

Seorang gadis kecil berusia tujuh tahun menopang kepalanya di kusen jendela rumah. Bola matanya melirik ke kanan dan kiri, menatap orang-orang yang berjalan cepat sambil membawa tas besar, seolah sedang dikejar oleh waktu.
"Ibu, orang-orang mau ke mana? Kok mereka buru-buru?" teriak Lia ke dalam rumah.
Tidak ada jawaban.
Ruangan terasa sangat sepi. Lia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan pagi.
Karena tak mendapat respons, Lia melompat turun dari sofa. Tiba-tiba
"Wuaaa!"
Ia terkejut setengah mati. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk.
"Nia! Nggak boleh gitu!" bentaknya kesal.
"Hahahahaha! Teteh kaget, ya?" ucap seorang anak perempuan berusia lima tahun dengan wajah jahil.
"Awas aja kamu. Aku adukan sama Ibu!"
"Ibunya nggak ada, weee!"
"IBUUU!"
Lia bangkit dan berlari memeriksa setiap ruangan. Nihil. Tidak ada tanda-tanda keberadaan sang ibu. Hatinya mulai gelisah. Tidak biasanya ibunya pergi tanpa memberi tahu mereka.
"Kok nggak ada Ibu? Ke mana, ya?" gumam Lia.
"Dede nggak tahu." Nia terdiam sesaat, lalu matanya berbinar. "Oh, Teteh… mungkin ke masjid. Hari ini kan Jumat."
"Iya juga, ya. Ayo kita susul, Dek."
Keduanya berjalan keluar rumah sambil bergandengan tangan.
Tanpa mereka sadari, di kamar mandi rumah itu, sesosok wanita tergeletak di atas genangan darah yang sudah mengering sebagian. Tiba-tiba, jari-jarinya bergerak perlahan, disertai suara geraman lirih dari tenggorokannya.
Sementara itu, dua saudari kecil itu terus berjalan menuju masjid. Mereka tak melepaskan genggaman satu sama lain. Beberapa orang tampak berlari memasuki gang sambil membawa barang-barang dengan wajah panik.
Salah satu pria sempat berhenti dan menatap kedua anak itu, seolah ingin menghampiri. Namun suara tembakan terdengar dari ponsel di tangannya. Wajahnya menegang. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung berlari menjauh.
Masjid yang sering dikunjungi ibu mereka berada di luar gang. Untuk mencapainya, Lia dan Nia harus melewati jalan lurus yang diapit tembok-tembok tinggi.
Lia celingukan menatap sekitar dengan heran. Jalanan yang tadi masih dilalui orang kini kosong melompong.
"Sepi sekali. Ke mana orang-orang? Biasanya selalu rame." tanyanya heran.
"Teteh ini itu aja gak tahu, mereka orang dewasa jadi pergi kerja" jawab Nia polos.
"Iya juga ya, tapi biasanya tidak sesepi ini" ucapnya masih merasa janggal,
Mereka terlalu lugu untuk menyadari ada sesuatu yang salah. Yang mereka tahu, mereka sedang berjalan di jalanan yang sangat sepi tidak ada kendaraan maupun orang lewat.
"Kita lari aja, yuk. Mumpung nggak ada motor lewat," ujar Nia.
Keduanya pun berlari riang. Tawa mereka menggema di antara sunyinya jalan.
Tak lama kemudian, mereka tiba di depan sebuah bangunan besar bertuliskan Masjid Agung Hidayah. Bangunan itu menghadap jalan raya, namun tak terlihat satu pun kendaraan melintas.
Lingkungan masjid yang biasanya ramai kini tampak mati. Lapak-lapak pedagang di sekitarnya tertutup terpal biru,
Tanpa memedulikan keanehan itu, Lia dan Nia masuk ke dalam masjid. Mereka berlari sambil tertawa keras, suara mereka menggema di ruangan luas, seolah sedang bermain di taman tanpa takut dimarahi penjaga.
"Udah mainnya. Ibu nggak ada di sini. Kita pulang aja," ajak Lia takut penjaga muncul dan memerahi mereka.
"Main sebentar lagi aja. Mumpung sepi," mohon Nia.
Lia berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Ya sudah, tapi sebentar aja. Nanti Ibu nyariin."
Mereka kembali bermain kejar-kejaran. Tawa mereka memenuhi masjid.
Tanpa mereka sadari, di luar, jalanan kembali ramai bukan oleh kendaraan biasa, melainkan truk tentara dan tank. Suara tembakan bersahutan di kejauhan.
Karena terlalu asyik bermain, mereka tak menyadari apa pun hingga akhirnya keduanya tergeletak kelelahan di lantai sambil tertawa.
"Teteh, ayo pulang," kata Nia.
Namun Lia justru menatap ke arah mimbar tempat yang selalu dilarang didekati anak-anak.
"Tunggu sebentar. Aku mau coba naik ke situ," ucapnya sambil berlari mendekat.
Saat Nia hendak menyusul, matanya menangkap sesuatu di luar. Memutuskan pergi berlawanan arah dengan Lia.
Lia tak menyadarinya. Ia menggeser sebuah meja kecil yang biasa digunakan untuk mengaji, menjadikannya pijakan. Dengan susah payah, Lia berhasil naik ke kursi mimbar.
