya senang.

Tapi hari ini berbeda.

Gigih tersenyum tipis. Tangannya merogoh tumpukan uang di saku besar celana gombrongnya, mengambil satu lembar.

"Mas tidak bawa makanan. Kalian beli ke warung."

Ketiga adiknya terdiam sejenak, menatap lembaran uang itu dengan mata terbelalak.

"Mas ... ini ...."

"Beli apa pun yang kalian mau."

Sorak riang pecah. Adik-adiknya berlari ke warung.

Gigih masuk ke rumah. Bau apak tanah lembap dan asap kayu bakar menyambutnya. Ia menemukan simboknya di dapur, sedang meniup tungku. Wajah kurus berpeluh, rambut hitam dengan sedikit uban lepek oleh keringat.

"Gih?" Simboknya langsung was-was melihat putranya pulang di jam tidak biasa. "Kamu dipecat?"

Lanjut membaca
Lanjut membaca