Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Lukisan di Lorong Kos-Kosan

Lukisan di Lorong Kos-Kosan

Mayda Azkiya | Bersambung
Jumlah kata
50.1K
Popular
552
Subscribe
102
Novel / Lukisan di Lorong Kos-Kosan
Lukisan di Lorong Kos-Kosan

Lukisan di Lorong Kos-Kosan

Mayda Azkiya| Bersambung
Jumlah Kata
50.1K
Popular
552
Subscribe
102
Sinopsis
18+HorrorHorrorSpiritualMisteriDunia Gaib
Lukisan itu terpampang nyata, menempel di dinding lorong kos-kosan, seorang wanita memakai pakaian kebaya, rambutnya yang terurai cantik, sekilas tidak ada yang salah, hanya lukisan wanita elegan. Dibalik lukisan itu banyak sekali misteri rahasia yang tertutup rapat, ia akan mencari tuan rumahnya sendiri, membuka jalan dibalik rahasia, siapa tuan rumah yang akan membongkarnya?
Mencari Kosan

Dikota besar ini, begitu banyak gemerlapnya lampu-lampu jalan menemani setiap langkah tiga pemuda, dari kota yang jauh merantau kemetropolitan, kebisingan kendaraan dan kemacetan terlihat nyata, banyak para gelandangan bertiduran dipinggiran kota, didepan ruko yang tertutup. Merasa aneh, mereka kira tidak ada orang terlantar dikota besar, yang notabenya banyak gedung tinggi berjejer, mereka kira hanya ada orang yang berpakaian rapi dan aroma harum parfum mahal, tapi yang dilihat justru sebaliknya.

"Apa mereka nggak punya tempat tinggal ya?" Tanya Andika pelan, berbisik takut terdengar.

"Ya ini realitanya" menjawab dengan kenyataan.

Tiga pemuda itu bernama Rian, Eldo dan Andika, duduk santai dipinggir toko klontong yang masih buka, mereka mengusap keringat, melepas penat, rasa lelah karena sudah jauh menusuri jalanan.

"Bu, beli air mineral" ucap Eldo dengan nada ngos-ngosan.

"Beli berapa?" Tanya ibu paru baya pemilik toko.

"Satu aja bu" sahut Eldo.

Ibu pemilik toko keluar dari tempatnya, menghampiri mereka bertiga, "ini sudah malam, sebentar lagi warung saya mau tutup, kalian bertiga baru sampai? Atau gimana?" Ibu itu merasa penasaran.

"Kami bertiga dari luar kota Bu, datang kesini mau kuliah, ternyata sampai sini sudah malam" jawab Rian dengan sangat sopan.

Andika meneguk minumnya, tak lama ia ikut nimbrung bertanya "apa disini ada kosan bu? Atau kontrakan gitu?"

"Setau saya sekitaran sini sudah full semua mas, karena tempatnya strategis dekat PT, kalau mau kuliah mending dekat kampusnya aja mas" jelas ibu itu panjang lebar.

"Maaf ya, warungnya mau tutup, suami ibu lagi sakit, biasanya bukanya sampe tengah malam" lanjut ibu itu sambil menutup warung.

"Oh, iya Bu nggak apa-apa, kami pamit bu" ucap Rian berpamitan sambil tersenyum ramah.

Malam makin gelap, udara makin menyengat dingin,

semilir angin mendesis merasuk tubuh yang lelah, berjalan berkilo-kilometer, dengan tas ransel gede yang mereka gendong. Mereka terlunta-lunta dijalanan.

"Jam segini udah nggak ada kendaraan umum, harusnya tadi kita diterminal aja ya" Eldo merasa menyesal, sambil garuk kepala merasa frustasi.

"Kamu sih Dik, minta pergi buru-buru" lanjut Eldo kesal pada Andika.

"Loh, kok jadi aku yang disalahin, kamu mau-mau sendiri diajak" ujar Andika tak mau kalah.

"Aku nggak mau sendirianlah diterminal, jadi ya ngikut aja, dari dulu emang saran kamu nggak ada yang bener" Eldo makin menyalahkan Andika, sampai bawa yang sudah-sudah dimasa lalu.

"Kok jadi gitu? Kamu kok makin nyolot, semua disalahin ke aku" Andika mendorong Eldo merasa tidak terima, mereka berdua saling mendorong tidak ada yang mau kalah.

"STOP" sentak Rian, merasa terganggu atas keributan mereka. "Bisa nggak kalian stop ribut, sekarang kita harus cari tempat buat kita tidur, sampai kapan kita jalan terus kayak gini,? Kalian berdua itu udah dewasa" tegas Rian mengakhiri bertikaian.

BRAAK...

Suara itu sangat keras, pas dijalanan yang lampu lenengnya kedip-kedip, seketika Eldo dan Andika memeluk Rian bersamaan. "Kalian berdua kenapa sih? Berat ini" ucap Rian lirih.

Eldo dan Andika langsung melepas pelukannya, "suara apa itu?" Bisik Eldo, merasa merinding dan takut.

"Nggak tau, ayo kita lihat" ajak Rian menghampiri arah suara itu berasal.

"Haduh.. serem banget nih lampuh" ucap Andika lirih.