"Teteh!" teriak Nia dengan suara nyaring.
Namun hanya dalam sepersekian detik, suara itu menghilang.
"Bentar! Aku mau naik ke sini!" balas Lia tanpa menoleh.
Kedua tangan Lia mencengkeram ujung mimbar. Senyum jahil tersungging di wajahnya, berniat mengagetkan sang adik. Namun saat kepalanya muncul ke atas mimbar, senyum itu langsung lenyap.
Matanya membelalak. Tubuhnya gemetar.
Di hadapannya, Nia sedang diterkam beberapa orang dengan keji. Tubuh kecil itu terkoyak. Darah berceceran di mana-mana. Para mahkluk aneh itu makan dengan lahap sampai seluruh mulut penuh dengan darah.
Mata Nia melotot seolah memohon pertolongan namun perlahan, Lia tak lagi bisa melihat keberadaan adiknya.
Mereka mengerumuni tubuh nya.
Di luar mimbar, semakin banyak orang berdatangan. Mereka terlihat seperti manusia tapi kulit mereka pucat, mata merah, urat-urat hitam menjalar seperti akar di sekujur tubuh. Beberapa di antaranya kehilangan bagian tubuh.
Lia tidak mampu menahan gemetar tubuhnya, tepat di depannya terdapat mikrofon mimbar yang masih menyala "AAAAAAAAAA!". Teriakannya menggema jauh lebih keras, memecah keheningan dan menarik perhatian makhluk-makhluk itu.
*****
Di tempat lain, seorang pemuda yang sedang tidur membuka matanya keringat membasahi dahi dengan napasnya tersengal. Matanya menatap kamar yang gelap "ah cuman mimpi"
Ceklek.
Pintu terbuka. Seorang wanita berambut sebahu berdiri di ambang pintu, menatap tajam siap memancarkan kemarahan.
"Pagi, Kak Silla," sapa Evan dengan suara serak.
Tanpa bicara, Silla melangkah masuk, mengambil sebuah bantal dari lantai, lalu melemparkannya tepat ke wajah Evan.
"Lihat keluar! Matahari sudah tinggi dan kau masih tidur! Apa yang kau lakukan semalaman sampai jam segini baru bangun?!" bentaknya dalam satu tarikan napas.
Evan hanya bisa menutup telinga mendengar ocehan kakaknya,
"Aku sudah bangun. Berhenti ngomel. Pusing kepala ku," gumamnya sambil berusaha tidur kembali.
Urat di pelipis Silla menegang. "Adik sialan." Ia melangkah lebar ke jendela dan menarik semua gorden.
Cahaya matahari menyilaukan masuk, menampakkan kamar yang berantakan.
"Cepat bangun, pengangguran! Atau mau ngerasain pukulanku lagi?!" Ucapnya sambil bersiap memukul, menyingsingkan baju lengannya.
"Oke, oke! Aku bangun!" Evan langsung meloncat, merapikan kasur secepat kilat.
"Bereskan juga kamarmu. Dasar jorok," ujar Silla sebelum pergi sambil membanting pintu.
"Nyenyenye. Cerewet," gumam Evan berjalan menuju meja menyalakan ponselnya yang mati.
Ting. Ting. Ting.
Seketika deretan pesan masuk dari temannya bernama Farel,
"Tumben kirim pesan siang hari bukannya, eh dia kirim subuh?" gumamnya kebingungan sangat jarang sahabat nya mengirim pesan sepagi itu.
Isinya permintaan tolong untuk dijemput, disertai titik lokasi yang cukup jauh dari kosannya.
"Di mana ini?"
Evan membalas pesan itu. Sayangnya centang satu.
Ia mencoba menelepon. Nomor itu berada di luar jangkauan.
Pesan pertama tercatat dikirim pukul tiga subuh, sebuah video berdurasi sepuluh detik terlampir. Evan baru hendak memutarnya ketika suara Silla memanggil dari luar kamar.
"Bisa nggak sehari nggak teriak? Berisik sekali," gerutunya.
Ia keluar kamar menuju meja makan. Sebelum duduk Evan mencium dahi sang ibu yang tidak mampu bangkit dari kursi roda karna stroke, saat melihat Evan hanya bisa menampilkan senyuman karna sudah kesulitan untuk bicara untuk makan saja harus di bantu oleh bibi Rini perawat yang mengurus ibu.
"Nggak bisa manggil halus apa? Kedengaran sampai ke tetangga" Ucap Evan kesal,
"Makan jangan di kamar terus," kata Silla dingin.
"Aku nggak dua puluh empat jam di kamar," balas Evan. "Oh iya habis makan aku mau jemput Farel."
"Ke mana?"
"Ke Bandung."
Silla langsung terdiam. Langsung menatap wajah adiknya dengan serius.
"Kamu belum lihat berita? Bandung lagi dikarantina. Ada wabah virus berbahaya. Makanya jangan nolep sampe berita besar aja gak tahu."
"Sejak kapan di karantina?" Ujar Evan sambil memasukan makanan, bukan berarti dia tidak tahu tentang wabah penyakit tapi berita karantina ini baru di dengarnya.