

Dengan perut yang keroncongan dan mata yang sembab, Bagas turun dari bus. Pemuda itu melirik ke sana kemari untuk mencari orang yang katanya sudah menjemputnya di terminal.
"Ibu!" seru Bagas.
Bagas Laksamana, pemuda miskin berumur 17 tahun yang dulunya tinggal di Bandung bersama kakek dan neneknya. Neneknya meninggal saat dia masih kelas enam sekolah dasar. Dan baru tiga hari ini kakeknya meninggal dunia.
Karena tak punya siapa-siapa lagi di kota kelahirannya, mau tak mau Bagas harus merantau ke Jakarta untuk bertemu dengan Diah—ibunya.
Kedua orang tua Bagas sudah bercerai saat Bagas masih berumur satu tahun. Ayah Bagas menikah lagi dengan janda kaya yang dengar-dengar punya anak, sedangkan ibu Bagas memilih untuk merantau ke Jakarta saat umur Bagas sudah menginjak dua tahun.
Bagas berlari memeluk ibunya. Pemuda itu menangis dalam pelukan sang ibu.
"Kakek meninggal, Bu," sedih Bagas.
Diah tersenyum pedih sambil mengelus punggung anak semata wayangnya itu.
Bagas melepaskan pelukannya.
"Ayo kita ke rumah majikan Ibu," ajak Diah.
"Bagas nggak enak, Bu," tolak Bagas sambil mengusap air matanya.
Diah tersenyum.
"Ibu udah bicara sama majikan Ibu. Mereka ngasih izin kamu buat tinggal di rumah mereka," jelas Diah.
Bagas tersenyum lebar. Dia bersyukur kalau ternyata ibunya punya majikan yang baik hati.
"Syukurlah kalau begitu, setidaknya Bagas bisa menghemat pengeluaran selama di Jakarta, Bu. Biar ibu nggak repot banget," jelas Bagas.
Diah mengangguk.
"Bagas nggak sabar mau ketemu sama majikan Ibu. Pasti majikan Ibu baiknya bukan main, soalnya ngizinin Bagas buat tinggal di rumahnya," puji Bagas penuh syukur.
". . ." Diah terdiam beberapa saat.
Bagas memandang ibunya.
"Kok Ibu diam?" tanya Bagas.
"Kamu kok cuma bawa satu tas? Emang kamu nggak punya banyak barang-barang dari kampung?" Diah mengalihkan pembicaraan.
Bagas menggeleng.
"Bagas cuma bisa bawa ini, Bu. Kakek punya banyak hutang sama rentenir. Rumah sama isinya disita semua. Cuma ini yang bisa bagas selamatin," jawab Bagas pilu sambil menghela napas berat.
Diah menatap anaknya sedih. Dia memeluk anaknya dengan erat.
"Maafin Ibu karena harus jauh dari kalian, Nak..." lirih Diah.
Bagas menggeleng.
"Ini udah jadi takdir, Bu," jawab Bagas.
Bagas melepaskan pelukannya.
"Kita langsung pulang aja, Bu. Bagas capek banget, kepengen istirahat," ajak Bagas.
"Nggak singgah makan, Nak?" tanya Diah.
"Nggak usah, Bu. Bagas udah makan tadi. Bagas bawa bekal dari rumah," tolak Bagas.
Diah tersenyum kecil sambil mengangguk.
Bagas dan ibunya pulang menggunakan angkot, mau naik taksi pun biayanya sangat mahal. Mau tidak mau mereka harus hemat karena di Jakarta biaya hidup lumayan mahal bagi mereka.
Sekitar setengah jam lebih perjalan, mereka akhirnya sampai di rumah majikan ibu Bagas.
"Wah! Rumahnya besar banget, Bu!" pekik Bagas kagum.
"Rumahnya kayak yang ada di TV ya, Bu. Ada dua lantai. Tamannya luas. Mobilnya banyak," kagum Bagas tak henti-hentinya.
Diah hanya mengelus pundak anaknya sambil tersenyum kecil.
"Majikan Ibu kerja apa? Kaya banget, Bu," tanya Bagas penasaran.
"Kamu ada-ada aja," jawab Diah sambil terkekeh.
"Itu—"
Klakson panjang berbunyi di belakang Bagas dan ibunya, membuat Bagas tak tak melanjutkan ucapannya. Pemuda itu dengan segera bergeser menjauh bersama ibunya.
Ibu Bagas dengan buru-buru membuka gerbang rumah mewah itu saat melihat mobil merah mewah ada di belakang mereka. Mobil mewah itu masuk dan parkir di garasi.