Mereka bertiga jalan mengendap-endap, yang satu takut hantu, satu takut begal. Eldo dan Andika memegangi tas Rian.

"Ian, nih kalau begal gimana? Aku belum siap nih" Andika sudah gemeteran merasa takut terjadi apa-apa.

"Kalau hantu? Mimpi buruk kita" timbrung Eldo, sudah keluar keringat dingin.

"Sssuut... kayaknya semua itu salah deh" Rian merlihat dari jauh, ada yang tergeletak dijalanan.

Mereka semakin mendekat, dengan jantung berdebar kencang, ternyata yang dilihat seekor kucing pingsan, seperti habis terlindas.

"Ternyata kucing" seru Andika dan Eldo secara bersamaan, sambil mengelus dada.

Rian mulai jongkok, mengelus lembut kepala kucing hitam itu, tak lama kucing terbangun dan langsung lari, seolah tidak terjadi apa pun, mereka bertiga saling berpandangan merasa aneh, akhirnya mengikuti arah kucing itu pergi. Ternyata ada satu kos-kosan mewah bertuliskan, menerima kos pria hubungi nomor dibawah ini, atau pencet bel.

"Wah kucing itu bawa keberuntungan" celetuk Eldo sambil tersenyum riang.

"Iya nih, aku udah capek banget" Andika menimpali.

"Tapi ini mahal nggak sih? Untuk ukuran kita yang masih kuliah?" Tanya Rian merasa tidak yakin.

"Kita coba aja Ian, barangkali murah, mungkin pemiliknya kasihan sama kita" sahut Andika. Meyakinkan Rian.

"Iya Ian, udah capek nih" keluh Eldo, kakinya mulai kesemutan, akibat jalan lama. Ia tersungkur duduk meluruskan kakinya.

Tak lama sang pemilik rumah keluar, seorang wanita dewasa cantik rupawan, putih nan elegan, mata Eldo dan Andika langsung seger melihat yang bening-bening.

"Ada apa kalian malam-malam didepan sini? Mau ngekos?" Tanya wanita itu dengan suara lembut.

"Iya kita mau ngekos" ucap Eldo langsung berdiri sigap.

"Iya betul" Andika menimbrung dengan senyum lebar.

"Okey, pas banget, disini memang menerima kos-kosan khusus pria, harganya terjangkau, sebelum masuk kenalan dulu mungkin!" jelas wanita itu.

"Nama saya Eldo" langsung mengulurkan tangan, ditepis oleh Andika " saya Andika" giliran Andika yang mengulurkan tangan.

Namun tidak ada balasan, wanita itu hanya mengangguk dan tersenyum lalu menjawab "nama saya Ratih" matanya menatap Rian, tersenyum pelan. "Kamu siapa namanya?" Lanjut Ratih bertanya.

"Saya Rian" jawabnya singkat.

Saat ini perasaan Rian tidak bersahabat, rasanya energi dalam rumah ini negatif, suram, dibalik kemewahannya seperti tidak ada cahaya kehidupan yang menenangkan.

Mereka masuk rumah itu, tidak ada yang aneh awal masuk, namun setelah sampai pada lorong awal terpampang lukisan besar, seorang gandis cantik mengenakan kebaya, wajahnya sendu. Rian tersentak melihat lukisan sebesar itu, dikosan khusus cowok.

"Lukisannya besar banget" celetuk Andika

"Iya, ini lukisan peninggalan ibu, beliau menyuruh saya meletakannya disini" jawabnya.

"Disini ada enam kamar, untuk dua kamar ini sudah ada penghuninya, mereka sudah pada tidur sepertinya, dan untuk tiga kamar itu untuk kalian... oh iya satu lagi, jangan pernah memasuki kamar dibalik lukisan ini ya!" Jelasnya panjang lebar.

"Okey, kamu tinggal dimana?" Tanya Eldo penasaran.

"Saya tinggal disebelah, bersama ayah saya" rawut wajah Ratih berubah, dia merasa sedih ketika berbicara tentang ayah.

"Berapa biaya sewanya?" Tanya Rian pelan.

"Cuma 400rbu aja perbulan" sahutnya.

Rian menyempitkan kedua matanya, ia merasa ada yang janggal, "kosan semewah ini, dipinggir kota, harganya sangat murah" batin Rian, merasa gelisah.

"Wah cocok ini" ucap Eldo sambil tertawa lirih.

"Waw, murah banget ya? Padahal kosannya mewah, meski bangunan klasik tapi fasilitasnya oke" Rian menatap lekat, seakan menggali sesuatu.

Tatapan itu membuat Ratih berpaling, seperti seseorang yang menyembunyikan rahasia besar, "hmm, iya, memang ini dibangun untuk membantu seseorang yang memang pantas, dan selain itu persaingan kos-kosan sangat banyak disini, mahal dikit nggal laku" Ratih sedikit gugup, ia mengusap lengan tangannya.

"Nggak mungkin kan nggak ada yang mgelirik kos-kosan sebagus ini dengan harga segitu, apa lagi ini kota besar" gumam Rian dalam hati, masih belum bisa menerima alasan tersebut.

Lanjut membaca
Lanjut membaca