"Itu siapa, Bu?" tanya Bagas.
"Anak majikan Ibu," jawab ibu Bagas.
Seorang pemuda berjalan menghampiri Bagas dan ibunya.
"Eh halo, Kak!" sapa Bagas.
Bagas menyalimi tangan pemuda itu, tetapi respon tak enak langsung didapat oleh Bagas. Pemuda itu mendorong Bagas hingga jatuh. Diah dengan segera menolong anaknya.
Pemuda itu menyemprotkan banyak hand sanitizer ke tangannya yang tadi disalimi oleh Bagas.
"Lancang sekali dia! Dia siapa?!" tanya pemuda itu marah sambil menunjuk Bagas.
"Maaf, Den. Ini anak saya. Anak saya baru datang dari kampung," jawab ibu Bagas.
Pemuda itu menatap Bagas marah.
"Rumah ini sudah menampungmu dan kamu juga membawa anakmu ke sini?! Rumah ini bukan kostan!" marah pemuda itu.
"Andre," batin Bagas membaca papan nama pemuda itu.
"Ta—tapi saya sudah minta izin sama Nyonya besar," jawab ibu bagas.
Andre menatap Bagas dan Diah secara bergantian.
"Bisa-bisanya Mama dan Papa mengizinkan rakyat miskin tinggal disini!" sentak Andre.
Andre berjalan pergi meninggalkan Bagas dan ibunya.
"Kamu nggak apa-apa, Nak?" tanya Diah panik pada sang anak.
Bagas menggeleng.
"Anak majikan Ibu emang kayak gitu?" tanya Bagas dan Diah mengangguk.
"Dia nggak pernah nyakitin Ibu, kan?" tanya Bagas.
Diah hanya tersenyum.
"Ayo masuk," ajak Diah.
Bagas dan Diah berjalan masuk ke dalam rumah mewah itu.
"Diah! Kamu jemput anak kamu sejauh apa, sih?! Kamu sampai nggak masak makan siang!"
Bagas dan Diah tersentak saat seorang perempuan memarahi Diah.
"Maaf, Bu. Saya lupa," jawab Diah.
"Kamu mau buat kami mati kelaparan?! Ah—atau kamu mau gajimu bulan ini saya potong?!" tanya wanita itu.
Diah menggeleng cepat.
"Ya udah sana, masak! Dan buat anak kamu—" wanita itu menatap Bagas.
"Terserah dia mau tidur di mana. Di gudang atau di kamar pembantu sama kamu," lanjut perempuan itu.
Diah mengangguk.
"Itu majikan, Ibu?" tanya Bagas berbisik.
Diah mengangguk.
"Namanya Nyonya Ani," balas Diah berbisik.
Bagas menghampiri Nyonya Ani yang tengah memainkan ponselnya.
"Maaf, Bu," ucap Bagas.
Nyonya Ani mengangkat pandangannya sambil menatap Bagas. Dia menatap Bagas tak suka.
"Saya ada oleh-oleh dari Bandung," ucap Bagas sambil tersenyum kecil.
Bagas membuka tas ranselnya.
"Kue surabi buatan tetangga-tetangga kampung buat saya. Tapi, saya rasa Ibu sepertinya harus nyobain kue surabi buatan mereka. Enak banget loh, Bu," tawar Bagas sambil menyodorkan kresek putih yang berisikan kue surabi.
"Makanan apa itu?! Tidak cocok di lidah saya!" jawab Nyonya Ani sambil menepis kantongan itu hingga surabi-surabi yang ada di dalamnya jatuh berserakan di atas lantai.
Bagas dan Diah kaget. Buru-buru Bagas memungut kue-kue kesukaannya itu.
"Makan saja sendiri. Kue seperti itu tidak cocok di lidah saya!" seru Nyonya Ani merendahkan.
Bagas berbalik menatap sang Ibu. Ibu Bagas tersenyum sambil menggeleng kecil. Bagas tersenyum nanar, lalu kembali memungut kue-kue itu.
"Maaf, Bu. Terimakasih atas tumpangannya, Bu," ucap Bagas usai memasukkan surabi itu kembali ke dalam tasnya.
Nyonya Ani tak menjawab dan hanya memberi kode agar Bagas pergi bersama ibunya. Dia tak mau basa-basi terlalu lama dengan Bagas dan ibunya.
"Di sini Ibu diperlakukan dengan baik, kan?" batin Bagas sambil menatap ibunya yang tampak terlihat lelah.